Because My Sist

Because My Sist
E | Dinner Family



Semua anggota keluarga mulai duduk di posisi nya masing masing, Daisy yang saat ini hanya mengenali Sean pun duduk disamping pria itu.


Terdengar suara keributan antara Selin dengan keponakan laki lakinya yang masih berumur 4 tahun.


"Arka pergilah duduk disamping nenek mu saja"suruh Selin sambil menunjuk ke arah bibi Carrol dan suaminya, sepasang suami istri itu merupakan kakek dan nenek dari si kembar.


Orang tua sikembar sedang sibuk, mengakibatkan dua anak kecil itu diurus oleh kakek neneknya.


"Tidak mau. Arka mau duduk disamping bibi cantik"bantah Arka sambil berusaha mengambil posisi disamping Daisy tapi dicegah langsung oleh Selin.


Semua mata menatap keributan yang terjadi antara aunty dan keponakan itu.


"Arka menurut lah, atau aku akan menyuruh Daddy mu langsung menjemput mu disini"ancam Selin menatap tajam ke arah Arka, sementara bocah kecil itu menatap takut dan matanya mulai berkaca.


"Selin kau suka sekali mengganggu Arka"tegur Reina kepada anak perempuannya, ia adalah mama dari Sean dan Selin.


Memang Selin dan Arka susah sekali akrab, selalu ada saja yang membuat keduanya bertengkar.


"Selin kau dengan anak kecil saja suka sekali bertengkar"kali ini papa Sean berbicara, Alan Richard.


"Bibi Selin awas saja kau membuat abangku menangis, akan Arsha gigit nanti bibi Selin"suara cempreng milik kembaran Arka mulai berkumandang.


Tak berapa lama tiba tiba Arka sudah menangis kencang.


"Huaaa bibi Selin jahat"teriak Arka dengan tangis yang nyaring.


Semua orang memijat pelipisnya merasa pening, padahal ini termasuk acara formal menyambut calon menantu dikeluarga mereka. Tetapi dihadapkan situasi seperti ini.


Daisy yang memiliki jarak yang lebih dekat dengan Arka, langsung meraih tubuh kecil itu dan memeluknya dalam gendongan. Ia menepuk punggung Arka untuk meredakan tangis pria kecil itu.


"Anak ganteng ngk boleh nangis ya, nanti jadi jelek"bujuk Daisy masih berusaha menghentikan tangis.


"Tapi bibi Selin jahat"adunya pada Daisy, Daisy tersenyum ia mengelap air mata yang jatuh di pipi mungil pria kecil itu.


"Iyaa tapi jangan nangis kan Arka anak pintar. Nanti kita beli es krim banyak tapi ngk usah kasih bibi Selin kalau bibi Selin belum minta maaf sama Arka" Arka mulai meredakan tangisnya, mata bulatnya menatap wajah Daisy.


"Bibi cantik mau makan eskrim bersamaku?"tanya Arka berharap, Daisy menganggukkan kepalanya.


Ia mengecup pipi Arka dan mengelus rambut bocah kecil itu.


"Ya bibi akan mengajak Arka makan es krim yang banyak"


Daisy tidak yakin dengan ucapannya, karena sebenarnya nanti malam ia berniat kabur dari mansion ini.


"Arsha juga mauuu!"sahut Arsha yang tertarik dengan ucapan Daisy.


Sean yang berada di samping anak kecil itu langsung mengelus rambut keponakan perempuannya.


"Iya nanti Arsha juga ikut makan es krim sepuasnya" Arsha mengembangkan senyum cantiknya.


"Arka bibi minta maaf ya?" Selin mulai mengakui kesalahannya, tak sewajarnya dia berkelakuan seperti tadi kepada ponakannya yang masih kecil.


"Bibi meminta maaf kepada Arka karena taukan Arka akan makan es krim banyak dari bibi cantik dan paman Sean bersama Arsha. Bibi takut tidak kebagian"celotehnya yang masih dalam gendongan Daisy.


Ingin rasanya Selin memaki kembali bocah kecil itu, tetapi rasanya tidak mungkin. Sementara anggota keluarga yang lain tertawa kecil mendengar celotehan yang keluar dari mulut Arka.


"Iya bibi sangat menyukai es krim, jadi Arka mau kan maafin bibi"Selin memasang wajah sendunya agar mendapat maaf dari keponakannya.


"Baiklah karena Arka sayang bibi Selin, Arka maafin" Selin langsung bernafas lega, ia meminta Arka dari gendongan Daisy untuk memeluknya.


Sekarang tubuh Arka pun sudah berada digendong Selin, mereka memeluk sayang satu sama lain. Memang begitulah keduanya mudah bertengkar namun tidak sulit juga untuk berbaikan.


°°°° 


Acara makan malam itu berlangsung dengan tenang, diselingi dengan celotehan sikembar yang membuat anggota keluarga tak bisa menahan tawanya.


"Jadi kau sekarang kerja dimana nak...maaf aku lupa namamu"ucap ayah Sean terpotong.


"Daisy paman"jawab Daisy enteng, sementara Sean membulatkan matanya mendengar jawaban gadis itu.


Sean memang sudah mengetahui bahwa wanita yang bersamanya saat ini adalah adik perempuan Leyna, tetapi kenapa bisa Daisy memperkenalkan dirinya sebagai dirinya sendiri.


"Loh bukannya Leyna yaa, sepertinya dikertas undangan tertulis Leyna deh"cetus Selin yang sempat melihat undangan pernikahan kakak laki-lakinya.


Sementara keluarga yang lain belum sempat melihat undangan tersebut, hanya diam dengan raut wajah yang bingung. Sean lupa memberitahu kepada Daisy bahwa wanita itu harus memperkenalkan dirinya sebagai Leyna.


"Salah cetak namanya"bohong Sean.


"Astaga kok bisa sih, nama Leyna ke Daisy itu jauh beda loh. Kok bisa salah cetak"Selin memicingkan matanya ke arah kakak laki-laki nya, menaruh rasa curiga. Namun Sean tetap memasang wajah datarnya.


"Apalah artinya sebuah nama, yang terpenting yang menikah dengan ku adalah wanita yang kucintai"ucap Sean tiba tiba meraih tangan Daisy dan mengecupnya.


Ingatkan Daisy untuk menggeplak kepala pria ini setelah makan malam.


Anggota keluarga tersenyum senang melihat tingkah lembut Sean, mengingat pria dihadapan mereka adalah pria yang sangat dingin, kecuali Merry.


Merry merasa harus menguji Daisy dulu apa pantas menjadi pendamping hidup untuk cucunya. Sementara Daisy, dia terus memaki Sean dalam hati.


"Jadi dimana kau bekerja nak Daisy?"tanya Alan kembali.


Daisy tersenyum kikuk, dia kan baru tamat kuliah, kerja apanya coba.


"Saya baru saja tamat kuliah paman"balas Daisy tertunduk.


Merry mencebik bibirnya.


"Masih bocil rupanya"ejek nenek tua itu.


Ingin rasanya Daisy menjahit mulut wanita itu, tetapi mengingat bahwa Merry merupakan orang yang paling dihormati dikeluarga ini tentu saja Daisy harus mengurungkan niatnya.


Bisa saja Daisy mengakui pekerjaan apa yang saat ini ditekuni oleh Leyna, kan wajah mereka kembar. Tetapi Daisy berencana jika memang pernikahan ini harus berlangsung maka ia ingin dirinya sendiri lah yang berperan bukan Leyna.


Sementara anggota keluarga lainnya hanya diam tidak berani mengomentari ucapan sang nenek tertua.


"Hehe wajah saya memang boros nek, bahkan papa saya sering bilang saya nenek lampir"seloroh Daisy yang membuat lainnya tertawa kecil kecuali Sean dan Merry.


Padahal baru berpisah dua hari, tetapi Daisy sudah merindukan ayahnya yang sering meledekinya dengan sebutan sebutan aneh.


"Mana ada nenek lampir secantik bibi, paling jika ada mungkin nenek lampir itu adalah bibi Selin"celoteh Arka tiba tiba, tawa dimeja makan pun semakin renyah.


Selin yang tidak terima langsung membalasnya.


"Iya bibi nenek lampirnya, dan Arka adalah tikus itam dekil jelek yang terus mengikuti bibi"balasnya, Arka yang mengerti maksud bibinya langsung manyun.


"Tidaklah bibi bercanda, Arka adalah raja dan bibi Selin ratunya"ralat Selin yang melihat raut wajah sedih dari keponakannya, mendengar itu wajah Arka cerah kembali.


"Nah itu baru benar dan bibi cantik yang akan menjadi ratunya Arka"ucap Arka tersenyum kepada Daisy, Selin hanya menatap malas kearah ponakannya.


"Sepertinya Arka sangat menyukaimu Daisy"ucap Reina sambil tertawa.


Daisy hanya tersenyum sambil mencubit pipi Arka gemas.


"Iya kau benar sekali Reina, tetapi Arka kau harus mencari ratu yang lain karena bibi Daisy sudah menjadi ratunya paman Sean"imbuh bibi Carrol.


"Paman Sean kan bisa mengalah nek"cibir Arka memanyukan bibirnya yang membuat semua orang semakin tertawa.


"Arka benar nek biarkan saja bibi Daisy menjadi ratunya Abang Arka, dan Arsha akan menjadi ratunya paman Sean"kali ini Arsha ikut berceloteh.


Anak anak kecil itu jadi berebutan untuk memiliki Daisy dan Sean. Siapa suruh memiliki wajah yang cantik dan tampan, membuat anak kecil jadi tertarik pada mereka.