
"Bagaimana sudah kau cari tahu?"tanya Sean pada Luke yang berada disampingnya, saat ini keduanya sedang di ruang kerja Sean yang berada dimansionnya.
"Sudah tuan"jawab Luke.
"Jelaskan padaku intinya saja"pinta Sean.
"Baik tuan. Nona Leyna memang memiliki adik perempuan yang bernama Daisy. Jika dilihat dari wajah, mereka memang memiliki wajah yang serupa tetapi sebenarnya mereka bukanlah anak kembar, umur mereka terpaut 4 tahun" Sean tampak menyimak penjelasan yang sedang di paparkan oleh Luke.
"Informasi yang saya dapat dari orang suruhan kita, yang saat ini bersama kita memang benar adalah adik perempuan dari nona Leyna, sementara nona Leyna sudah kembali ke Indonesia sejak tiga hari yang lalu tuan"jelas Luke membaca informasi dari tabnya.
"Apa kau juga mencari tahu tentang Leyna yang dimaksud wanita tadi?"tanya Sean kembali, perasaannya ikut menjanggal mengingat ucapan Daisy bahwa ia adalah pria ke 38 yang telah ditipu oleh wanita itu.
"Sepertinya benar tuan, dilihat dari jejak riwayatnya, nona Leyna memiliki banyak mantan kekasih di negaranya. Tetapi ia paling lama menjalin hubungan dengan anda dan pria bernama Niko"sahut Luke kembali.
Sean mencerna ucapan asisten pribadinya, tak menyangka wanita yang pernah menjadi kekasihnya itu rupanya play girl.
"Niko?"
"Ya tuan, pacar pertama nona Leyna"
"Cihh apa ia juga menjadikan aku sebagai pelampiasan atas ketidak move on nya dengan cinta pertamanya"desis Sean menggeram kesel. Baru kali ini dirinya dibuat rendahan seperti ini.
"Sepertinya iya tuan, seminggu yang lalu pria bernama Niko ini kembali ke Indonesia. Mungkin inilah alasan nona Leyna membatalkan pernikahan dirinya dengan anda"lanjut Luke menjelaskan.
Sean menggeram frustasi, kenapa gadis rendahan seperti Leyna berani bermain api dengannya.
"Lihat saja kau Leyna, aku akan membalasmu"
"Apa wanita itu sudah bersiap?"tanya Sean menanyakan Daisy.
"Sudah tuan, sebentar lagi keluarga besar anda juga akan segera tiba"balas Luke.
"Baiklah aku akan bersiap, kau boleh pergi. Awasi wanita itu jangan sampai kabur, setidaknya kita punya pengganti Leyna untuk besok"titah Sean.
"Baik tuan"Luke membungkukkan tubuhnya mempersilahkan Sean memasuki kamarnya untuk bersiap. Bertepatan ruang kerja Sean berada di samping kamar pria itu.
°°°°
Nany memanggil Daisy untuk keluar kamar karena sebentar lagi keluarga besar Richard akan segera tiba.
Terlihat Sean yang sudah berdiri didepan pintu dengan pakaian tuxedo yang sangat pas ditubuhnya, jika tidak mengingat betapa kejamnya pria itu mungkin saat ini Daisy sudah jatuh cinta padanya.
"Kau tetap selalu cantik Leyna"ejek Sean tersenyum sinis.
Bukannya tersanjung, Daisy malah bergidik ngeri akan senyuman mengerikan yang ditujukan lelaki itu untuknya. Seakan ada bahaya tersirat dalam senyumannya.
"Jangan panggil aku Leyna,aku Daisy Baker. Bukan wanita gila itu"bantah Daisy.
Dia tak mau jika orang orang yang berada disini menganggap dirinya adalah Leyna. Daisy tidak mau hidup atas bayang-bayang kakaknya.
"Ck! Terserahmu"
"Oh ya ketika keluargaku bertanya hal aneh kau tak usah menjawabnya. Jika mereka menanyakan kenapa aku baru mempertemukan kalian, bilang saja jika kau baru pulih dari sakitmu"ingat Sean apa yang harus dilakukan Daisy ketika keluarganya tiba.
Daisy masih diam, ia mencerna semua perkataan Sean padanya.
"Dan juga nanti ada Oma ku, kau harus hati hati dengannya. Dia orang yang sedikit protektif dengan calonku karena aku cucu laki-laki kesayangannya"Sean menambahi lagi, Daisy melirik malas.
"Astaga Leyna kau benar-benar gila menempatkan ku disituasi seperti ini"desah Daisy frustasi, kakinya seketika menjadi lemas.
Apa mereka bakal menganiaya dirinya? Tolonglah Daisy baru tamat kuliah kenapa ia bisa tiba tiba menikah secara mendadak seperti ini.
"Jangan merasa dirugikan, akulah korban disini"tegas Sean memberitahu bahwa dia adalah pihak yang paling dirugikan disituasi ini.
"Kau benar, kau korban wanita itu. Dan semua korban wanita gila itu adalah pria bodoh"sindir Daisy tersenyum sinis.
Ingin rasanya Sean membalasnya kembali tetapi dua buah mobil sedan memasuki pekarangan mansionnya dan berhenti di hadapan dirinya dan Daisy.
Tak berapa lama kemudian keluarlah dua pasang suami istri, satu nenek tua, sepasang bocah kembar dan satu remaja perempuan.
Sean menyenggol sikut Daisy untuk memintanya membungkuk. Daisy yang menerima kode itu pun, ikut membungkukkan tubuhnya mengikuti pria itu.
"Selamat datang"sapa Sean dengan wajah yang datar, tak ada senyuman hangat tersirat disana.
Sementara keluarganya sudah paham betul bagaimana sifat lelaki itu, membuat mereka memakluminya.
Daisy mencibir kesel
"Cih bahkan dengan keluarganya saja dia terlalu dingin"cibirnya.
Kemudian Daisy menampilkan senyuman manisnya untuk menyapa keluarga yang digadang-gadang kan calon suaminya.
"Lihatlah calon menantu mu Reina, sangat cantik"puji seorang wanita paruh bayah yang bernama Carrol sambil menyikut bahu mama Sean, dia adalah adik ipar ayahnya Sean.
"Cantik saja tidak cukup untuk menjadi pendamping hidup cucuku"cetus nenek tua yang diyakini adalah nenek Sean, Merry.
Semua orang terdiam jika wanita tua itu sudah berbicara. Daisy mengerti Sean merupakan cucu kesayangan Merry, mungkin Merry takut Sean bersanding dengan wanita yang salah.
"Kau benar nek, begitu juga dengan tampan saja tidak cukup menjadi pendamping hidupku. Harta,tahta dan attitude juga diperlukan"cengir Daisy menjawab ucapan nenek Merry, semua orang tertegun mendengarnya.
Berani sekali Daisy melawan Merry yang selama ini kalau berbicara tidak pernah difilter terlebih dahulu.
"Bagaimana dengan cinta?"pertanyaan itu keluar dari mulut Selin, adik perempuan Sean yang berdiri dihadapannya.
Semua anggota keluarga menatap horor pada Selin kecuali Merry, memberi peringatan untuk menjaga lisannya.
"Cinta hanyalah bumbu manis dalam sebuah hubungan, poin pertama yang penting adalah sikap dan kepercayaan. Jika bersikap saling menghargai, suatu saat nanti rasa tidak ingin menyakiti pasangan pun ada. Bukankah yang terpenting dalam menjalin hubungan tidak ada pihak yang tersakiti"Daisy tersenyum hambar melirik Sean yang menatapnya dengan datar.
Daisy berpikir jika pernikahan ini tetap berlangsung akan menyakiti kedua belah pihak.
"Ayo masuk pelayan sudah menyiapkan makan malam untuk kita"ajak Sean berjalan deluan sambil menggendong keponakan perempuannya.
Mereka pun memasuki mansion tersebut, berjalan beriringan menuju meja makan. Selin sedari tadi merangkul tangan Daisy, membuat Daisy merasa sedikit canggung.
"Patut saja selama ini kakak menyembunyikan mu, ternyata kau sangat cantik. Ada rahasia kulit cerahmu ini?"tanya Selin dengan suara setengah berbisik agar tidak terdengar anggota keluarga yang lain.
Daisy tersenyum kikuk, ia juga bingung kenapa kulitnya bisa putih cerah seperti susu. Padahal ia tidak pernah melakukan perawatan kecantikan, selama ini Daisy hanya berdiam dirumah tanpa berpergian kemana mana.
Jika pun meninggalkan rumah, paling ia hanya nongkrong atau pun belanja bersama teman temannya tidak pernah main panas.
"Kau hanya perlu menjadi anak penurut jika ingin memiliki kulit secerah ini"jawab Daisy ngasal, memberikan resep pun tidak mungkin, dia mendapati kulit cerahnya secara alami.
"Itu saja?"tanya Selin dengan mata belonya, Daisy mengangguk mantap.
"Kau berbohong! Aku adalah anak yang penurut, tapi untuk mendapatkan kulit ini saja aku harus pergi kedokter kecantikan"Selin menunjukkan kulitnya yang juga sebelas duabelas dengan kulit milik Daisy.
"Haha bersyukurlah, ada banyak orang yang tak bisa melakukan perawatan seperti dirimu padahal mereka adalah anak penurut"balas Daisy tertawa kecil, Selin hanya memanyukan bibirnya sampai mereka tiba dimeja makan.