AKHI ILOVE YOU

AKHI ILOVE YOU
BAB 4 : Kembali Sekolah



Tiga hari kemudian.


"Kak!! Udah belum? Dah siang nih, nanti telat!" Aldi berteriak memanggil Ayana yang belum juga keluar sejak tadi.


Berulang kali ia meneliti jam tangannya. Padahal ini hari Senin, hari yang paling menyebalkan bagi kebanyakan pelajar. Upacara. Hal rutin yang harus dilakukan disetiap hari Senin. Membuatnya harus bangun lebih pagi jika tidak ingin menjadi pemulung dadakan di sekolahnya.


"Ka...!"


"Apa? Nggak usah teriak, gue udah selesai," sergah Ayana dengan ketus dan berlalu melewati adiknya yang sudah geram sejak tadi.


"Mau sampai kapan lo jadi patung disitu?! Ayo keburu telat!" teriak Ayana yang sudah berada di mobil.


Hari ini memang hari pertama ia masuk sekolah. Setelah beberapa hari menginap di rumah sakit. Kemarin dia diizinkan pulang oleh dokter. Sebetulnya dia belum diperbolehkan sekolah oleh om dan tentenya. Namun karena dia bukan tipe anak yang lemah dan suka bermanja. Akhirnya dia bersikukuh untuk berangkat sekolah. Dan dengan terpaksa om dan tantenya mengizinkan, asalkan ia harus berangkat dengan adik sepupunya. Mau tidak mau dia pun menurut. Lagi pula itu bukanlah hal yang berat. Selagi ia tidak hanya diam dirumah yang seperti kuburan itu, ia akan melakuan apa saja supaya tidak terkekang di rumah itu.


"Lo juga yang bikin telat. Cewek tomboy kayak lo nggak pantes berlama lama di kamar," cibir Aldi dengan terkekeh.


"Terserah gue dong. Dah ah gue lagi nggak pingin debat sama bocah kayak lo. Jalan!"


Dengan kesal Aldi menghidukan mesin mobilnya. Di perjalanan hanya ada keheningan menyelimuti mereka. Keduanya sibuk melayang dengan pikiran masing masing. Ah tidak. Lebih tepatnya hanya Ayana yang melamun memikirkan sesuatu. Sedangkan Aldi hanya fokus mengemudi sambil sesekali melirik jam di tangannya.


               *          *          *


"Kak, udah nyampe. Lo mau sampai kapan jadi patung disini," kata Aldi menirukan perkataan Ayana tadi.


Ia juga bingung kenapa kakaknya ini dari tadi melamun. Apa yang sedang di pikirkannya?


Tak kunjung menjawab juga, Aldi kembali bertanya lagi."Kak, lo lagi mikirin apa?"


Lamun Ayana pun pecah, saat Aldi menyentuh pundaknya.


"Hah?! Udah nyampe ya?" Ayana menatap sekitarnya dengan linglung.


"Berkelana kemana aja lo sampai nggak inget dunia?" sindir Aldi sambil membuka pintu mobil.


"Kota Atlantis! Puas!!" jawab Ayana geram.


"Yee, nggak usah ngegas kali. Mau turun kagak lo? Apa mau jadi pemulung dadakan? Hahaha...."Setelah mengatakan itu, Aldi langsung berlari sebelum kakaknya mengamuk dan dia kena imbasnya.


"Sepupu sialan lo, Al!" Ayana langsung keluar dari mobil dan mengejar Aldi yang masih berlari dikoridor menghindarinya.


Kebetulan keduannya memang bersekolah di tempat yang sama. Aldi berada di kelas sepuluh, sedangkan Ayana berada di kelas duabelas. Jadi tak jarang mereka bertemu jika sedang di sekolah. Dan itu sangat menguntungkan bagi Aldi, karena bisa memantau kakaknya yang memang masih dalam masa pemulihan.


          


               *          *         *


"Ada apa?" tanya Ayana bingung melihat kerumunan siswa berada tak jauh dari kantin tempatnya duduk saat ini.


"Ya ampun. Gue punya temen kudet banget ya. Lo nggak tau, Ay__"


"Nggak," tukas Ayana dengan santai.


"Gue belum selesai ngomong, woy!" sentak Sarah (sahabat Ayana) merasa geram dengan sahabatnya yang selalu tidak peduali dengan sekitar.


"Sabar Sar, sabar ini cobaan hidup yang harus kita hadapi," kata Kayla (juga sahabat Ayana) dengan dramatis.


"Kebanyakan drama lo pada." Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Ayana langsung pergi mendekati kerumunan yang membuatnya penasaraan.


"Woy!! Ay tungguin napa!"


Sarah dan Kayla pun ikut menyusul Ayana.


Ayana terpaku ditempat melihat seseorang yang familiar di matanya tengah berdiri ditengah kerumunan bersana keanggotaan OSIS sekolahnya.


Alzam. Lalaki itu. Sedang apa disekolahnya? Ia terlihat gagah mengenakan jas alamaternya. Terlihat siswi yang berkerumun juga menatap lelaki itu dengan penuh kekaguman. Kapan lagi ada orang Turki disekolahnya.


"Cih!" Ayana memilih pergi meninggalkan kerumunan itu.


Ayana memukuli kepalanya sendiri sambil berjalan gitai menuju kelasnya.


Brukkk!!


"Awww!" pekik Ayana sambil mengelus pantatnya yang baru saja mencium tanah.


"Bisa nggak sih, jalan liat liat!" omel Ayana tanpa menengok siapa yang ditabraknya.


"Sory, sory gue nggak sengaja."


Ayana mendongok merasa kenal dengan suara ini.


Tatapannya berubah menjadi kesal melihat lelaki didepannya. Elang. Lelaki yang menantangnya tempo hari lalu. Membuatnya kecelekaakn dan dirawat di rumah sakit tempat yang paling dia benci.


"Minggir!! Gue bisa sendiri!"Ayana menepis tangan Elang yang hendak membantunya berdiri.


"Hei. Kucing liar, gimana keadaan lo? Udah kapok balapan liar lagi,"ejek Elang dengan senyum miring.


"Kicing liir, gimini kiidiin li? Idih kipik bilipin liir ligi," ucap Ayana menirukan perkataan Elang dengan vokal 'i'."Asal lo tau, gue nggak akan kapok sebelum gue jadi pemenangnya. Ngerti!!"tegas Ayana lalu melenggang pergi.


"Dan satu lagi, gue bukan kucing liar!" setelahnya ia berjalan dengan kaki sedikit pincang. Melanjutkan niatnya yang terhenti karena acara tabrakan tadi.


Sedangkan Elang masih menatap punggung Ayana dengan senyum kecil.


"Menarik juga si kucing liar," gumamnya seraya tersenyum penuh rencana.


                *         *           *


"Zam, ini proposal kegiatan yang kita lakukan selama disana," ucap Bilal sambil menyodorkan map berwarna biru.


Alzam tidak merespon, dia masih melamun dengan tatapan yang menerawang.


"Zam, kamu kenapa?" Bilal menyentuh pundak Alzam, hingga si empunya tersentak kaget.


"Allahu Akbar!" sentak Alzam sambil mengelus dadanya terkejut.


"Antum kenapa melamun?"


"Ada apa?" tanya Alzam balik, tidak menanggapi pertanyaan Bilal.


Bilal menghela nafas, lalu menyodorkan kembali proposal tadi.


"Apa ini?"


"Kegiatan selama di acara itu."


"Apa semua murid sekolah itu akan ikut?"


"Kayaknya cuma kelas duabelas doang."


Alzam mengangguk angguk mengerti. Ia membuka map tadi dan membacanya dengan seksama.


Namun pikirannya melayang ke mana mana. Bukan pada tulisan di map itu, melainkan hal lain.


"Nak, maafkan om jika ini terlalu lancang, mungkin ini terlalu cepat. Om tau, kamu baru mengenal keponakan om,"


"Om minta padamu Nak, tolong jaga dan lindungi Ayana, keponakan om. Mungkin ini sangat mengejutkan untukmu. Kita memang baru bertemu, namun entah mengapa hati om sangat percaya padamu,"


"Om minta lindungi dia, jaga dia. Dia sudah kehilangan orang tuanya sejak kecil."


Ia mengingat kembali percakapannya dengan Ariq, om Ayana. Hatinya selalu bingung. Kenapa om itu memintanya untuk melindungi keponakannya? Kenapa om itu begitu percaya padanya? Padahal mereka baru bertemu bukan?


"Dia sudah kehilangan orang tuanya sejak kecil"


Arrgh!! Kalimat itu selalu terngiang ditelinganya. Ada apa dengan kalimat itu? Ya Rabb, mengapa kalimat itu selalu mengingatkannya pada kejadian masa lampau? Ya Allah, apa yang harus ia lakukan? Ingatan ini selalu terbang ke kejadian di masa lalu. Ia ingin melupakannya, namun apalah daya, dia memiliki rasa bersalah yang masih menghantuinya selama ini. Bagaimana ini? Arrgh!!