
Resepsi pernikahan Sean dan Daisy telah selesai diselenggarakan, tamu tamu yang berdatangan mulai berpulangan.
Yang tinggal hanya keluarga besar dari kedua pengantin baru tersebut. Malam ini keluarga besar Sean maupun Daisy akan bermalam di mansion Sean sebelum lusa mereka memutuskan untuk kembali kerumah mereka masing masing.
Semuanya saat ini sedang berkumpul diruang tengah berbincang bincang kecil, termasuk si kembar yang selalu saja bisa membuat semua orang tertawa.
"Haha lucu sekali mereka, jadi kepingin cepat cepat nimang cucu"ucap mama Metta gemas akan sikembar.
"Kau benar jeng Meta, aku yakin sebentar lagi kita akan menyusul Carrol sebagai seorang nenek"mama Reina ikut menambahi candaan mama Metta.
Sementara Sean dan Daisy hanya menatap datar keluarga mereka yang sibuk membahas jika para orang tua itu sudah tidak sabar untuk menimang anak dari pengantin baru itu nantinya.
Daisy meringis pelan, apa ia benar benar akan memiliki keturunan dengan pria tampan yang saat ini sedang duduk di sampingnya.
Sementara jika Daisy sudah tidak diperlukan lagi oleh pria itu, bukankah Sean dengan sadis akan mencapakkannya.
"Oh ya kalian berdua jangan lupa bulan depan untuk datang ke pernikahan Leyna, dan Sean papa menanti kunjungan mu ke negara kami"ucap Jey menatap menantunya yang terdiam karena mendengar nama Leyna.
"Setelah semuanya kacau karena wanita itu, dia berencana menikah dalam waktu dekat ini"Geram Sean didalam hatinya.
Daisy menyenggol lengan Sean untuk membalas ucapan ayahnya. Sean pun tersadar.
"Hm iya pa, kupastikan akan hadir di pernikahan kakak ipar"balas Sean tersenyum paksa, tanpa diduga tiba tiba Daisy tertawa keras.
Membuat semua orang menoleh ke arah wanita itu.
"Bibi cantik apa ada yang lucu? Tolong ceritakan pada Arka"pinta anak kecil itu memohon.
Daisy jadi bingung sendiri, mengapa tawanya tadi sangat keras. Ia hanya lucu mendengar Sean menyebut Leyna sebagai kakak iparnya, bukankah itu terdengar lucu. Dulu mereka sepasang kekasih dan sekarang malah ipar ipar'an.
"Lihatlah cucuku yang sempurna menikahi wanita gila"celetuk Merry, suasana di sana pun jadi terasa canggung karena ucapan wanita tua itu.
Daisy jadi merutuki mulutnya yang tertawa keras tadi.
"Haha akhirnya ada yang sepemikiran denganku, kau benar nek mengapa wanita aneh seperti kakak ku ini bisa menikahi kak Sean yang begitu sempurna. Aku jadi berpikir apa kak Daisy menggunakan pelet"seloroh Daren tertawa setuju dengan ucapan Merry.
Daren sebenarnya juga bingung mengapa kakaknya yang banyak kekurangan itu menikah dengan sosok lelaki yang unggul dalam segi apapun.
Semua orang menatap tak percaya kearah Daren yang masih tertawa, bisa bisanya pria itu berada di kubu Merry.
"Apa itu pelet?"tanya Selin yang tak tau apa yang dimaksud dengan pelet.
Tentu saja keluarga Sean tak tau apa itu pelet, tak ada yang namanya pelet di negara mereka.
"Itu adalah sebuah..."belum sempat Daren menjelaskan Daisy mendahuluinya.
"Ah itu semacam kasih sayang yang ditunjukkan seseorang agar orang tersebut jatuh hati pada kita"potong Daisy tersenyum canggung.
"Iyakan ma?" Daisy meminta pendapat mama Metta, Metta yang tak ingin memperkeruh suasana pun mengiyakannya.
"Wahh bagus juga..kalo gitu Selin mau pake pelet ah ke ketua BEM dikampus Selin, biar dia suka balik sama Selin"celetuk Selin tersenyum sumringah.
Daisy malah tercengang mendengar perkataan yang keluar dari bibir adik iparnya itu. Terlalu polos keluarga ini menurutnya jika diberi tahu tentang hal tersebut.
"Kenapa harus pake itu bi? Seharusnya biar pria itu saja yang pelet bibi Selin, ingat bi wanita itu kodratnya dikejar bukan mengejar"cetus Arsha yang lagi lagi membuat semua anggota keluarga menggelengkan kepalanya.
Dari mana bocah 4 tahun itu sudah mengetahui kalimat tersebut.
"Haha sepertinya Arsha sudah mengantuk"ucap Zora tertawa canggung, mama si kembar.
Zora menggendong Arsha dan meminta izin untuk menidurkan balita itu. Tak lupa ia meminta kepada suaminya membawa Arka untuk tidur juga.
Melihat keluarga kecil itu sudah pamit dari obrolan mereka membuat Sean juga pamit untuk beristirahat kekamarnya.
"Apa kau tidak ikut?"tanya Sean pada Daisy yang masih anteng berbicara dengan keluarga mereka.
"Huuu sepertinya Sean sudah tidak sabar ya"goda bibi Carrol kepada ponakannya, semuanya tersenyum jahil ke arah pengantin baru tersebut kecuali Merry.
Daisy merasa kupingnya panas, ia jadi berpikiran yang aneh aneh. Sean hanya memasang wajah datarnya.
"Dalam hitungan 5 detik kau tidak ikut, siap siap besok aku akan mendorongmu dari lantai atas"ancam dengan bisikan ke telinga Daisy kemudian pergi dari sana.
Daisy yang tidak ingin meremehkan ucapan pria itu pun langsung bangkit dari duduknya dan mengikuti Sean.
"Awas ******* lo fales ya kak"ejek Daren ketika Daisy melewati pria itu.
"Dasar anak anj*Ng"umpat Daisy sambil menendang tulang kering adiknya, Daren mengelus kakinya yang terasa nyeri.
Tubuh Daisy memanglah kecil,tetapi tenaga wanita itu seperti badak.
Setelah kepergian Sean dan Daisy, kedua keluarga itu kembali berbincang bincang diruang tamu tak terkecuali nenek Merry. Walupun ia belum terlalu suka kepada cucu menatunya, tetapi berada disini sambil ikut berbincang membuatnya merasa nyaman.
°°°
"Jangan lupa kunci pintunya"titah Sean, Daisy memutar bola matanya malas lalu kembali ke pintu dan menguncinya.
Daisy mendekati Sean yang saat ini sedang sibuk dengan laptopnya.
"Apa kita akan sekamar?"tanya Daisy.
"Hanya untuk malam ini"jawab Sean tanpa menoleh.
"Syukurlah, kalau begitu bisakah kau minggir sedikit aku ingin tidur"ucap Daisy, posisi Sean saat ini berada ditengah-tengah tempat tidur tak menyisakan tempat Daisy untuk berbaring.
Sean menatap malas ke arah wanita yang baru saja sah menjadi istrinya.
"Apa kau pikir aku sudih seranjang denganmu?"decaknya.
Daisy menatap marah kearah Sean.
"Hey seharusnya aku yang berkata seperti itu!"hardiknya sambil berkacak pinggang.
"Kau sebagai laki laki mengalah lah karena aku juga tidak ingin tidur seranjang denganmu"lanjut Daisy dengan wajah beteknya.
"Ini kamarku dan ini ranjangku, masih untung aku mau menampung mu disini untuk malam ini"ucap Sean tak mau kalah.
"Oo begitu baiklah aku akan tidur dengan dikamar semalam saja, dari pada tidur dengan pria non akhlak seperti mu"baru saja Daisy ingin melangkahkan kakinya tetapi langsung terhenti oleh ucapan Sean.
"Sempat saja kau keluar dari kamar ini, jangan heran sebuah peluru bisa saja menembus kepalamu saat ini juga"ancam Sean membuat Daisy bergidik ngeri.
"Kau ini manusia apa psikopat sih"rutuk Daisy.
"Jangan membuatku marah Daisy, apa kau mau membuat semua orang curiga atas pernikahan ini"hardiknya dengan tatapan tajam ke wanita itu.
"Ya jadi gimana lagi, badanku sudah lelah dan sakit. Aku tak kuat jika harus tidur disofa mau pun lantai. Seharusnya kau tak boleh egois, aku juga korban disini. Bahkan aku tak tau apa-apa tetapi malah terjebak dimasalah kalian. Masih untung aku tidak lariii"rengek Daisy dengan suara yang sedikit meninggi dan air mata yang sudah membasahi pipinya, tubuhnya sudah lelah tetapi Sean malah mengusik ketenangannya.
Ini belum 24 jam kedua sejoli itu sah sebagai suami istri, bagaimana kedepannya nanti. Daisy berharap semoga saja dirinya tidak depresot.
Sean yang tak percaya Daisy menangis layaknya anak kecil pun akhirnya menurunkan egonya.
"Hentikan tangisan mu! Karena kau tidak lari ku izinkan kau tidur seranjang denganku untuk malam ini, ingat hanya untuk malam ini"ucap Sean.
Mendengar itu Daisy menghapus air matanya, tak mau menunggu lama ia membaringkan tubuhnya disebelah Sean karena pria itu tadi sudah berpindah posisi lebih ke kiri.
"Pinjam gulingnya"pinta Daisy ingin meraih guling yang ada di paha Sean, tetapi dengan gesit lelaki itu menahannya.
"Kau sudah ku ijinkan untuk tidur di kasurku, sekarang meminta guling. Kenapa kau menjadi tidak tahu diri!"cetus Sean yang tak terima gulingnya pindah alih.
"Salahkan mengapa kau hanya memiliki satu guling, aku tak bisa tidur jika tidak memeluk guling"
Wanita itu memang akan sulit tidur jika ia tak memeluk bantal panjang, bahkan mama Meta terkadang men-stock guling dirumah mereka untuk Daisy.
"Aku tak peduli, ini kamarku sendiri jadi guling cuma satu dan ini milikku"tegas Sean dan ditatap sinis oleh Daisy.
"Posesif banget sih pak sama guling juga"ejek Daisy tersenyum remeh.
"Terserah"Sean kembali fokus ke laptop nya untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Melihat Sean yang acuh kepadanya, Daisy mendekatkan posisi tubuhnya agar lebih dekat dengan tubuh pria itu yang saat ini duduk bersandar di kasur.
"Kenapa kau mendekat?"tanya Sean yang bingung melihat Daisy yang saat ini sudah dempet disampingnya, walaupun wanita itu dalam posisi terlentang.
Daisy menyengir menatap sean.
"Sudah kukatakan aku tak bisa tidur jika tidak memeluk sesuatu jadi aku akan memelukmu"dengan cepat Daisy menautkan kedua tangannya ke pinggang Sean dan salah satu kakinya menimpa kedua kaki Sean, memang layaknya memeluk sebuah guling.
Sean berontak, ia merasa risih dengan posisi ini.
"Heyy lepaskan!!"
"Tidak mau, sudah kau fokus saja dengan pekerjaan mu"bantah Daisy makin erat memeluk pinggang Sean.
Sean yang sudah tidak tahan lagi langsung saja melempar guling yang ada dipahanya ke arah Daisy.
"Ambil itu dan lepaskan ini!!"titahnya, lebih baik ia kehilangan guling itu dari pada dipeluk seperti tadi.
Bikin jantungnya dag dig dug serr, ehh..
Daisy yang melihat guling sudah tidak dibawah kuasa Sean lagi langsung saja melepaskan pelukannya, dan meraih guling tersebut tak lupa ia juga memberi jarak dari Sean.
"Seperti ini kek dari tadi, awas saja kau macam macam nanti ketika aku tidur ya"ucap Daisy membalikkan tubuhnya membelakangi Sean. Sean berdecak kesel.
"Siapa juga yang selera dengan tubuh ABG seperti mu"gerutu Sean yang merasa Daisy tidak masuk kedalam wanita idealnya, mengingat Daisy masih merupakan wanita remaja yang baru tamat menyelesaikan pendidikannya padahal nyatanya Daisy merupakan sosok wanita yang sudah berusia 22 tahun.