
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Daisy baru saja tiba dimansion selesai berbelanja dengan Selin dan si kembar.
Adik ipar dan kedua keponakannya pun sudah diantar oleh supir untuk kembali pulang kerumah.
Daisy melihat mobil Sean telah terparkir rapi di pekarangan mansion. Artinya suaminya sudah pulang bekerja. Daisy berjalan cepat ke arah kamar suaminya.
Ya walaupun tidak sekamar lagi semenjak kedua keluarga mereka telah pulang, tak mempengaruhi Daisy menjadi segan memasuki kamar suaminya.
Bahkan wanita itu terkadang sesuka hati memasuki kamar Sean, contohnya seperti ini.
Ceklek!
"Sean"serunya membuka pintu kamar pria itu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"Ahkk"
Wanita itu berteriak ketika melihat suaminya disana sedang memakai ****** ********.
"Daisyyy!!! Tutup matamu!"pekik Sean yang terkejut melihat keberadaan Daisy yang tiba tiba.
Daisy menutup matanya. Jantungnya berdetak dengan kencang telah melihat senjata tempur suaminya.
Sementara Sean dengan cepat pria itu memakai pakaiannya lengkap.
"Makanya pintu itu dikunci, bagaimana jika tante girang yang masuk"cerocos Daisy yang mendapat lirikan malas dari Sean.
"Kau tante girangnya, mau apa kau kesini?"ketus Sean acuh kemudian meraih laptopnya dan duduk di sofa kamarnya.
Tangannya sudah mulai sibuk mengetik sesuatu di benda pipih itu. Daisy pun menutup pintu kamar Sean dan berjalan mendekati suaminya disana.
Dengan senyuman cantik ia duduk di dekat pria itu. Daisy terus menatap Sean membuat Sean menjadi bingung akan tingkah istrinya.
Untuk apa coba wanita ini menatap dirinya dengan senyuman semanis itu, ehh.
"Jangan tersenyum! Kau sangat jelek"bohong Sean. Padahal dirinya cukup gugup melihat senyuman cantik dari istrinya.
Daisy mengerucutkan bibirnya namun sedetik kemudian kembali menunjukkan wajah cerahnya.
"Besok ulang tahun perusahaan kan?"
Sean menaikkan sebelah alisnya, tumben sekali wanita ini bertanya mengenai perusahaannya. Taunya kan hanya minta duit.
"Hmm"
"Apa aku boleh ikut?"tanya Daisy dengan wajah harapnya.
Sedikit ingin menjaili, Sean tampak berpikir.
"Untuk apa kau ikut? Disana bukan tempat bermain. Tidak usah ikut"kata Sean menatap laptopnya namun mencuri pandang kepada Daisy untuk melihat ekspresi wanita itu.
Ya kali istri pimpinan tidak ikut dalam acara penting tersebut, asekk.
"Ishh aku ingin ikut. Ikut yaa, itu Selin sama si kembar boleh ikut"kekeh Daisy tetep ingin ikut tak mau ditinggal.
Daisy meraih paper bag belanjaannya tadi dan mengeluarkan sebuah gaun yang terlihat indah.
"Lihat, aku sudah membeli gaun. Ini harganya mahal, aku ingin pamer nanti disana"imbuh Daisy dengan songong.
Jangan tanya sifat angkuhnya datang dari mana, jelas dari Sean.
Sebulan tinggal bersama. Terkadang Daisy mengikuti sifat pria yang telah menjadi suaminya itu, begitu pun sebaliknya. Di selang waktu bisa saja Sean yang bersikap absurd sementara Daisy kalem.
"Kau kira acara itu ajang fashion show"Cerca Sean tak habis pikir, istrinya sudah mulai pintar hidup bersosialita rupanya.
"Ihh pokoknya aku mau ikut! Kalau gak..."
"Apa?"tantang Sean namun Daisy malah menyengir.
"Hihi kau ini! Emang apa yang membuat aku bisa mengancammu, sudah yaa besok aku ikut pokoknya"cengir Daisy sambil menepuk-nepuk pelan dada bidang Sean.
Tangan Sean menahan tangan yang akan meninggalkan daerah dadanya.
"Kau tak merasa bersalah karena sudah memakai kartu dengan tagihan yang cukup banyak?"tanya Sean menatap mata Daisy.
Sebenarnya ia tak mempermasalahkan wanita ini menggunakan kartunya sebanyak apapun, tapi percayalah saat ini Sean bertanya hanya membuat Daisy menetap disini lebih lama karena sepertinya gadis itu akan kembali ke kamarnya.
Bukankah butuh sebuah topik agar interaksi nya bersama sang istri bisa lebih lama.
"Ehmm awalnya sih iya"
"Tapi kata Selin tak usah khawatir, katanya dirimu benar-benar Sultan. Kehabisan uang segitu tak akan membuatmu bangkrut"jawab Daisy yang menyampaikan perkataan Selin tidak usah ragu untuk menguras semua uang Sean.
Sean berdecak kecil. Daisy tak boleh banyak-banyak bergaul dengan adik bin ajaibnya itu.
Ehh kenapa dia mengatakan itu. Ayolah Sean kau tak memikirkan yang aneh-aneh kan.
Daisy menepuk jidatnya.
"Astaga kelupaan"
Sean melirik istrinya yang menepuk jidatnya sendiri. Kenapa tidak lebih kuat, biar merah-merah merona gituu.
Daisy memilah beberapa paper bag yang berada di sampingnya. Meraih satu dari lima paperbag yang dibawanya kemudian menyerahkannya pada Sean.
"Ini"sodornya.
Sean mengambil paper bag tersebut dari tangan Daisy. Mengintip isi dalam paper bag yang diberikan Daisy.
"What's this?"
"Pakaian untukmu. Lihat sama denganku! Jadi kita besok kayak couple'an gitu hehe"jelas Daisy seraya menunjukkan gaunnya yang senada dengan pakaian yang diberikannya untuk Sean.
Entah dirasuki apa seorang Daisy yang diawal pernikahan selalu ogah-ogahan kepada Sean, tapi saat ini wanita itu layaknya sebuah pasangan yang memperhatikan pasangannya.
Sean kembali bingung. Apa ini benar-benar Daisy. Roh reog apa yang memasuki jiwa istrinya.
"Tidak usah! Aku sudah punya pakaian sendiri untuk besok"
Raut wajah kecewa seketika tercetak di wajah cerah Daisy.
"Yahh seharusnya sedari awal kau memberi tahuku bahwa besok ulang tahun perusahaan. Jadi kau tidak mencari baju dulu"
"Tapi yasudah lah simpan saja. Kau bisa memakainya entah kapan"Kata Daisy yang tidak ingin memaksa memakai pakaian yang ia belikan. Wajar saja pria ini sudah menyiapkan pakaian dari jauh-jauh hari untuk acara besok.
Ada apa dengan dirinya, Sean menjadi tidak tega kepada Daisy karena melihat wajah sedih itu.
Daisy beranjak dari duduknya dan pamit untuk kembali ke kamarnya.
"Selamat malam, jangan meninggalkan aku besok ya"pamitnya mengandung sebuah pesan bahwa Sean harus pergi bersamanya besok keacara tersebut.
Sean menatap punggung istrinya yang sudah menghilang dari pandangannya. Lelaki itu menghembuskan nafas berat seraya menatap pakaian yang baru di berikan oleh Daisy.
Sedikit senang,ternyata wanita itu masih mengingatnya. Hati Sean terasa hangat.
°°°
Acara ulang tahun perusahaan Kingston Company pun telah tiba. Orang orang berada terlihat memenuhi aula hotel yang menjadi tempat perayaan perusahaan tersebut.
Daisy tak menyangka ternyata suaminya memakai pakaian yang ia belikan semalam. Terbesit rasa bahagia melihat Sean menghargai pemberiannya.
Rasa percaya dirinya menunjukkan pada dunia bahwa pernikahan mereka sangat harmonis itu pun semakin kuat. Walau pada nyatanya kedua sejoli itu sering bercekcok.
Masih ingatkan Daisy memang ingin memiliki suami yang kaya dan tampan dalam artian CEO dan juga semua cirinya itu ada pada Sean, suaminya sekarang. Jadi tak ada alasan untuk Daisy terus berontak pada takdir surgawinya ini.
Ya walaupun kriteria romantis dan perhatian tidak ada dalam diri Sean, setidaknya Daisy harus tetap mensyukuri.
Tak peduli bagaimana perasaan Sean saat ini padanya. Intinya tugasnya adalah untuk tetap mempertahankan bahtera rumah tangganya agar tetap utuh.
Sedikit berterimakasih pada Leyna karena sudah menjadi penghubung dirinya dengan Sean. Sejujurnya Daisy tak terlalu dendam pada kakaknya itu mengingat keluarga Sean ternyata sangat baik padanya.
Jadi dia tak masalah menjalani ini karena orang-orang disekitarnya menerima dirinya dengan baik. Tapi tidak tahu dengan Sean.
Mungkin saja pria itu masih menaruh dendam kusumat terhadap kakaknya yang mengkhianati bahkan menipunya.
Sudah cukup! Daisy hanya akan menikmati masanya yang sekarang ada padanya. Hidup ditengah kekayaan dan keluarga suami yang baik walau suaminya sendiri tidak tahu mencintainya apa tidak.
Ingat ya Daisy itu wanita yang suka foya-foya dan berbelanja, katakan dirinya matrek tapi masih dalam kata normal. Makanya ia masih sanggup bertahan dengan pria yang tidak mencintainya. Setidaknya Sean masih mau membiayai kebutuhan hidup sosialnya.
Intinya Daisy hanya ingin menikah sekali seumur hidup jadi dia harus mempertahankan pernikahannya saat ini walau pernikahannya terjadi karena situasi yang konyol.
"Tampan sekali" Daisy terpesona melihat kegagahan Sean malam ini yang baru turun dari mobilnya.
Mereka datang tidak bersamaan karena Sean datang dari kantornya dan Daisy tentu saja dari rumah yang diantar oleh supir.
"Tutup mulutmu. Ilermu akan tumpah"kata Sean pada istrinya karena melihat wanita itu melihat dirinya dengan mulut terbuka.
Sean akui dirinya kan memang sangat tampan. Sudah biasa melihat wanita dengan pandangan yang seperti diberikan Daisy.
Daisy berdecak sebel, merutuki dirinya yang kenapa begitu terpesona dengan ketampanan Sean.
"Cihh sudah ayo masuk"kata Daisy tak sabar seraya menggandeng lengan Sean untuk masuk kedalam aula.