
Di sini lah Ayana berada. Sendirian duduk di meja bundar, tanpa minat dengan suara suara sorakan yang menggema di sekitarnya.
"Woy! What do you think, girl? Are you oke?" Seseorang dengan suara baritonnya membuyarkan lamun gaeis itu.
Ayana menoleh, lalu tersenyum kecil pada orang yang sudah duduk di depannya."Yes, I'am very oke," jawabnya pada Andra orang yang duduk di depannya.
Andra adalah teman balapan liarnya. Setiap ada balapan pasti lelaki ini datang bersama Ayana. Ya, keduanya cukup akrab. Umur keduanya yang terpaut dua tahun tak menjadi penghalang pertemanan mereka. Nasib Andra bisa di bilang sama seperti Ayana. Di tinggalkan orang tuanya di waktu kecil. Namun bedanya kedua orang tua Andra meninggalkan harta yang cukup banyak dan melimpah. Yang seharunya dia sekarang menjadi CEO di perusahaan ayahnya. Namun karena ketamakan pamannya, membuatnya jadi seperti ini.
"Duo curut lo nggak pada ikutan?" tanya Andra sambil terkikik.
"Sa ae lo! Biasa anak mami. Kayaknya mereka lagi di ceramahin tujuh turunan, tujuh tanjakan deh,"
Keduannya tertawa bersamaan. Lalu terdiam.
"Ra!" panggi Andra pada Ayana.
Ya, jika di jalanan Ayana lebih kerap disapa dengan panggilan Clara atau juga Ara.
"Hm?"
"Lo ditantangin lagi sama 'dia'?"
"Ya!"
"Dan lo mau aja gitu di permainin sama dia. Gue denger kalo dia menang lo harus nurutin semua kemauan dia."
"Kenapa?"
"Astaga Ra, lo nggak ngrasa di permainin gitu? Lo kemarin habis masuk rumah sakit, dan sekarang lo mau aja gitu di tantangain sama dia," ucap Andra dengan khawatir.
"Nggak. Lo kenapa sih? Gue yang ngejalanin juga santuy santuy aja."
Skakmat. Andra nampak gelagapan. Ya, selama ini ia memang sudah menaruh hati pada gadis ini. Namun sayang nyalinya masih ciut untuk mengutacakan perasaannya pada Ayana.
"Ga-gak, gak papa," jawabnya dengan cengiran.
"Aneh lo!" Setelahnya Ayana langsung pergi dari sana. Meninggalkan Andra yang kikuk.
***
Alzam tengah kalang kabut sekarang. Setelah pulang kampus tadi, ia tidak menemuakan tanda tanda kehidupan di apartemennya. Alzam sudah mencari gadis itu di setiap sudut rumah. Namun nihil. (Lha wong Ayana nya pergi keluyuran:v). Di kamarnya ia hanya menemukan seragam dan sepatu Ayana yang berserakan di sana.
Kini lelaki itu tengah mengendarai mobilnya. Asumsinya mengatakan, bahwa Ayana berada di rumah tanyenya. Apa salahnya di coba ke sana?
Ia menambah kecepatan mobilnya. Sekarang dia khawatir. Kenapa? Ya, karena ini sudah tengah malam. Dan Ayana itu perempuan. Bukan tidak mungkin ada penjahat yang mencelakainya. Ya, Allah lindungilah Ayana. Doa selalu di lafalkan dalam hatinya.
Sampai di rumah tante Winda. Alzam langsung turun. Mengetuk pintu utama, tak lupa mengucap salam.
Tok
Tok
Tok
"Asslamu'alaikum, tante!"
Tak sama lang lama pintu terbuka. Dan menampakan sosok Winda yang menatapnya senang.
"Wa'alaikumsalam, lho kamu sendirian Nak. Ayana nya mana?"
Fiks tantenya bertanya. Itu artinya Ayana tidak ada. Pikiran Alzam mulai menelaah. Jika tidak ada di sini ... kemungkinan besar gadis itu ada ... di bar itu. Alzam berasumsi. Namun itu membuatnya panik.
"Emm ... itu Tante, Ayana pergi,"
Alzam menunduk merasa bersalah,"bisakah Alzam minta nomor ponsel Ayana tante?"tanya Alzam membuat Winda terlonjak terkejut. Sudah beberapa hari mereka tinggal bersama. Namun belum bertukar nomor ponsel. Yang benar saja. Anak remaja zaman sekarang ada ada saja.
Winda menggeleng. Namun tetap menyerahkan ponselnya pada suami keponakannya.
Alzam mengembalikan kembali ponsel tante Winda. Setelah mengetik beberapa angka di ponselnya."Kalo begitu, Alzam pamit dulu, Tante,"pamitnya hendak menyalai tangan tantenya. Namun lebih dulu dicegah tantenya.
"Tunggu dulu, Nak!" cegah Winda.
"Aldi, Aldi sini sebentar nak!"
"Kakak ipar!" Seperti orang sok kenal. Aldi langsung memeluk Alzam tanpa beban.
"Aldi, sudah! Kakak ipar mu ini lagi kelimpungan nyari kakak bandel mu itu." perkataan Winda sontak saja menghentikan aksi Aldi. Anaknya itu langsung terbahak mendengar perkataan bunda nya.
"Ahahaha ... ya ampun, lo yang sabar ya, Kak. Hahaha...."
"Aldi!!"Winda menatap anaknya tajam, "coba kamu kasih tau, dimana kakakmu biasanya keluyuran!" perintahnya.
"Kak Ayana bisanya tuh, balapan liar___"
"Dimana?" tanya Alzam cepat.
"Bisanya sih di jalan xxxx."
"Kalo begitu Alzam pamit dulu tante, Aldi. Assalamu'alaikum," pemit Alzam sambil mencium punggung tangan Winda. Dan dengan buru buru ia bergegas kembali ke mobilnya. Menacap gas dengn kecepatan tinggi.
Sekarang ingatanya berputar kembali pada kejadian dimana ia menenuakan Ayana yang pingsan tertindih motor di pinggir jalan. Ya Robb tolong lindungi Ayana!
***
Wiyu wiyu wiyu wiyu
Suara sirine mobil polisi, membuat Ayan panik. Di balik helm full face nya dia melirik motor di sampingnya yang dengan santuy melaju tanpa beban. Kemudian Ayana langsung menancap gas. Namun sialnya, mobil polisi itu juga semakin cepat.
Ciiiittt
Dalam sekejap mobil polisi itu sudah menghadang motornya dan Elang. Sontak saja keduanya langsung mengerim mendadak. Hingga menimbulkan goresan ban di jalan aspal. Nampak dua polisi turun dari mobil itu.
"Selamat malam." salah satu polisi menyapa Ayana.
"Ma-malam, Pak" jawab Ayana gelagapan. Seumur umur ia balapan liar. Baru pertama kali ini dia di ringgus polisi.
"Saudari sudah melanggar peraturan lalu lintas, dengan berkendara dengan kecepatan tinggi. Mari ikut kami ke kantor!"
Ayana diam. Perpikir. Setelah ini ia pasti akan merepotkan orang lain. Matanya melirik Elang yang sudah di bawa masuk petugas polisi satunya lagi.
"Mari!"
Dengan terpaksa Ayana ikut dngan polisi sialan ini. Ia di tuntun ke dalam mobil dan duduk di samping Elang. Lihatlah lelaki itu! Duduk dengan santainya sambil melipat ke dua tangannya didada dan memejamkan matanya. Cih! Yang benar saja.
* * *
"Astagfirullah, Elang! Mau sampai kapan kamu jadi anak bandel kayak gini, hah?!" omel seorang wanita berjilbab modis.
Ia adalah Safira kakak perempuan Elang. Ya, sifat keduanya sangat berbanding terbalik. Safira terlihat kalem, solihah, dan sepertinya baik. Sedangkan adiknya. Kalian tau lah.
Ayana melirik keduanya iri. Elang sudah ada yang menjamin. Sedangkan dirinya? Bukan tanpa alasan ia tidak ingin mengabari keluarga tantenya. Ia hanya sedah terlalu banyak merepotkan mereka. Ayana melupakan bahwa dia sudah mempunyai suami. Yang bisa saja menolongnya.
"Huh! Kak, lo jadi cerewet bangat sih! Sakit nih kuping gue dengerin ceramah lo tiap hari," protes Elang kesal.
"Kamu ini di kasih tau malah ngelunjak ya! Kak ini udah di tugasin sama papa, mama buat jagain kamu! Jangan bandel!"
"Kak, gue bukan anak kecil lagi ya!"
"Udah! Sekarang kita pulang. Kakak udah capek ngeladenin anak modelan kamu itu!"
"Kalo capek ya tinggal rebahan apa susah nya sih."
"Elang!!"
"Iya, iya," sautnya dengan malas.
Safira melirik Ayana yang nampak murung. Ia menghampiri gadis itu.
"Dek, kamu belum ada yang jemput?" tanyanya lembut, sampai Elang memutar bola matanya malas. Dengan orang lain saja bisa lembut. Sedangan pada dirinya, sudah seperti ayam kampung betelor yang nggak berhenti ngoceh.
Ayana menggeleng menatap Safira. Ah, wanita berjilbab itu. Dia yang waktu itu di temuinya saat camping pecinta alam sedang bersama Alzam.
Ceklek
Mata Ayana mengerjap berkali kali melihat sosok yang baru saja membuka pintu di depannya. Apakah ia tidak salah lihat? Safira pun tak kalah terkejutnya dari Ayana. Namun di balik keterkejutan nya ia nampak tersenyum tipis pada sosok itu. Sedangkan Ayana masih syok melihat sosok yang amat sangat di kenalnya itu.