
Alika dan Titin bersiap - siap untuk menyambut kedatangan para ibu - ibu yang membawa balitanya untuk Imunisasi rutin setiap bulannya, tak lupa Alika menyiapkan bingkisan untuk para balita agar para ibu - ibu semakin rajin membawa balitanya Imunisasi
Ponsel Alika bergetar tanda pesan masuk dari seseorang yang akhir - akhir ini dekat denganya terlebih sejak Alika pulang seminar di Surabaya beberapa hari yang lalu
โ๏ธ
Saka
Assalamualaikum Al lagi sibuk gak?
Alika
Waalaikumsalam๐ lumayan sibuk Ka
Saka
Ya udah dilanjut aja maaf ๐ gangu
Alika
๐๐
Alika meletakan kembali ponselnya ketempat semula lalu menyusun kursi untuk para ibu - ibu menunggu giliran, Titin menyiapkan alat yang diperlukan seperti timbangan berat badan, pengukur tinggi badan serta alat suntik dan vitamin yang akan digunakan Alika
Tepat pukul 09 pagi para ibu - ibu sudah mulai berdatangan membawa para balitanya, Alika dan Titin menyambut dengan senyum ramah dan itulah yang membuat warga desa suka dengan Alika karena kepribadiannya yang sopan santun serta ramah tamah tak menunjukan kesan dokter yang mengerikan dengan alat suntiknya
Satu persatu balita di ukur berat badan serta tinggi/panjang badannya oleh Alika dan dicatat oleh Titin agar diketahui perkembangan balita tersebut setiap bulannya setelah selesai diberi bingkisan yang biasanya berisi bubur, susu dan makanan balita sebelum mereka pulang kerumah masing - masing
* * *
Saka memeriksa beberapa dokumen sebelum ia kembali ke Jakarta karena minggu depan adalah hari dimana rumah sakit yang di bangun di desa x akan diresmikan dan itu artinya ia harus kembali ke Jakarta
tok tok...
"Masuk" pintu ruangan terbuka oleh Reza sang asisten
"Tuan, tuan besar akan ke Surabaya tiga hari lagi untuk peresmian rumah sakit sekaligus melihat perkembangan perusahaan selama tuan kendalikan" lapor Reza pada Saka
Huff... saka menghela nafas
"Baiklah Za kita akan ke desa sebelum dia datang dan memastikan semuanya beres disana, saya tidak mau ada kesalahan kecil yang dapat membuatnya marah"
"Baik tuan, saya akan mempersiapkan semua keperluan" Reza membungkukan badannya lalu undur diri
"Jika kali ini aku masih salah dimatanya mungkin lebih baik aku berhenti" gumam Saka karena ia selalu di anggap tak mampu oleh papanya meski apa yang di lakukannya selalu berhasil
Buktinya di usianya yang masih tergolong mudah 29 tahun ia sudah bisa membuat perusahaan milik papanya berkembang pesat, banyak para investor yang ingin bekerja sama dengan perusahaan mereka karena menyukai cara kerja Saka meski hanya sebagai wakil direktur karena direktur utamanya tetaplah papanya
Saka memainkan ponsel dan membuka aplikasi galeri untuk melihat wajah seseorang yang membuatnya merasakan kembali hidup seperti sebelum orang tuanya berpisah
"Kamu cantik Al apakah yang aku rasakan saat ini lebih dari sekedar nyaman?" tanya Saka pada dirinya sendiri saat melihat foto Alika yang ia bidik secara diam - diam saat mereka sedang menikmati kota Surabaya kala itu
"Apa aku jatuh cinta pada mu Al?? aku belum pernah merasakan hal ini sebelumnya Al" Saka terus bergumam dan bertanya pada dirinya sendiri
Seketika Saka tersentak karena ponselnya berdering Saka langsung mengangkat panggilan tersebut
๐๐๐
"Halo ma" panggilnya pada si penelfon
"Ka kamu masih di Surabaya kan??"
"Jemput mama sekarang juga di hotel xx mama kangen Ka" terdengar isak tangis dari seberang sana
"Mama di Surabaya?? tunggu Saka akan kesana"
Saka langsung memanggil Reza untuk menanyakan jadwalnya setelah ini dan ternyata kosong ia pun meminta kunci mobil pada Reza untuk menemui mamanya tanpa membawa Reza
Dengan hati bahagia Saka menemui mamanya di hotel xx karena Saka memang jarang bertemu dengan mamanya di sebabkan papanya melarangnya
"Mama" Saka memeluk erat wanita yang melahirkannya begitu juga sang mama, air mata kebahagiannya mengalir di wajahnya
"Mama kangen" isak mamanya
"Saka juga ma, maaf Saka jarang menemui mama" balasnya dalam pelukan mamanya
Mama widya melepaskan pelukannya lalu menangkupkan tanganya ke wajah Saka "Kamu gak salah Ka, mama ngerti posisi kamu saat ini" jelas mamanya
"Peluk terus mas Saka gak kangen sama Sasha" terdengar keluhan seseorang dari dalam
"Oh adik mas tercinta" Saka memeluk dan mencium kedua pipi serta kening adiknya
"Sasha kangen tau mas" rengek Sasha
"Mas juga kangen sama kamu sha"
"Udah sekarang kita duduk" ajak mama widya
Saka bercengkrama melepas kangen pada adik dan mamanya yang ternyata sengaja ke Surabaya untuk menemuinya dan pastinya tanpa sepengetahuan papanya, mama widya juga meminta Saka untuk mengantarkannya ke desa Z karena ingin berziarah ke makam kakek dan neneknya
* * *
Titin dan Alika menikmati suasana sore hari di desa dengan berjalan kaki sembari bertegur sapa dengan warga sekitar
"mbak minggu depan rumah sakit mas Saka mau di resmikan" ucap Titin
"Oh ya kok saya gak tau ya Tin"
"Pak RT baru bilang mbak tadi, kalo rumah Sakit udah selesai berarti mas Saka gak disini lagi dong mbak"
"Terus kenapa? kan dia disini karena proyek rumah sakit Tin, jadi kalo udah selesai ya bakal balik ke Jakarta"
"Lalu hubungan mbak sama mas Saka gimana??"
"Gimana apanya?? saya itu sama Saka hanya berteman Tin gak lebih"
"Tapi mbak suka kan sama mas Saka? hayo ngaku?" goda titin
"Apaan sih kamu tin" Senyum Alika "lagian kan kamu tahu dia anak pengusaha besar sedangkan saya anak petani gak sederajat tin"
"Cinta gak mandang materi mbak, apapun profesinya gak akan menghalangi yang namanya cinta"
"Udah ayo pulang lama - lama ngawur omongan kamu" Alika menarik lengan titin dan mengajaknya pulang
Sesampainya di rumah Alika merenungi ucapan titin bagaimana dengan hubungan ia dan Saka apakah hanya akan berakhir sebagai teman disini saja atau akan tetap lanjut berteman
"Saat aku tahu kita akan berpisah kenapa rasanya ada yang hilang dalam diriku,
Ya allah apa ini jawaban atas doa doa selama ini" gumam Alika lalu ia bersiap - siap menghadap sang pencipta