
Elang begitu terkejut melihat kakaknya pingsan di kamar. Dengan cepat lelaki itu langsung menggendong tubuh kakaknya. Raut khawatirnya berusaha tetap tenang sambil memanggil penghuni rumahnya.
"Bibi!! Mang Sastro!!" teriaknya dengan jalan gotai menuruni tangga.
Dua orang yang dipanggilnya langsung menyambut di anak tangga terakhir. Wajah keduanya pun nampak khwatir.
"Ya Gusti, ini non Safira kenapa Den?" tanya bibi panik.
Elang tidak menjawab, ia berjalan cepat menuju pintu utama."Mang, siapain mobil! Cepat!"perintahnya
Mang Sastro langsung bertindak cepat.
Elang memasukan tubuh kakaknya ke dalam mobil. Mang Sastro yang mengendarai mobilpun langsung menambah kecepatan mobilnya. Melihat wajah sang majikan membuatnya yakin bahwa Safira sakit parah.
Sampai akhirnya mobil pun menepi di parkiran rumah sakit besar. Elang kembali menggendong tubuh kakaknya masuk ke dalam sambil berteriak memanggil suster.
Gelisah, khawtir, panik, cemas ber kecambuk menjadi satu dalam diri Elang. Sudah lima belas meit ia menunggu dokter yang memeriksa kakaknya. Namun sampai saat ini pun masih belum keluar.
Tak selang lama pintu putih itu terbuka. Dengan gotai Ealng melangkah menghampiri dokter tersebut.
"Apa yang terjadi dengan kakak saya dok?" tanya nya cepat.
"Kakak anda mengalami kanker darah stadium akhir. Kemungkinan nya sangat kecil untuk selamat,"
Bagaikan di sambar petir ribuan volt. Tubuh Elang langsung bergetar hebat. Kanker darah? Selama ini kakaknya baik baik saja. Kenapa tiba tiba terkena kanker darah? Tidak! Pasti dokter salah mendiaknosis.
Tatapan tajam ia layangkan pada dokter itu."Dokter pasti salah kan dok?! Dokter pasti salah mendiaknosis?! Katakan dok kalo dokter salah!!"serunya dengan mata memerah tergenang air.
Dokter menggeleng. Pupus sudah harapannya.
"Anda yang sabar, berdoa lah! Hanya Allah yang bisa memberikan mukjizat pada kakak anda." Dokter tersebut pergi sambil menepuk pundak Elang memberi semengat.
Kini ia tidak mampu lagi menahan tubuhnya. Kakinya serasa tidak bertulang. Lelaki itu mengingsut duduk sambil menutup mukanya yang mulai basah karena air mata.
"Kenapa lo nggak ngsaih tau gue kak? Kenapa?! Lo jahat sama gue. Katanya lo mau rubah gue jadi orang baik! Cih omong kosong! Katanya mau jagain gue! Kenapa lo nggak ngomong sama gue tentang penyakit lo?!!"
Kakaknya yang sudah menjaganya sejak kecil. Merawatnya dengan tulus. Sekarang harus berbaring lemah di atas brankar.
***
"Kok lewat sini?" tanya Ayana merasa heran karena mobil yang di tumpanginya salah arah. Ia menatap si pengemudi yang napak cuek dengan pertanyaannya.
"Mau kemana?!" tanya nya sangat kali lagi dengan sedikit berteriak.
Alzam menghentikan mobilnya, karena lampu lalu lintas berubah menjadi merah. Di liriknya Ayana yang nampak kesal karenanya. Lalu ia mengambi camilan di jok tengah yang tadi di belinya di minimarket dan memberikannya pada Ayana.
"Makanlah! Katanya mau makan. Nanti kalo sudah sampai baru aku kasih tau."
Ayana merebut camilan itu lalu memakannya dengan dongkol. Hingga tanpa sadar Alzam yang melihatnya cekikikan karena kekkesalan gadis itu.
Tiba tiba saja Ayana menyodorkan tangannya di depan Alzam. Lelaki itu melirik sambil mengangkat sebelah alisnya bertanya.
"Uang," ucap Ayana masih ketus.
"Untuk apa?" Alzam bertanya sambil mengambil dompetnya.
"Udah cepet!" Alzam menyodorkan uang seratus ribuan pada Ayana. Dan langsung di terimanya dengan senang hati.
Gadis itu membuaka pintu mobil dan berjalan ke arah terotoar. Alzam mengawasi gerak gerik istrinya dari mobil. Senyum tipis pun terbit tak kala melihat gadis itu memberikan uang tadi pada pengemis. Rasa bangga pun menyelusup dalam hatinya.
Tak lama kemudian Ayana kembali dan duduk di tempat semula.
"Aku bangga sama kamu, Ay," kata Alzam sambil tersenyum mengacak rambut Ayana.
Deg
Jantung Ayana tiba tiba bergemuruh saat tangan hangat itu menentuh puncak kepalanya. Bodoh, bodoh! Ia merutuki sendiri jantungnya yang berdetak tidak karuan. Secepat kilat ia berusaha mengusai dirinya.
"Ekhem!" dehemnya menghilangkan rasa gugup,"Harus! Secara gue kan anak baik, imut, tidak sombong, dermawan...."
Dan bla bla bla bla masih banyak lagi ucapan kepercayaan dirinya yang membuat Alzam menggeleng tidak percaya. Bisa bisanya gadis itu memuji dirinya sendiri dengan begitu percaya dirinya.
Alzam menepikan mobilnya di sebuah halaman rumah minimalis di depannya.
"Ayo turun!" ajakan Alzam membuat ayana berhenti menatap rumah itu dengan tanya, dn beralih menatap suaminya.
"Rumah siapa?"
"Umi, dan abi ku. Ayo turun!"
Mendengar ajakan Alzam membuat Ayana gugup. Umi dan abi? Itu berarti mereka mertuannya. Apa yang harus ia lakukan di depan mertuannya?
"Ayana!"
"Gue nggak mau, lo aja yang masuk!" gadis itu mengalihkan pandangannya menatap jendela.
"Nggak papa. Ayo masuk! Abi dan umi lebih suka dengan orang yang apa adanya. Menunjukan sifat aslinya, tanpa menutupi dengan kemunafikannya,"ucap Alzam seolah tau apa yang dipikirkan istrinya.
"Ayo!"
Dengan pasrah Ayana pun mengangguk. Mengikuti ajakan suaminya.
"Assalamu'alaikum. Abi, umi."
"Wa'alaikumsalam. Alzam ...."
"Iya umi," Lelaki itu mencium tangan umi Fatimah. Lalu memberi kode pada Ayana agar mengikutinya.
Dengan sedikit gugup Ayana mengikuti apa yang di lakukan Alzam.
"Assalamu'alaikum umi."
"Wa'alaikumsalam," umi Fatimah menjawab salamnya dengan senyuman ramah. Ah, senangnya. "Ayo, masuk!"
Ayana dan Alzam pun masuk mengikuti umi Fatimah. Dan disinilah keduanya berada. Duduk di sofa coklat, di temani secangkir teh buatan umi Fatimah.
"Nak, Ayana masih sekolah?"
Pertanyaan umi membuat jantung Ayana dag dig dug tidak karuan. Melebihi seorang pelari marataon. Lebay!
"I-iya umi," jawabnya sambil menunduk.
"Jangan seperti itu, kamu ini menjawab seperti sedang di introgasi polisi saja. Umi tidak akan memakanmu," gurau umi Fatimah seraya terkekeh.
Ayana bernafas lega. Ternyata mertuanya tidak semenyeramkan yang ia pikirkan.
"Gimana kuliahmu, Zam? Lancar?"
"Alhamdulillah lancar umi,"
"Kemarin Bilal mencarimu kesini. Apa kamu belum memberitaunya, Nak?"
"Belum umi."
"Jangan terlalu lama berbohong nak. Apalagi pada sahabatmu sendiri."
"Baik, umi,"
Obrolan mereka pun berlanjut hingga sore hari. Alzam pun memutuskan untuk pamit.
"Alzam pamit dulu umi."
"Kalian nggak mau nginep sini, sudah lama kalian nggak main keaini?"
"Maaf umi, lain waktu kami akan menginap disini. Lagian besok hari senin, Ayana harus sekolah."
"Baiklah tidak apa. Kalian hati hati di jalan."
"Iya umi. Assalamu'alaikum" Alzam mencium punggung tangan umi Fatimah begitu juga dengan Ayana.
"Wa'alaikumsalam, hati hati!"
Di perjaanan pulang, Ayana nampak murung sejak prtemuannya dengan umi. Ada apa dengan gadis ini?
"Kamu kenapa, Ay?"
"Nggak, gue nggak kenapa napa."
"Aku ada salah a___"
"Nggak lo nggak ada salah apapun. Gue baik baik aja," elak Ayana berusaha menutupi kesedihannya.
Melihat tawa umi Fatimah tadi. Ayana jadi teringat akan mandiang orang tuanya. Meskipun ia di tinggal waktu kecil. Dan menyisahkan kenangan yang sedikit. Namun ia masih mengingat dengan jelas wajah, orang tuanya.
"Baiklah, nggak papa kalo kamu belum mau cerita sekarang. Namun jika kamu sudah siap, aku akan setia menjadi pendengar ceritamu,"
"Hmm, thanks," lirih Ayana.
Entah apa yang harus ia lakukan sekarang. Lelaki yang menjabat sambil bagai suaminya ini begitu baik padanya. Sehingga ia tidak tau harus bersikap seperti apa padanya. Bersikap baik? Ya dia bisa saja, namun entah mengapa hatinya selalu enggan berbuat baik pada lelaki ini.
Sudahlah. Ini semua hanya butuh waktu agar ia terbiasa!