
Selepas malam perayaan pernikahan sebulan mereka yang setengah gagal. Sean dan Daisy tampak cuek kembali karena kesibukan masing-masing.
Sean yang sibuk dengan urusan perusahaan, sementara Daisy yang sibuk tidak ngapa-ngapain.
Wanita yang menjadi istri Sean itu kini tengah berada diruang tamu. Sedang memikiran nasibnya saat ini.
Kini memang dirinya merupakan istri dari seorang pria kaya raya, hidupnya bergelimang harta tanpa harus susah-susah berkerja.
Namun sangat tidak elit kan, sarjana dengan predikat cumlaude sepertinya pengangguran.
"Hufft.. pengen kerja. Tapi kerja apa ya? Duit kan udah banyak dari Sean hihi"gumamnya tertawa geli mengingat sumber uang saku terbesarnya kini dari Sean.
Jika bekerja kemudian mempunyai penghasilan, yang akan menghabiskan duit Sean siapa coba. Jadi Daisy harus memikirkannya matang-matang.
"Yuhuuu...kakak ipar"
"Bibi cantikk"
Daisy menoleh pada suara berisik yang memasuki rumah. Terlihat Selin datang dengan dua curut keluarga ini.
"Lohh kalian?"
Ketiganya mendekati Daisy yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
Selin datang dengan si kembar, Arka dan Arsha. Entah apa tujuan wanita itu datang kesini bersama para bocil.
Arsha dan Arka langsung saja berebutan untuk menempel pada Daisy. Dan Daisy menempatkan keduanya pada pangkuannya. Untungnya saja bisa menampung dua budak kecil nihh.
"Tumben bawa si kembar"
Selin menjatuhkan dirinya ke sofa empuk mansion sang kakak.
"Ehmm emak bapaknya lagi sibuk program kerja dedek baru"
Daisy sedikit terkejut mendengarnya. Apa mereka tak cape mengurus anak. Satu saja menurut Daisy sudah repot, bagaimana tiga?
"Bibi ayo kemall beli gaun, besok malam kata grandma ada pesta"kata Arsha menatap Daisy sambil memainkan ujung rambut bibinya dengan jari kecilnya.
"Pesta?"
"Ulang tahun perusahaan kak"jelas Selin.
Daisy mengangguk paham. Tentu saja keluarga yang memiliki perusahaan sendiri tak jauh jauh dengan ulang tahun perusahaan yang diadakan setiap tahunnya.
"Bukankah gaunmu sudah banyak? Itu saja pakai tak perlu beli lagi, membuang uang saja"kata Arka yang tak ingin sang adik membeli gaun baru lagi, mengingat gaun yang dirumah mereka masih banyak yang belum pernah dipakai oleh gadis kecil itu.
Daisy dan Selin sedikit tersentil mendengar ucapan Arka. Bukankah Arka terlalu dini mengingatkan sesamanya untuk berhemat.
"Ihh belinya kan ga pake uang abang, jadi diam saja"balas Arsha yang tak terima dengan ucapan Arka.
"Uangnya lebih bagus dibeli untuk mainan pesawat dari pada gaun jelek"pekik Arka.
Selin dan Daisy jadi mendelik. Sama saja rupanya.
"Heyy kalian ini ribut mulu. Sesama saudara gak boleh ribut yang boleh gelut. Yok gelut yok"pancing Selin pada ponakannya yang kemudian mendapatkan pukulan kecilan dari Daisy di lengan wanita itu.
"Hush kau ini malah mengajarkan yang tidak-tidak"
"Sudah Arka sama Arsha tak usah ribut. Ayo kita ke mall, Arsha ingin gaun baru kan dan Arka mau mainan pesawat?"tanya Daisy dan diangguki semangat oleh sikembar.
"Yaudah mari kita bersenang-senang menggunakan uang paman Sean"lanjutnya seraya menunjukkan sebuah kartu berwarna hitam yang dikenal dengan blackcard.
Si kembar bersorak melihat itu sementara Selin membelalakkan matanya.
"Sepertinya kak Sean sudah masuk tahap bucin"batin Selin sedikit terkejut kakaknya memberikan fasilitas yang tiada batas itu.
°°°
"Huaa ini bagus banget, aku mau ini!"
"Ini juga"
"Haa ini bagus"
"ini juga bagus"
Daisy dan sikembar menatap datar pada Selin yang heboh sendiri memilih pakaian.
Keempatnya telah tiba disalah satu tempat perbelanjaan terkenal di kota tersebut.
Selin yang melihat kartu yang ada pada kakak iparnya menjadi kalang kabut mengambil barang yang menarik di matanya.
Daisy bilang ia akan membayari mereka dengan uang Sean kan. Jadi tak salah Selin seperti ini. Ia harus memanfaatkan keadaan dengan baik.
"Bibi Selin sangat maruk"cibir Arsha pada bibinya yang sedari tadi kehebohan melihat pakaian atau tas yang bagus.
Daisy tertawa kecil melihatnya.
"Kau tak memilih untuk dirimu kak?"
"Nanti saja"
Selin pun mengangguk kemudian disibukkan kembali memilih barang barang yang menarik dimatanya, tak lupa ia juga memilih untuk Daisy mengingat wanita itu sepertinya tak sempat memilih bajunya karena harus menemani sikembar.
"Ayo kita kesana. Pakaian anak-anak ada disana"ajaknya pada sikembar.
Kedua anak kecil itu pun mengangguk.
Ketiganya berjalan ke tempat pakaian anak-anak berada. Daisy pun membantu sikembar memilih pakaian yang mereka sukai.
"Bibi mana yang terlihat lebih cantik?"tanya Arsha pada wanita yang telah menjadi istri pamannya, menunjukkan dua buah gaun yang indah.
Daisy sedikit menimang.
"Dua-duanya bagus, ambil saja keduanya. Uang paman Sean tak akan habis membeli dua buah gaun itu"
Arsha mengangguk setuju dengan ucapan bibinya.
"Bibi benar, paman Sean kan sangat kaya"
°°°
Kingston Company.
Sean mendengar laporan Luke mengenai istrinya yang saat ini tengah berada di pusat perbelanjaan bersama adik dan keponakannya.
"Apa kau sudah mengutus pengawal untuk menjaga mereka?"
"Sudah tuan"
Sean mengangguk kemudian berbicara kembali.
"Bagaimana persiapan ulang tahun perusahaan untuk besok malam?"
"Semua sudah aman tuan"
"Bagus, aku tak ingin ada kesalahan sekecil apapun"Kata Sean dengan ultimatumnya.
Luke mengangguk paham mengenai tuannya yang tidak mau menerima kesalahan sekecil apapun.
"Tuan ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu"Kata Luke dengan perasaan canggung, takut membicarakan masalah ini kepada bosnya.
"Katakan" Tanpa menoleh pada Luke karena pria itu tampak sibuk membaca berkas kantornya.
"Mengenai pusat perbelanjaan dan rumah sakit Grandhika. Keduanya akan beralih kekuasaan jika anda belum memenuhi wasiat dari tuan besar Dhika"
Sean terpaku mendengar penuturan Luke. Ia lupa akan itu. Tangannya mengusap wajahnya kasar. Terasa pusing memikirkan hal tersebut.
"Kapan batas waktunya?"
"Saat umur anda menginjak 28 tahun tuan. Sisa satu tahun lagi"jawab Luke.
"Mengapa kakek memberi wasiat yang begitu sulit"rutuk Sean dalam hati.
"Maaf sebelumnya tuan, bukankah Anda sudah menikah dengan nona Daisy. Saya rasa ini bukanlah hal yang sulit"
Sean berdecak.
"Apa kau pikir aku akan memiliki keturunan dengan wanita jadi-jadian itu"
Luke terdiam. Benar juga, mana mau bosnya ini memiliki keturunan dengan adik dari wanita yang telah menipunya.
"Kalau begitu apa kita lepas saja tuan?"
Sean menghela nafas berat. Merasa tak rela melepas dua ladang usahanya.
"Kau tau kan Luke penghasilan terbesar perusahaan dari sana. Bagaimana kita bisa membayar gaji karyawan yang bekerja di perusahaan ini"kata Sean yang tak ingin kedua sumber penghasilan perusahaannya hilang.
Luke mengangguk. Benar, jika pusat perbelanjaan dan rumah sakit Grandhika mengalami peralihan kekuasaan pasti akan berdampak pada perusahaan pusat dan cabangnya.
Dhika, suami Merry memang telah membagikan beberapa aset miliknya pada cucunya. Dan Sean lah yang mendapatkan perusahaan utama keluarga untuk diteruskan pria itu.
Dan sialnya beberapa usaha yang lain akan diteruskan juga kepada Sean dengan syarat Sean harus memenuhi wasiat yang ditulis Dhika sebelum meninggal.
Sean harus sudah memiliki keturunan sebelum umurnya 28 tahun. Jika belum, maka kedua warisan itu akan pindah kuasa. Itulah pesan yang ditulis Dhika dalam surat wasiatnya.
"Aku akan mengurusnya. Fokus dulu untuk ulang tahun perusahaan"
Luke mengangguk.
"Baik tuan.
°°°°