ALIKA

ALIKA
Bab 13



Kantor Cabang Surabaya...


Saka sedang fokus memeriksa berkas yang diberikan Reza mengenai proyek rumah sakit yang sudah berjalan hampir 75 %, meski ia tak pernah lagi berkunjung ke proyek selama masa pemulihan akibat cedera yang di alaminya namun ia tak pernah melupakan tugas yang diberikan papanya untuk memantau proyek tersebut


Bukan hanya proyek, Saka juga tak bisa melupakan seorang dokter cantik yang selalu mengganggu pikirannya, meski ia tak tahu apa yang terjadi dengannya


tok tok


"Masuk" ucap Saka saat mendengar ketukan dan terlihatlah Reza masuk bersama paman Basri


"Apa lagi sibuk nak?" tegur paman


"Oh nggak paman hanya memeriksa berkas aja, kenapa?"


"Gini Saka paman sama bibik mau ke Bandung, karena orang tua paman sedang sakit"


"Lalu?"


"Paman mau minta tolong sama kamu buat pantau proyek langsung kelapangan sekalian jaga Tiwi karena dia harus sekolah"


"Kapan paman berangkat?"


"In sya Allah kamis sore, minggu sore udah balik kesini lagi"


"Ya udah paman pergi aja, biar aku yang ngawas proyek sama jaga Tiwi, kerjaan disini biar di wakilkan sama Reza dan pak Wira"


"Makasih ya nak, paman pamit pulang dulu"


"Kok buru - buru paman!"


"Iya kan paman mau siap - siap buat berangkat lusa, ini tadi paman sekalian ngantar berkas pengeluaran proyek"


"Ya udah hati - hati paman" Saka menyalami paman Basri dan mengantarnya ke depan pintu


"Za"


"Ya tuan"


"Lusa pagi saya mau ke desa Z kamu handle kerjaan disini sama pak Wira ya"


"Tapi tuan! anda yakin akan kesana sendiri?"


"Iya Za cuma 4 hari kok senin saya sudah disini lagi"


"Baik tuan"


"Kalau ada apa - apa kamu tinggal email ke saya saja dan jangan lupa email ke bos besar juga" Reza mengangguk lalu undur diri kembali ke mejanya


.


.


.


.


.


"Tuan ini minumnya" ucap salah satu pekerja pada Basri


"Oh makasih pak taruh saja di meja" pekerja tersebut meletakan minuman di meja yang dimaksud Basri


"Berarti ada kemungkinan dalam sebulan lagi bisa selesai ya paman?"


"Kalo gak ada kendala bahan dan cuaca bisa nak apalagi dana dari mas Tama untuk bulan ini belum turun semua karena mas Tama lagi banyak kesibukan"


"Kapan sih papa itu gak sibuk paman" keluh Saka


"Hush gak boleh gitu, itu semua buat kamu dan adik - adik kamu"


"Tapi paman tahu sendiri kan posisi aku itu apa? papa selalu memaksa aku buat ini itu agar dia bisa dapat klien untuk kerjasama, tapi papa sama sekali belum izinkan aku untuk ambil perusahaan, aku ini hanya boneka papa untuk mendapat keuntungannya" curhat Saka


"Paman tahu yang kamu rasakan, papa kamu memang orang yang serakah dalam bisnis sampai - sampai melupakan keluarganya, dulu saat mendiang nenek masih ada saja papa kamu tak pernah pulang hanya uangnya saja yang datang namun setelah nenek tiada beliau lalu membuat rumah sakit ini atas penyesalannya dulu meski tak akan bisa mengantikan apa yang sudah terjadi" jelas Basri


"Aku pengen tinggal sama mama paman namun papa selalu melarang ku"


"Sabar kamu sudah dewasa dan sudah tahu mengambil sikap, ya udah paman pulang dulu karena sebentar lagi mau berangkat, titip proyek sama Tiwi ya" Basri merangkul pundak Saka


"Hati - hati paman" Basri mengangguk


Sore hari Saka pulang dari lokasi pembangunan menuju rumah pamanya namun tak jauh dari lokasi pembangunan Saka melihat seseorang yang dia kenal sedang duduk di atas motor di pinggir jalan sembari memegang ponsel, Saka langsung menghampirinya


"Buk dokter" Saka menurunkan kaca mobil lalu keluar "Kenapa?" tanyanya


"Eh tuan, ini tuan motornya kempes kayaknya bannya bocor"


"Emang mau kemana?"


"Mau ke kota tuan beli persediaan obat yang habis"


"Jam segini masih buka?" Saka melirik jam di tangannya


"Masih tuan, jam 9 malam baru tutup, tadi banyak pasien jadi baru sempat sekarang"


"Ya udah saya antar motornya di tinggal dulu aja di proyek besok baru di ambil soalnya disini bengkel jauh" tawar Saka


"Gak ngerepotin tuan" ucapnya ragu


Saka menggeleng lalu memanggil salah satu pekerjanya untuk membawa motor Alika ke proyek, Alika langsung masuk ke mobil Saka, sepanjang perjalanan Alika hanya diam sedangkan Saka bingung mau memulai pembicaraan


"Tuan"


"Buk dokter" Ucap mereka bersamaan lalu tertawa bersama


"Tuan saja duluan" ucap Alika


"Ladies firts dong" sahut Saka


"Makasih ya tuan udah repot - repot ngantar saya"


"Aduh buk dokter jangan panggil tuan dong ini kan bukan tempat kerja, lagian buk dokter kan bukan karyawan saya"


"Maaf tuan, eh maksudnya bang gak papa kan panggil bang?"


"Gak papa buk dokter asal jangan abang siomay aja" canda Saka Alika ikut tertawa


"Panggil Alika aja tu eh bang soalnya kan ini bukan ditempat kerja lagian bang Saka bukan pasien Alika" Alika membalikan kata - kata Saka tadi


Mereka terus bertukar cerita dalam perjalanan, setelah membeli beberapa obat Alika meminta Saka singgah ke masjid untuk sholat maghrib tak lupa juga Saka membeli makanan untuk Tiwi, Alika juga Titin lalu kembali pulang


Alika mengucapkan terima kasih pada Saka yang mau repot - repot mengantarkannya tak lupa juga mengajak Saka untuk mampir namun Saka menolak karena kasian Tiwi dirumah sendirian, Saka pun akhirnya pamit pulang pada Alika