
Setelah membantu Merry berbenah sebelum tidur. Daisy pun keluar dari kamar Merry.
Reina melihat Daisy yang baru keluar dari kamar sang mertua. Terlihat wajah wanita itu sedikit sembab, Reina langsung meneror menantunya dengan berbagai pertanyaan.
"Sayang apa yang Oma lakukan padamu ha?"tanyanya memegang tangan Daisy khawatir.
Daisy terkesiap. Memang kenapa dirinya? Ia menangis hanya sedih mendengar perkataan Merry mengenai umurnya.
"Daisy gak papa mamoy. Santui ajaa, tadi Oma cerita sedih makanya Daisy mewek"jawabnya seadanya. Emang benarkan Merry membahas hal yang menurutnya sangat mengundang tangisan.
Reina menghela nafas lega, syukurlah.
"Apa Oma menanyakan tentang dirimu sudah hamil?"
Ehh kok mertuanya tau.
"I.iiya maa"
Reina mengelus lembut surai Daisy.
"Kalau belum ngisi gak papa kok. Mama akan sabar menunggunya"senyum teduh Reina menghias wajahnya yang mulai keriput.
Daisy merasa tidak enak, semoga anggota keluarga sudah sangat menantikan kehadiran anggota baru dari dirinya dan Sean. Apa ia harus mengatakan hal ini pada Sean.
"Sudah masuk kamar istirahat"
Daisy mengangguk. Keduanya pun berpisah. Mama Reina yang akan ke dapur terlebih dahulu untuk membuatkan Selin susu sebelum tidur dan Daisy yang memasuki kamarnya.
°°°
Selesai membersihkan diri dan mengistirahatkan tubuhnya di ranjang kamar Sean. Sedari tadi Daisy melamun memikirkan perkataan seluruh keluarga yang menanyakan kehamilannya.
Jujur sebagai wanita yang sudah menikah. Hamil adalah sesuatu hal yang diinginkan. Daisy tak keberatan memiliki anak di umur mudanya, tapi tidak tahu dengan Sean.
Apa pria itu mau memiliki anak dari adik wanita yang telah menipunya.
Daisy kembali mengingat perkataan Sean di satu hari sebelum pernikahan mereka.
Sean akan mencampakkan dirinya setelah lelaki itu tidak membutuhkannya lagi.
Apa Daisy harus melepaskan suaminya sekarang juga. Tapi Daisy merasa tak sanggup. Ia sudah mulai merasakan sebuah perasaan kepada Sean.
Entah perasaan apa, dirinya tak tahu. Dibilang cinta, bisa saja. Daisy tak ingin membantahnya. Intinya saat ini dia tak ingin berpisah dengan suaminya.
Bukan karena kekayaan dan ketampanan yang dimiliki oleh Sean. Namun Daisy telah jatuh hati pada daya tarik yang dipancarkan oleh Sean. Melihat pria itu kadang cuek, perhatian sekaligus menghargainya, Sean membuat perasaannya menjadi nano-nano.
Ceklek
Pintu kamar terbuka. Terlihat Sean yang memasuki kamar dengan bajunya yang tampak acak-acakan, jas pria itu pun sudah terlepas dari tubuh tegapnya.
Daisy menatap suaminya. Kenapa wajah suaminya terlihat suntuk. Ingin bertanya namun mengurungkan niatnya melihat aura dingin yang terpancar pada pria itu.
Sean masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri tanpa menyapa Daisy yang menatapnya bingung.
Selama Sean berada didalam kamar mandi, Daisy bergelut dengan segala pemikirannya. Apa ia harus memberitahu permintaan Merry tadi.
Oh ayolah Daisy sangat malu dan takut menjatuhkan ekspetasinya.
Tak berapa lama dari situ, Sean keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk putih sebatas pinggang.
Daisy menelan ludahnya kasar. Walau bukan pertama kali melihat tubuh kekar itu tapi tetap saja membuat jantungnya berdetak dengan kencang.
"Ada yang ingin kubicarakan padamu"Sean akhirnya membuka suaranya juga setelah beberapa menit terlihat acuh pada sang istri.
Daisy memperbaiki posisi rebahannya menjadi duduk bersila diatas tempat tidur.
"Kebetulan. Aku juga ingin membicarakan suatu hal denganmu"ucap Daisy yang sepertinya situasi ini sangat bagus mengutarakan beban pikirannya sedari tadi.
"Katakan!"
"Kau saja deluan"
"Kau saja!"
"Sudah kau saja, kan kau yang duluan bicara tadi"cetus Daisy.
Sean melirik malas jika seperti ini terus kapan selesainya.
"Ayo buat anak"
Tiga kata yang dilontarkan Sean cukup membuat Daisy terkejut. Ada gerangan apa pria ini bisa setopik dengan pemikirannya tadi. Lagi, pria itu mengucapkan dengan santai tanpa beban.
"Apa kau gila?"
"Sudah katakan kau mau atau tidak?"tanya Sean dan tangannya mulai membuka handuk yang menutup bagian bawahnya.
"Hei pakai kembali handukmu!"cerca Daisy menutup matanya melihat aset suaminya yang terpampang dengan jelas di depan matanya tadi.
"Aku tarik perkataan ku tadi. Aku akan melakukannya tanpa izinmu"
Dengan jurus sat set sat set, Sean menindih tubuh Daisy. Mengungkung tubuh mungil istrinya dibawah kendalinya.
"Hei..hei.. tunggu dulu ini bisa dibicarakan baik-baik. Kau sedang tidak mabukkan?"
Sean menatap wajah panik Daisy dibawahnya. Sejujurnya ia tak ingin memaksa Daisy seperti ini.
Tapi mengingat perkataan rekan-rekan bisnisnya yang meremahkan dirinya mengenai kesuburannya, hal tersebut membuatnya naik pitam ditambah tadi setelah pulang, dirinya kembali dihadang oleh papa Alan menanyai kehadiran cucunya yang tak kunjung muncul.
Ayahnya itu bahkan dengan tega menyebutnya sebagai pria lemah karena tak bisa menghamili Daisy selama sebulan pernikahan.
Bahkan papa Alan juga membandingkan dirinya dengan dia sewaktu menikahi Mama Reina dulu. Alan berkata dalam waktu dua minggu pernikahan mereka, mama Reina sudah mengandung dirinya.
Baiklah akan Sean buktikan pada dunia bahwa ia bisa menghamili wanita dibawahnya saat ini.
Tanpa menunggu waktu lagi Sean membenamkan bibirnya di bibir tipis milik istrinya. Mengulumnya dan menghisapnya dengan penuh gairah.
Jiwa Daisy berontak. Apa-apa'an ini, jiwanya tak terima tapi tubuhnya terlihat mendambakannya.
Tak memerlukan waktu lama pakaian Daisy sudah ditanggalkan oleh Sean. Keduanya kini sudah polos tanpa sehelai benang pun.
Sean menatap tubuh polos istrinya dengan binar. Sangat indah.
Walau melakukannya karena tersulut omongan orang-orang, tapi nyatanya ia memang ingin melakukan hal ini tulus dari hatinya.
Jantung Daisy semakin berdetak kencang. Oh astaga, Sean sangat tampan dari bawah sini dengan keringatnya yang bercucuran.
Sean kembali melancarkan aksinya. Bibirnya menelusuri seluruh lekuk tubuh Daisy.
Daisy pun semakin tak karuan akan permainan lihai dari sang suami. Tangannya menjambak rambut Sean tak tahan kalah pria itu menghisap kulitnya dengan kuat.
Sean yang merasa sudah cukup untuk memberi foreplay, iapun bersiap untuk memasuki liang surgawi Daisy.
Daisy tersentak saat merasa sesuatu yang besar mencoba memasukinya, namun saat Sean kesusahan menerobos liang sang istri, suara ketukan kamar mengacaukan fokusnya.
Tok..tok..tok..
"Kak Daisy apa kau didalam? Temani aku ke supermarket yuk"seru wanita remaja itu menganggu kegiatan suami istri yang sedang berlangsung.
"Daisy sialan!"maki Sean pada adik perempuannya.
Daisy kebingungan, ingin menjawab tapi senjata Sean masih berada dimiliknya. Takut tiba-tiba dirinya mengeluarkan suara jahanamnya.
"Sudah biarkan saja"Sean mencoba kembali untuk memasuki Daisy namun manusia dia luar sana benar-benar mengacaukannya.
"Kak Daisy kenapa kau peka sekali"
"Bibi cantik ayo kita belanja eskrim"
Oh tidak itu suara sikembar. Astaga untuk apa ketiga manusia itu mendatangi Daisy malam-malam begini.
"Ada sikembar. Hentikan"pinta Daisy.
"Tidak mau"tolak Sean yang tak membiarkan puncak kenikmatannya gagal.
Daisy mencubit pinggul Sean yang polos.
"Lepas gak! Nanti di lanjutin"
Mendengar suara geduran pintu semakin keras ditambah suara ke-tiga manusia dibalik pintu semakin brutal. Sean pun melepaskan senjatanya, ia bangkit dari tubuh Daisy dan merebahkan tubuhnya membelakangi wanita itu.
Daisy menatap heran pada Sean yang langsung mengacuhkannya.
"Dih ngambek"
"Kau marah?"
"Gak tuh"ketusnya, tangannya menarik selimut menutupi tubuh kekar polosnya.
Daisy cekikan geli melihat tingkah Sean yang merajuk.
Daisy mendekat kearah tubuh suaminya kemudian mengecup pipi Sean sebanyak dua kali.
Sean terpaku.
"Nanti kita lanjutin, udah jangan ngambek. Aku ladenin orang utan dulu"kata Daisy kemudian bangkit dari tempat tidur, memakai pakaiannya kembali dan mendatangi manusia yang sudah tak sabaran didepan pintu kamarnya.
Sean merasa perutnya seperti ada kupu-kupu yang terbang. Halah masa hanya dengan kecupan biasa dirinya merona seperti ini.
Sean tolong jangan hilangkan sikap kulkas sepuluh pintu milikmu!