
"Kak Azam kenapa kau bisa ada disini?"tanya Selin sedikit terkejut dengan keberadaan sang pujaan hati.
Jangan tanya bagaimana perasaannya. Tentu saja senang setengah mampus. Seketika dirinya langsung saja melupakan nasihat Daisy yang baru saja berapa menit yang lalu wanita itu katakan.
Daisy menatap bingung kearah keduanya. Sedikit mengangumi ketampanan yang ada pada Azam. Tak kalah jauh tampan dari suaminya. Pantas saja Selin begitu jatuh cinta.
Mungkin jika Daisy masih singel akan naksir juga, ehh.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu, mengapa kau bisa mengikuti sampai sini?"tuduh Azam dengan dingin, menatap dengan malas Selin yang berada dihadapannya.
"Aku.."
"Hei tampan! Dunia tahu dirimu memang tampan, tapi Selin tak sebodoh itu mengejar mu sampai sini. Memangnya kau siapa?"sentak Daisy yang merasa tak terima jika Selin dituduh yang tidak-tidak.
Inikan acara ulang tahun perusahaan keluarga Richard. Wajar saja Selin ada disini karena termasuk bagian dari keluarga tersebut. Seharusnya keberadaan pria ini yang perlu dipertanyakan.
"Kak Dai..jangan kasar"ingat Selin yang merasa aura Azam semakin tak suka padanya karena ucapan Daisy.
"Kak Azam aku minta maaf, aku disini karena..."Selin mencoba menjelaskan apa yang terjadi namun.
"Dasar tidak penting"potong Azam kemudian pergi dari sana meninggalkan Selin yang menatap sedih dan Daisy yang tersulut emosi.
"Hei kau yang tidak penting sialan!"makinya pada pria tampan tadi yang mulai tampak menjauh dari mereka.
Melihat itu Selin ingin mengejar namun Daisy menahannya.
"Mau kemana?"
"Aku mau ngejar dia kak, lepas"Selin mencoba melepas genggaman istri kakaknya.
"Untuk apa Lin? Udh lupain aja deh cowok kayak begitu. Cakep iya, akhlak gak ada"
Selin menggelengkan kepalanya. Dirinya tak mau, ia sudah begitu jatuh cinta pada lelaki bernama Azam itu.
Pada akhirnya genggaman itu pun terlepas. Selin bergegas untuk mengejar Azam, Daisy ingin mengikutinya namun kadatangan Sean menghentikannya.
"Kenapa kau tergesa seperti itu?"tanya Sean melihat istrinya dengan raut panik.
"Noh si Selin ngejar cowok brengsek"adu Daisy pada suaminya.
Sean berdecak.
"Sudah tidak usah dikejar"
Daisy menatap tak percaya. Mengapa Sean begitu santai, apa ia tidak takut adik perempuannya kenapa-napa.
"Tapi nanti Selin.."
"Pria itu dari anggota keluarga Bhalendra. Tak mungkin bermacam-macam pada Selin"sahut Sean menjawab segala kebingungan Daisy.
Daisy tertegun. Bhalendra, keluarga terhormat yang sebelas duabelas kekayaannya dengan Richard.
"Pantas saja Selin menyukainya. Sudah tampan, kaya lagi"gumam Daisy yang kini tahu mengapa adik iparnya itu bisasangat jatuh hati pada sosok pria tadi.
Sean mendengar perkataan Daisy memuji pria yang katanya pujaan hati Selin.
"Aku juga tampan dan kaya"kata Sean membanggakan dirinya.
Daisy berdecih seraya melirik Sean dengan malas.
"Cih tapi sudah tua"celetuk Daisy.
Sean merasa tak terima menoyor kepala istrinya.
"Tua dari mana, masih bisa bikin wanita menjerit ini"ucapnya dengan angkuh.
Sudah tak heran dengan Sean yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi, ya walau memang semua yang dikatakan pria itu benar.
"Iya..iya..suamiku memang paling tampan sejagat raya"seru Daisy menepuk nepuk pelan pipi Sean. Sean terdiam mendapatkan perlakuan seperti ini dari Daisy.
Astaga pria berumur 27 tahun itu sepertinya sedang salting dengan tingkah sang istri.
"Apa acaranya masih lama?"tanya Daisy membuyarkan diamnya Sean.
"Sepertinya, acara puncak saja belum dimulai"
Daisy mengeluh, tubuhnya sedikit dibuatnya menurun.
"Astagaa aku capek dan ngantuk"keluhnya.
"Apa kau sudah pamer dengan gaun mu itu?"Sean melirik gaun yang tampak indah digunakan Daisy. Mengingat perkataan gadis itu yang ingin menunjukkan kepada para tamu bahwa gaun yang ia gunakan saat mahal.
Daisy kembali menegakkan tubuhnya.
"Tidak jadi, perutku sudah membengkak"sahutnya yang merasa gaun ketat ditubuhnya terasa sesak, makanya ia ingin bergegas pulang dan cepat-cepat menggantinya dengan baju rumahan.
Sean mendelik melihat sisa makanan yang terletak manis di meja. Pria itu hanya menggelengkan kepalanya. Untung saja dirinya kaya, jadi bisa memberi makan Daisy dengan perut tong sampahnya itu.
"Pulanglah bersama yang lainnya ke mansion utama. Aku akan menyusul"
Daisy baru sekali menginjakkan kakinya ke mansion utama. Tempat tinggal Oma Merry, bibi Carol dan suaminya, mama Reina dan papa Alan serta tentu saja Selin.
Daisy mengangguk ia berniat untuk menyusul keberadaan keluarga suaminya namun Sean berpesan.
"Kamar nanti jangan dikunci dulu"ingatnya, dan hanya di respon anggukan oleh Daisy.
Dimansion utama tentu saja keduanya harus tidur disatu kamar yang sama agar keluarga yang lain tidak curiga.
°°°°
Mansion utama Richard
Daisy dan keluarga Sean yang lain telah tiba di mansion. Ternyata Zora dan si kembar juga ikut untuk menginap sementara suaminya akan nyusul bersama Sean setelah acara selesai.
Sepertinya malam ini mansion utama terlihat ramai. Duhh Daisy jadi merindukan keluarganya yang ada di Indonesia.
Daisy melirik adik iparnya yang berwajah sembab. Sepertinya habis menangis. Astaga Selin, kau wanita cantik dan kaya untuk apa mengemis cinta seorang lelaki.
"Daisy"panggil Merry yang duduk di kursi rodanya.
Sudah sebulan dari insiden jatuhnya wanita tua itu tapi dokter tetap menganjurkan untuk menggunakan kursi roda.
Daisy menoleh pada Merry, sedikit gugup. Keluarga yang lain pun ikut was-was terhadap wanita tertua dikeluarga mereka.
Apa yang ingin dikatakan Merry pada Daisy.
"I..iyaa Oma?"
Untuk apa wanita ini mau berbicara dengannya, apa untuk me-roastingnya habis-habisan.
Daisy menatap mama Reina seakan meminta pendapat. Mama Reina pun mengangguk.
Daisy berjalan mendekati kursi roda Merry.
"Baik Oma, ayo kekamar"Daisy mendorong kursi roda yang ditumpangi Merry. Keduanya mulai hilang masuk kekamar Merry yang berada di lantai bawah.
Keluarga yang lain menatap jantungan. Apa istri Sean itu akan baik-baik saja.
"Tidak perlu khawatir, mama hanya ingin menanyakan apakah menantu kita itu sudah hamil atau belum"kata papa Alan pada keluarganya yang lain tampak khawatir.
Sebenarnya waktu itu Merry selalu menanyakan apa Daisy sudah hamil, tentu saja Alan tak tahu. Putranya belum ada memberi kabar sedikitpun.
Setelah mendengar itu hembusan nafas lega terdengar. Mereka pikir Daisy akan diapa-apain.
"Syukurlah"
°°°
Daisy duduk dipinggir tempat tidur Merry, sementara wanita tua itu masih duduk di kursi rodanya.
"Oma ingin membicarakan apa?"tanya Daisy dengan pelan.
Walau di awal pertemuan keduanya sering bertengkar. Namun seiring berjalannya waktu keduanya pun sudah tak terlalu banyak berbincang. Mungkin karena kondisi Merry sedang sakit saat ini membuat ia malas untuk cari ribut dengan cucu menantunya.
Tangan Merry beralih mengelus perut datar Daisy.
"Apa cicitku sudah ada disini?"
Daisy membelalakkan matanya. Oh ayolah tadi Selin sekarang Merry yang menanyakan keberadaan penerus keluarga ini.
Ada apa dengan keluarga Richard, sepertinya ngebet banget pengen punya cucu.
Daisy berdehem gugup.
"Be.belum Oma"Daisy menundukkan wajahnya.
Merry menghela nafas. Menganggap remeh pada cucu kesayangannya itu.
"Apa kalian sudah periksa?"
Periksa apanya, dirinya belum hamil kan karena memang belum berhubungan badan dengan suaminya sendiri.
"Belum juga Oma"
"Periksalah dan minta panduan dokter supaya bagaimana kamu bisa cepat hamil"
Daisy sebenarnya sedikit bingung. Mengapa wanita tua ini tiba-tiba menginginkan dirinya cepat memiliki keturunan dengan Sean, sementara waktu itu Merry tampak tak suka dengannya.
"Ini masih sebulan lebih pernikahan Oma, aku rasa terlalu cepat untuk memeriksanya"
"Tak ada yang terlalu cepat. Besok Oma mau kalian kerumah sakit untuk periksa"suruh Merry tak ingin dibantah.
Aduhh seharusnya Sean berada disini untuk menghadapi nenek gilanya.
"Oma sebenarnya kami masih menundanya jadi..."
"Jadi kalian belum melakukannya sama sekali?"cerca Merry. Daisy kebingungan.
Merasa malu mengatakan bahwa dia masih ting-ting diumur pernikahan yang sudah menginjak sebulan.
Daisy mengangguk pelan, kepalanya ditundukkannya dalam-dalam.
Merry menghela nafas berat. Ia pikir Daisy merupakan wanita yang gercep dengan masalah seperti itu. Namun nyatanya masih noob. Dan juga ia merasa heran kepada cucunya. Katanya cinta tapi sampai sekarang tidak meniduri istrinya.
Apa ada sesuatu yang di sembunyikan kedua manusia ini, pikir Merry.
"Setelah Sean pulang lakukanlah, jika dia tidak mau beritahu aku"kata Merry yang mendapatkan respon terkejut dari Daisy.
Yang benar saja Daisy meminta hal itu kepada suami cueknya.
"Ta..tapi Oma.."
"Tak ada tapi-tapian. Aku harus melihat cicitku sebelum ajal menjemput ku"Cerca Merry yang sebenarnya sudah menginginkan kehadiran cicitnya dari cucu kesayangannya.
Dirinya tak akan tahu berapa lama lagi ia berada di dunia ini. Maka itu dia mulai menerima Daisy sebagai cucu menantunya. Ya dia akui Daisy memang pantas bersanding dengan Sean.
Daisy yang mendengar ucapan Merry menjadi sedih, ia jadi mengingat kenangan dirinya dengan neneknya yang telah meninggal.
"Hikss..oma jangan mengatakan itu"tanpa diminta wanita yang menjadi istri cucunya itu menangis.
"Hei aku yang mau mati kenapa kau yang nangis"Cerca Merry sedikit arogan, namun dalam lubuk hatinya terasa hangat.
Daisy yang tak tega ketika seseorang mengatakan hal tersebut langsung memeluk Merry dengan kuat.
"Oma harus sehat. Iya nanti Daisy sama Sean janji bikin cicit untuk Oma. Jangan pergi dulu"sungutnya memeluk erat Merry.
Rasanya seperti mengingat detik-detik neneknya meninggal yang mengatakan umurnya sudah tak lama lagi.
Merry menepuk pelan punggung Daisy berniat menenangkannya.
"Sudahlah tak perlu bersedih seperti ini. Diriku sudah tua, wajar ajal lebih cepat menjemput ku"
Daisy melepaskan pelukannya ia menatap sedih wajah nenek dari suaminya.
"Oma minta maaf atas perlakuan oma selama ini padamu. Percayalah dulu Oma bukan membencimu hanya saja Oma tak mau melihat cucu Oma memilih pasangan yang salah untuk kedua kalinya"Merry meminta maaf dengan tulus kepada Daisy atas sikapnya selama ini.
Ada terbesit rasa penasaran, apa sebelum Leyna menipu pria itu sebelumnya Sean pernah merasakan patah hati.
Daisy mengangguk.
"Iyaa Oma, Daisy juga minta maaf karena selama ini suka melawan Oma"
Merry menghapus air mata Daisy yang tak kunjung berhenti.
"Berhentilah menangis. Lihat dirimu jelek sekali"
"Omaaa"rengeknya manja.
Merry pun tertawa. Pantas saja cucu kesayangannya itu sudah mulai bisa menunjukkan berbagai ekspresi wajahnya ternyata begini kelakuan istrinya.
Merry berharap pernikahan Sean akan langgeng sampai tua.