
"Mas Saka" teriak seorang gadis berumur 15 tahun saat Saka dan Reza keluar rumah
Saka sontak merentangkan tangannya memeluk gadis tersebut, namun bukan hanya memeluk gadis itu justru melingkarkan kedua kakinya ditubuh Saka meminta gendong, Mirna yang melihat kelakuan gadis itu hanya geleng - geleng kelapa sembari tersenyum
"Wi ojo ngono nduk mas mu ra kuat" tegur Mirna sembari memukul kaki anaknya pelan
Tiwi kemudian turun dari gendongan Saka dan memeluk dari samping dengan cemberut, membuat Saka mengacak - acak rambut Tiwi
"Aku kan kangen buk kambek mas ku" sewot Tiwi
"Tapi ojo njalok gendong, awakmu abot" ledek Mirna
"Iya buk" Tiwi menunduk lesu
"Gak papa bik aku juga kangen sama adikku yang satu ini" kembali mengacak rambut Tiwi
"Mas Saka kesini sendirian?"
"Sama temen mas" Saka mengenalkan Reza pada Tiwi adik sepupunya yang tak lain anak bik Mirna dan paman Basri
"Mbak Sasha sama mbak Siska kok gak di ajak?"
"Mbak Sasha kan sekolah dan tinggal sama bu'de Wid kalo Siska mana mungkin mas ngajak dia kesini udah pasti buat mas repot, kan mas disini kerja Wi bukan liburan" jelas Saka saat Tiwi menanyakan kedua adiknya
"Mas Saka mau kerja dimana? bukannya Pak de Tama udah kaya? bahkan gak punya waktu untuk kesini sangking sibuknya"
"Tiwi gak baik ngomong gitu" tegur Mirna
"Biar aja bik memang kenyataannya gitu kan, mas Saka mau lihat pembangunan rumah sakit di desa X Wi kan yang bangun pak de" jelas Saka
"Ya udah mas berangkat sana nanti telat, oh ya dapet sama dari mbak Tika katanya maaf gak bisa kesini soalnya banyak tugas"
"Nanti mas kerumah biar mbak mu gak perlu kesini, mas berangkat dulu, bik aku jalan dulu ya" pamit Saka dan Reza
"Iya nak" "iya mas" ucap ibuk dan anak bersamaan
Saka dan Reza tiba di lokasi pembangunan terlihat pamannya sedang memberikan arahan pada para pekerja, Basri memperkenalkan Saka sebagai anak pemilik rumah sakit yang sedang dibangun serta sebagai keponakannya
Basri mengajak Saka dan Reza untuk berkeliling sembari membahas tentang pembangunan, Reza dengan sigap membuat laporan untuk dikirim ke Bos besar yaitu Tuan Tama alias papa dari Saka
.
.
.
.
.
"Silahkan duduk pak! sebaiknya untuk beberapa hari ini bapak jangan ke sawah dulu sampai keadaan bapak benar - benar sembuh, ini obatnya diminum sesuai anjuran ya pak"
"Iya buk dokter perut saya juga masih sakit"
"Itu karena bapak telat makan karena asik kerja terus, jadi sebaiknya hindari dulu makanan pedas atau asam ya pak, kalo bisa sih makan bubur dulu biar lambungnya bisa mencerna dengan baik" Jelas Alika pada seorang pasien yang sakit perut dikarenakan sering telat makan sehingga menyebabkan infeksi lambung
"Terima kasih buk dokter" ucap bapak itu
"Ada buk dokter, apa buk dokter sudah punya pacar?" Alika tersenyum mendengar ucapan bapak itu
"Saya belum punya pacar pak tapi saya punya satu anak umur 5 tahun" jelas Alika membuat bapak tersebut mengaruk kepalanya yang tak gatal lalu pamit undur diri
"Dasar si Bapak gak sadar diri" keluh Titin
Alika tersenyum menanggapi titin "Kamu kayak gak tau aja Tin mbak ini kan cantik, solehah, rajin menabung, ramah lingkungan lagi" canda Alika, titin ikut tertawa
"Tapi bener mbak udah punya anak?" Titin penasaran, Alika mengangguk
"Namanya Ara" Alika menunjukan fotonya mengendong bayi berumur 1 tahun di ponselnya "Bukan anak kandung tin" jelas Alika melihat raut keheranan Titin
"Oh kirain mbak, soalnya kan status mbak masih ting ting"
"Emangnya Ayu ting ting" sewot Alika
"Hehe becanda mbak"
"Ya udah kamu bereskan ini ya tin mbak mau belanja persediaan obat - obatan yang sudah menipis, sekalian mau ambil obat yang di sediakan pemerintah ke Puskesmas kecamatan
"Oke 👌 mbak"
Alika mengendarai motor menuju kota yang jaraknya sekitar 1 jam dari desa X , setelah membeli persediaan obat dan mengambil obat yang memang disediakan dari pemerintah Alika kembali pulang namun ditengah perjalanan Alika melihat penjual es kelapa muda tepat di depan pembangunan rumah sakit Alika pun berhenti dan membeli es kelapa muda untuknya dan Titin juga
"Mbak bukan warga sini ya?" tanya penjual es kelapa muda tersebut
"Bukan mas saya dari medan" jawab Alika sembari merapikan jilbabnya
"Kesini tempat saudara atau gimana mbak?" tanya penjual itu lagi
"Kerja mas, di Puskesmas" jawab Alika tersenyum membuat para pembeli disana yang hampir semua pekerja bangunan yang sedang istirahat meleleh melihat senyuman manisnya
"Mbak dokter yang gantiin dokter Desi ya?" tanya salah satu pembeli
"Iya mas" Alika mengangguk
"Wih beruntungnya kita ya dapat dokter cantik, manis lagi senyumnya" goda pembeli yang lain membuat Alika malu
"Masnya bisa aja, oh iya mas itu pembangunan rumah sakit ya?" Alika melihat ke arah pembangunan terlihat dua orang sedang melihat desain pembangunan sembari melihat - lihat bentuk bangunan
"Iya mbak, nanti mbaknya kan bisa kerja disana"
"Wah saya disini hanya 1 tahun mas setelah itu belum tahu mau kemana, mungkin kembali ke Jakarta" ucap Alika
"Ini esnya mbak" penjual es memberikan dua bungkus es pada Alika
Saat hendak menaiki motor Alika berteriak hingga berlari kencang ke arah pembangunan hingga membuat semua orang terkejut
"Awas mas" teriak Alika menarik tubuh seorang pria
Bruukk sebuah kayu balok dengan ukuran sedang jatuh dari atas tepat di kaki seorang pria yang sedang melihat desain pembangunan, jika Alika tidak menariknya mungkin balok tersebut jatuh tepat dikepalanya
"Tuan Saka" teriak Reza menghampiri tuannya yang terjatuh tertimpa balok kayu
Alika yang ikut terjatuh segera bangkit, para pekerja yang sedang istirahat juga membantu Reza mengangkat Saka, Alika meminta Reza membawa Saka ke puskesmas karena lokasinya tak terlalu jauh daripada harus ke Rumah Sakit yang ada dikota