ALIKA

ALIKA
Bab 8



Saka memasuki rumah sederhana milik neneknya sembari mengingat kenangan masa kecilnya dulu sebelum pindah ke Jakarta, ya Saka lahir di rumah milik neneknya ini hingga saat memasuki kelas 2 SMP ia harus ikut papanya ke Jakarta usai kakeknya meninggal untuk memulai usaha dengan uang warisan pemberian kakeknya


Sejak itu hingga sekarang ia sudah menjadi warga Jakarta dan hidup bahagia bersama papa dan mamanya sebelum masalah rumah tangga kedua orang tuanya berantakan setelah neneknya pergi menyusul suaminya ke surga, karena papanya memilih menikah lagi dengan selingkuhannya hanya karena perusahaan milik papanya hampir bangkrut, namun Saka tak pernah menganggap istri kedua papanya karena saat itu Saka berumur 18 tahun dan sudah mengerti arti sebuah perceraian


Saat ini umurnya sudah beranjak 27 tahun namun dirinya belum diberi hak sepenuhnya oleh sang papa untuk mengolah perusahaan meski dia anak lelaki satu - satunya di keluarga Pratama karena dirinya belum di anggap mampu oleh papanya untuk menjadi pemimpin perusahaan, meski begitu Saka tak pernah mempermasalahkan semua itu karena sejatinya ia tahu bahwa perusahaan itu berkembang pesat karena ibu tirinya dan yang lebih berhak adalah anak dari istri kedua papanya


"Saka kapan kamu datang nak?" tegur sang bibi yang selama ini menempati rumah neneknya beliau adalah adik dari papanya


"Kemaren bik tapi ke kota dulu" Saka menyalami bibiknya


"Ayo masuk, ya ampun udah lama kamu gak kesini nak sekarang kamu makin tampan seperti mas Tama" timpal bik Mirna


"Bibik bisa aja, bik aku mau tinggal disini selama seminggu untuk lihat pembangunan Rumah Sakit" Saka mengutarakan tujuannya berada disana


"Jangan sungkan nak, rumah ini rumah kita bersama jadi siapapun berhak kesini" senyum Mirna


"Paman dimana bik? oh iya bik ini Reza asisten Saka" Saka mengenalkan Reza pada Bibiknya


"Reza bik" Reza menyalami Mirna


"Panggil aja bik Mirna" membalas uluran tangan Reza "Paman mu sedang menggaji para pekerja karena semalam paman gak sempat ambil uangnya di bank" jelas Mirna


Reza dan Saka duduk di kursi bambu yang masih terjaga dengan baik, Mirna menyediakan minuman serta cemilan untuk keponakannya


"Silahkan nak, bibik tinggal keluar sebentarnya beli sayuran untuk kita makan bersama nanti" pamit Mirna


"Oh iya bik sekalian aku juga mau keliling sebentar, udah lama soalnya gak kesini"


"Ya udah bibik tinggal ya"


Saka menghabiskan minuman yang disedikan bibiknya kemudian keluar rumah melihat sekitar kampung halamannya ditemani oleh Reza


.


.


.


.


.


Alika dan Titin tengah bersantai di teras rumah sembari membersihkan rumput di halaman


"Bosen ya mbak hari minggu gini cuma dirumah doang" ujar titin


"Iya Tin mau pergi udah sore gini" sahut Alika


"Coba kalo tadi gak ada yang ngelahiri mbak pasti kita udah puas jalan - jalannya" gerutu Titin


"Hush gak boleh gitu Tin, kita kan gak pernah tahu, semua itu udah takdir yang kuasa" jelas Alika


"Betah tin, apalagi temenya kek kamu bawel jadi mbak nyaman" ledek Alika


"Ih mbak Al ini kapan titin bawel coba" kesal Titin


"Cie marah nih! iya maaf mbak becanda tadi" goda Alika "Tin disini gak ada tempat wisata atau tempat yang sering didatangi warga kalo hari libur gitu?"


"Gak ada sih mbak warga sini itu kalo liburan meski ke kota mbak, cuma ada sih tempat yang lumayan rame mbak kalo hari libur"


"Dimana?"


"Itu mbak di Aliran sungai yang dekat lapangan bola sana ada Air terjunnya juga sih cuma gak tinggi mbak"


"Bersih tempatnya?"


"Bersih mbak, karena dijadikan objek wisata sama warga sini"


"Kapan - kapan temani mbak kesana ya tin, mbak pengen jalan - jalan, kalo dikampung mbak buka pintu aja udah langsung nampak danau"


"Oke mbak, sekarang masuk yuk udah mau maghrib mbak kan harus sholat" ajak Titin


"Oh iya hampir aja lupa sangking asiknya, makasih ya udah ingetin"


Alika dan Titin masuk kedalam rumah tak lupa mengunci pintu kata orang pamali maghrib - maghrib pintu terbuka, mereka membersihkan diri masing - masing saat terdengar adzan Alika langsung melaksanakan sholat sedakan Titin menyiapkan bahan masakan untuk makan malam


.


.


.


.


.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


"Kok maghrib gini baru pulang pak?"


"Iya buk tadi bapak mampir dulu kerumah lurah sebelah minta tanda tangan karena besok mau masuk bahan bangunan yang sudah habis buk"


"Ya udah bapak mandi abis itu kita makan, itu Saka datang pak"


"Oh ya, kok bapak gak tahu kalo dia datang buk?"


"Bapak kan tadi pergi, mandi dulu baru nanti temuin dia, dia disini disuruh mas Tama buat lihat pembangunan rumah sakit"


Basri langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, sementara Mirna mempersiapkan makan malam, Saka dan Reza bergabung bersama paman Basri dan Bibik Mirna menikmati makan malam ala warga desa, setelah itu paman Basri langsung menghabiskan waktu mengobrol bersama keponakannya yang baru datang dari kota sekaligus membahas perkembangan rumah sakit yang kebetulan Basri sebagai kepala mandornya