
Alika dan Titin bersantai di teras samping sembari menikmati cemilan dikarenakan hari minggu sehingga mereka tak terlalu fokus pada puskesmas
"Mbak mas Saka baik ya orangnya" ucap Titin
"Ya kan memang gak sakit Tin" gurau Alika
"Bukan itu mbak, kita kan baru aja tuh kenal mas Saka tapi kok bisa seakrab ini kayak udah kenal lama"
"Mungkin dia memang bukan org yg sombong kali Tin, atau mungkin ingin berteman dengan kita Tiwi sempat bilang sama mbak kalo dia itu gak pernah punya teman selama ini"
"Akh masa iya mbak? Pengusaha seperti mas Saka gak punya teman itu mustahil mbak" Titin tak percaya
"Atau mungkin..." titin mengantung ucapannya
"Mungkin apa tin?" Alika penasaran
"Mas Saka suka sama mbak Alika" goda Titin
"Hush sembarangan kamu, udah jangan bahas dia nanti keselek orangnya" kekeh Alika
Tak lama terdengar suara mobil berhenti di halaman samping tepat di depan teras tempat Alika dan Titin berada, keluarlah Saka dari dalam mobil membawa paper bag
"Panjang umur mbak baru di omongi udah nonggol" gumam Titin
"Sstt 🤫 nanti orangnya denger" bisik Alika
"Assalamualaikum" salam Saka
"Waalaikumsalam" jawab Alika
"Eh mas Saka pagi - pagi udah kesini, mau ngajak mbak Alika jalan - jalan ya" ceplos Titin hingga mendapat sikutan dari Alika
"Ehm...sebenarnya bukan Alika saja tapi Titin juga" Saka menggaruk lehernya karena salah tingkah
"Aduh maaf bang Saka soalnya nanti sore saya harus ke bandara jemput teman saya" ucap Alika sembari meminta Saka untuk duduk
"Sama siapa? kebetulan saya juga balik ke Surabaya karena paman sama bibik sudah pulang dari Bandung" tanya Saka
"Ya udah mbak Alika bareng aja sama mas Saka kan sejalan tuh daripada harus naik taksi ngeri loh mbak sendirian" usul Titin
"Boleh juga tuh memang jam berapa berangkatnya?" tanya Saka
"Katanya sih jam 8 malam udah sampai bandara tapi apa gak ngerepotin nantinya" Saka menggeleng dan mengatakan bahwa ia merasa senang ada teman bicara saat dalam perjalanan
Akhirnya mereka memilih ketempat wisata terdekat mengingat waktu mereka tak banyak, mereka mengunjungi aliran sungai yang ada air tejunnya, suasana disana terlihat asri dan sejuk dengan dikelilingi pemandangan pepohonan yang hijau
Tak hanya mereka ternyata banyak pengunjung yang datang kesana meski berasal dari warga sekitar terlebih lagi para remaja yang membawa pasangan masing - masing
Saka menghirup udara segar disana mengingat besok dia sudah kembali bekerja dan tak ada pemandangan seperti ini di sana apalagi di Jakarta yang ada hanya kemacetan dan polusi karena tak adanya pepohonan seperti ini disana
"Mas makan siang dulu yuk" ajak Tiwi sembari melangkah menuju pondok tempat para pengunjung beristirahat menikmati pemandangan
"Mau makan apa Wi kan kita gak bawa bekal" cetus Saka
"Itu kan ada warung mas masa iya kita pulang dulu ambil bekal" gerutu Tiwi
"Mbak Alika sama mbak Titin pesen apa?" tanya Tiwi
"Mbak ikut kamu kesana aja deh Wi" ucap Titin
"Ehm mbak bebas aja Wi bila perlu samakan aja biar cepat" sahut Alika
"Minumnya?" tanya Tiwi
"TEH MANIS PANAS" ucap Saka dan Alika bersamaan
"Cie jodoh" ledek Tiwi membuat Saka dan Alika salah tingkah
Titin langsung menarik Tiwi untuk memesan makanan sembari menghindari kecanggungan yang terjadi akibat ledekan Tiwi
Tak lama pesanan mereka datang, Tiwi dan Titin memesan Mie kuah untuk mereka berempat sedangkan minumnya teh manis panas untuk Alika dan Saka dan Es teh manis untuk Tiwi dan Titin
Menjelang Ashar mereka kembali kerumah karena Saka dan Alika harus berangkat ke Surabaya, Alika langsung membersihkan diri lalu melaksanakan ibadah sholat zuhur terlebih dahulu, selesai sholat Alika menyiapkan keperluan pribadinya yang akan dibawa ke Surabaya sembari menunggu adzan Ashar
Usai ashar Alika memasukan mukenanya kedalam tas sandangnya lalu keluar menunggu Saka dengan ditemani Titin tak lama Saka menghampirinya
"Tin mbak pamit dulu ya, kamu gak papa kan mbak tinggal?"
"Gak mbak, mbak Alika sama mas Saka hati - hati ya di jalan" pesan Titin
"Kami pergi dulu ya tin" pamit Saka
Saka dan Alika tak banyak bicara dalam perjalanan membuat suasana canggung, Alika lalu menyibukan diri dengan ponselnya memberi kabar pada temannya bahwa ia dalam perjalanan ke bandara, namun lama kelamaan rasa canggung itu hilang dengan obrolan - obrolan kecil mereka
Setelah menempuh perjalanan sekitar 4 jam mereka tiba di Surabaya, Alika meminta Saka untuk berhenti di masjid atau mushola untuk melaksanakan sholat maghrib dan isya setelah itu mereka mencari makan setelah mendapat kabar jika pesawat dari jakarta mengalami delay karena cuaca sedang buruk karena hujan deras
Mereka memilih makan di sebuah cafe dengan memesan minuman hangat, Alika terus bertukar kabar dengan temannya namun ternyata pesawat ditunda keberangkatannya dan akan diperkirakan tiba di Surabaya sekitar pukul 5 pagi
"Bang Sa.., eh Saka maksudnya ini teman saya besok pagi baru tiba karena penerbangan benar - benar ditunda karena cuaca buruk" Ucap Alika yang sempat mendapat tatapan tajam dari Saka karena memanggilnya dengan sebutan abang
Saat dalam perjalanan Saka meminta Alika untuk memanggil nama tanpa embel - embel dengan alasan biar kelihatan akrab karena Saka selama ini tak pernah punya teman lagian umur mereka tak terpaut terlalu, meski awalnya Alika menolak karena menurutnya tak sopan, dikampungnya mau beda umur hanya sebulan kalau dia lebih tua pasti dipanggil abang namun Saka tetap memintanya memanggil nama agar kelihatan seperti teman
"Lalu?" tanya Saka
"Bisa antar saya mencari penginapan? karena gak mungkin saya pulang malam - malam begini" pinta Alika
"Nginap di apartemen saya saja" ucap Saka
"Hah?"
"Iya nginap di apartemen saya saja, disana ada dua kamar dan saya tinggal bersama Reza bukan sendirian jadi kita gak akan tinggal berdua" jelas Saka
"Tapi tetap saja gak enak di pandang Saka seorang wanita tinggal dirumah yang dihuni dua pria"
"Ya sudah, habiskan makanannya setelah itu kita cari penginapan" ucap Saka
Usai makan Saka membayar makanannya lalu membawa Alika mencari penginapan ditengah derasnya hujan