
"Abi, sedikit percepat mobilnya!" kata wanita berjilbab besar yang tengah memeluk putranya yang sangat pucat.
"Sabar umi, ini juga udah cepat. Jalan sangat macet," jawab pria yang tengah mengemudi mobil dengan logat orang Turki.
"Umi, Abi," panggil bocah yang tengah dipeluk uminya dengan suara bergetar.
"Iya, Nak. Kamu yang sabar, Nak. Kamu kuat, sebentar lagi kita sampai ya. Bertahan, Nak!" umi yang memeluknya semakin mengeratkan pelukannya. Ia tidak akan pernah sanggup melihat anaknya menderita seperti ini.
"Sabar, Nak. Kamu harus kuat!" abi pun semakin menambah laju mobilnya. Menembus jalan kota yang sangat padat.
Namun sesuatu muncul di depan mobilnya dengan tiba tiba. Abi panik, dengan cepat ia langsung menginjak pedal rem. Namun sayang, semua sudah terlambat. Hingga ...
Brrakkk...
Mobilnya menabrak tiga orang yang melintas tiba tiba. Ia langsung menghentikan mobilnya. Menoleh ke spion, dan dari sana abi melihat orang mulai berkerumun mengelilingi orang yang ditabraknya.
Abi menghela nafas kasar, "Astagfirullah, astagfirullah. Umi ... abi menabrak orang," katanya dengan nada penuh penyesalan.
"Abi, to-tolongin me-mereka a-abi," pinta bocah lelaki tadi dengan suara lirih, bergetar. Wajahnya semakin pucat. Keringat dinginnya semakin bercucur deras. Sakit di pinggang kanannya bertambah hebat.
"Kamu kuat, Nak. Alzam kuat. Abi, ayo kita bawa anak kita dulu, hiks ... hiks, ayo abi," perintah Umi dengan isak tangis.
"Tapi, bagaimana dengan mereka, Umi. Abi telah menabrak mereka. Abi harus bertanggung jawab." Abi begitu bingung apa yang harus ia lakukan. Di satu sisi ia ingin anaknya segera sampai di rumah sakit. Namun di sisi lain, ia juga memiliki tanggung jawab atas perbuatannya. Ya Rabb apa yang harus ia lakukan?
Abi menoleh ke anaknya. Ia tidak tega melihat anaknya yang sedang sekarat menahan sakit. Kasihan sekali anaknya ini. Baiklah, ia harus membawa anaknya dulu. Lalu dia akan menyerahkan diri ke polisi nanti. Mungkin saat ini nyawa anaknya lebih penting. Baiklah, Bismillah ...
Abi kembali menjalankan mobilnya, sambil sesekali melihat kaca spion nya yang masih nampak kerumunan yang semaki banyak dari sana. Rasa bersalah pun mulai menghantuinya.
\* \* \*
Seorang gadis kecil menangis melihat kedua orang tuanya bersimbah darah di jalan. Dia meraung raung ingin mendekati orang tuanya. Darah di pelipisnya mengalir seiring dengan air matanya yang berjatuhan.
Seorang wanita berusia kepala tiga, memeluk gadis kecil itu sangat erat. Ia juga ikut menangis melihat gadis malang ini yang kehilangan kedua orang tuanya sekaligus.
Dua orang yang seharusnya ada di sisinya diumurnya yang baru menginjak 7 tahun. Anak sekecil ini harus kehilangan kasih sayang orang tuanya. Sungguh malang sekali gadis kecil ini.
"Mama!! Papa!! Ay, pengin ke mama, papa!! Tante, Ay pengen ke mama, papa, hiks...hiks,"
Gadis itu terus berteriak ingin memeluk orang tuanya. Meski usianya masih belia, ia tau apa yang terjadi pada kedua orang tuanya. Meninggal. Artinya dia tidak bisa melihat mereka lagi untuk selamanya.
Wanita yang memeluk gadis itupun semakin mengeratkan pelukannya.
"Nggak!! Ay, pengennya mama, papa!! Mama, papa Ay ikut!!" gadis itu kembali berteriak. Ia melihat orang tuanya yang sudah di masukan kedalam mobil ambulance. Ia terus memberontak di pelukan tantenya.
Dalam hati kecilnya, ia ingin sekali berlari dan memeluk kedua orang tuanya, setidaknya untuk terakhir kalinya. Namun apalah daya, dia hanya gadis kecil biasa yang di bodohkan oleh orang dewasa.
"Perimisi pak"
Seorang petugas kepolisian datang menghampiri pria yang diketahui adalah om gadis kecil itu.
"Menurut penyelidikan, kasus yang di alami korban adalah tabrak lari pak. Namun kami belum berhasil menenukan siapa pelakunya. Menurut para saksi, plat nomor yang digunakan berasal dari luar kota," jelas petugas kepolisian tersebut.
Terlihat om dari gabsis malang itu menghela nafas berat. Ia mengusap wajahnya kasar. Kenapa cobaan seperti ini harus menimpa kakak ya? Apalagi mereka masih memiliki anak kecil, yang membutuhkan kasih sayangnya.
"Begitu ya, baiklah, saya harap kasus ini cukup sampai disini saja, Pak. Mungin ini sudah menjadi kehendak Yang Kuasa untuk mengambil kakak saya ke pangkuan-Nya kembali,"
Petugas kepolisian tadi nampak tersenyum kagum.
"Baik, jika ini kemauan anda, namun__" petugas kepolisian itu menoleh ke arah gadis kecil yang masih meraung raung menatap kepergian orang tuanya.
Om dari gadis kecil itu pun mengerti arti tatapan petugas itu.
"Biar saya dan istri saya yang merawatnya, Pak. Lagipula dia keponakan saya, dan sudah menjadi kewajiban saya untuk merawatnya,"kata om gadis kecil itu.
Petugas kepolisisan tadi mengangguk,"Baiklah kalau begitu, saya permisi," pamit polisi tadi, dan di angguki oleh om gadis kecil itu.
Takdir memang tidak ada yang tau. Semua menjadi kehendaknya. Semua sudah dicatat oleh Si penulis takdir dalam Lauhul Mahfuzh-Nya.
Si gadis kecil periang yang kini tinggal sebatang kara. Menjalani hidup tanpa kasih sayang orang tua. Apakah dia sanggup menjalani hidupnya sendiri? Hanya dengan om dan tantenya. Apakah dia sanggup bertahan sendiri di dunia yang fana ini?
Dia bagaikan layang layang yang tidak ada artinya tanpa angin yang selalu menerbangkanya, dan tanpa tali yang menjagnya.
\* \* \*
Hai Kakak-Kakak dan juga temen temen. Salam kenal ya!!😁
Gimana ceritanya? Ini cerita pertamaku di NovelToon, hehehe...jadi mohon bantuannya ya. Gampang kok, cukup kasih vote sama comment nya aja. Makasih. Tunggu aku di bab selanjutnya, ya!!
to be continue...
see you😘