
Hari ini Ayana sudah siap dengan seragam sekolahnya. Gadis berambut terkuncir kuda itu tengah menunggu sarapannya yang sedang di buat oleh suaminya.
Cih! Istri macam apa dia ini. Seharusnya ia yang membuatkan sarapan untuk suaminya. Namun ini malah sebaiknya. Dan dengan santainya dia menunggu dengan memainkan ponselnya tanpa niatan untuk membantu.
"Ayana, sepertinya ada tamu. Tolong kamu bikain!"
Dengan angkah malas, Ayana berjalan membukakan pintu. Di sana ia melihat dua lelaki jangkung yang mengenakan jas alamater seperti Alzam. Bilal dan Ehan. Pasti mereka mencari Alzam. Pikir Ayana menerka nerka.
"Cari Kak Alzam ya?"
Pertanyaan Ayana membuat kedua lelaki tersebut nampak terkejut. Ada yang salah kah dengan pertanyaannya?
"I-iya," jawab Bilal terbata. Jelas saja ia tau siapa gadis di depannya. Namun yang membuatnya bertanya tanya adalah. Kenapa gadis ini bisa ada di apartemen sahabatnya??
Baru saja ayana ingin memanggil Alzam. Namun lelaki itu sudah lebih dulu muncul. Dan tatapan ketiga lelaki itu sangat sulit di artikan.
"Bi-Bilal, Ehan. Ada apa?" tanya Alzam gugup.
Hal itu membuat Ayana menyerit heran. Gadis ini benar benar tidak mengerti situasi yang terjadi saat ini.
"Eh ... kami ingin berangkat kuliah bareng," jawab Bilal canggung. Tatapannya terus tertuju pada Alzam dan Ayana bergantian. Ya, ia memang belum tau yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya.
"Aku akan menjelasknnya nanti di kampus. Sekarang ayo sarapan dulu!"
Alzam mempersilahkan keduanya untuk masuk. Ke empatnya pun sarapan dengan suasanya yang canggung. Ah, tidak dengan Ayana. Gadis itu malah menatap bergantian tiga lelaki itu dengan tatapan heran.
Seusai sarapan mereka berempat pun berangkat. Ayana dengan amat terpaksa harus di antar oleh Alzam. Ya, kalian tau bukan? Motornya masih di sita pihak kepolisian.
Di perjalanan Ayana hanya memalingkan wajahnya menatap jendela. Tanpa niatan ingin mengobrol dengan suaminya. Iangt! Dia ini bukan tipe gadis yang suka berbasa basi.
Lima meter sebelum sampai di sekolah. Ayana memutuskan untuk turun. Lalu berjalan menusuri terotoar yang sepi. Di liriknya ke belakang. Mobil itu masih di sana. Senyum tipis pun terbit di bibirnya.
Senang rasanya sekarang sudah ada yang lebih memperhatikannya.
Ayana mempercepat langgahnya. Sebelum terkena hukuman menjadi OG dadakan di sekolahnya. Memberaihkan toilet. Sangat menjijikan menurutnya.
***
Jam pelajaran telah usai. Kini jam yang paling ditunggu tunggu oleh kebanyakn pelajar. Istirahat. Ya, pelajar mana yang tidak senang jika jam istirahat tiba. Kantin sesak, mengantri, sudah menjadi hal lumrah di jam ini. Sangat membosankan bagi orang yang tidak sabaran sepeti dua sahabat Ayana ini.
"Woy!! Ini punya gue! Siniin!" teriak Sarah tidak terima makananya di ambil oleh Satya, salah satu antek anteknya Elang.
"Apa apaan lo?! Mbak Ijah ngasihnya ke gue. Jadi ini punya gue, bukan lo. Kalo mau ngntri sana!!" saut Satya juga tidak mau kalah.
"Eh, ini makanan pesenan gue. Liat noh sambelnya banyak!!"
"Gue juga tadi pesen yang sambelnya banyak!! Jadi bukan lo doang yang pesen sambelnya banyak, gue juga!!"
"Tapi gue yang pesen duluan!! Siniin nggak!!"
"Ogah!! Lo pesen lagi sana!!"
Ayana menatap keduanya jengah. Perdebatan yang tidak akan ada habisnya, pikirnya. Membosankan. Gadis itu lebih memilih pergi daripada mendengarkan perdebatan yang unfaedah menurutnya.
Ayana duduk sambil menyantap bakso pesanannya. Menatap jengah lautan manusia di kantin ini.
Tak lama dua sahabatnya datang dengan membawa makanan masing masing.
Brak
Sarah meletakan pesanannya dengan kasar. Sudah terlihat dari wajahnya. Gadis ini pasti sedang dakam mode marah. Ayana hanya geleng geleng melihat tinggaknya. Sudah biasa baginya melihat sahabatnya ini marah. Bahkan kena semprot pun pernah.
"Cowok nyebelin, cowok nyebelin!!" umpatnya dengan wajah merah padam.
"Udah lah Sar, lagian lo udah dapet makanan juga, kan?" ucap Kayla menenangkan sahabatnya.
"Arrgghh diem lo!! Gue masih kesel ama tuh cowok! Awas aja gue bales entar!"geram Sarah sambil melahap baksonya.
Geramnya yang hanya tingkat raja, kini berubah menjadi tingkat dewa melihat lelaki yang di kesalinya datang bersama Arda.
Arda meringis melihat tatapan tajam sarah." Hehehe ... serem amat dah tu mata, kayak mau copot,"ujarnya membuat tatapan tajam Sarah tertuju pada Arda.
Arda menyengir tanpa dosa, lalu beralih pada Kayla yang anteng.
"Hai, Kayla manis, abang Arda boleh duduk di sini nggak?"
"Nggak!!" yang menjawab tidak hanya Kayla, namun Ayana dan Sarah juga ikut menjawab.
"Gitu ya, ya udah kita perg."
Ucapan tidak sesuai dengan tindakan. Bukannya pergi, dua lelaki itu malag dengan lancangnya duduk di kursiĀ tersisa yang ada di sana. Arda yang duduk di samping Kayla. Dan Satya yang duduk di samping Sarah. Tindakan bunuh diri yang tepat Satya!
"Ngapai lo duduk di sini?! Minggir lo!!" usir Sarah kesal.
"Masih banyak kursi lain noh! Pergi nggak! Atau gue siram nih pake kuah bakso!" ancam sarah bersiap melayangkan kuah bakso merah di mangkuknya pada Satya.
"Coba aja kalo berani," tantang lelaki itu tanpa mengalihkan kegiatan makan nya.
"Ooo nan___"
"Udah lah Sar, biarin aja kenapa sih?" tukas Ayana sudah jengah melihat perdepatan keduanya yang terasa dunia hanya milik perdebatan mereka.
"Dia ngeselin!"
"Jangan benci ama cowok Sar, nanti ujung ujungnya malah jadi cinta lagi," perkataan Kayla membuat Sarah mendelik ke arahnya.
"Nggak ada kata cinta cinta sama dia!!" protes Sarah sambil menunjuk Satya.
"Oh iya. Untuk sekarang mungkin. Tapi nggak menjamin untuk besok,"
"Sok tau lo Kay!" Ayana ikut menimpali omong kosong sahabatnya.
Kayla hanya mengendikan bahunya acuh.
"Eh, ngomong ngomong si burung Elang kemana? Tumben nggak keliatan?" tanya Kayla merasa penasaran.
"Ngrawat kakaknya di rumah sakit,"jawab Arda.
Memori Ayana berputar pada kejadian di kantor polisi waktu itu. Dia lihat waktu itu kakak Elang baik baik saja.
"Sakit apa?" tanya Ayana juga penasaran.
"Kagak tau gue," jawab Arda seadanya. Ia memang tidak di beri tau secara menditail tentang sakit yang di alami kakak Elang.
Ayana hanya manggut manggut tidak berniat bertanya lebih dalam.
***
Masih di hari yang sama. Alzam dan teman temannya tengah berkumpul di taman kampus untuk membahas sesuatu.
"Gimana, pemasarannya berjalan lancar, kan?" tanya Alzam pada Ehan.
Selama ini Alzam dan teman temannya berkolaborasi mendirikan usaha fesyen. Yang mendirikan memang Alzam. Namun ia mengelola nya bersama teman temannya. Dan sekarang usahanya sudah maju, bahkan pakaian buatannya samapi menembus kacah iternasional.
"Alhamdulillah lancar semua. Tinggal pesanan dari Turki yang belum di antar," jawab Ehan sambil memeriksa leptopnya.
"Semua bahan bahan di gudang juga hampir habis, Zam," ujar Bilal.
"Gitu ya...Ehan apa masih banyak pesanan yang belum terpenuhi?"
"Untuk pesanan dalam jumlah besar sudah semua, tinggal pesanan gaun dan jas pengantin yang belum,"
"Ada berapa pesanan?"
"Satu pasang doang,"
"Baiklah. Emm ... Nis, apa rancangan nya sudah jadi?" tanya Alzam pada satu satunya gadis di antara mereka.
Gadis berjilbab sederhana itu menggangguk."Sudah semua, Kak. Tinggal pembuatan dan pemotretan model."
"Model?" Alzam meneliti temanya satu persatu."Dimana Safira? Dari tadi nggak kelihatan,"
"Kak Safira masuk rumah sakit Kak," jawab Nisa dengan sedih.
"Sakit apa?" tanya Bilal khawatir.
"Aku kurang tau, Kak,"
"Baiklah, sepualng kampus nanti kita jenguk Safira," perkataan Alzam di setujui oleh ketiganya.
"Kak, Nisa pamit dulu ya, ada jam soalnya. Assalam'ualaikum"
"Wa'alaikumsalam," jawab ketiganya hampir bersamaan.
Setelah kepergian Nisa. Kini ketiga lelaki itu terdian dalam pikiran masing masing. Namun tak lama suara Bilal memecah keheningan.
"Alzam, kamu belum menjelaskan soal tadi pagi," tagih Bilal teringat janji Alzam tadi.
Alzam menghela nafas sebelum berucap. Ia tau ini pasti akan mengejutkan kedua sahabatnya, "Gadis tadi adalah istriku,"
"APA??!!"
'Sudah kuduga' batin Alzam jengah.