ALIKA

ALIKA
Bab 12



Alika beranjak dari tidurnya saat sayup - sayup terdengar suara mengaji di masjid menjelang adzan subuh, segera ia minum segelas air putih yang menjadi kebiasaannya saat bangun tidur lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri


Alika langsung menunaikan ibadah subuh setelah mendengar adzan, tak lupa ia mengucapkan rasa syukur pada yang mencipta atas nikmat kesehatan yang ia dapat, serta meminta ampun atas segala dosa yang ia perbuat tak lupa ia mendoakan kedua orang tuanya, usai sholat Alika mengaji sebentar dengan suara pelan, ya Alika selalu mengaji dengan suara pelan menginggat Titin yang berbeda agama dengannya takut terganggu, begitu juga dengan Titin yang selalu membaca Al kitab dengan suara pelan juga


Akh Indahnya bertolenransi 🤗🤗


Alika keluar kamar menuju dapur terlihat Titin sudah membuka jendela serta pintu agar udara pagi memasuki rumah lalu membantu Alika menyiapkan sarapan pagi, sembari menunggu masakan matang Alika memasukan pakaian kotor kedalam mesin cuci


"Tin kamu terusin dulu ya, mbak mau kedepan liat tuan Saka dan tuan Reza dulu" Titin mengangguk


Alika berjalan ke bagian puskesmas terlihat Reza masih tertidur pulas mungkin karena kecapekan sedangkan Saka duduk bersantai di teras, Alika kembali kedapur membuat teh hangat untuk Saka lalu mengambil roti dan selai yang dibawa Mirna untuk Saka ke dalam ruangan rawat Saka


"Tuan silahkan minumnya" tegur Alika sembari meletakan teh dan roti di atas meja


"Ah terima kasih dok" segan Saka


"Sama - sama tuan, oh iya tuan ingin mandi air hangat? biar saya siapkan" tanya Alika


"Ehm gak usah dok biar saya siapkan sendiri, oh iya hari ini saya boleh pulang?"


"Setelah ganti perban nanti tuan boleh pulang, namun perban tetap harus diganti setiap hari ya"


"Terima kasih dok" Alika mengangguk tersenyum lalu kembali masuk kedalam


Usai Saka dan Reza membersihkan diri Alika menggantin perban Saka, Saka hanya memperhatikan Alika yang telaten mengurusnya sembari tersenyum kecil ada rasa yang berbeda dalam diri Saka mendapat perhatian dari sosok wanita yang sudah lama tidak ia dapatkan setelah kedua orang tuanya bercerai.


Pukul 07 pagi Titin, Alika serta Saka dan Reza sarapan bersama awalnya Saka menolak karena bibiknya akan datang membawa makanan namun Alika dan Titin tetap memaksa hingga mau tak mau mereka sarapan bersama


Basri datang menjemput Saka untuk dibawa pulang kerumahnya, dan mereka tetap merahasiakan kejadian yang menimpa Saka dari kedua orang tuanya, pasalnya Saka tak ingin mereka khawatir terutama mamanya, Saka dan Reza berpamitan pada Alika dan Titin dan memberikan uang biaya pengobatan Saka


"Kami pamit dulu buk dokter, terima kasih" Saka memberikan amplop coklat berisi uang


"Sama - sama tuan, apa ini tuan?" tanya Alika


"Ini kebanyakan tuan? kan hanya luka kecil" Alika melihat uang yang berisi 5 juta


"Gapapa buk dokter anggap saja biaya makan kami juga"


"Tapi tetap kebanyakan tuan" Alika mengambil uang tersebut 5 lembar lalu sisanya ia kembalikan lagi "Ini saja cukup tuan" Alika menunjukan 5 lembar uang tadi


"Tapi dok", "Jangan berlebihan tuan ini hanya luka kecil" Alika tetap menolak Saka tak bisa memaksa


Setelah kepergian Saka, Alika dan Titin kembali menjalankan peran mereka sebagai tenaga medis, dan hari ini jadwal mereka memeriksa warga yang sudah lansia untuk memastikan kesehatannya


.


.


.


.


.


Waktu terus berlalu


Tanpa terasa sudah tiga bulan Alika berada di desa X sebagai dokter ia menikmati perannya dengan senang hati karena ini bisa menjadi pengalaman yang baru untuknya sebelum mengabdikan diri ke rumah sakit besar


Alika juga masih sering berkomunikasi dengan mantan calon suaminya sembari menanyakan perkembangan hubungannya dengan sang istri, perlahan - lahan Evan mulai terbiasa bersama Selly sahabat yang menjadi istrinya yang saat ini usia kandungannya memasuki bulan ke 5 menuju 6


Setiap hari Alika juga bertukar kabar dengan orang tuanya serta kedua saudaranya, terlahir sebagai anak kedua dari tiga bersaudara yang merupakan wanita satu - satunya membuat Alika mendapat kasih sayang yang berlebihan terutama dari abangnya serta adiknya yang telihat posesif padanya yang selalu melarang Alika untuk berhubungan dulu dengan yang namanya laki - laki karena takut kejadian yang lalu terulang lagi


"Adek gak mau tau kakak gak boleh pacaran dulu saat ini, adek gak mau kakak terluka lagi" begitu pesan adik bungsunya yang hanya ditanggapi Alika dengan senyuman


Dulu saat akan menjalin hubungan dengan Evan adiknya juga berpesan padanya "Jangan terlalu berharap kita berbeda dengan mereka, lihatlah kehidupan mereka yang mewah sedangkan kita dari keluarga biasa dan hanya anak seorang petani" namun setelah tahu Evan dan keluarganya tak mempermasalahkan status sosial lambat laun adiknya merestui hubungan mereka, meski sekarang tinggal kenangan