Because My Sist

Because My Sist
K | Jenguk Merry



Sean dan Daisy telah tiba dirumah sakit tempat Merry di rawat. Keluarga Sean yang lain telah tiba dirumah sakit terlebih dahulu.


"Apa Oma baik baik saja?"tanyanya pada keluarganya yang sedang berada diruang tunggu.


"Dokter bilang baik baik saja, namun kaki Oma terkilir dan dianjurkan untuk menaiki kursi roda"jelas Alan pada putranya.


Sean menghela nafas lega, setidaknya neneknya tidak kritis atau jadi struk pasca jatuh dari kamar mandi.


Sean melihat Daisy yang sudah duduk berdekatan dengan adik perempuannya. Terlihat Selin menangis seraya senderan dipundak istrinya dan tangan Daisy sibuk mengelus surai adiknya sambil menenangkannya.


Sean mengernyitkan dahinya. Tak biasanya Selin sampai sesedih ini melihat Merry terbaring dirumah sakit. Ini bukan pertama kalinya wanita itu mengalami hal ini. Dan untung saja tidak pernah fatal.


Oh ya jangan lupa bahwa musuh terbesar Oma Merry dikeluarga mereka ialah Selin. Sangat berbanding bukan. Ia menjadi cucu kesayangan wanita tua itu sementara adiknya, sudahlah tidak usah dijelaskan.


Sean mendekati kedua gadis itu, ia mendudukkan dirinya disebelah sang istri.


"Sudahlah tak perlu menangisinya. Kukira kau menangis karena melihat kondisi Oma"kata Daisy pada Selin yang masih saja menangis di dekapan kakak iparnya.


Sean mendengar ucapan sang istri. Kan betul seorang Selin tak mungkin menangisi Omanya karena hal seperti ini.


"Huaa tapi hati Selin sakit...kurangnya Selin apa coba? Udah cantik, kaya, baik, rajin menabung lagi"sungutnya meratapi nasibnya karena baru ditolak cintanya oleh pria pujaan hatinya.


Semalam Selin memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya kepada ketua BEM dikampusnya. Namun pria itu menolak, mengatakan bahwa ia tidak tertarik pada Selin.


Daisy melirik malas pada wanita yang menempel padanya. Sebelas dua belas rupanya dengan Sean, sama sama memiliki kepercayaan diri tingkat tinggi.


"Mana ada pria yang mau sama gadis cengeng seperti mu"celetuk Sean bersedekap dada dengan pandangan lurus ke depan.


Selin melirik sinis pada sang kakak yang berkomentar mengenai dirinya.


"Gak diajak. Gak usah nimbrung"sinisnya kemudian memeluk Daisy semakin kencang bahkan tangisannya pun ikut pecah.


"Huaa Selin gak terima..."rengeknya semakin keras.


Dirinya benar benar merasakan sakit hati karena ditolak, apa yang kurang dari dirinya. Ia cantik dan kaya, bisa bisanya pria itu menolak sosok seperti Selin.


Anggota keluarga yang lain melihat tingkah Selin hanya menggelengkan kepalanya. Bisa bisanya wanita baru gede itu membawa permasalahan cintanya ditengah semua orang panik dengan keadaan wanita tertua dikeluarga mereka.


"Shutt.. Selin jaga kelakuan mu, ini dirumah sakit"tegur mama Reina pada anak perempuannya.


Selin hanya melirik malas pada sang ibu. Kenapa tidak ada yang mengerti perasaannya segalau apa sekarang.


"Sudahlah banyak pria yang lebih tampan dari dia, kau kan cantik masa pilihan lelaki mu hanya satu"kata Daisy mencoba menghibur Selin dengan kata katanya.


Sean yang mendengar tutur istrinya sedikit melirik. Peduli juga ternyata wanita ini pada permasalahan adiknya yang menurutnya sangat konyol.


Selin menghapus air matanya.


"Tapi hati Selin berdetak hanya padanya"cicitnya dramatis.


Daisy mengangguk memahami perasaan sang adik ipar.


"Kalau begitu usahalah lebih besar. Jika kau yakin, kejar sungguh sungguh. Baru sekali ditolak saja sudah seperti janda ditinggal berondong"


Selin melepas dekapannya, kemudian menatap wanita yang telah menjadi istri abangnya.


"Kau benar kak... Aku baru ditolak sekali, masih ada kesempatan lain. Aku akan mencobanya di lain waktu. Semoga kak Azam luluh denganku"Selin berkata dengan semangat barunya setelah mendengar ucapan Daisy.


Yaa dia baru mencoba sekali dan itu langsung dengan dirinya yang menyatakan perasaannya. Bukankah seharusnya dia melakukan pendekatan dulu.


"Kalau begitu aku pamit pulang dulu, titip salam untuk Oma jika sudah sadar" Setelah mengatakan itu Selin langsung pergi dari kediaman keluarga nya.


Entah apa tujuan wanita muda itu pulang lebih dahulu dari keluarga yang lain.


"Lain kali kau tak perlu menanggapi permasalahan konyol wanita pecicilan itu"kata Sean pada Daisy mengenai sang adik.


Daisy sedikit melirik Sean disebelahnya.


"Itu bukan permasalahan konyol. Padahal kau kakaknya, seharusnya kau lebih mengerti perasaan yang dirasakan Selin saat ini"sungut Daisy sendu, ia juga pernah merasakan apa yang telah dirasakan oleh Selin.


"Ck! Kau seperti pernah mengalaminya saja?"


"Tentu! Dan itu sangat sakit. Laki laki tampan dan kaya seperti mu mana mungkin mengalami cinta sepihak"


Walaupun perkataan itu tersirat menyindir namun Sean tersenyum kecil mendengarnya.


"Jadi aku tampan?"goda Sean dengan senyum jailnya.


Daisy yang geli melihat wajah suaminya reflek menampar pipi Sean.


Plakk


Semua anggota keluarga menatap heran pada sepasang suami istri itu. Daisy terpaku, dirinya terlalu geram melihat Sean yang menggodanya tadi.


Ia jadi lupa bahwa keluarganya masih berada di dekat mereka.


Sean yang merasakan sedikit sakit di pipinya reflek mengelus rahangnya, tak menyangka wanita ini akan berani menamparnya.


Melihat pandangan keluarga yang mulai curiga, Daisy langsung meraih pipi suaminya dan mengusapnya dengan lembut.


"Aduhh sayang maaf, makanya jangan melamun kan aku gampar jadinyaa"kata Daisy cengengesan seraya mengusap pipi Sean.


Jangan tanya bagaimana ekspresi pria berumur 27 tahun itu. Dirinya menatap garang pada sang istri.


"Cium"titahnya.


Daisy membelalakkan matanya. Sean tersenyum licik. Siapa suruh berani menamparnya. Lihat akan dia balas perlakuan wanita itu.


"Aa..pa?"


"Cium, ini sangat sakit"rengeknya yang mendapat delikan tajam dari Daisy.


Tidak mau menuruti permintaan Sean, namun melihat pria di sampingnya semakin brutal dan akan mengundang keanehan, dengan terpaksa Daisy pun mendekati wajahnya dengan wajah Sean dan mengecup sekilas pipi pria itu.


Cup..


Sean tersenyum kemenangan. Ini pertama kalinya seorang Daisy menuruti permintaannya.


"Padahal aku tadi hanya melamun membayangkan malam panas kita kemarin"kata Sean dan....


Plakk!!


Lagi lagi anggota keluarga yang lain terkejut melihat itu termasuk Sean.


Daisy yang sadar telah kelepasan menampar wajah suaminya sebanyak dua kali pun semakin panik, ditambah mata keluarga mereka menatap kearah keduanya dengan bingung.


Salahkan pria gila ini, Daisy sedang mencoba melupakan malam itu namun dengan gamblangnya Sean mengingatnya kembali. Kan sungguh mengesalkan.


"Maaf sayang, ini nyamuknya nakal banget nongkrong dipipi kamu"elak Daisy yang kembali mengelus wajah suaminya yang kini sudah memerah karena tamparan keduanya lumayan kuat.


Sementara keluarga Richard yang lain hanya tertawa kecil melihat tingkah Daisy kepada seorang Sean yang cukup mereka takuti.


Walaupun wajah Sean sudah memerah menahan amarah, tapi mereka cukup kagum karena pria itu tidak langsung membentak ataupun memarahi orang yang membuatnya marah.


Sepertinya Sean memang sangat mencintai Daisy sampai tak tega memarahi wanita itu, pikir keluarga Richard.


"Lihat saja hukuman mu nanti"geram Sean menahan keselnya pada sang istri.


"Jangan marah marah nanti aku tampar lagi mau?!" Daisy menunjukkan telapak tangannya yang telah menampar pipi Sean dua kali.


Sungguh gila!


°°°


"Aduh sepertinya tuan Sean sudah mulai cair nih bestie"-Author