Because My Sist

Because My Sist
U | Cemburu



Pagi harinya...


Seluruh keluarga tengah sibuk mempersiapkan diri menghadiri pesta pernikahan Niko dan Leyna.


Keberadaan dirumah keluarga Baker itu terlihat berisik, namun tak menganggu tidur sepasang suami istri yang sedang terlelap di ranjangnya.


"Daisy Sean cepat bersiap! Ini sudah jam delapan, satu jam lagi pemberkatan akan dimulai"teriak Metta menggedur pintu kamar anaknya yang terkunci.


"Astaga mereka ngapain sih, kenapa tidak keluar"rutuknya tak melihat sepasang suami istri itu tak kunjung menampakkan diri.


Bagaimana mau keluar, sementara keduanya sedang sibuk memeluk satu sama lain dengan tubuh yang masih polos.


"Sudahlah ma, mereka bisa menyusul. Urus saja hal yang lain"kata papa Alan yang melihat tak ada hasilnya mama Metta membangunkan putri dan menantunya itu.


Mama Metta pun meninggalkan kamar Daisy dan mengurus hal yang lainnya.


Didalam kamar..


Daisy melenguh merasa sinar matahari menghantam netranya. Ia meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku namun terlebih dahulu mendorong tubuh Sean yang memeluknya erat.


Sean yang merasa guncangan ditubuhnya pun terbangun. Ia mengucek netranya agar fokus melihat istri yang baru saja ia gagahi semalam.


Senyuman kecil tercetak di wajah tampannya. Daisy melirik suaminya yang senyum-senyum sendiri.


"Kau kenapa?"tangannya menampar pipi Sean.


Sean tersentak, wajah kesesemnya tadi berubah kembali menjadi datar. Daisy tidak boleh tau, dia sedang tersenyum melihat istrinya di pagi hari gini.


"Tidak ada"


Sean kembali menutup matanya ingin tidur kembali. Namun Daisy mencegatnya.


"Ck! Ayo bangun, sebentar lagi pemberkatan pernikahan"tangannya menggoyang-goyangkan lengan Sean yang terbuka.


"Apa harus menghadirinya"sungut Sean merasa malas.


"Tentu saja. Kau tak ingin melihat mantan kekasihmu menikah haha"goda Daisy tertawa meledek.


Sean melirik malas, namun matanya terbelalak melihat selimut yang melorot dari tubuh istrinya. Alhasil tubuh bagian atas Daisy terpampang dengan jelas.


Oh tidak! Dibawa sana miliknya sudah baperan saja melihat dada dipagi hari.


Daisy yang masih tertawa tiba-tiba berhenti, terkejut merasakan tangan Sean meremas dadanya.


"Tertawalah sepuasmu!"cibir Sean.


Daisy yang tak mau kalah pun mengulur tangannya meremas senjata Sean dibawah sana yang sudah mengeras.


"****"


"Emang kau saja yang bisa!"tantang Daisy tersenyum smirk.


Akhirnya pun kedua sejoli itu mengulang kejadian semalam. Menciptakan pagi panas yang bergairah.


Keduanya kembali mengejar kenikmatan tanpa memperdulikan keributan yang terjadi di luar kamar.


°°°


"Mama daleman Daren dimana?"seru Daren dengan jubah handuknya mengikuti mama Metta yang sibuk mempersiapkan keperluan pernikahan.


Anak manja itu memang tidak bisa mandiri. Ya emang anak manja mana yang bisa mandiri. Coba di spill!


"Mah kaos kaki papa satu lagi kok gak nampak?"


Papa Alan pun ikut menambah beban mama Metta.


"Mahh ini gaun Leyna kok kesempitan"pekik Leyna, sang pengantin yang begitu merasa sesak mencoba gaun yang sudah dirancangnya dari jauh hari.


"Kak listrik mati. Bagaimana kita menanak nasi?"kata bibi Ola. Sebelum berangkat ada lebih baiknya mereka sarapan terlebih dahulu.


"Bibi, Selin lapar"keluh wanita itu merengek.


Metta meremas kepalanya merasa pusing. Anggota keluarganya semua melimpahkan padanya.


"Bisakah kalian diam! Cobalah mandiri dan usaha!"pekik Metta yang frustasi.


Semuanya pun jadi terdiam. Aduhh, singa rumah sudah mengamuk.


"Daren ambil saja dalaman papa dikamar. Dan papa coba lihat di jemuran. Dan kau Leyna tahan sendiri! Siapa suruh dirimu membuat gaun seukuran semut!"


"Kak Ola coba hubungi katering langganan kita untuk sarapan. Dan kamu Selin, jika sudah sangat lapar beli sarapan pagi didepan rumah atau kau bisa delivery, jangan seperti orang susah"


Wanita setengah paruh baya itu pun menanggapi keluhan para manusia itu. Melihat mama Metta yang sebentar lagi sepertinya emosinya akan meledak, kelima nya pun langsung pergi dari sana tak berniat mengeluh lagi.


Metta membuang nafas berat. Dirinya begitu lelah. Memang beginilah ibu rumah tangga, segala sesuatu dilimpahkan padanya tanpa usaha sendiri terlebih dahulu.


°°°


Alhasil pemberkatan pernikahan Leyna dan Niko pun berlangsung. Walau tadi sempat diundur karena keterlambatan keluarga pengantin.


Semua keluarga memandang Leyna dan Niko yang kini berdiri di altar gereja untuk mengucapkan janji suci mereka.


Pria itu tampak sedari tadi memandang Leyna dengan tajam. Dan Daisy cemburu, kenapa suaminya ini selalu melihat ke arah Leyna. Apa ia masih menyimpan perasaan kepada sang kakak.


"Bisakah kau diam"titah Sean datar.


Aduh Sean mengapa dirimu tidak peka, Daisy cemburu.


Daisy mencebik bibirnya merasa kesal. Apa kakaknya begitu cantik sama Sean terlalu melihatnya seperti itu.


°°°


Setelah acara pemberkatan pernikahan kemudian akan dilanjutkan dengan acara resepsi.


Daisy tak berhenti menatap Sean yang sedari tadi terus mengawasi segala gerak gerik Leyna.


"Cih. Katanya benci, tapi dilihatin terus"


Dada Daisy tiba tiba terasa nyeri. Ayolah Daisy kau bukan wanita yang lemah seperti ini. Hanya karena sudah menyatu dengan Sean, kau tak membatasi perasaan mu lagi.


"Apa dia terlalu cantik"cibir Daisy pada Sean yang berada di sebelahnya.


Sean melirik sedikit kearah istrinya, terlihat sedikit kesel.


"Hm"


Daisy melototkan matanya. Tangannya pun membabi buta memukuli Sean. Sean dengan sekuat mungkin menahan tangan Daisy. Namun wanita itu terlalu brutal.


"Berhentilah. Kau mempermalukan kita"suruh Sean.


"Biarin! Biar orang tau ada suami genit disini. Sudah punya istri malah melirik istri orang"ketus Daisy dengan mata yang berkaca.


Oh tidak. Kenapa seorang Daisy menjadi sensitif seperti ini.


Sean mendecak. Ia pun menarik Daisy untuk keluar dari aula pernikahan. Membawanya ke tempat daerah sepi.


"Kau ini kenapa?!"tanya Sean saat mereka telah berada diluar.


Daisy bersedekap dada. Wajahnya kelihatan jutek.


"Tidak tau. Tak usah berbicara kepadaku!"ketus Daisy yang tak sudi melihat wajah suaminya.


Sean menggelengkan kepalanya. Sean akui akhir akhir ini entah mengapa Daisy terlalu sensitif padanya. Apa Daisy menyukainya? Ah mana mungkin.


"Kau cemburu!"


"Sudah tau nanya!"balas Daisy ngegas.


Sean tersenyum kecil mendengar itu. Bukankah berarti kalau cemburu wanita ini..


"Kau menyukai ku?"


Daisy ingin menjawab namun terhenti mendengar suara teriakan seseorang.


"Kak Azam tunggu!"


Disana terlihat Selin dan seorang pria yang bernama Azam. Selin tampak mengejar pria itu, namun Azam tak menggubrisnya.


"Kak tunggu!"cegat Selin menahan lengan pria itu, namun Azam menghempasnya.


Daisy melototkan matanya ia ingin menyusul kesana namun Sean menghentikannya.


"Tidak usah ikut campur"


"Tapi pria itu sudah kasar pada Selin"Daisy tak habis pikir mengapa Sean tak pernah khawatir akan Selin.


"Kita pantau dari sini. Selin bukan anak kecil lagi, dia harus mampu menanggung apa yang dia perbuat dan inginkan"tegas Sean.


Ya didikan pria itu cukup keras. Jika seseorang sesuka hati berbuat sesuatu tanpa memikirkan segala resikonya, biar orang itu yang menanggung hasil dari perbuatannya.


Dan itu berlaku pada Selin. Selin memilih sakit hati dengan mengejar-ngejar pria pujaannya, jadi seharusnya wanita itu sudah siap untuk terus ditaburi oleh luka.


"Bisakah kau tidak menggangguku sehari saja! Aku sangat muak denganmu!" Kata Azam yang merasa risih dengan Selin yang selalu ada di manapun dia berada.


"Kenapa? Apa aku sangat jelek sampe kakak tak sudi melihatku"


Azam menatap tajam kearah Selin yang berada dihadapannya.


"Kau lebih dari itu! Kau menjijikkan dengan sikap murahan mu!"ucap Azam dengan begitu penekanan.


Selin merasakan jantungnya berdentuman dengan benda yang sangat keras. Tega sekali Azam berkata seperti itu. Tangisan Selin pun membanjiri pipinya.


"Berhentilah menangis. Jangan seakan-akan kau korban disini. Akulah yang paling dirugikan disini, selalu dihantui oleh wanita iblis seperti mu!"


Cukup! Perkataan Azam terlalu menyakitkan. Selin hanya ingin menanyakan mengapa pria ini bisa berada disini, namun respon Azam terlalu membuatnya menambah luka.


Menyerah? Tidak, Selin tak akan menyerah. Dari awal sudah ia tetapkan pria dihadapannya lah yang akan menjadi masa depannya nanti walau dengan segala cara apapun.


"Azam"panggilan lembut dari seorang wanita berhijab dengan gamis syar'i nya.


Azam dan Selin mengalihkan atensi mereka pada sosok yang baru muncul itu.