
Keesokan harinya...
Daisy bangun dari tidurnya dan seketika menjatuhkan rahangnya begitu melihat banyaknya manusia dihadapannya saat ini.
Dirinya terkejut melihat keberadaan keluarganya dan keluarga Sean yang berkumpul di hadapannya dengan senyuman sumringah, terkecuali nenek tua yang menjadi nenek kesayangan suaminya yang saat ini sedang berdiri di depan pintu kamar sambil melipat dadanya, menatap datar kegilaan ini.
"YAAKKK!!"
"MENGAPA KALIAN SEMUA ADA DISINI"teriak Daisy merasa ditelanjangi dengan tatapan keluarganya dan keluarga Sean.
Tunggu! Dimana pria yang baru mempersunting dirinya semalam, kenapa pria brengsek itu tidak ada disini. Benar benar kelewatan, bisa bisanya pria itu melarikan diri di situasi seperti ini.
"Sayang bagaimana, apa Sean terlalu kasar padamu?" Reina langsung menyerbu Daisy dengan pertanyaan frontalnya, menatap menantunya dengan binar.
"Apa permainan anak papa bagus?"Alan ikut menambahi.
"Apa menantu mama itu sungguh kuat?"kali ini mamanya yang sedeng ikut menambahi.
"Apa tubuh kak Sean sangat bagus kak?"tanya Selin. Mana Daisy tau, kan situ adiknya.
"Kak desahanmu tidak fales kan?"kini adik laki lakinya ikut menambah kekonyolan ini.
"Akhirnya putri ayah sudah tidak gadis lagi, selamat ya sayang"itu ucapan ayahnya, Jey.
"Ini mereka pada kenapa sihh, ya Tuhan"batin Daisy menjerit menatap ketolol'an keluarganya plus keluarga suaminya.
"Sepertinya Sean sangat ganas, tanda cinta dileher mu membuktikan semuanya"goda Zora, putri bibi Carol.
Daisy termenung, ia meraba lehernya. Memang ada apa dengan lehernya. Ia langsung bangkit dari tempat tidur, sedikit mendorong Daren karena menghalangi jalannya.
Daren yang mendapatkan serangan tiba tiba dari manusia jelmaan seperti kakaknya hanya bisa mengumpat.
Daisy membelalakkan matanya melihat kondisi lehernya saat ini didepan cermin.
"Seannn Brengsek!!"desisnya begitu melihat banyaknya tanda merah didaerah lehernya.
"Apa yang dilakukan pria itu padaku"batinnya.
"Kita akan segera kedatangan anggota baru di keluarga ini"ucap Alan dengan suara gembira, disambut dengan sorakan dari yang lainnya.
"Pasti kau menggoda cucu ku deluan"cetus Merry membuat suasana diruangan kamar itu menjadi hening kembali.
Daisy menatap tak percaya kepada wanita tua yang berdiri diujung sana.
Menghadapi nenek Merry memang tidak boleh dibalas dengan emosi, jadi Daisy menghembuskan nafasnya perlahan.
"Tentu saja Oma, Sean terlalu dingin. Kalau tidak di pancing maka anunya tak akan dapat"seloroh Daisy melupakan sebentar kekesalannya kepada pria yang baru saja semalam mempersuntingnya.
Seluruh anggota yang ada disitu dengan sekuat tenaga menahan tawa mendengar ucapan Daisy. Ya Daisy adalah kandidat yang sangat cocok untuk bersanding dengan Sean karena akan berhadapan dengan sosok monster seperti Merry.
"Sial"
Merry pun beranjak dari sana, dan tanpa hitungan detik tawa pecah memenuhi kamar itu.
"Lihat saja kau Sean, berani sekali kau menempatkan aku di situasi seperti ini"
°°°
Dilain tempat, tepatnya didalam sebuah mobil yang sedang melaju. Sean menatap layar tab nya yang berisikan suasana yang terjadi di dalam kamarnya.
"Tuan, apa tidak papa membiarkan nona Daisy sendiri ditengah keluarga anda dan keluarganya?"seru Luke kepada Sean yang sibuk memandangi tabnya.
Sean menyunggingkan senyuman kecil.
"Kau meragukan kegilaan wanita itu?"Sean cukup terhibur dipagi ini melihat situasi kehebohan yang dilakukan keluarga wanita yang baru saja ia nikahi itu dan keluarganya sendiri.
Sean tak habis pikir manusia-manusia konyol itu berusaha mengintip kamarnya dan lebih parahnya memasuki kamarnya dengan diam-diam.
"Pasti nona Daisy sedang sangat kesal dengan anda tuan"
Sean tertawa kecil.
"Biar saja, itu balasan ku kepadanya karena sudah membuatku kesal"Sean mematikan tabnya dan menatap asistennya dari kaca spion.
"Jika keluargaku berbuat hal konyol lainnya atau yang seperti tadi, cepat kabari aku"
Flashback
Sean terbangun dari tidurnya karena mendengar suara dering ponsel berbunyi.
Sedikit mengucek matanya, dan meraih ponsel yang berada di meja samping ranjangnya.
"Hmm"
"Tuan seluruh keluarga anda dan keluarga nona Daisy sedang menuju kamarmu"adu Luke diseberang sana memberitahu situasi diluar kamar tuannya.
Sean berdecak dan langsung mematikan panggilannya.
"Sial"
Dirinya langsung mendekati Daisy, istrinya yang baru terhitung jam.
"Tidurnya seperti mayat, semoga kau terus seperti ini saat aku melakukannya"
Sean menatap Daisy yang tertidur dengan pulasnya, bahkan wanita itu tidak merasa terganggu dengan pergerakannya yang sedikit gelisah ditempat tidur saat ini.
Tanpa menunggu waktu lagi, Sean mendekatkan wajahnya ke arah Daisy. Memberi kissmark pada sekitar leher dan dada wanita itu.
Tanpa disadari sesuatu di bawah sana sudah merasa sesak diantara kedua pahanya.
"Sial, harum sekali"
Dengan berat hati, ia menjauhkan dirinya dari Daisy mengingat situasi genting saat ini.
Dengan gerakan cepat Sean sedikit memberantakan tempat tidur dan membuka piyamanya, dan hanya menyisakan boxernya saja.
"Dasar manusia aneh, bisa-bisanya mereka berniat memasuki kamarku layaknya maling"omelnya pada keluarganya yang sudah membuatnya kesel setengah mati di pagi hari.
Entah apa yang mendasari keluarganya yang berniat mengintip dirinya dimalam pertama. Apa mereka berharap sesuatu terjadi diantara dirinya dengan Daisy.
Kemudian Sean mendekatkan kembali dirinya kepada Daisy. Pria itu mengangkat kepala istrinya ke atas lengannya. Tangannya yang satu lagi kini mengelus lembut rambut wanita itu.
"Kau memang mayat hidup"gumamnya tak habis pikir dengan Daisy yang tak terusik dengan kegelisahannya sedari tadi.
Bahkan wanita itu tak membuka matanya saat Sean mencium sekitaran leher dan dadanya.
Ceklek
Sean menoleh ke arah pintu kamarnya yang terbuka dengan pelan.
Sean menatap keluarganya dan keluarga Daisy yang termenung melihat dirinya yang menangkap basah mereka.
"Sial sudah bangun!"
"Mati lah kita"
Pikiran berkecamuk menyelimuti para manusia manusia yang kepo terhadap malam pertama seseorang.
"Ahh Sean dirimu sudah bangun sayang"Reina memecahkan keheningan yang terjadi.
Sean menaruh kepala Daisy kembali menempati bantal, kemudian bangkit dengan keadaan setengah telanjang.
Seluruh mata keluarganya melotot tak percaya, tak terkecuali Luke yang menatap boss nya tak terduga.
"Apa tuan sudah melakukannya?"
"Jika ingin melihat istriku silahkan, tapi jangan sampai membuatnya terbangun"Sean berjalan mengambil jubah handuk yang semalam ia taruh di sofa.
"Luke bantu aku bersiap!"titahnya pada pria yang masih terbengong di ujung sana kemudian melangkahkan kakinya kedalam bathroom.
Mendengar ucapan Sean yang terlihat tidak marah membuat perasaan manusia yang berada didepan pintu itu merasa lega.
Mereka pun mendekati Daisy yang tertidur pulas di atas kasur, sementara Luke mempersiapkan kebutuhan tuan Sean.
Seluruh anggota keluarga tersenyum penuh arti. Melihat tempat tidur yang berantakan dan kissmark yang ada di sekitaran leher Daisy. Sebentar lagi mereka akan kedatangan anggota keluarga baru, pikir mereka.
°°°
Selamat kalian kenak prank oleh tuan Sean, kameranya ada disana!!- Author