
Tengah malam telah tiba. Seluruh anggota keluarga sudah masuk kedalam kamar untuk mengistirahatkan tubuh mereka.
Sean tentu saja akan tidur di kamar Daisy, tidak mungkin di kamar Leyna kan. Hahaha.
"Siapkan baju ku"
Daisy yang sudah siap tidur pun menatap bingung.
"Kau ingin mandi?"tanyanya dan dibalas anggukan oleh Sean.
"Malem-malem begini" Daisy tak habis pikir. Tahan sekali pria ini mandi di tengah dinginnya air malam.
"Ck! Cepat siapkan!" Sean mengambil handuk dan memasuki kamar mandi.
Dengan malas pun Daisy bangkit dari ranjang, menuju koper mereka. Tangannya meraih sepasang piyama milik suaminya sekalian pakaian dalam pria itu.
Daisy meletakkan diatas tempat tidur. Namun saat dia ingin merebahkan tubuh nya kembali ke atas ranjang suara benturan membuatnya terkejut.
Brakk
"Suara apa itu"kaget Daisy. Tubuhnya merinding. Ini sudah malam pasti seluruh keluarga telah tidur. Jadi siapa itu?
Daisy yakin hanya dia dan Sean lah yang masih terjaga saat ini.
Wanita itu semakin berpikiran aneh yang membuat dirinya menjadi semakin takut.
"Apa jangan-jangan..."
"Ahkk Seannn"teriaknya.
Tak sanggup menyebutnya, Daisy berlari kearah kamar mandi. Tangannya menggedor pintu kamar mandi itu dengan kuat.
Sean yang sedang keramas merasa terganggu pun membuka pintu dengan kasar. Matanya tertutup karena busa shampo dan tubuhnya yang lain ditutupi oleh busa sabun.
"Ada apa?!"geramnya.
Daisy dengan cepat ikut masuk kedalam kamar mandi, bahkan wanita itu mengabaikan Sean dengan tubuh polosnya.
"Aa..aku takut, ada suara aneh dari luar"lirihnya dengan ketakutan.
Sean berdecak malas. Ia terlebih dahulu membersihkan tubuhnya yang dipenuhi busa dari atas sampe bawah.
Daisy membelalakkan matanya, teringat Sean sedang mandi. Matanya menatap lekat kearah tubuh suami yang begitu mempesona. Seketika wajahnya memerah.
Sean mengusap wajahnya yang masih dialir sisa air, mengambil handuknya kemudian melilitkannya di pinggang.
Sean menatap Daisy yang kini menunduk. Terlihat wajah wanita itu kian memerah. Ia tersenyum kecil. Sangat menggemaskan, pasti istrinya terpesona dengan tubuh kekarnya dan senjata perkasanya.
"Sudah ayo keluar. Tidak ada apa-apa"ajaknya merangkul Daisy.
Daisy berjalan pelan, jujur saja dirinya masih takut. Keduanya pun keluar dari kamar mandi.
"Dasar penakut"ejek Sean.
Daisy yang tak terima pun, menginjak kaki Sean. Pria itu merintih kesakitan.
"Aku tidak takut, hanya terkejut"elaknya.
"Oh yaaa. Lihat dibelakangmu!"
Daisy dengan cepat memeluk tubuh Sean tanpa atasan itu dengan kuat. Bahkan kakinya ikut menggantung di kedua sisi pinggang Sean.
Sean seperti sedang menggendong koala.
"Huaa aku takut..aku takut"sungutnya semakin erat memeluk Sean.
Sean tertawa terbahak namun seketika menyesal telah mengerjai wanita itu. Merasa sesuatu yang kenyal milik Daisy menempel pada tubuhnya, membuat adik kesayangannya pun bangun dari tidurnya.
"****! Turun"pintanya dengan suara menahan gairah.
Daisy menggeleng kuat.
"Tidak mau!"
Wanita semakin bergerak asal membuat hasrat Sean benar-benar terpancang.
Dengan cepat Sean melempar tubuh Daisy ke atas ranjang, dirinya kini menindih tubuh kecil itu.
Daisy menatap lebar Sean yang berada di atasnya.
"Kau memancingku Daisy"
Sean ingin melabuhkan bibir tebalnya dengan bibir tipis milik sang istri, namun suara sialan memberhentikan niatnya.
"Eungh.. pelan-pelan Niko"
Daisy dan Sean saling pandang dari mana suara jahanam itu berasal.
Niko. Keduanya seperti tidak asing dengan nama itu.
"Leyna Sialan!"umpat keduanya.
Daisy mendorong tubuh Sean dari atas tubuhnya. Sean pun mendudukkan dirinya di samping istrinya, niatnya ingin mengagahi Daisy tidak jadi karena suara laknat itu.
Daisy yang tak habis pikir dengan kakaknya pun berniat ingin menghampirinya dan menciduknya sampai malu.
"Mau kemana?"tanya Sean menahan tangan Daisy yang ingin beranjak dari atas tempat tidur.
"Tentu saja kekamar wanita sialan itu. Berani sekali dia membawa pria masuk kedalam kamarnya padahal belum menikah"cerca Daisy yang tak terima akan perbuatan tercela kakaknya.
Dan lagi dari mana bisa Niko menembus rumahnya dan kini memasuki kamar kakaknya, bahkan keduanya sudah mencuri start malam pertama mereka sendiri.
Sean melirik malas.
"Jangan mempermalukan dirimu. Tak ada gunanya menghentikan mereka"kata Sean yang menurutnya untuk apa juga menggedur kamar sebelah.
Daisy mendecak kesal. Suara erangan itu makin terdengar di telinga mereka. Kamar tidur Daisy dan Leyna memang berdampingan, apalagi kamarnya memang tidak kedap suara.
"Cih sangat menjijikkan"keluh Daisy geli saat Leyna menyebut nama Niko ketika wanita itu mendapatkan pelepasannya.
Daisy melirik Sean yang sedari tadi diam. Matanya terarah pada milik suaminya. Terlihat menegak.
Daisy memukul dada Sean yang terbuka.
"YAAKKK kau terangsang"ucapnya tak percaya bahwa suaminya menegang mendengar lenguhan kakaknya.
Sean yang tak terima dituduh pun menoyor kepala Daisy. Daisy sedikit oleng karena tenaga Sean menoyor kepalanya kuat.
"Bodoh. Ini bangun karena dirimu"cacinya.
Apa wanita ini lupa karena sudah sempat merangsang dirinya tadi. Dan hasrat itu belum hilang sama sekali.
Sean menarik Daisy untuk tidur di ranjang dan kembali menindihnya.
"Ayo berduel dengan mereka. Kita buktikan suara lenguhan kita tak kalah keren dari mereka"bisik sean didaun telinga Daisy.
Daisy merinding mendengar suara berat suaminya. Astaga darahnya seketika berdesir.
Sean ******* bibir Daisy dengan lembut. Menyesap bahkan sedikit menggitnya karena merasa gemas.
Saat ciuman Sean akan turun kebawah, Daisy menahannya.
"Apa kau pernah melakukan itu dengan kak Leyna?" Entah mengapa pertanyaan itu terlintas dipikirannya.
Sean tampak diam. Daisy kembali dipatahkan oleh ekspektasi. Ia pikir dirinya tidak benar-benar mendapat bekas kakaknya namun nyatanya salah.
Daisy mendorong dada Sean, ia ingin menjauh dari pria yang kini sudah ia cintai.
Daisy akui ia sudah menaruh perasaan pada suaminya. Perasaan nya semakin yakin ketika tadi siang Sean tampak memandangi Leyna. Daisy cemburu dan tak terima. Apa Sean masih menyukai kakaknya.
Namun sebelum beranjak, tangan Daisy dicekal oleh Sean.
Pria itu menatap dalam mata Daisy. Terlihat tatapan terluka disana.
"Aku tak pernah making love dengan siapapun, termasuk Leyna"ucapan itu seketika membuat raut wajah kecewa Daisy berubah.
"Kau yang pertama"
Dengan perasaan menggebu Sean kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Daisy. Daisy turut membalas ciuman itu.
Keduanya mencumbu satu sama lain.
Sean melakukan aksinya dengan lihai pada Daisy. Malam ini ia harus melanjutkan misi pembuatan keturunan Richard yang baru.
Malam ini juga ia akan melebur bersama sang istri. Masa bodo dengan perasaannya saat ini. Walaupun belum yakin tapi dirinya sudah menyayangi Daisy dan ia tak ingin berpisah dari wanita itu.
Kini kedua manusia itu sudah polos tanpa sehelai benangpun. Sean melakukan penyatuannya.
Daisy terhenyak merasa sesuatu benda tumpul memasuki miliknya. Ia mencengkram punggung Sean yang terbuka.
"Sakit.."lirihnya.
"Sebentar saja honey, sedikit lagi akanĀ nikmat"racau Sean yang masih merasa adaptasi senjatanya berada di liang surgawi istrinya. Terasa sempit dan kencang.
Daisy seketika merona mendengar panggilan sayang dari bibir Sean. Apa itu tulus?
Sean mulai menggerakkan pinggulnya. Suara lenguhan dari Daisy menghiasi kamar tersebut. Permainan suaminya membuat dirinya benar-benar melayang.
Keduanya pun sama sama mengejar kenikmatan. Dan akhirnya Sean mendapatkan pelepasannya yang entah sudah berapa kali. Tidak tahu, intinya bibit unggulnya sudah banyak menyembur lahar milik Daisy.
Daisy yang kelelahan pun langsung tertidur pulas. Sean melihat itu tersenyum gemas. Pasti istrinya ini sangat kelelahan dibuatnya.
"Terimakasih telah menjaganya untukku"ucapnya bangga karena menjadi yang pertama untuk Daisy begitu juga dengan dirinya menjadi yang pertama untuk istrinya.
"Semoga Sean junior segera launching agar mulut bandot bandot tua dirumah diam"ucapnya kembali seraya tertawa kecil.
Sean memeluk tubuh polos Daisy dengan erat dan menyusul wanita itu memasuki alam mimpi.