AKHI ILOVE YOU

AKHI ILOVE YOU
BAB 9 : Apartemen



Sesampainya di apartemen Alzam. Keduanya langsung turun dan masuk ke dalam lift. Kebetulan apartemen miliknya berada dilantai paling atas yaitu lantai 12 jadi agak lama mereka berada di dalam lift.


Hanya ke sunyian yang menelimuti mereka. Mereka hanya berdua di dalam lift ini. Tentu saja hanya mereka berdua, siapa yang mau keluyuran di apartemen tengah malam seperti ini.


'Tring'


Pintu lift terbuka, keduanya pun keluar bersamaan.


Akhirnya sampi juga di apartemen milik Alzam. Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan. Kini keduanya dapat beristirahat dengan neyenak. Nenyak? Mungkin tidak dengan Ayana.


Ayana menatap setiap sudut ruangan dengan teliti. Warna putih dan abu abu mendominasi apartemen minimalis ini. Apakah ia akan betah tinggal di sini? Enatahlah, ia harap seperti itu. Karena ia pun tidak tau akan sampai kapan tinggal di sini.


"Emm ... apa kamu ingin makan sesuatu. Sepertinya kamu belum makan," tawar Alzam setelah lama bungkam.


Ayana menoleh, dia sedikit heran kenapa sekarang lelaki ini mau menatapnya? Waktu pertama kali bertemu bukankah dia terus menunduk. Bahkan bertatapan pun hanya terjadi karena ketidak sengajaan. Maklum ia gadis yang tidak terlalu mengerti soal agama. Memalukan sekali.


"Gue nggak laper. Gue pengin tidur aja," jawab Ayana dengan ketus.


"Baiklah. Kamarnya ada di sini belah sana," ujar Alzam sambil menunjuk pintu berwarna abu abu.


Ayana mengikuti arah yang ditunjuk, lalu kembali pada Alzam. "Apa cuam ada satu kamar?" tanya nya dengan hati hati.


Alzam tersenyum tipis, ia mengerti apa yang di pikirkan Ayana. "Jika kamu keberatan tidur denganku, aku bisa tidur di sofa nanti," jawab Alzam.


"Oke, terserah lo. Gue mau tidur dulu." Ayana langsung berjalan ke arah pintu yang ditunjuk tadi. Di sana ia langsung merebahkan tubuhnya dengan perasaan yang tidak enak hati.


Merasa bersalah? Tentu saja, dia binggung harus bersikap seperti apa pada Alzam. Lelaki yang kini berstatus sebagai suaminya. Sebenarnya dia tidak tega jika melakukan hal ini. Apalagi ini apartemen nya. Seharusnya dia yang tidur di sofa bukan malah Alzam.


Sedangkan Alzam, ia menatap pintu kamarnya nanar, lalu menghembuskan nafas kasar. Sekarang ia tidak tinggal sendiri lagi. Sudah ada yang menemaninya di apartemen kecilnya.


Mungkin ini sebuah ujian untuknya. Ia harus bisa merubah gadis yang sekarang adalah istrinya, menjadi orang yang lebih baik. Ini adalah ladang pahala untuknya. Suatu saat nanti semua ini pasti akan berjalan mulus. Ia percaya bahwa semua ini adalah takdir Allah. Dan ia harus menjalaninya di dengan ikhlas.


'Bismillah'


                 *          *          *


Seusai menunaikan solat Subuh. Alzam melirik kasurnya, di sana Ayana masih terlelap dalam gulungan selimutnya. Ia melipat sajadahnya, lalu berjalan ke arah ranjang. Bermaksud ingin membanginkan Ayana untuk menunaikan kewajibannya. Ia memang sengaja solat lebih awal. Karena ia tau, tidak akan mudah baginya membujuk gadis ini untuk menjalankan kewajibannya.


Alzam duduk di tepi ranjang, memandang wajah gadis terlelap ini dengan hangat. Perlahan tangannya bergerak menyentuh pundak Ayana.


"Ay, bangun. Kamu nggak solat Subuh. Nanti waktunya keburu habis lho," ucap Alzam.


Ayana hanya menggeliat tanpa mau membuak matanya.


Alzam memijit pangkal hidungnya. Tentu saja dia sangat bingung harus melakuan apa. Bagaimana cara supaya Ayana bisa bangun.


"Ayana, bangun solat Subuh dulu,"


"Hmm ... gue masing ngantuk Di, gue bolos sekolah aja lah. Sana lo berangkat, ganggu orang tidur aja lo,"gumam Ayana dengan suara paru. Mengira bahwa yang membangunkannya adalah sepupunya Aldi.


Alzam semakin memijit pangkal hidungnya, bingung. Oke, coba sekali lagi.


"Ay, bangun. Ayana, solat Subuh dulu nan__"


"Gue bilang, gue nggak sekolah, Aldi. Jangan ganggu gu___hah siapa lo?" Ayana terkejut ternyata yang membangunkannya bukanlah Aldi keponakannya melainkan Alzam. Dan sekarang ia lupa tenteng kejadian yang semalam baru menimpanya.


"Lo siapa?!" tanya Ayana sambil menaikan selimutnya sebatas dada.


"Aku Alzam, apa kamu lupa?" Alzam terheran bagaiman gadis ini lupa bahwa mereka sudah menikah.


Ayana menepuk jidatnya sendiri. Ia baru ingat bahwa mereka sudah menikah. Ia menatap Alzam datar. "Kenapa?" tanyanya ketus.


"Kamu nggak solat Subuh. Waktunya sudah hampir habis," kata Alzam sambil menunjuk jam dinding yang menunjukan pukul 5 pagi.


"Solat Subuh, gue nggak pernah solat. Dan gue lupa caranya," saut Ayana ketus.


Alzam mempraktekan setiap gerakan wudhu pada Ayana dengan sabar. Mau tidak mau Ayana pun memperhatikan setiap gerakan yang di ajarkan Alzam. Lalaki ini begitu sabar mengajarinya. Setidaknya dia akan menghargai itu.


"Sekarang kamu coba!" pinta Alzam dengan wajah dan rambut yang penuh air. Membuktikan bahwa ia sangat serius mengajarkan istrinya berwudhu.


Ayana mengangguk patuh, lalu berjalan ke arah kran menggantikan posisi Alzam tadi. Ia memperagakan setiap gerakaan yang di ajarkan Alzam tadi. Sesekali ia juga bertanya jika ada gerakan ang salah atau terlupa.


Dan dengan senang hati Alzam pun menjawabnya. Bahkan dia tidak menyangka, Ayana akan secepat ini mengerti apa yang di ajarkannya. Di dalam hatinya dia mengucap syukur. Semoga ini menjadi awal yang baik.


Seusai melaksanakan solat tadi. Ayana langsung bergegas ke dapur. Perutnya sudah ribut meminta makan.


"Sudah selesai?" suara Alzam membuatnya menghentikan aktivitasnya menggeledah kulkas yang isinya hanya bahan mentah.


"Hmm. Apa di sini nggak ada camilan atau buah yang bisa di makan?" tanya Ayana sambil meneiti kembali isi kulkas. Namun tetap saja hanya sayur sayuran dan telur yang ada di dalam sini.


"Kamu mau makan?"


"Menurut lo," dengus Ayana kesal.


"Mau makan apa? Biar aku yang masak."


Ayana mengernyit dalam,"Emang bisa?"tanya nya meragukan.


"Insya Allah. Emm ... bagaimana kalo nasi goreng?"


"Ya, ya terserah lo aja," jawab Ayana ketus, lalu berjalan ke arah meja makan. Dan duduk di sana, tanpa niatan untuk membantu Alzam. Lagi pula ia juga tidak bisa memasak. Dari pada menimbulkan kekacauan. Lebih baik ia menonton saja.


"Hari ini kamu nggak usah sekolah dulu," kata Alzam di sela sela kegiatannya.


"Kenapa?"


"Bukannya barang barangmu masih di tempat om dan tantemu," jawab Alzam tanpa berpaling dari kegiatannya.


"Barang barang? Astaga, barang gue yang di tempat camping!" seru Ayana teringat bahwa ia telah meninggalkan barang barang yang si bawanya camping kemarin.


"Teman temanmu sudah membawanya,"


Ayana menghela nafas lega. Untung saja tidak hilang.


Tak selang lama, Alzam telah selasai membuat nasi gorengnya. Ia mengambil dua porsi. Satu untuknya dan satu lagi untuk Ayana.


Ayana menatap nasi goreng di depannya berbinar. Terlihat begitu menggoda. Ia menyendok nasi dan hendak memasukannya ke dalam mulut, namun suara Alzam menghentikannya.


"Bismillahirohmanirrohim,"


"Aamiin," balas Ayana lalu melahap nasi goreng dengan cepat.


Alzam yang melihat pun hanya menggeleng kepala, seraya tersenyum tipis. Setidaknya kehadiran Ayana membuatnya tidak kesepian di apartemennya.


"Nanti kita ke rumah om dan tantemu," ucap Alzam seusai sarapan.


"Nggapain?"


"Ngambil barang kamu sekalian berpamitan pada mereka. Apa kamu tidak mau berpamitan?"


"Memangnya akan sampai kapan gue di sini?" tanya Ayana polos.


Hati Alzam mencelus. Sampai kapan? Tentu saja dia hanya ingin menikah sekali sumur hidup. Dia sudah bertekat akan membuat Ayana mencintainya. Membuat Ayana kembali pada Rabb Nya. Dan menjalani kehidupan rumah tangga dengan semestinya. Mungkin tidak akan semudah itu. Namun seiring berjalannya waktu, dia yakin semua pasti akan terlalui dengan mudah. Ia hanya harus berusaha dan berdoa. Ya itu!


"Sudah selesai, kan? Sini biar aku cuci," ucap Alzam mengalihkan pembicaraan.


Ayana menyodorkan piring bekas makannya pada Alzam. Ia heran, lelaki ini sangat baik padanya. Dangan sangat sabar meladeninya. Apakah dia harus baik juga padanya? Memikirkannya membuat kepalanya mau pecah saja. Ah, sudahlah.