Because My Sist

Because My Sist
R | Flight



Setelah malam panas mereka yang hanya berakhir dengan celupan sekilas, baik Sean dan Daisy kembali hidup normal lagi. Keduanya entah mengapa tiba-tiba lupa mengenai misi mereka yang ingin memberi cucu pada keluarga Richard.


Tepat malam kemarin, saat Daisy kembali ke kamar. Sean sudah tertidur memasuki alam mimpinya. Dirinya yang merasa belum siap kehilangan kegadisannya pun enggan membangunkan Sean untuk melanjutkan kegiatan mereka.


Alhasil esok harinya keduanya tampak cuek mengenai kegiatan yang mereka lakukan kemarin malam. Bahkan keduanya tak ada yang berniat menyinggungnya.


Hari ini Daisy dan Sean akan terbang ke Indonesia. Keduanya akan menghadiri pesta pernikahan Leyna dan Niko besok hari. Termasuk Selin, rupanya gadis remaja itu ikut juga karena butuh healing untuk sedikit mengobati rasa sakit hatinya.


Sean berat melangkahkan kakinya, namun janjinya dengan sang ayah mertua akan berkunjung membuatnya harus tetap pergi.


Sepanjang memasuki jet pribadi milik Sean, sedari tadi Daisy mengandeng lengan suaminya dengan erat. Dan jangan lupakan senyuman angkuh yang tercetak dari bibir wanita tersebut.


Sean melirik malas pada Daisy. Bukan risih karena digandeng seperti ini, namun wanita itu berpenampilan layaknya istri penjabat.


Daisy memakai kacamata hitam dan baju branded yang baru dibelinya. Padahal mereka hanya ingin flight, seharusnya tak perlu berpenampilan seheboh ini.


Daisy memang tidak seharusnya terlalu bergaul dengan Selin. Saat ini penampilan kedua wanita itu sama, membuat Sean menahan malu karena para pengunjung bandara memperhatikan mereka.


"Lihat dirimu, kau seperti istri penjabat kelas kakap"ejek Sean pada Daisy.


Daisy mendelik.


"Aku ini istri pembisnis, pakai otak dan matamu dengan benar"


Sean tampak acuh, biarlah wanita disampingnya ini berbicara semaunya.


Sementara Daisy tetap menggandeng lengan Sean dengan menunjukkan kepemilikannya bahwa ialah wanita yang telah memenangkan peran istri seorang raja bisnis dunia.


Selin hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sang kakak dan iparnya. Keduanya tampak serasi, Sean yang terlihat berwibawa dan Daisy terlihat seperti ibu-ibu sosialita kw sepuluh.


Setelah menempuh delapan jam perjalanan, akhirnya ketiganya telah tiba di Indonesia.


"Astaga panas banget"keluh Selin saat menunggu mobil jemputan mereka di loby bandara.


Daisy tertawa kecil. Tidak tahu aja negara dengan kekayaan rempah ini memiliki cuaca yang panasnya sebelas dua belas dengan neraka.


"Tahan saja, panasnya bisa bikin kulit eksotis haha"seloroh Daisy menanggapi keluhan adik iparnya.


"Ck! Kapan mobilnya datang sihh?"pekiknya tertahan. Wajahnya kini memerah karena udara sangat panas namun mobil jemputan dari ajudan kakaknya tak kunjung datang.


"Diamlah, kau berisik sekali. Aku tak menyuruhmu untuk ikut"cerca Sean yang terganggu dengan keluhan Selin.


Tak ada yang mengajak gadis remaja beranjak dewasa itu untuk ikut, namun Selin dengan gercep mengatakan bahwa ia akan ikut untuk menghadiri pesta pernikahan kakaknya Daisy. Ya walaupun sebenarnya dia belum pernah bertemu dengan wanita itu.


Selin mencebik kesel. Lihat saja jika supir mereka sudah datang, ingatkan Selin untuk menggeplak kepalanya.


"Kita nginap dirumahku kan?"tanya Daisy pada Sean yang berada disampingnya.


"Tidak"


"Terus dimana? Kolong jembatan?"cetus Daisy yang sedikit kesel akan suaminya yang menjawab singkat.


"Kita akan bermalam di hotel"


Daisy memukul pelan bahu Sean.


"Gak mau. Aku mau kita bermalam di rumahku. Walaupun rumahku tak sebesar mansionmu tapi banyak kamar kok" kata Daisy yang menolak untuk mereka bermalam di hotel.


Bukankah momen ini yang paling ditunggu-tunggu. Jika ada anak dari keluarga yang menikah, sanak saudara akan berkumpul dirumah pengantin. Berbincang membahas banyak hal.


"Yasudah kau sendiri bermalam disana"


Tentu saja Sean tak berminat bermalam dirumah mertuanya. Ada Leyna disana, si wanita penipu yang mempermainkan dirinya. Ia tak sudi bertemu wanita itu lama-lama.


Daisy mencebik kesel. Dasar tidak perhatian. Padahal kan sesampai di sana ia akan memamerkan Sean pada tetangga-tetangganya.


"Selin kau ingin ikut siapa? Aku atau kakakmu"tuding Daisy pada Selin yang sedari tadi tak berhenti merutuk.


"Selin kau harus ikut denganku. Ingat aku kakakmu"tegas Sean yang mengingatkan tali persaudaraan di antara mereka.


"Cih. Selin kau akan sesad jika ikut dengan kakakmu!"Daisy berkata lagi.


"Selin dengar. Kau ikut denganku, aku akan mengabulkan semua permintaan mu. Kau ingin mall pribadi? Akan aku berikan" kata Sean tak ingin kalah. Ia harus bisa membuktikan pada istrinya bahwa dia tak kan kalah lagi dari wanita itu.


Daisy memicing tajam.


"Curang. Masa kau menyogoknya. Ini tak adil"cercanya.


"Terserah ku" Sean tersenyum smirk.


Sementara Selin menatap keduanya bingung. Kenapa manusia dihadapannya saat ini bertengkar memperebutkan dirinya. Sementara pujaan hatinya bahkan tak berminat padanya.


Aduh Selin jadi keingat pria pujaan hatinya lagi, seketika hatinya kembali galau.


Ketiganya mengalihkan pandangan mereka pada pria yang tiba-tiba muncul dihadapan mereka.


"Kak Azam!" Pekik Selin dengan binar.


Kebetulan seperti apa ini. Dirinya baru saja memikirkan pria ini dan Azam langsung muncul dihadapannya. Apakah mereka memang benar-benar berjodoh, pikir Selin.


"Sudah kukatakan jangan pernah mengikuti aku lagi. Apa kau mengerti?!"tuding Azam pada Selin yang terbengong.


Mengapa pria ini selalu salah sangkah padanya.


Ya memang di area kampus Selin selalu mengikuti Azam kemanapun pria itu pergi.


"A..aku"


"Sudah aku katakan, aku tidak tertarik padamu. Bisakah kau tidak mengusik ku"cerca Azam pada Selin yang sudah menahan tangisannya.


Mengapa Azam tega berkata seperti itu didepan umum saat ini.


"Hei kau tampan. Ini kedua kalinya kau menuduh Selin. Aku curiga bukan Selin yang mengikuti dirimu tapi kau lah yang mengikuti dirinya"lawan Daisy akhirnya karena melihat Selin hanya diam saja.


Sean memegang lengan istrinya untuk tidak memperkeruh suasana.


"Apasihh, kau lihat dia menuduh adikmu. Kenapa kau diam saja?"pekik Daisy pada Sean yang melarang dia untuk melanjutkan pembicaraannya dengan Azam.


Azam melihat rekan bisnis ayahnya yang juga berada di situ sedikit membungkukkan tubuhnya.


"Maaf tuan Sean. Aku hanya ingin memperingatkan adikmu untuk tidak bersikap berlebihan denganku"kata Azam menatap datar pada Sean. Dirinya tak takut pada keluarga Richard karena keluarganya juga tak kalah jauh dari keluarga tersebut.


Sean menganggukkan kepalanya.


"Hmm kau boleh pergi, jangan perlihatkan wajahmu itu lagi padaku"


Kedua pria itu memancarkan aura kebencian satu sama lain. Azam memutuskan untuk berlalu dari sana namun Selin tampak ingin mengejar dengan gesat Sean menahannya.


"Mau apa kau?"


"Lepas kak! Selin mau ngejar kak Azam. Selin ingin bertanya mengapa dia ada disini"sungut Selin berusaha melepaskan cekalan Sean pada lengannya.


Selin begitu penasaran, ada urusan apa pria yang ia cintai itu berada di negara ini.


"Hentikan tingkah bodohmu itu!"tegas Sean membuat Selin terdiam.


Daisy hanya menatap situasi tegang antara kakak beradik itu.


"Sadarlah! Wanita manja dan cengeng sepertimu bukan tipenya. Berhenti berkelakuan rendahan seperti ini"marah Sean jengah melihat kelakuan Selin yang tak ada harga dirinya.


Mata Selin sudah berkaca-kaca. Sudah mendapat perkataan pedas dari pujaan hati kini ia mendapatkannya dari sang kakak. Memang kenapa jika dirinya manja dan cengeng, kan tak merugikan orang lain.


Daisy memukul bahu suaminya. Perkataan pria itu sudah kelewatan. Ia menarik Selin kedalam pelukannya.


"Sean kau keterlaluan"


"Sudah Selin tak perlu menangis, sudah berapa banyak air matamu keluar karena pria itu"kata Daisy menepuk nepuk pelan bahu Selin berniat meredahkan tangisan wanita itu.


Sean hanya menatap tak minat pada situasi ini. Adiknya dan istrinya benar benar sefrekuensi.


"Ta..tapi kak..."


"Shutt gak ada tapi-tapi. Niatmu kan mau healing datang kesini, jadi hentikan tangisanmu"tegas Daisy, seraya melepaskan dekapan mereka.


Selin yang mulai tenang pun memberhentikan tangisannya.


"Sudah ayo ke hotel. Mobilnya sudah datang"sahut Sean melihat ajudannya menampakkan diri.


"Tidak mau, aku mau kerumah"ucap Daisy cepat.


Sean menatap tajam pada istrinya kemudian beralih menatap Selin dengan mata wanita itu yang sedikit bengkak.


"Yasudah pergi sana sendiri. Selin ayok masuk mobil"titahnya. Namun Selin tampak tak bergeming.


"Kenapa diam saja?! Cepat naik!"keselnya melihat Selin tak kunjung menaiki mobil.


Daisy tersenyum licik. Kita lihat siapa kali ini yang menang tuan angkuh.


"Aku ikut bersama kak Daisy aja yaa kak. Disana ada Daren pasti rame, sementara di hotel nanti aku kesepian"ucap Selin menolak ikut kakaknya.


Lebih baik ia ikut dengan Daisy dan akan bertemu orang banyak jadi rasa galaunya sedikit tidak terasa.


"Sial"