Because My Sist

Because My Sist
I | Teh Hijau



Sudah seminggu usia pernikahan Sean dan Daisy. Keduanya merutuki keluarga besar mereka yang masih saja berada di mansion Sean.


Bukankah mereka berniat pulang setelah acara pernikahannya telah usai, namun kedua keluarga itu tampak betah di mansion Sean.


Tentu saja ini membuat Sean dan Daisy tertekan. Keduanya jadi harus tidur dikamar dan ranjang yang sama seminggu ini. Karena keduanya tampak tak mau ngalah salah satunya harus tidur di sofa.


"Kapan mereka pulang sih?"rutuk Daisy diatas tempat tidur.


Suami istri itu tampak berada di atas tempat tidur dengan kegiatan mereka masing-masing.


Sean yang sibuk dengan laptopnya melirik sekilas istrinya yang mendumel di sebelahnya.


Sebenarnya keduanya sudah biasa saja jika tidur seranjang. Yang menjadi permasalahannya adalah keduanya masih canggung berlagak seperti sepasang suami istri di hadapan keluarga besar mereka.


"Kau mengeluh saja taunya, coba lakban mulutmu biar tidak berisik"kata Sean dengan pandangan tetap fokus pada laptopnya.


Daisy melirik sinis, ia menendang paha luar Sean. Lelaki itu tersentak, ingin membalas tapi lebih baik mengalah.


"Siapa juga yang berbicara denganmu" Daisy membalikkan punggungnya membelakangi suaminya dan kembali fokus pada ponselnya.


Sean hanya mengangkat bahunya tampak acuh dengan tingkah Daisy.


Daisy menggulir postingan-postingan yang muncul di beranda sosmednya.


Tangannya berhenti melihat salah satu postingan teman kuliahnya dulu.


"Beruntung sekali dia memiliki suami tampan dan romantis"gumamnya melihat nasib temannya yang sangat beruntung.


Salah satu impian Daisy adalah menikah dengan sesosok pria yang tampan, romantis, suka memBRI, rajin memBCA, dan yang paling penting MANDIRI, tidak memBNI dirinya. Sangat maruk bukan, mwhuhehe.


Sean mendengar gumaman sang istri. Dirinya mengernyit.


"Memangnya aku tidak tampan, bahkan aku kaya raya"batinnya menilai dirinya sendiri.


Tok..tok..tok..


Keduanya menoleh pada pintu yang di ketuk. Terlihat enggan untuk membuka dan melihat siapa dibalik pintu tersebut.


"Buka tuh!"suruh Sean.


"Ogah!"


Sean menatap tajam pada wanita yang entah mengapa sulit sekali menuruti perintahnya.


"Buka'in atau..."


"Atau apa?"potong Daisy sambil beranjak dari rebahannya.


Sean pikir wanita itu akan membuka pintu kamar namun nyatanya salah.


"Buka sendiri, aku ingin buang air besar"teriak Daisy yang sambil lari ke arah kamar mandi.


Sean terpelongo melihat tingkah wanita yang telah menjadi istrinya selama seminggu ini. Bukan pertama kalinya melihat kekonyolan dari Daisy, namun tetap saja membuat Sean geleng-geleng kepala.


Dengan terpaksa Sean pun beranjak dari posisinya dan berjalan ke arah pintu untuk menemui siapa yang telah menganggunya malam malam begini.


Ceklek!


"Ada apa?"tanyanya dengan wajah yang datar seperti biasa pada kepala pelayan mansion yang tampak berdiri sambil memegang nampan.


"Ini tuan tadi nona Daisy minta dibelikan martabak telur"


Sean berdecak kesel, padahal ini pesanan wanita itu seharusnya dialah yang membuka pintu ini tadi. Sudahlah alasannya buang hajat pula.


"Hm sini berikan"Sean mengambil nampan itu.


"Disitu juga ada teh hijau tuan, nyonya besar meminta anda dan nona Daisy untuk mencicipi racikannya"kata Nany lagi menyampaikan pesan nyonya besar-Reina.


Sean terdiam sebentar.


"Hm baiklah" setelah itu dia masuk kembali kedalam kamarnya dan tidak lupa juga menutup pintu kamarnya lagi.


Nany membungkuk'an tubuhnya memberi hormat kepada tuannya yang mulai menghilang di balik kamar.


"Apa lagi rencana keluarga ini kepada tuan Sean"gumam Nany yang sebenernya menaruh rasa curiga disuruh memberi minuman teh hijau tadi.


°°°


Sean menghela nafasnya berat, ia tahu niatan mamanya memberikan minuman ini. Ini bukan rencana mamanya saja, pasti baik keluarganya yang lain dan keluarga Daisy ikut campur.


Sean mencomot satu martabak telur yang dibawa pelayan tadi. Tak habis pikir malam-malam gini Daisy masih bisa meminta makanan berat seperti ini.


Terasa enak dan candu, asekk. Sean pun mengambil satu potong lagi dibarengi dengan ponselnya yang berbunyi.


"Sebentar, aku cek dulu dan mengirimkannya padamu"


Sean mematikan panggilannya, dirinya ingin beranjak keruang kerjanya namun sebelum itu ia berteriak kepada sosok Daisy yang tak kunjung keluar dari toilet.


"Martabak mu sudah datang, cepat keluar. Closet ku akan penuh dengan pup mu"teriak Sean kemudian beranjak memasuki pintu rahasia yang langsung menembus ruang kerjanya.


"Diam kau manusia setan"pekik Daisy pada Sean yang menganggu dirinya mengeluarkan fasesnya.


Sepertinya pun dirinya tak akan sanggup lagi memakan martabak itu lagi nantinya, perutnya tiba-tiba menjadi sakit.


°°°


Setelah puas mengeluarkan hajatnya, Daisy mengelus perutnya yang tampak legah.


Dirinya celingukan menatap kamar yang kosong, kemana pria sawan itu. Daisy mengedikkan bahunya acuh, bodo amat dengan keberadaan pria yang telah menjadi suaminya itu.


Daisy mendekati nampan yang berisikan martabak telur pesanannya tadi. Terlihat tidak menggiurkan lagi.


Matanya mengarah pada dua gelas teh hijau yang tersaji disana, ia meraihnya. Dan meneguknya sampai tandas.


Pelayan dirumah ini tahu sekali dirinya sedang sakit perut, teh hijau adalah obatnya.


Tak cukup dengan satu gelas, gelas satunya pun juga ikut disikat oleh wanita itu.


Sean yang baru selesai dengan urusannya pun kembali ke kamar. Matanya melotot melihat Daisy meminum ramuan jadi-jadian yang dibikin oleh mamanya.


"Jangan minum itu!"hentinya namun sudah terlambat. Kedua gelas minuman teh itu sudah dihabiskan oleh Daisy.


Daisy menatap suaminya bingung.


"Kenapa?"


"Kau menghabiskan dua gelas sekaligus?"tanya Sean tak percaya.


Kali ini dia berharap semoga saja itu memang minuman teh hijau sungguhan tanpa campuran apapun.


Daisy mengangguk kuat.


"Ehm ini sangat enak. Kau mau? Tapi sudah habis wleee"ejek Daisy tertawa tanpa tahu sesuatu hal akan menimpanya.


Sean menggelengkan kepalanya menatap geli pada sang istri yang bertingkah konyol, siapa juga yang berminat pada minuman itu. Ia malah tergiur pada martabak yang masih tersaji di sana.


"Kau ada merasakan sesuatu setelah meminumnya?"tanya Sean seraya mengambil potongan martabak dan kembali memasukkan kedalam mulutnya.


Daisy tampak diam kemudian menggeleng.


Sean menghela nafas lega, syukurlah.


Ia pun kembali menikmati martabak kembali, dan tanpa disadari martabak itu sudah tandas olehnya sendirian.


Sedari tadi Daisy menatap suaminya yang terlihat lahap memakan makanan yang penuh lemak itu, jarang sekali melihat pria perfeksionis seperti Sean memakan makanan seperti ini ditengah malam.


"Tumben sekali kau mau memakan makanan sampah ini"sindir Daisy.


Ya itulah julukan Sean terhadap makanan yang berpotensi memiliki lemak dan protein lebih.


Sean sedikit melirik malas tak membalas omongan Daisy, ia melahap potongan terakhir dari bagian martabak itu.


"Sangat enak"komentarnya setelah menghabiskan semua martabak.


"Tentu saja enak, milik orang pulanya"Daisy merebahkan tubuhnya kembali di ranjang.


Sean mengkesal melihat wanita itu menjawapinya sedari tadi.


Sean berniat ke pantri menghilangkan seret di tenggorokannya dengan segelas air, namun suara Daisy menghentikannya.


"Sean tolong naikkan suhu kamarnya, kenapa jadi panas begini"titah Daisy yang terlihat kegerahan di atas tempat tidur.


Sean terpaku. Oh tidak, apa memang benar ada sesuatu pada minuman tadi. Dan itu sudah bereaksi pada tubuh sang istri.


°°°


"Apa akan berhasil?"


"Tentu saja, temanku sangat merekomendasikan minuman itu. Selain menyuburkan juga memberi rangsangan"


"Semoga saja"


"Ya semoga Daisy cepat hamil"


Begitulah perkiraan pembicaraan orang dewasa itu mengenai rencana yang mereka lakukan pada anak-anak mereka.