
Umhhhh.... Kenapa tubuhku berat sekali? Aku membuka mataku, dan setelah itu aku melihat seorang gadis dengan cosplayer kucing tidur di atasku.
Aku panik. Aku tidak melakukan apa-apa, sungguh, aku tidak menyentuhnya sedikitpun. YA TUHAN AKU TIDAK MAU DISEBUT LOLICON!!!
Aku berteriak di dalam hatiku, seakan-akan aku melakukannya. Semoga tidak. Aku mengira aku tidur bersama waifuku Koneko, tapi ternyata dia adalah Mia.
Oke, tenangkan diri, tenangkan badan, *Huhhhhhh.....Haahhhhhhhh.....*
Akhirnya... AKU BELUM TENANG ******!!!
Dan..
"Akhh..!" Aku mendengar suara mendesah.
"Ehhh??? Apa ini??" Tanpa melihat, aku sedikit meremas sesuatu yang kecil dan kenyal ini. Setelah itu aku melihatnya dan
*Plakkkk*
Sebuah tamparan Strike membuatku terhuyung dan membentur dinding. Aku memegang kepala ku, dan ada sedikit darah di tangan.
Aku melihat ke arah sebelah, Mia sedang menutupi Oppai nya dengan kedua tanganku sambil menatapku dengan tatapan kebencian dan air mata yang keluar dari matanya.
"A...a..aku... Anu... Aku... AKU MINTA MAAF!!!" Aku berbicara dengan kata yang terputus-putus, lalu berteriak lantang dengan kata fasih meminta maaf.
"Ryu bodoh!" *Plakkkk* ahhhhh, tamparan keduaku terasa nikmat hahahahahahahaha.... Nikmat gundulmu itu sakit Ryu, sadarlah.
Author bodoh kau kira tidak sakit apa kena tampar terus hahhh! Masih pagi loh..
(Ahahaha, maaf-maaf nikmatilah..)
Sialan. Aku harus cari cara agar Mia tidak marah lagi.
"Anu..M.. Mia, maafkan aku, aku tidak sengaja menyentuh harta sakralmu!" Sialan apanya yang harta sakral. Itu adalah harta yang melebihi harta sakral. Hanya orang khusus yang bisa menyentuhnya, yaitu pemilik dan orang yang di kehendaki nya.
"Bodoh...! Dasar mesum!" Uwwaahhh Mia semakin mengeluarkan air matanya.
"Mi.. Mia, sumpah aku tidak sengaja. Aku minta maaf. Aku kaget, saat melihatmu tidur di atasku, dan arrrggghhhh!! Iya aku salah, aku khilaf karena tidak sengaja menyentuh barang pribadimu!" Aku sudah tidak tau apa yang harus aku katakan, maka aku hanya bisa pasrah.
"Ahhhh, maaf, salahku juga karena tertidur di kasurmu. TAPI..!" Mia juga minta maaf, tapi kenapa dia menekankan kata 'TAPI' di akhir kata sambil menatapku dengan Aura membunuh seperti itu? Aku mempunyai perasaan yang tidak enak mengenai ini.
"Ta..tapi k..kenapa?" Tanyaku gugup, karena mata Mia seperti menandakan dia akan melompat ke arahku dengan sabit besarnya lalu memenggal kepalaku. Arrrggghhhh dia seperti malaikat maut.
Sera selamatkan aku....
«Karena Ryu yang berbuat, maka bertanggung jawablah atas kesalahanmu sendiri... Nyaaa»
Sera tidak membantu, bagaimana caranya coba???
"Kamu harus menjadi babuku selama 2 bulan!" Mia memalingkan wajahnya, sambil mengaitkan kedua tangannya.
"Dua Minggu gimana..?" Tanyaku meminta kompensasi.
"Satu bulan setengah atau tidak sama sekali.." Mia kembali menatapku dengan tatapan membunuh.
"Baiklah, ti..tidak sama sekali" aku menjawab sambil bercanda. Semoga dia mau mengerti.
"Oke, 1 tahun fix..." Mia langsung beranjak dari kasur.
"Ahhh oke-oke, terserah kamu tapi jangan setahun aku mohon..." Aku menarik baju cosplay Mia, dengan mata memohon.
"Baiklah, 1 setengah bulan. Aku mau mandi jangan menghalangiku." Mia langsung beranjak kekamar mandi, sedangkan aku..?
Aku hanya berbaring di lantai sambil bersyukur, hukumanku tidak bertambah hahhh, mohon bantuannya dewa atau Dewi takdir sialan.
Setelah Mia mandi, dia langsung ke dapur membuat makanan. Sedangkan aku, langsung mandi ganti baju seragam, lalu turun ke bawah nunggu makanan.
"Ryu, makanan udah siap....!" Mia datang membawa ayam bakar kesukaanku, sambil tersenyum ceria.
Aku pun menatap ayam bakar itu penuh kebahagiaan. Semoga saja enak.
Saat aku merasakan sesuap, ternyata enak. Akhirnya aku makan dengan lahap bersama Mia. Dan, kami pun membersihkan meja makan lalu mencuci piring pokoknya itu, lalu berangkat.
(Berangkat kemana?)
Ke jurang!
(Ngapain?)
Bunuh diri!!
(Terus sekolahnya, ntar terlambat)
BODO AMAT!!!
(Ahahahahaha)
Ketawa aja lu kecoa gurun.
Setelah perdebatanku dengan si author kampret, kami berangkat sekolah bersama. Biasanya, di perempatan ada orang ****** yang bersandar di dinding Pagar tetangga di perempatan, lalu seorang loli imut yang menunggu dengan wajah datarnya.
"Bentar..!" Aku menarik tangan Mia.
"Lah kenapa Ryu? Kamu lupa Kencing di rumah?" Mia dengan ekspresi polosnya mengatakan hal tabu yang hanya boleh di katakan oleh para ******* di luar sana.
"Sembarangan, aku nungguin Ayung sama Shiro dulu. Gak biasanya mereka terlambat?" Aku menatap jam tangan ajaibku, sambil berpose kayak geng Rambo di luar sana.
"Lah, kamu lupa Ryu kalau Ayung sama Shiro udah pindah ternakan di Amerika?" Mia sedikit bercanda, namun ekspresinya menjadi sedih seketika.
"Oh iya, aku lupa... Te-He.." aku mengetuk kepalaku sendiri, sambil tersenyum garing di depan Mia.
Kami pun melanjutkan jalan bosan kami menuju sekolah. Sebenarnya cuma aku yang bosan, karena Mia sangat ceria pengen cepat-cepat memerintahkan aku layaknya budak kontrak selama satu setengah bulan.
Saat kami tiba di Sekolah, aku langsung masuk ke kelas, di tambah dengan Mia yang mengekoriku dari tadi. Sebenarnya kami sekelas sih hahahaha.
Aku langsung duduk di kelas dengan bosan, lalu mulai mengambil buku Matematika tapi bukan untuk di baca tapi untuk menutupi kepalaku, lalu tidur nyenyak.
Setelah itu...
"Ryu! Ryuuuu! Bangun!" Aku mendengar sebuah suara yang aneh di kepalaku.
"RYUUUU!!!" *Jdarrrrr* Sebuah kayu panjang dengan tulisan Triangle berbentuk persegi panjang mendarat di mejaku, dan sukses membuatku bangun.
"Ah... Si ******* jadian marah!" Karena kaget, aku berbicara aneh di depan guru terkiller di sekolah ini.
"Siapa yang kau bilang ******* hahhh!" Mata guru itu menjadi merah, dan aku mengucek mataku mengecek siapakah dia.
Dan ternyata dia adalah monster dari para monster di sekolah ini. Aku pun menatapnya dengan wajah poker face ku.
"Kenapa kamu tidur?" Pak guru itu bertanya padaku dengan mode Darknya.
"Saya gak tidur pak, cuma istirahat." Jawabku dengan wajah polos tak bersalah.
"Ngelawan kamu! Udah salah.. ngelawan kamu?!" Pak guru itu berpose seperti Sugiono di film Dalhan.
"Salah saya apa pak!?" Balasku memainkan peran Sebagai Dalhan.
"Ehhh, kamu hapal dialognya yah!? Kamu dilankan?" Pak guru itu cengingisan kepadaku lalu merubah dialognya menjadi Milea.
"Lah pak, sejak kapan Milea jadi Transgender?" Tanyaku sambil menatap pak guru serius.
"Sembarangan kamu. Karena kamu tidur di jam pelajaran saya, Keluar!" Pak guru mengusirku dari kelas, aku pun keluar dari kelas dengan wajah kemenangan.
'setidaknya, aku bisa lolos sementara dari Sang penyiksa Death Rapper' gumamku dengan wajah senang.
Aku pun tidak jadi masuk kelas, dan malah kelayaban tidak jelas di perkotaan. Tidak sampai aku melihat gadis cantik yang sangat pucat, menatap khawatir kiri kanan lalu masuk ke gang belakang.
Pertama aku pikir dia sedang di jahati, lalu aku mengikutinya sampai ke jalan buntu. Aku bersembunyi di balik tiang tipis, lalu dia kembali menatap kiri kanan muka belakang, lalu mengeluarkan sebuah jus dari tasnya. Setelah itu meminumnya dengan cepat.
"Huhhhh, akhirnya selesai. Dahagaku terpenuhi." Gadis itu membuang Kotak jus dengan tanda Tambah di depan, lalu menatap ke arahku.
Aku tetap bersembunyi di balik tiang, sambil memperhatikan seragam gadis itu ternyata dia satu sekolah denganku.
"Hei, jangan kau kira kamu bisa bersembunyi dariku. Keluar dari sana sekarang!" Gadis itu mengancam ku, dengan tangan menunjuk tiang.
"Ehhhh..? Aku disini kenapa menunjuk tiang?" Aku sudah berada di pinggir tiang, tapi tangannya masih menunjuk tiang.
"Hell o, Dude..! Kamu yang bodoh kenapa bersembunyi dibalik tiang yang kecil itu? Apakah kamu tidak tau cara bersembunyi dengan baik?" Gadis itu dengan kesal menunjuk kearah ku sambil marah-marah.
"Hahhh, lupakan saja. Kenapa kamu minum jus dengan tanda Tambah bukan yang ada badaknya?" Aku bertanya dengan datar kepada gadis itu.
"Lah si bodoh, kamu kira aku sedang minum minuman penyegar cap kaki empat?" Gadis itu balik bertanya dengan nada kesal. Kesal bingitz
"Jadi, kamu vampir salah cetak ya? Yang hobi minum larutan penyegar cap badak. Aku kira kamu bakal hisap darahku. Jika benar, sebagai gantinya biarkan aku menghisap jus yang kamu minum tadi. Aku baru lihat ada jus dengan tanda tambah di ujungnya. Udah mirip kek logo P3K aja?" Aku dengan nada serius menatap lurus ke mata gadis itu.
Tapi, kalau aku lihat, gadis ini cantiknya melebihi Mia, bahkan bisa dibilang dia yang tercantik di sekolah, apalagi dengan Rambut Biru Muda dan juga matanya yang berwarna biru muda, dan pupil juga yang berwarna biru alami dengan garis merah di sekitarnya sangat cocok dengannya.
"Siapa yang kau maksud itu hahhh!" Muncul persimpangan tol dari dahi gadis itu. Setelah itu, gadis itu berjalan ke arahku dengan anggunnya.
"Kamu tau apa yang akan terjadi jika kamu memberitahu orang lain tentang aku?" Gadis itu berjalan dengan anggun, lalu dengan secepat kilat dia mendorongku dengan kukunya yang panjang. Bahkan terlihat ada darahku yang menetes dari leherku. Kurasa.
"Maka aku akan membunuhmu!" Gadis itu menatapku dengan tajam, lalu garis merah di pinggiran pupilnya bersinar terang.
"HEI ORANG-ORANG, KEMARILAH ADA SESUATU DI..Mumnyuksbsysjb!" Aku berteriak, namun gadis itu langsung membungkam mulutku. Sangat terasa tangan halus dari gadis ini membuatku seperti sedang nge ganja. Berbahaya namun Nikmaaaaatttt.....
Tiba-tiba, beberapa orang dewasa datang ke tempat kami dengan wajah panik penasaran.
"Kamu kenapa berteriak, Nak?" Tanya salah satu orang tua itu dengan pakaian seperti pejabat.
Aku menatap gadis itu sekilas, terlukis wajah khawatir plus marah di wajahnya.
"Ahh, aku tadi melihat UFO terbang, tapi saat aku cari sudah gak ada. Besaaarrrr banget..." Aku berbicara ngelantur, tapi dengan wajah polosku. Jadi para warga hanya menatapku dengan Malas dan ada beberapa yang kesal.
"Bercanda aja lu Bocah!"
"Ngelantur aja!"
"Ganggu orang tidur aja,!
"******* kau Nak!"
Banyak kata umpatan dari para warga, lalu mereka berlalu pergi dengan wajah kesal dan marah lalu kembali ke aktifitas mereka.
"Beraninya kau menipuku!!!" Gadis itu semakin geram dengan tingkahku. Aku pun hanya terkekeh melihat tingkahnya itu
"Ahahaha, tenang saja. Aku gak sejahat itu, aku tidak akan memberitahukannya, coldown." Aku memegang bahu gadis itu, agar bisa mendapatkan kesempatan menyentuh tubuh gadis itu.
"Hummm, kamu juga terlalu bodoh untuk memberitahukan ini kepada orang-orang, tapi aku akan mengawasimu" gadis itu mengancam ku, lalu menghilang berubah menjadi kupu-kupu malam yang sangat hitam.
Aku pun pulang kerumah, cuci kaki, tidur, lalu berharap bisa memimpikan gadis itu di mimpi basahku malam ini.
♦♦♦♦
Aku merasa sangat kelelahan, dan berbaring di tempat tidur. Karena badanku terasa sangat berat, aku keluar dari kamar dengan badan yang sangat berat.
'argghhhhh, sakitnya!' aku memegang kepalaku, karena kepalaku semakin pusing saja.
Tiba-tiba, aku jatuh pingsan. Tidak lama aku bangun kembali ternyata aku sudah di tempat tidur. Tapi, kenapa ada Mia disini? Ada juga si gadis nyamuk, dan Shiro???
Mereka mulai mendekatiku, Mia mulai mencium bibirku. Aku berusaha bergerak, tapi... Aku di ikat.
Si gadis nyamuk itu mulai membuka pakaianku, dan tersisa kolor ku yang masih nyangkut tanda pembatas terakhir akan segera di tembus mereka.
Shiro malah menjilati badanku. Sialan, adikku langsung bersikap tegak hormat bagai ksatria merespon sentuhan dari 3 Gadis Loli imut ini.
Gadis nyamuk itu mulai bermain dengan adikku dengan wajah polosnya yang memerah itu.
Aku membuka bajunya, celana tanpa susah hingga bugil Semuanya lah. Karena semakin bernafsu, aku menghadapkan ksatriaku ke Ruang pribadi Gadis Nyamuk itu. Lalu,
*Krrrriiiiinnnggggggg*
"Hahahaha rasain lu ngegantung!" Si gadis nyamuk mengejekku sebelum aku benar-benar terbangun dari tidur.
Aku dengan lambat merespon apa yang barusan terjadi Kemudian aku teringat sesuatu yang membahagiakan namun mengesalkan.
"AAARRRRRGGGHHHHH!!! SETIDAKNYA BIARKAN AKU MENYELESAIKAN SATU RONDE BARU DIBANGUNKAN!" Aku berteriak sambil menghadap jendela, dan ada beberapa burung yang langsung terbang menjauh dari atap rumahku.
Aku berangkat ke sekolah dengan perasaan kacau dan kesal. Padahal impianku sudah di depan mata, tapi kenapa malah jadi seperti ini?
Saat aku sampai di sekolah, aku langsung di sambut oleh Mia yang sedang menatapku dengan Aura membunuh.
Sial, aku lupa kalau kemarin aku pulang tanpa bilang. Sepertinya dia kesal sekali! Hahhh bodo amatlah.
"Ryu.. kenapa kamu pulang gak bilang-bilang!?" Mia bertanya dengan senyum miringnya.
Oh, tidak sepertinya bencana yang sebenarnya akan segera dimulai. Tolong ekspresi itu, tolong. Aku tidak siap, apalagi semalam kamu menjadi Harem ku. Ugh!
"Ahhh, itu..." Aku berusaha mencari alasan tapi tampaknya agak susah untuk meyakinkannya.
Aku rasa, aku harus memberikan ekspresi terbaikku kepada Mia.
"Gak usah alasan, dan jawab. Kenapa?" Mia semakin mengintrogasi ku dengan segala pertanyaan yang sangat berat untuk ku jawab.
"Mia, aku kemarin sakit. Jadi, aku langsung pulang ke rumah." Aku mengelus kepala Mia lembut, dan memberikan senyuman paling manis kepada Mia. Walau gak tulus agar aku lolos dari hukuman.
"Ehhh... Ti..tidak apa-apa. A..aku kira kamu k... kenapa-napa..." Mia tiba-tiba menjadi merah kek udang gosong, lalu menundukkan kepalanya sambil berbicara terbata-bata.
"Baiklah, aku mau ke kelas. Ayo," aku memegang tangan Mia, dan berjalan ke kelas seakan-akan kami ini adalah pasangan selebriti. Yah, semua pandangan terarah kepada kami soalnya. Aku hanya memakai wajah poker face, dan terus berjalan tanpa memperdulikan tatapan tajam dari mereka. Sedangkan Mia, wajahnya udah kayak tomat yang merahnya sudah di atas standar.
Saat di kelas, aku melepas tangan Mia, lalu duduk di tempat duduk ku sambil menutupi kepalaku dengan buku Biologi. Yah, aku mau tidur. Siapa tau aku akan melanjutkan kisah semalam. You Know lah!!
"Permisi!!" Suara seorang gadis masuk ke kelas. Aku hanya mengacuhkannya, lalu melanjutkan tidurku.
"Baiklah, mohon perhatiannya sebentar. Ada pengumuman penting dari kami para OSIS."
Kini seorang lelaki yang memulai pidato membosankan dalam hidupku.
"Seiring dengan sudah dekatnya festival sekolah, maka kita harus mempersiapkan segala penampilan untuk memeriahkan festival kali ini. Dan juga, kita akan berlomba dengan SMA Sakura untuk memperebutkan gelar sekolah terbaik tahun ini.
Ayo kita kalahkan SMA Sakura kali ini. Mereka selalu menjadi yang teratas, tapi kali ini kita tidak boleh kalah lagi. Kita cetak sejarah dengan mengalahkan SMA Sakura!"
Lelaki itu berpidato seakan-akan mau meledak. Suaranya sangat menggangguku.
"Yaaaaa!!!" Semua berteriak dengan semangat, bahkan aku langsung kaget karena keributan mereka.
Aku pun memakai Headset lalu kembali membaringkan kepalaku tanpa menyentuh buku Biologi yang masih melekat di wajahku.
"Baiklah, kita membutuhkan 1 kandidat di kelas ini untuk menyanyi. Karena dari kelas lain suaranya tidak bagus, maka kelas ini adalah harapan terakhir."
Kali ini, suara gadis yang agak familiar di telinga ku, tapi aku masih gak peduli dan gak mau peduli dengan mereka.
"Ryu, ayo bangun, jangan sampai kamu ketahuan OSIS." Mia berbisik kepadaku dengan nada khawatir.
"BODO AMAT!!!" Aku dengan kesal berteriak kepada Mia tanpa memperdulikan mereka yang di depan, lalu menaikkan Volume musikku hingga ke max.
Dan karena musikku kebanyakan musik Dengan Beat cepat dia atas 250 BPM, makanya suara dari luar gak bakal terdengar karena punyaku ini headset full Bass dengan merek Robot.
(Malah ngiklah si anying)
Setelah itu, aku merasa ada yang mendekati ku secara perlahan.
♪♪Dududududu Afro fufufufufufufufu Afro♪♪
Aku serius menirukan lagu dari band rock, tiba-tiba ada yang menarik buku dibatasku lalu mencabut headset ku sembarang.
"Hoy!! Kamu dengar gak tadi apa yang kami bilang hahhh! Dasar sialan kau!" Lelaki tadi berteriak kepadaku dengan mata yang melambangkan permusuhan.
"Terus? Aku kan ga ganggu kalian?" Aku memandangnya dengan datar.
"Apa kamu mau kupukul hahhh!!" Lelaki itu melayangkan pukulan kepadaku.
"Hentikan!" Suara gadis menghentikan lelaki itu, dan tangannya tinggal beberapa senti lagi mentok ke wajahku.
Gadis itu mendekat, dan dapat kutebak jika dia si gadis nyamuk.
"Ehhh, si gadis nyamuk. Yoo!" Aku mengangkat tanganku kepada si gadis nyamuk dengan akrab. Seolah udah temenan gitu hehehehe.
"Sialan kau, beraninya menghina ketua OSIS!" Lelaki itu menarik kerahku hingga aku tertarik ke arahnya.
"Hentikan. Sikapmu tidak mencerminkan sikap sebagai wakil ketua OSIS. Biar aku yang mengurus anak bandel ini" gadis itu dengan tatapan serius menatap lelaki yang ternyata Waketos sekolah.
"Maafkan saya Ketua," lelaki itu langsung menurut, lalu melepaskan kerah bajuku lalu mundur kebelakang.
"Baiklah, kamu siapa namamu?" Gadis itu mengeluarkan senyum manis yang paling aku benci. Yaitu senyuman yang menandakan kalau neraka dunia akan segera menghampiriku
"Bukannya tidak sopan menanyakan nama orang lain sedangkan kamu belum memperkenalkan diri?" Aku dengan wajah datarku menatap gadis itu.
"Sialan!!" Lelaki Waketos itu menatapku dengan tajam.
"Hentikan!" Gadis itu balik menatap tajam si Waketos sialan itu, lalu lelaki itu bergidik ngeri.
"Jadi?" Aku melanjutkan perkataanku tanpa memperdulikan si Waketos kampret itu.
"Ara, maaf. Saya Sonia Kranata. Ketua OSIS di sekolah ini." Gadis itu memperkenalkan dirinya dengan anggun.
"Hummm, Ryu. Hikaru Ryu..." Aku mengulurkan tanganku kepada gadis itu.
Gadis nyamuk yang bernama Sonia Kernata itu menjabat tanganku, dan aku kembali merasakan sensasi semalam. You know lah.
Aku pun mengelus tangan Sonia dengan lembut.
"Ano..." Sonia merasa malu dengan perlakuanku, dan terlihat wajahnya yang telah merona.
Di belakang aku merasakan aura membunuh, saat aku membalikkan ke samping, Mia menatapku dengan tajam setajam pedang Excalibbur.
Aku dengan segera melepaskan tangan Sonia. Dan ternyata semua lelaki di kelas menatapku dengan tajam. Tanpa memperdulikan mereka, aku kembali ke sikap santai ku.
"Baiklah, semuanya Pria dengan nama Ryu ini yang akan menjadi utusan sekolah yang akan melawan Pria idola bersuara emas dari SMA Sakura. Aku harap kamu tidak mengecewakan sekolah ini R.Y.U!" Sonia berkata dengan lemah lembut, tapi pandangannya berubah menjadi tajam saat menekankan namaku sambil mengejanya satu-persatu.
"Baiklah, kita sudah selesai, semoga berhasil Ryu" Sonia melangkah keluar dari kelasku, lalu lelaki tadi menatapku dengan tajam. Sedangkan aku hanya membalas tatapannya dengan wajah poker face ku.
Aku kembali ke kegiatanku, yaitu tidur dengan headset yang ada di telingaku menunggu hingga jam istirahat.
♦♦♦
Saat istirahat terakhir, saat aku mau sedang membereskan alat belajarku, tiba-tiba Sonia datang ke dalam kelas.
"Wahhh, ketua OSIS sangat cantik," Lelaki di sebelahku sibuk menggibah bersama temannya.
"Eh..eh.. kamu tau gak?" Lelaki disebelah yang kayak bancek itu memulai silati lidahnya
"Gak tau?" Jawab spontan teman di sebelahku dengan datar.
Aku yang mendengar hanya terkekeh menahan tawa karena ulahnya.
"Eh.. Dengar dulu, konon katanya si ketua OSIS belum ada satupun pria yang bisa menggantinya sampe sekarang!" Si bancek itu malah semakin menjadi gibahnya.
"Itu juga kami tau Encong! Bahkan lelaki paling tampan yang sekarang menjadi Waketos nya gak bisa mendapatkan hati si Loli Cyuti ini..." Teman si Bancek ini meniru gaya bicaranya.
"Hai, Ryu ..." Sonia secara tiba-tiba menyapaku dengan ramah.
"Ehhhh!!!" Teman-teman sebelah kaget karena baru pertama kali melihat di Loli Cyuti ini tersenyum hahahaha dan hanya kepadaku
"Ehhh, si gadis Nyamuk..." Aku menatap Sonia dengan malas.
"Aku bukan nyamuk dasar Lekong!"
Ehhh lekong katanya emang aku kura-kura ninja apa?
"Jauh-jauh, ntar aku kena demam berdarah pas kamu hisap darah aku!" Aku melambaikan tanganku kedepan sebagai kode mengusir ea.
"Hahhh, Ryu masih perawan?!" Si Encong kaget dengan pose kayak chibi chibi di anime cheribelle.
(Emang Cheribelle anime ya?)
"Aku laki Encong!! Dasar cowo melambai. Gua kasih gigit sama Love Luna lu!" Aku menatap si Bancek Encong dengan tajam.
"Ryu serem deh, kek anjing ternak aja!"
Si Encong langsung beranjak keluar dari kelas. Sedangkan Sonia sibuk mentertawakan diriku yang tak berdosa ini dengan tampang bloon nya.
"Jadi, apa keperluan dari Loli Aedes dariku?" Aku menatap Sonia serius.
"Loli A..edes! SIALAN KAU RYU!" Sonia langsung menarik telingaku, dan membawaku keluar dari kelas.
"Adududududu, ittai ittai Dududududu!" Aku mengerang kesakitan, lalu saat sudah agak jauh dari kelas, dia melepas jeweraannya.
Aku menatap kaca kelas yang kebetulan ada, lalu aku melihat telingaku udah kek baru habis di santet dengan boneka Voodo, cuman orangnya buta jadi kena telinga.
"Njirrr, telingaku udah kayak Chipmunk Habis mandi sambel!" Aku mengelus telingaku yang habis kena jewer oleh Sonia.
"Itu salah kamu sendiri, kenapa coba jelek-jelekin aku!" Sonia menatapku dengan kesal, sambil mengembungkan pipinya.
Ternyata ada juga Chapter dimana Sonia menjadi imut, gak garang kek kak Ros di Anime Subin dan Saibin.
Saat kami sedang sibuk berdebat dengan ceria, tiba-tiba ada sebuah bayangan yang melayang jelas ke arah kami kek pisau tapi tajam, lalu Sonia mendorongku.
"Awas RYUUUU!!!" Sonia langsung terkena serangan, sedangkan aku jatuh ke tempat sampah dengan kepala di bawah.
Sial, sampahnya bau Neraka!
Aku perlahan bangun dari tempat sampah itu, dengan sebuah kulit pisang yang tiba-tiba sok akrab denganku sambil duduk dengan tenang di atas kepalaku. Setan memang.
Saat aku melihat arah serangan, sebuah bayangan shadow dengan jubah hitam dan tubuh transparan menatap kami. Wajahnya buruk jadi aku gak tau siapa mereka.
"Serahkan gulungan Itu kepada kami Sonia, ini atas perintah raja. Kalau tidak kami akan mengambilnya dengan paksa walau harus membunuh mu." Salah satu dari bayangan berjubah itu menunjuk ke arah Sonia yang tengah terkapar dan penuh luka.
"Tidak akan, kalian hanya akan membuat ras manusia hancur jika aku memberikan kepada kalian!" Sonia berteriak ria kepada para bayangan itu.
...Sonia POV...
Tubuhku sangat perih. Aku melihat Ryu yang sedang menatap para pria berjubah itu dengan bingung.
Aku menyesal, karena melibatkan Ryu dalam masalah ini. Tapi aku akan melindunginya dari Organisasi VaDa.
"Kami tidak akan memberikan toleran walau kau bangsawan vampir, karena ini adalah perintah langsung dari Yang Mulia Raja!" Pemimpin dari Pria berjubah itu menatapku dengan matanya yang tiba-tiba memerah. Aku takut Ryu akan kenapa-kenapa.
"Ryu, cepat lari kalau tidak, kamu akan terbunuh!" Aku berteriak kepada Ryu, lalu Ryu berbalik menatapku dengan datar.
Ekspresinya aneh kah atau dia memang bodoh kah? Tapi aku tidak perduli yang penting dia selamat. Aku tidak mau membiarkan manusia yang tak berdosa itu mati
"Baiklah!" Ryu menjawab dengan datar , lalu berlari ke arah belakangku. Aku tidak tau kalau Ryu rela meninggalkan ku, tapi tidak apa-apa setidaknya dia selamat.
Dengan kondisiku yang sekarang, aku tidak akan bisa bertarung sambil melindungi Ryu. Dan kemungkinan aku akan mati disini.
"Jika begitu kerasnya anda menolak nona Sonia, maka kami akan membunuhmu!" Pemimpin para bayangan itu mengeluarkan sebuah Skill Dark Fire Shoot kepadaku, dan dengan cepat melesat kepadaku.
Ahhh, setidaknya aku tidak menyesal karena berhasil menyelamatkan satu orang. Saat aku menutup mata menunggu ajal menjemput, aku menutup mataku, tapi aku tidak merasakan apa-apa. Ternyata Ryu sudah di depanku sambil menahan skill dari para bayangan.