Because My Sist

Because My Sist
S | Bertaruh



Ketiganya kini telah tiba dikediaman keluarga Baker. Tampak rumah sederhana namun luas itu terlihat ramai.


Banyak dari sanak saudara yang berkunjung sekedar berbincang saja kemudian pulang dan ada juga yang memilih bermalam dirumah pengantin.


"Kau sedari tadi menatapnya terus. Belum move on ya"bisik Daisy pada Sean yang duduk disebelahnya.


Ya pria itu akhirnya ikut bermalam di rumah sang istri karena tak sudi ditinggal sendirian di hotel.


Sedari tadi pandangan Sean tak lepas dari Leyna, kakak perempuannya yang saat ini sedang berada diruang tamu berkumpul dengan para tetua dikeluarganya untuk diberi nasihat.


Lihat bahkan Daisy berbicara Sean tak menggubrisnya. Sean masih terus menatap kearah Leyna. Daisy cemburu.


Wanita itu pun dengan kesal mencubit pinggang Sean gemas kemudian berlalu dari sana.


Sean meringis pelan, melihat kepergian Daisy setelah mencubit pinggangnya. Kurang ajar sekali wanita itu.


Ia berniat mengejar Daisy yang menjauh darinya namun sebelum itu ia sekali lagi menatap nyalang ke arah Leyna.


"Lihat saja nanti kau Leyna!"


Setelah itu Sean pun menyusul istrinya yang berjalan cepat meninggalkan dirinya.


Leyna yang sebenarnya tahu sedari tadi Sean menatapnya merasa takut dan gugup. Bukan salting malah wanita itu terus merapalkan doa untuknya.


"Matilah aku, semoga dia ikhlas"


°°°


Daisy berjalan cepat kearah taman belakang rumahnya. Walaupun rumahnya memang tak sebesar mansion Sean namun rumah sederhananya tetap memiliki taman cantik yang dihias dengan bunga-bunga.


Ingatkan Daisy sangat menyukai bunga. Jadi beberapa bunga indah yang menghiasi tampan itu merupakan hasil dari tangannya.


Sean mengikuti langkah istrinya. Terlihat Daisy yang duduk di gazebo taman bersama beberapa keluarga Daisy yang lain, terlihat adik perempuannya dan Daren juga ada disana.


Sean mendekati gazebo tersebut. Ibu-ibu dan keponakan perempuan Daisy terpesona dengan kedatangan Sean.


"Wah mantu Metta sangat tampan"puji bibi Ola. Adik mama Metta.


Sean tersenyum sungkan menanggapi pujian tersebut. Sementara Daisy dan Selin melirik malas. Sok tampan!


"Gimana bi wajah Daren sebelas duabelas kan dengan kak Sean"tanya Daren dengan senyum tampan dan imutnya meminta pendapat pada bibi-bibinya yang ada disini.


Selin yang melihat wajah Daren merasa gemas. Daren merupakan pria yang memiliki tipe wajah baby face membuat Selin terkadang begitu gemas dengan pria yang baru berumur tujuh belas tahun itu.


"Ihh gemasnya adek kakak. Tentu saja dirimu lebih tampan dari kak Sean"puji Selin mencubit kedua pipi gembul milik Daren.


Yang memiliki pipi pun mencibir kesel ingin melawan tapi jiwanya tak sanggup. Jiwa yang ia miliki tidak sama dengan kedua kakaknya.


Yang lain hanya tertawa melihat interaksi Selin yang terlanjur gemas dengan Daren. Sementara sepasang suami itu berwajah datar.


Daisy yang memang masih malas dengan Sean dan Sean sendiri memang memiliki humor yang mahal, jadi hal tersebut tidaklah lucu baginya.


"Nak Sean"panggil papa Alan dari dalam rumah.


Sean menoleh begitupun yang lainnya.


"Iya pa?"sahutnya.


"Kamu ngapain disitu? Mari sini kita bermain catur dengan yang lain"ajak papa Alan yang melihat Sean bergabung dengan para wanita di gazebo tersebut.


Astaga pria setengah bayah itu melupakan gender putranya sendiri, Daren.


Sean mengangguk.


"Baik pak"


Sean menoleh pada Daren yang tampak tak bergerak.


"Ayo Daren"ajak Sean pada adik iparnya.


Daren kan juga seorang pria, ngapain berada disini. Namun Daren menggelengkan kepala.


"Daren lebih suka melihat ini dari pada bermain catur. Kak Sean pergi saja sendiri"tolak remaja itu.


Melihat saudara perempuannya menggunakan hiasan kuku lebih menarik ketimbang melihat permainan catur yang dimainkan oleh papa dan para saudara laki-lakinya.


Sean menatap tak percaya. Daren ternyata memiliki jiwa gemulai yang membuat lelaki tersebut menyukai hal yang berbau wanita, namun untung saja walau suka Daren tak pernah mencobainya. Ingat dia masih waras.


"Nanti kita bicara"katanya pada Daisy yang tampak cuek padanya. Padahal pas dibandara tadi wanita itu memeluk lengannya dengan posesif.


Dasar wanita aneh.


Daisy tak menggubris perkataan Sean, dan itu cukup mengundang pandangan aneh dari keluarga yang melihatnya.


°°°°


Malam pun tiba beberapa para sanak saudara meninggalkan kediaman Baker. Hanya keluarga inti lah ya menginap.


Daisy kini tengah duduk di sofa dengan santai menikmati kue kering di pangkuannya dan sebuah tontonan dilayar televisi.


Padahal seluruh keluarga bergender perempuan sedang sibuk mempersiapkan makan malam. Wanita ini malah berleha.


Sean yang melihat keberadaan istrinya mendekati wanita itu.


Ia duduk disamping Daisy dan bibirnya terlihat merutuk.


Daisy menatap bingung. Datang-datang suaminya terlihat suntuk.


"Ck! Kau mengganggu saja!"


"Kenapa wajahmu kek bebek begitu?"tanya Daisy kepo, sedikit melupakan kekesalannya pada pria itu atas kejadian tadi siang.


Sean yang merasa dirinya ingin mengadu pun memeluk pinggang wanita itu dan membenamkan wajahnya diperut Daisy.


Daisy terperangah akan tingkah Sean. Kemudian pria itu terdengar merengek.


"Kau kenapa sih??"kesel Daisy yang tak mengerti akan rengekan suaminya.


Ingat sean itu pria dingin dan angkuh, jarang melihatnya merengek seperti ini.


"Mereka mengejekku"rengeknya.


"Siapa?"


"Para paman dan sepupu laki lakimu. Aku terus kalah bermain catur dengan mereka, kemudian mereka menertawaiku"adu Sean layaknya anak kecil.


Aduh Sean mana vibes CEO mu dengan otak cerdas yang kau miliki. Sean memang sangat jago bermain saham dan segala sesuatu mengenai bisnis namun bermain catur membuatnya kalah telak.


Bukan karena merasa sedih duitnya banyak hilang karena taruhan tadi, namun sosok kelakiannya yang tidak pernah kalah tersentil karena kekalahannya tadi.


Daisy menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya. Tangannya pun terulur mengelus rambut sang suami.


"Sudahlah cuma kalah catur kau merengek seperti ini. Bagaimana jika kalah treding saham mungkin kau akan menjerit seperti tangisan janda"ucap Daisy sedikit berseloroh.


Tangannya menepuk nepuk punggung lebar suaminya. Sean tampak enggan mengangkat kepalanya.


"Kau tidak bertaruh kan?"tanya Daisy.


Namun Sean tampak diam. Tak mungkin dia memberi tahu soal taruhannya tadi, yang ada ia akan di slebeng oleh istrinya.


Semenjak menikah, Daisy melarang Sean untuk boros walau harta itu milik pria itu sekalipun. Sean boleh boros hanya padanya.


Ya walaupun belum saling mengisi perasaan, Sean tampak tak keberatan dengan segala aturan yang Daisy buat toh juga tidak merugikannya.


Daisy semakin curiga dengan Sean yang diam saja sedari tadi.


"Kau bertaruh apa pada mereka?"tanya Daisy menahan geramnya jika sesuatu yang fantastis keluar dari mulut Sean.


Sean keringat dingin. Haruskah ia bilang, saat bermain tadi sosok angkuhnya entah mengapa menguar begitu saja. Membuatnya tanpa pikir panjang pun ikut bertaruh.


"Seratus slot saham Kingston"cicitnya pelan. Lihat saja pasti Daisy akan mengeluarkan suara naganya.


"APAA?!"pekiknya mendengar nilai fantastis yang keluar dari mulut suaminya.


Sean mengangkat kepalanya menjauh dari pinggang Daisy. Kemudian menatap Daisy dengan wajah cengirnya.


"Sudahlah, aku tak keberatan kok kehilangan saham segitu"kata Sean agar Daisy tak marah.


Bohong. Walau tak keberatan namun dirinya tetap tidak terima.


Daisy memang tak seharusnya marah jika pria itu sesuka hatinya berbuat sesuatu mengenai hartanya. Namun jika selagi dia masih hidup dan berstatus istri Sean, dirinya tak akan membiarkan Sean membuang-buang uang.


Dengan gemas Daisy menjewer kuping suaminya. Sean mengaduh kesakitan tapi tak bisa meminta berhenti. Daisy tak kan menghentikan jewerannya.


Anggota keluarga yang lain hanya tertawa kecil melihat keributan antar sepasang suami istri itu. Tak berniat menegur karena sepertinya bukan masalah yang besar.


"Bodoh. Ayo kita ambil kembali seratus slot saham itu"kata Selin sambil menyeret suaminya untuk kembali ketempat perkumpulan keluarga nya yang bermain catur.


Para lelaki itu menahan tawa melihat Sean yang kembali dengan jeweran dari sang istri. Tentu saja hal ini akan terjadi, istri mana yang terima suaminya menghabiskan duit segitu untuk dihambur-hamburkan.


Daisy pun kembali bermain catur dengan para sepupunya untuk mengambil hak milik suaminya lagi. Seratus slot terlalu banyak jika untuk disumbangkan kepada sepupunya.


Dan kemenangan pun diambil oleh Daisy. Sean menatap bangga pada istrinya. Namun dengan dermawan Sean tetap memberikan sepuluh slot sahamnya itu dengan lawan Daisy tadi.


Suasana dirumah itu pun kembali terasa hangat dengan kegiatan dan pembicaraan mereka, sebelum besok mereka akan menghadiri pernikahan putri tertua di keluarga tersebut.