Because My Sist

Because My Sist
J | Efek Minuman



Sedari tadi Daisy merasa hawa tubuhnya menjadi panas, dirinya merasa gerah.


Sean yang melihatnya pun ikut kegerahan, bukan karena pengaruh minuman sialan itu. Tapi karena melihat pakaian Daisy yang berantakan, dan bagian atasnya sedikit terbuka.


Membuat sisi kelakiannya keluar.


"Sean kau sudah menaikkan suhunya belum, kenapa ini sangat panas!"lirih Daisy.


Sean menatap Daisy bingung, ia sudah menaikkan suhu AC kamarnya. Tentu saja hal itu tidak akan berefek. Satu satunya untuk menghilangkan efek obat itu hanya dengan cara menyalurkannya padanya, ehh.


"Sudah kunaikkan"


"Tapi kenapa masih panas sekali"keluhnya.


Daisy tanpa diminta membuka piyama atasnya.


Sean terbelalak. Tubuh bagian atas wanita itu terpampang jelas di matanya walaupun masih tertutup bra.


Kulit putih mulus itu, aishh. Tenang tenang Sean, jangan terpancing. Dia adalah adik dari wanita siluman, kau tak boleh menyentuhnya.


Ingat pengkhianatan Leyna, kau tak boleh menerkam tubuh indah itu.


Sean menahan dirinya, tubuhnya pun ikutan berkeringat menahan sesuatu.


"Makanya jangan rakus meminum minuman sembarangan"omel Sean, namun Daisy malah fokus pada bibir pria itu yang tampak menggoda.


Daisy menggelengkan kepalanya. Tidak. Tidak mungkin. Dia tidak mau menyentuh dan disentuh pria gila dihadapannya.


"Kau lihat! Inilah mengapa aku melarang..."ucapan Sean terpotong karena tiba tiba saja Daisy menarik Sean ketempat tidur dan menindih tubuh pria tegap itu.


Daisy munafik!


Daisy langsung menyosor bibir seksi suaminya. Walaupun masih noob tapi Sean tampak begitu menikmatinya.


Ia tersenyum kecil di sela Daisy ******* bibirnya. Sangat payah, tapi cukup membuat Sean menjadi bergairah.


"Kenapa tidak balas?"rengek Daisy frustasi. Tubuhnya gerah dan butuh sentuhan.


Daisy menundukkan kepalanya, tubuhnya jadi sakit karena menahan gairahnya yang meledak.


"Kau salah telah memancing ku"


Dengan sekali hentakan Sean merubah posisi mereka. Dia melabuhkan bibirnya ke bibir Daisy. Meng*lum dan melum*tnya.


Daisy yang memang dibawah pengaruh obat pun menikmatinya, dirinya terus mengeluarkan ******* saat Sean telah menurunkan ciumannya.


Sean membenamkan kepalanya diantara dua lembah yang menggantung milik Daisy. Entah sejak kapan tangan Sean berhasil membuka cup penutupnya.


Sean sedikit mencuri ciuman di pucuk dada sang istri, membuat Daisy kembali frustasi. Pria gila ini semakin membuat dirinya tersiksa.


"Apa yang kau lakukan setan, cepat!"maki Daisy membuat Sean terkekeh.


Gadis itu masih sempat memakinya padahal sedang terpengaruh obat perangsang.


"Apanya yang cepat?"goda Sean dengan suara yang cukup berat karena juga tersulut gairah.


Daisy yang geram pun menarik kepala Sean untuk segera mengulum salah satu bola kembarnya.


Tubuh wanita itu semakin tidak karuan merasa sapuan bibir Sean disana. Sementara Sean semakin rakus melahap aset yang diberikan terang-terangan oleh Daisy.


Tangan Daisy pun mulai nakal mengelus perut sang suami. Sean yang merasakan itu begitu menikmatinya. Namun instingnya tiba-tiba bernalar saat Daisy ingin membuka celananya.


"Stop!"cegat Sean menatap Daisy dengan wajah yang sama dengan wanita itu.


Sama-sama bergairah.


"Kenapa lagi? ini sungguh menyesakkan!"kesel Daisy yang tak terima, pria itu sudah menikmati buah dadanya. Ia juga harus menikmati pisang pria itu bukan, ehh.


"Jangan melakukan hal yang akan kau sesali nantinya"kata Sean kemudian menggendong tubuh Daisy yang setengah telanjang itu kekamar mandi.


Ya Sean akan merendamkan Daisy dengan air dingin. Pria itu tak akan menjadi pria pengecut yang memanfaatkan situasi untuk membobol wanita itu.


Jika dia ingin, ia akan membuat Daisy mau tanpa harus terpengaruhi obat apapun.


Ingat tak ada yang akan menolak pesona seorang Sean!


°°°


Sudah tiga hari dari kejadian Daisy dengan insiden obat perangsang. Selama itu juga Daisy berusaha menghindari Sean.


Daisy malu jika bertatap muka dengan pria itu. Untung saja dimalam ia berkelakuan ******, besoknya keluarga besar mereka sudah pulang dari kediaman Sean. Membuat Daisy berleluasa menghindari suaminya.


Bahkan sudah tiga hari ini juga mereka tidak saling berbicara. Daisy yang malu membuka suaranya, dan Sean yang memang tak pernah peduli dengan lingkungan sekitarnya termasuk isterinya.


"Hufft.. untung saja sudah pergi"gumam Daisy lega melihat Sean telah berangkat bekerja.


Daisy menuju ruang makan namun tiba-tiba langkahnya terhenti melihat asisten pribadi suaminya memasuki mansion.


"Lukey kenapa balik? Ada yang ketinggalan?"tanyanya basi basi ketika berpas-pas'an dengan pria dingin itu.


"Nama saya Luke nona, tidak pake Y"koreksi Luke menatap nonanya dengan datar dan sedikit kesel dengan Daisy yang sesukanya merubah namanya yang keren.


Daisy tertawa melihat wajah suntuk yang disiratkan pembantu suaminya ini. Asisten pribadi hanya menutupi kata pembantu yang sebenarnya kan.


"Begitu saja marah"Daisy menepuk pelan bahu Luke.


Pria itu terpaku, mendapat sentuhan tangan istri bosnya sekaligus tawa indahnya.


Sean yang menyusul Luke pun melihat adegan itu. Tanpa sadar tangannya mengepal.


"Luke cepat ambil berkasnyaaa!"pekik Sean diujung sana membuat dua orang itu tersentak.


Luke yang merasa aura tak bersahabat dari tuannya pun langsung pergi dari sana untuk melaksanakan perintahnya.


Sementara Daisy, wanita itu menundukkan wajahnya. Ia malu, ingin lari. Dirinya belum sanggup berhadapan dengan suaminya ini.


Apa ia lari saja? Tapi terlihat menghindari sekali jika begitu.


Sean berjalan mendekati Daisy yang berupaya menutupi wajahnya. Sean menaikkan alisnya yang melihat tingkah istrinya dipagi ini.


Biasanya wanita ini selalu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, menunjukkan dirinya bahwa dia lebih hebat ketimbang Sean.


"Sudah selesai berniat menghindari ku?"tanya Sean, tangannya ia masukkan kedalam saku celana bahannya dan netranya tidak lepas menatap gerak gerik sang istri.


Daisy yang mendengar itu langsung menaikkan kepalanya dan membantah ucapan suaminya.


"Bukan seperti itu" Daisy tak sengaja menatap suaminya yang tampak gagah pagi ini dengan pakaian kerjanya.


Ehh.. mengapa dirinya kembali merasa merona melihat wajah itu. Kegiatan malam itu lagi-lagi kembali teringat dikepalanya. Memang otaknya sudah tercemar.


Daisy menundukkan wajahnya kembali, gerakan tubuhnya tampak malu-malu. Dan itu dilihat oleh Sean, pria itu menyunggingkan senyum kecil.


"Sok merasa malu, biasanya juga malu-maluin"


"Bersiaplah kita akan kerumah sakit!"titahnya.


Daisy kembali menatap suaminya. Kali ini rasa malu itu seketika hilang dari dirinya, tergantikan dengan perasaan penasaran.


"Siapa yang sakit?"


"Oma Merry"


Daisy berpikir sejenak baru tiga hari yang lalu dirinya melihat nenek tetua di keluarga ini sehat sehat saja. Masa sekarang sudah dirumah sakit. Apa sedang simulasi kematian? Ehh ada" saja, jangan dianggap serius.


"Tadi pagi Oma jatuh dari kamar mandi, dan sekarang sedang diruang ICU"


Daisy menutup mulutnya merasa terkejut dan kasihan. Daisy sedih jika seseorang mengalami hal tersebut, dia jadi teringat dengan neneknya yang pernah jatuh dari kamar mandi dan menyebabkan wanita kedua yang Daisy sayangi itu meninggalkan mereka untuk selama lamanya.


"Kasihan sekali nenek bawel, yasudah nunggu apalagi ayo kita pergi" Daisy menggenggam tangan suaminya untuk cepat beranjak dari sana.


Dirinya merasa khawatir dengan kondisi Merry yang selalu menjadi lawan adu bacotnya.


"Dengan pakaian tidur seperti ini? Lihat ilermu! Dasar jorok!"kata Sean yang membuat Daisy menyengir.


Bisa bisanya ia memiliki istri konyol bin jorok ini.


"Ehehee ini tanda seseorang tidur nyenyak, tunggu sebentar aku akan bersiap" Daisy langsung lari ke arah kamarnya untuk bersiap siap.


Sean menatap kepergian wanita itu. Senyuman lagi lagi terhias pada wajah tampan itu karena merasa gemas. Oh tidak, Sean tahan dirimu. Kau tak boleh jatuh pada gadis konyol itu.


Ingat wanita itu adik dari Leyna, wanita yang mendatangkan masalah padamu. Dirinya tak boleh merasa apapun pada Daisy.


Tak lama dari situ Luke muncul, terlihat pria itu membawa beberapa berkas yang ketinggalan tadi.


"Kau kembalilah kekantor, handle semuanya untuk hari ini. Aku akan kerumah sakit menjenguk Oma"perintah Sean pada asistennya.


Luke mengangguk dan sedikit membungkuk.


"Baik tuan, semoga nyonya besar cepat sembuh"


Sean mengangguk.


"Dan jangan terlalu dekat dengan istriku!"


Luke terpaku, merasa aura kecanggungan pun ia pamit dari sana.


Dan tak berapa lama dari situ kemudian Daisy datang sudah siap dengan tampilan yang lebih layak.


Sepasang suami istri itu pergi menjenguk Merry yang katanya sedang dirawat intensif karena kecelakaan dikamar mandi yang dialami oleh wanita tua itu.