Because My Sist

Because My Sist
O | Calon Penerus Kingston



Daisy tampak menikmati acara orang kaya tersebut. Meski dirinya masih terbilang baru untuk masuk ke lingkungan orang berada seperti keluarga suaminya, namun Daisy cukup terbiasa.


Sedari tadi wanita itu hanya diam di tempat duduknya sekalian menyipi berbagai makanan mewah yang tersaji. Tak lupa juga Selin yang setia berada disampingnya Daisy untuk menemaninya.


Selin yang sebenarnya tak terlalu berbaur dengan rekan rekan bisnis yang berdatangan memilih untuk menemani Daisy yang mungkin merasa canggung karena baru pertama kali mendatangi acara seperti ini.


Namun pada nyatanya, Daisy sama sekali tidak canggung. Dirinya tampak santai bahkan tersenyum indah pada orang orang yang menyapanya karena mengenal dirinya sebagai istri Sean. Tuan rumah pada acara perusahaan tersebut.


"Kau makan banyak sekali kak"seru Selin pada Daisy yang sedari tadi mengunyah.


Selin heran mengapa kakak iparnya ini tidak menjaga image sekali. Padahal Daisy termasuk wanita yang memiliki wajah cantik dan daya tarik sendiri.


Apa wanita yang sudah menikah selalu begitu. Tidak memperdulikan penampilannya karena sudah ada yang punya.


Daisy lebih memilih duduk diam menikmati makanannya dari pada menemani Sean untuk menyapa tamu.


"Acaranya sekali setahun kan, jadi kita harus benar-benar menikmatinya"seloroh Daisy sambil menyuapkan pudding manis kedalam mulutnya.


Selin melirik malas. Kakak iparnya ini memang berbeda dari yang lain.


"Tanpa harus ada acara ini, kita masih bisa menikmatinya"


Daisy sedikit menimang. Dirinya tahu sekelas keluarga Richard, makanan yang ia makan sekarang bisa jadi makanan sehari mereka. Terbukti selama ia tinggal di mansion Sean, tak pernah makanan gagal atau kelas bawah yang tersaji di meja makan.


"Tapi sekarang ada didepan mata, jadi harus disikat"cengir Daisy kemudian semakin semangat memakan makanan miliknya.


Selin menatap Daisy yang begitu lahap, sedikit melirik pada perut Daisy.


"Apa kak Daisy ngidam? Kuat sekali makannya"batin Selin.


Dengan haru Selin meraih beberapa makanan dan mendekatkan semuanya pada Daisy untuk di makan wanita itu.


"Makan yang banyak kak, biar ponakan ku sehat"kata Selin dengan binar, berpikir mungkin Daisy lahap makan karena ada janin di perut wanita itu.


Akhirnya dirinya akan punya ponakan baru, dia sudah muak dengan sikembar yang selalu membuatnya emosi.


Daisy menatap bingung pada adiknya iparnya. Apa maksud wanita ini? Apa dia pikir dirinya sedang hamil.


"Intinya setelah lahir, kan harus ikut sekte onty yaa"Selin mengelus perut Daisy yang datar.


Dengan reflek istri Sean itu memukul pelan punggung tangan Selin.


"Siapa yang hamil ha?!"cerca Daisy.


Selin mengernyit dahinya.


"Lah jadi belum hamil?"Selin sedikit membuka mulutnya. Apa kakaknya itu terlalu lemah.


"Bagaimana bisa hamil, orang yang masuk masih jari"batin Daisy yang memikirkan malam panas dirinya dan Sean saat itu. Walaupun senjata suaminya tidak sampai tembus ke miliknya.


"Be..belum"jawab Daisy sedikit gugup.


Sebenernya Daisy tak enak hati, seluruh keluarganya dan keluarga Sean sangat menginginkan dirinya hamil dan melahirkan keturunan baru keluarga ini.


Namun bagaimana bisa itu terwujud, sementara dirinya dan Sean belum sedekat itu. Ya walaupun Daisy akui, ia ingin memperbaiki sedikit hubungannya dengan Sean.


"What? Apa kak Sean selemah itu? Dirimu belum hamil juga dibuatnya?!" Selin menunjukkan wajah tak percayanya.


Tak mungkin kakaknya yang tampak gagah dan bugar itu sulit untuk mengeluarkan bibit unggulnya.


"Hustt anak itu kan titipan Tuhan. Mungkin emang belum dikasih ajaa"kata Daisy mencoba untuk mengalihkan mengapa dirinya belum hamil juga.


"I..iiya sih tapi coba periksa aja dehh, minta resep dokter biar subur gitu kak"usul Selin dan hanya diangguki Daisy sebagai balasan.


"Cepat-cepat deh hamil, Selin butuh sekutu nih"celetuk Selin yang mendapatkan sinis'an dari Daisy.


Sudah sangat yakin bahwa wanita itu ingin cepat-cepat ponakan sendiri agar bisa menjadi pembokat wanita itu. Si kembar kan tidak bisa terlalu akrab dengan Selin, jadi Selin membutuhkan sekte untuk dirinya.


"Etdahh kalaupun aku punya baby, gak aku izini dekat-dekat dengan bibi sadgirl seperti mu"goda Daisy mengingatkan patah hati pada wanita yang masih menduduki dirinya di bangku perkuliahan itu.


Wajah Selin langsung berubah menjadi mewek.


Daisy tertawa kecil.


"Jadi gimana tuh, ada kemajuan gak?"tanyanya penasaran dengan kelanjutan kisah asmara adik iparnya.


"Makin didekati dianya makin suka marah-marah sama Selin"keluh Selin mengingat beberapa hari ini semakin gencar untuk mendekati pujaan hatinya, namun pria itu tampak makin tak tertarik padanya.


Daisy sedikit terdiam. Memikirkan saran apa yang akan ia berikan Daisy selanjutnya.


"Ehm Selin, begini. Aku tahu mungkin kau sangat mencintainya tapi jangan buat rasa cintamu itu menjadi luka"nasihat Daisy.


Oh tidak, sepertinya Daisy saat ini sedang menjelma sebagai dokter cinta.


"Tak masalah jika kau mengejarnya tapi kalau udah kasar jangan yaa. Kita seorang wanita, kurasa kau mengerti maksudku"lanjutnya.


Daisy hanya tak ingin Selin yang sudah ia anggap sebagai adik perempuannya sendiri mengalami patah hati terdalam dalam kisah cintanya.


Selin mendengar nasihat istri kakaknya, namun dirinya semakin tak ingin menjauh dari pujaan hatinya.


"Jujur Selin emang sakit sih kalo tetap ngejar kak Azam, tapi Selin bakal lebih sakit kalo gak sama dia"kata Selin pelan nyaris tak bersuara, namun Daisy masih mendengarnya karena berada didekat wanita itu.


"Cih kau mengikuti ku sampai sini?"decak seorang pria tampan yang tiba-tiba sudah berada didekat mereka.


"Kak Azam!"


°°°°


Sean tampak menyapa kolega-kolega bisnisnya yang tampak hadir dalam perayaan ulang tahun perusahaannya.


"Wah selamat tuan Sean atas umur baru perusahaan mu"seru Kael. Salah satu rekan kerja yang cukup dekat dengan Sean.


"Terimakasih tuan Kael"


"Selamat tuan Sean atas pencapaian Kingston, semoga semakin sukses"kata Aron selaku rekan bisnis Sean juga.


"Terimakasih tuan Aron, sukses juga untuk perusahaan mu"


Ketiganya tampak berjabat tangan, tanda kolega bisnis itu saling menyapa mungkin.


"Dimana istrimu? Kami tak melihatnya"tanya Aron tak melihat istri Sean didekat pria itu.


"Ada disana, dia pemalu untuk bertemu dengan orang-orang"jawab Sean yang berbeda dari kenyataannya, padahal istrinya itu lagi sibuk mencobai berbagai makanan yang tersedia.


Kael dan Aron mengangguk.


"Bagaimana, apa sudah ada calon penerus Kingston"seloroh Kael sedikit tertawa.


Sean mengerti apa yang dimaksud pria jangkung ini. Bagaimana ia bisa memilih keturunan, dirinya saja belum mencoblos sang istri.


Sean tersenyum canggung.


"Tunggu saja, sepertinya Tuhan belum mempercayai kami untuk memilikinya"


"Seorang seperti dirimu yang gagah dan bugar rasanya tak sulit menghamili seorang wanita dengan benih premium mu Sean"kali ini Aron yang mengeluarkan pendapatnya dengan frontal.


Walaupun hanya sebatas rekan bisnis, ketiganya tak canggung untuk membahas hal seperti ini karena mereka cukup dekat.


"Biasanya begitu, melakukannya dalam pernikahan kadang susah untuk mendapatkan bayi. Beda dengan dirimu"Kael merangkul bahu Aron.


" Meniduri seorang wanita diluar pernikahan langsung jadi. Tuhan tahu memberi beban pada orang yang suka maksiat"kata Kael sembari tertawa besar meledek Aron.


Sean tertawa kecil mendengar itu, dia belum punya anak kan karena emang benihnya belum ditanam.


Sementara Aron hanya menatap malas pada sohib bisnisnya itu. Tak marah, karena memang benar dirinya jadi terpaksa menikahi seorang wanita karena tak sengaja ia tiduri sampai hamil.


"Hentikan pembicaraan kotor ini. Nikmati pestanya. Aku akan menyapa yang lain"


Setelah mengatakan itu pun Sean meniggalkan Aron dan Kael untuk menyapa tamunya yang lain. Namun niatnya terhenti karena tak sengaja melihat istri dan adik perempuannya sedang berbincang dengan seorang lelaki muda.