ALIKA

ALIKA
Bab 10



Mobil yang membawa Saka tiba di puskesmas Alika langsung turun dari motor dan memanggil Titin dengan sigap Titin mempersilahkan Reza dan para pekerja yang mengotong Saka masuk keruang perawatan


"Mbak kenapa ini?" tanya Titin heran


"Tertimpa kayu Tin tapi sepertinya juga tertusuk serpihan kayu" ucap Alika yang melihat ada rembesan di celana yang di pakai Saka


Setelah Saka terbaring dengan posisi miring di tempat tidur Reza dan yang lainnya segera keluar ruangan agar Alika bisa segera menangani Saka, Alika langsung mencuci tangannya sebelum memegang peralatan medis dan tak lupa memakai sarung tangan


"Tuan sepertinya celana anda harus dirobek" ucap Alika yang melihat celana Saka robek terkena serpihan kayu


"Silahkan dok" ucap Saka yang menahan sakit di kakiknya


Alika mengambil gunting lalu memotong celana Saka dibagian yang terluka hingga tampaknya beberapa serpihan kayu yang menancap di kakiknya


"Mbak sepertinya harus dibius biar gak sakit saat dicabut" seru Titin disertai anggukan Alika


Titin memberikan suntikan disekitar luka Saka lalu dengan mengunakan alat Alika mencabut serpihan kayu setelah itu membersihkan luka dengan alkohol saat sedang serius menangani luka ponsel Alika berbunyi, dilihatnya panggilan dari orang tuanya Alika langsung menjawab dan menyelipkan ponselnya di jilbab yang ia kenakan sembari memberihkan luka


📞📞📞


"Assalamualaikum mak"


...


"Mak ika lagi ada pasien ini, nanti ika telpon ya mak"


...


"Iya nanti ika video call, Assalamualikum"


Alika mengakhri panggilannya dan meletakan ponselnya ketempat semula, Alika menjahit luka yang terbelah karena serpihan kayu, setelah selesai Alika membalut luka tersebut dengan kain kasa atau lebih sering disebut perban


"Untuk sementara belum terasa sakit tuan karena masih dalam pengaruh bius, tapi setelah bius hilang coba gerakan kaki tuan untuk memastikan apakah ada tulang yang patah atau tidak" ucap Alika


Reza masuk untuk memastikan keadaan tuannya, setelah dipastikan tidak ada apa - apa Reza pamit undur diri untuk mengantar para pekerja dan akan kembali sore nanti bersama paman dan bibik Saka


Saka terus memperhatikan Alika yang sedang membereskan peralatan medis, Titin tersenyum melihat Saka yang terus memperhatikan Alika, ia tahu bahwa pasiennya ini pasti terpesona dengan kecantikan Alika


"Ehem" Deheman Titin membuat Saka tersadar "Tuan apa sudah terasa sakit dibagian yang terluka?" tanyanya


"Belum dok mungkin biusnya belum hilang" gugup Saka karena ketahuan sedang memperhatikan Alika


"Saya bukan dokter tuan, saya hanya perawat yang membantu mbak Alika sebagai dokter disini


"Maaf sus" Titin membalas dengan senyuman


Saka mencoba untuk duduk namun tak bisa hingga tanpa sadar Saka memegang lengan Alika untuk duduk


"Auwwh" ringis Alika Saka langsung melepaskan tangannya


"Kayaknya ada luka Tin waktu mbak narik tuan ini tadi" Ucap Alika sembari melihat pakaiannya robek dibagian lengan


"Maaf dok saya tak sengaja" sesal Saka


"Gak papa tuan" senyum Alika "Tin bantu mbak buat ngobati ini ya" Titin mengangguk


Alika dan Titin meninggalkan Saka di ruang perawatan sendirian lalu masuk ke kamar Alika untuk mengobati luka Alika yang hanya terbaret terkena batu, cukup diberi alkohol dan plaster saja tak perlu menanganan yang serius


Menjelang sore Reza kembali ke puskesmas bersama bibik dan adik sepupu Saka, mereka langsung masuk keruang perawatan Saka


"Ya ampun nak kenapa bisa gini?" cercah Mirna yang panik saat keponakannya mendapat kecelakaan kerja


"Musibah bik, tapi masih beruntung di tarik sama buk dokter kalo gak mungkin kepala Saka yang tertimpa" jelas Saka


"Mas buat bapak sama ibuk khawatir tahu gak, sampek ibuk tadi ngomelin bapak karena bapak ninggalin mas Saka di proyek" ucap Tiwi


"Kamu ini ya nduk ngapain pake cerita segala" Mirna menjewer kuping anaknya hingga mengaduh kesakitan


Alika dan Titin yang sedang menyiapkan makan malam penasaran mendengar keributan di depan, Alika pamit pada Titin yang sedang membersihkan udang untuk melihat


"Ada apa ini kok ribut - ribut" tegur Alika lembut


"Aduh maaf buk dokter saya bibik dari nak Saka" jelas Mirna


"Ehm maaf buk maksudnya dari "Bibik" ini gimana ya?" Alika membuat tanda kutip menggunakan kedua tanganya saat menyebutkan kata bibik


"Saya adik dari papanya buk dokter" jelas Mirna


"Oh maksudnya tante atau buk le gitu, maaf 🙏 ya buk soalnya biasanya kan bibik itu identik dengan ART" Alika menangkupkan tangannya di depan dada


"Itu kan kalo dirumah orang kaya buk, bukan dikampung seperti ini, saya maafin buk namanya setiap daerah bisa sama penyebutannya tapi memiliki arti dan makna berbeda - beda"


"Pantesan mas Saka minta dibawa kesini wong dokter'e ayu tenan" ceplos Tiwi yang mendapat sikutan dari Mirna


Alika tersenyum manis "Bukan karena dokternya dek tapi memang ini yang terdekat" Tiwi menunduk malu karena Alika pengerti maksud dari ucapannya


"Jadi keadaan keponakan saya gimana ya dok?" tanya Mirna


"Coba Tuan gerakan kakinya" Saka menuruti ucapan Alika


"Terasa nyeri tuan?" Saka mengangguk "Sepertinya tak ada tulang yang retak atau patah buk tapi untuk lebih memastikan sebaiknya di bawa kerumah sakit besar agar diperiksa lebih teliti lagi menggunakan X ray"


"Apa bisa dibawa berjalan dok?" tanya Reza


"Sebaiknya untuk saat ini gunakan tongkat dulu dan jangan terkena air, setiap hari perbannya harus diganti agar tidak infeksi, baiklah kalau gitu saya tinggal kebelakang ya Tuan, buk" semua mengangguk


Alika kembali ke dapur untuk memasak sekaligus menjelaskan pada Titin soal keributan yang terdengar di depan tadi, usai memasak Alika dan Titin membersihkan diri dan Alika bersiap - siap sholat maghrib