
Hari ini tepat sebulan Daisy menjadi nyonya Richard. Sudah menginjak 30 hari wanita itu menjadi seorang istri Sean Richard. Raja bisnis yang hampir di kenal sebagian dunia.
Walaupun sudah sebulan tinggal di atap yang sama. Kedua manusia itu terkadang masih suka perang dingin. Tidak ada keharmonisan. Keduanya terlihat cuek dan tak peduli.
Paling jika terlihat sedang adem, saat Sean sedang tidak dirumah. Daisy benar benar menghabiskan waktunya bermalas-malasan di mansion Sean.
Jika ada yang nanya mengenai kesibukan Daisy saat ini. Wanita itu akan menjawab bahwa ia sedang sibuk gak ngapa-ngapain.
"Jangan lupa bucket bunganya!"pesan itu Daisy kirimkan pada Sean, suaminya.
Ya walaupun pernikahan mereka terjadi karena hal konyol dan tak seharmonis seperti pernikahan orang lain diluar sana, namun Daisy memiliki list impian dalam rumah tangganya.
Daisy akan tetap menjalankan list impiannya walau bukan dengan suami yang tidak ia cintai.
Ralat maksudnya belum cinta, sosok Sean merupakan pria tipikal idamannya sedari dulu. Tinggal bagaimana caranya ia bisa mencintai pria gila itu.
"Luke akan membawanya untukmu"
Daisy mencebik kesel.
"Apa salahnya sih dia yang bawaa, aku kan juga pengen foto tangannya"sungutnya merasa kecewa karena bukan Sean yang akan membawa bucket bunga yang ia minta.
"Bagaimana dengan makan malamnya?"
Tak menunggu waktu lama pesan itu dibalas.
"Makan malam lah sendiri, atau minta Luke menemanimu"
Daisy tak habis pikir dengan Sean. Bagusan Luke saja yang menjadi suaminya.
Daisy mencoba menghubungi Sean karena tak terima. List impiannya harus terpenuhi, salah satunya dengan mereka yang setiap bulan tanggal pernikahan, suaminya itu memberi dia bucket bunga dan kemudian keduanya akan dinner.
"Halo"
"Hmm"
"Kenapa semuanya kau alihkan pada Luke, suamiku sebenarnya siapa ha?"
"Kau menganggap ku suami?"
Daisy tertegun mendengar ucapan Sean. Ya walaupun sering bertengkar dengan pria itu, namun tentu saja dirinya menganggap pria tampan dan kaya ini suaminya.
"Te..tentu"
"Ahh sudahlah aku tak mau tau. Bucket bunga dan dinner tidak boleh diwakilkan. Kau paham?! Atau aku akan mengadu pada Mamoy Reina"
Entah sejak kapan wanita berusia 22 tahun itu memiliki panggilan aneh kepada sang mertua.
Setelah mengatakannya tanpa menunggu balasan dari Sean, Daisy memutuskan panggilannya.
"Huftt kenapa aku mendapatkan suami sepertinya. Ternyata selera Leyna benar benar buruk"gumamnya.
Leyna, kakak perempuannya yang telah menjadi penghubung antara dirinya dan Sean.
Wanita yang lebih 4 tahun darinya itu pun akan menikah minggu depan, dan ia bersama Sean berencana akan mendatangi pesta pernikahan wanita siluman itu.
°°°
Jam 19.00 disebuah restoran bintang lima. Daisy duduk di salah satu bangku yang ada di restoran seraya menunggu sang suami yang tak kunjung datang.
Daisy mencebik kesel, sudah setengah jam menunggu kehadiran Sean tapi pria itu tak memunculkan batang hidungnya.
Notif chat memenuhi ponsel Daisy. Wanita itu membuka ruang obrolan grupnya yang terlihat ramai.
Daisy semakin suntuk melihatnya. Disana teman teman kampusnya dulu memuji Laura yang memerkan kemesraannya pada sang suami dalam merayakan anniversary pernikahan mereka.
Mengenai Laura, ia adalah wanita yang sewaktu itu membuat Daisy pernah iri akan suaminya yang begitu romantis berbanding terbalik dengan suaminya sendiri.
"Pamer saja taunya"rutuknya namun terbesit rasa iri.
Ya dirinya tau tak boleh menanam rasa iri yang artinya tak mampu. Memang dirinya tak akan mampu kan menyandingi harmonisnya pernikahan Laura dan suaminya.
Tak lama kemudian sosok Sean pun muncul. Mata Daisy berbinar menatap kehadiran sang suami, walaupun terbesit sedikit rasa kecewa karena Sean datang ke sini masih memakai pakaian kantornya tadi pagi.
Tak sebanding dengan dirinya yang sudah tampil cantik untuk malam ini. Tapi tak apa, bukannya kehadiran pria itu yang lebih penting.
"Merepotkan saja. Ini masih sebulan pernikahan"komentar Sean yang merasa ribet nya Daisy akan umur pernikahan mereka.
Mendengar itu Daisy tersenyum, tak peduli komentar yang diutarakan Sean. Intinya makan malam ini harus terealisasikan.
"Memangnya kenapa? Ini salah satu penghormatan atas pernikahan konyol kita dapat bertahan selama sebulan"
Sean mengembuskan nafasnya berat.
Kedua Daisy menengadah kedua tangannya kepada Sean, layaknya seorang anak kecil yang meminta sesuatu pada ayahnya.
"Apa?"tanya Sean tak mengerti maksud istrinya.
Daisy mencebik kesel.
"Bunga untuk ku mana?"
Kali ini malah Sean yang berdecak.
"Ck! Ketinggalan di mobil"
"Yasudah ambil"
"Luke sudah pergi"
Rasanya Daisy ingin menangis saja. Memang Sean tak dapat diandalkan.
Daisy yang sudah kecewa pun bangkit dari duduknya dan meninggalkan Sean begitu saja.
Sean menatap tak percaya. Apa wanita bar bar itu marah padanya. Sean yang tak ingin ditinggal pun ikut keluar dari restoran dan mengejar Daisy.
°°°
Keduanya berjalan dipinggir trotoar dengan Daisy yang berjalan lebih dulu.
"Apa kau marah?"tanya Sean pada Daisy yang tak kunjung menghentikan langkahnya.
"Tidak. Aku bahagia"sahut Daisy ketus.
Ya jelas marah lah!
Sean tetap setia mengikuti langkah istrinya.
Daisy menghentikan dirinya di salah satu kedai es krim yang ada pada pinggir kota yang saat ini mereka lintasi.
Wanita itu terlihat memesan es krim dengan wadah yang besar. Ya Daisy saat ini butuh sesuatu yang dingin untuk memadamkan api dalam dirinya.
Saat ingin membayarnya, Sean terlebih dahulu menyela memberi uang transaksi pada si penjual.
"Kembaliannya ambil saja"
Daisy kembali melanjutkan jalannya tanpa memperdulikan pria yang sedari tadi setia mengikutinya.
"Apa kau tak lelah?"tanya Sean yang merasakan kakinya mulai pegal.
Daisy menghentikan langkahnya, dirinya juga sudah lelah berjalan. Niatnya kan ingin menghindari pria ini, namun Sean terus mengikutinya.
Sean menduduki dirinya di bangku yang tersedia dipinggiran jalan. Ia meraih tangan Daisy untuk duduk disampingnya.
"Istirahatlah dulu"
Daisy menatap pria tampan itu kemudian menghempas tangan Sean, lalu mendudukkan dirinya di bangku dan memberi jarak sedikit pada Sean.
Sean melihat itu dan hanya tersenyum kecil, masih ngambek rupanya.
"Apa kau masih sanggup berjalan?"
"Bukan urusanmu"ketus Daisy.
Sean mengembuskan nafasnya berat. Padahal ia baru pulang kerja, sudah dihadapi dengan tingkah Daisy yang membuat kepalanya sakit.
Sean meraih ponselnya, kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku belakang celana bahannya.
Setangkai bunga mawar. Rupanya Sean menyempatkan membelinya tadi ketika mereka berjalan melewati pinggir kota.
"Maaf hanya ini yang tersisa"ucapnya memberi setangkai bunga itu tersebut pada Daisy, tak lupa memotret tangannya yang memberikan bunga itu pada sang istri.
Mata Daisy seketika berbinar melihat itu. Walau berbeda jauh dengan ekspektasi nya, tapi Daisy cukup terharu. Ternyata pria ini tidak benar benar mengecewakannya.
Daisy meraih bunga itu. Walau cuma setangkai, bunga ini tetap terlihat indah dimata Daisy yang memang menyukai bunga.
"Te.. terimakasih, kapan kau membelinya" Daisy heran kapan Sean sempat membeli setangkai bunga ini.
"Di sebelah kedai es krim tadi"
Tanpa aba aba Daisy meneteskan air matanya. Ia sungguh terharu. Langsung saja ia memeluk pria yang telah menjadi suaminya sebulan akhir ini.
"Hiks..aku membencimu tapi aku terharu. Biarkan aku memelukmu sebentar"
Sean tersenyum kecil, gemes. Bisa bisanya Daisy bertingkah seperti ini. Ia membalas pelukan itu.
"Maaf membuatmu berjalan jauh"
Tangan Sean mengelus pelan punggung istrinya.
"Maaf juga untuk list mu yang gagal"
Sean juga mengetahui list impian gadis dipelukannya ini. Sewaktu itu, Daisy menceritakan impiannya dalam menjalankan bahtera rumah tangganya pada Sean, walaupun saat itu dirinya tampak cuek akan cerita istrinya.
Daisy melepaskan pelukannya kemudian menggeleng.
"Tidak sepenuhnya gagal hehe"
"Tapi dinner nya"lirih Sean.
Daisy seketika meraih box eskrim yang ia beli tadi. Mengangkatnya tinggi sebatas dada.
"Kita bisa dinner pakai ini"cengirnya.
Sean tertawa kecil.
"Maaf sekali lagi"
"Tak masalah ayo kita santap es krim cair ini sebelum pulang" Daisy membuka tutup es krim tersebut, dan disana dengan berbagai rasa es krim telah mencair menjadi satu.
Mereka pun memakan es krim tersebut dengan damai dan bahkan sesekali tertawa memikirkan nasib mengapa bisa berjalan jauh sampai sini.
"Ponselku lowbet ini, pinjam ponsel mu. Aku akan meminta Luke untuk menjemput kita"pinta Sean.
Daisy mengambil ponselnya dari tasnya namun ternyata ponselnya juga kehabisan baterai.
"Lowbet jugaa"
Sean menghela nafas berat. Kesialan apa lagi ini.
"Aishh sial"makinya yang emosi bagaimana cara dirinya pulang jika seperti ini.
"Kau emosi saja. Disana ada halte, kita bisa pulang naik bus"kata Daisy menunjuk sebuah halte yang tak jauh dari tempat mereka berada.
Sean menatap halte yang tak jauh dari mereka.
"Kau serius kita naik bus umum?"
"Ehm, kenapa?"
"Disana pasti sumpek, aku tak mau"
Daisy mencibir, lihat keangkuhan pria ini sudah kumat.
"Ini sudah malam, biasanya tidak terlalu padat. Ayuk nanti kita ketinggalan bus terakhir" Daisy berdiri dengan menarik Sean untuk ikut berdiri juga.
"Jangan malas tuan Sean, sesekali dirimu harus merasakan fasilitas kaum bawah"
"Itung-itung simulasi mana tau dirimu bangkrut haha" Sean reflek memukul pelan bibir tipis Daisy.
"Enak saja. Tak kan kubiarkan hidupku miskin"
Daisy tertawa mendengar itu. Tentu saja melihat gaya seorang Sean, tak akan sanggup jika hidup melarat.
"Bagus, tetaplah kaya biar aku bisa terus menjadi nyonya sosialita hehe"
Sean menatap istrinya yang cengengesan. Bukan merasa dirinya dimanfaatin oleh sang istri, dirinya malah merasa gemas.
Ayolah Sean dirimu tak boleh jatuh hati pada perempuan ini.
"Sudah ayo gendong kanjeng ratu sampai halte"pinta Daisy.
"Tidak mau, jalan sendiri"tolak Sean.
"Haa ayolah kaki tuan putri ini sangat sakit, tak bisa diajak berjalan lagi"sungutnya memasang wajah yang paling menyedihkan agar Sean mau menggendongnya.
"ck! Cepat naik"
Sean menurunkan badannya agar Daisy bisa naik kepunggungnya.
Daisy pun menaiki punggung suaminya. Selama berjalan ke halte, mulut Daisy tak berhenti berkomat kamit.
Walaupun merasa berisik dan terganggu namun Sean tak menegurnya, ia mendengar semua omongan unfaedah istrinya yang memasuki gendang telinganya.