
"Melamuan aja, Neng. Ada apa? Cerita dong!" Kayla meletakan sepiring nasi goreng di depan Ayana yang melamuan. Entah apa yang dipikirkan sahabatnya ini, sampai lupa kesadaran.
"Woy! Kesambet baru tau rasa lo!" seru Sarah kesal, entah mengapa menghadapi sahabatnya yang satu ini membuat darahnya mendidih setiap saat.
"Jangan gitu Sar,"bisik Kayla sambil melirik Ayana yang masih melamun.
"Sahabat lo tu!"ketus Sarah sambil melahap nasi goreng dengan kesal.
"Sar__,"
"Gue nggak papa, Kay. Dah lah jangan berdabat," tukas Ayana sambil menyendokan nasi goreng ke mulutnya.
Ketiganya pun menyantap nasi goreng masing masing dalam diam.
"Eh, lo berdua pada ikut acara itu?" tanya Kayla antusias setelah menghabiskan makanannya.
"Acara? Emang ada acara?" tanya Ayana dengan bingung.
Kedua sahabatnya sama sama menepuk jidat dan menatapnya malas.
"As__,"
"Perhatian! Bagi yang merasa manusia, dan kelas duabelas harap berkumpul di aula. Ditunggu lima menit lagi. Yang bukan manusia, bye!"
" Dasar ketos sinting, emang di sekolah ini ada yang bukan manusia!" geram Sarah.
"Ada ... lo, hahaha." saut Ayana lalu melenggang pergi menuju aula.
"Kurang asem lo, Ay!!" Sarah berlari mengejar.
* * *
Ayana termanggu ditempat duduknya. Ia menatap lelaki oriental yang tengah menjelaskan didepan sana dengan penuh kewibawaan. Kenapa wajah itu selalu menghipnotisnya? Ah, memang benar tidak hanya dirinya, melainkan hampir keseluruhan siswi diaula ini menatapnya dengan kagum. Tak terkecuali kedua sahabatnya juga menatapnya tanpa kesip.
Namun lama kelamaan dia merasa bosan dengan acara ini. Terlalu lama menatap lelaki itu juga membuatnya merasa bosan.
Ingin rasanya dia berajnak dan berlari kekelasnya, lalu merebahkan kepalanya di atas meja. Mau bagaimana lagi acara ini belum selesai. Tidak lucu bila dirinya meninggalkan acara, sedangkan yang lain masih setia memperhatikan.
"Baik, untuk penjelasan kali ini saya akhiri. Sekian atas perhatiannya terima kasih,"
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
Semuanya menjawab salam yang diucapkan Alzam dengan semangat. Hingga senyum tipis terukir di bibir lelaki itu.
"Meleleh ya, guys? Duh, senyum Kakak kok manis banget sih? Jangan manis manis dong, nanti para gadis gue pada kena diabet gegara ngliat senyum Kakak," sanda Riko sang ketua OSIS yang sebentar lagi akan pensiun dari jabatannya.
Dan berhasil mengundang kejengahan dari semua penghuni aula.
"Basi!!" teriak hampir seluruh siswi di aula.
Sudah menjadi hal lumrah mendapat gurauan sang ketos bila ada acara. Pertama tama ya memang asyik, suasana jadi tidak terlalu serius. Namun lama kelamaan jadi membosankan.
"Tega bangat dah kalian sama gue. Huhu, gue dicampakin. Rasanya menyayat hati,"
"Lebay!!"
"Pengen muntah ditempat gue."
"Kok perut gue jadi enek ya."
"Eh, tadi siapa yang ngomong sih? Kok gue nggak liat wujudnya ya."
Sumpah serapah dikeluarkan oleh sebagian besar penghuni bangunan panjang itu. Semuanya mulai jengah dengan kerecehan sang ketos yang lama lama terasa garing. Membosankan.
"Sudah sudah. Jangan pada ribut. Tenang aja si Koko sebentar lagi bakal copot jabatan. Sabar kawan kawan," sang waketos bernama Zoya mulai buka suara.
"Eh, BTW ada yang mau ditanyain nggak sama Kakak Kakak ganteng ini?"
"Ya lo, silahkan mau tanya apa?"
Tatapan Ayana pun beralih ke gadis berjibab yang mengacung.
"Maaf, acaranya diselenggarakan kapan ya?"
Alzam mulai gelagapan. Dia lupa mengatakan jadwal acaranya.
"Oh, maaf maaf, saya lupa mengatakannya. Acaranya diselenggarakan besok lusa. Untuk permohonan izin orang tua akan dijelaskan dikelas masing masing. Terima kasih,"
Terlihat semua wajah penghuni aula begitu sumringah. Namun tidak dengan Ayana. Rasanya dia begitu malas melakukan acara ini. Namun sayangnya acara ini wajib untuk siswa kelas 12.
* * *
CAMPING PECINTA ALAM
Ayana menatap kertas yang dipengangnya nanar. Apakah dia harus ikut acara ini? Bukan apa apa hanya saja dia sangat takut dengan gelap. Haha, gadis tomboy macam apa dia ini? Takut dengan kegelapan, haha sungguh ironis.
"Bodo amat lah. Lagian banyak yang ikut juga,"
Ayana beranjak dari kasur empuknya. Ia sudah memantapkan hatinya untuk ikut kegiatan ini. Ya, itung itung menambah pengalaman baru. Toh sahabatnya juga ikut, untuk apa ia takut.
Ayana berjalan mencari kebradaan tantenya. Biasanya tantenya akan di rumah setelah ia pulang sekolah.
"Tante!" panggil Ayana setelah menemukan keberadaan tantenya sedang duduk di taman belakang. Waktu yang tepat.
"Iya, sayang. Sini duduk!" Winda menepuk tempat kosong di sebelahnya.
Ayana mengangguk, lalu duduk disamping tantenya.
"Ada apa?" tanya Winda mengawali pembicaraan.
"Ada acara di sekolah, Tante." Ayana menyodorkan kertas tadi pada tantenya.
Winda menerima kertas itu, lalu membaca dengan seksama.
Winda menatap keponakannya."Kamu mau ikut acara ini?"
Ayana mengangguk mantap."Iya, Tante" jawabnya juga mantap.
"Asalkan kamu bahgia, Tante bakal ngijinin selagi itu baik untukmu, sayang." Winda memeluk Ayana dengan sayang.
"Terima kasih, Tante. Tante udah baik sama, Ay. Ay nggak tau cara membalas semua kebaikan Tante sama om. Ay selalu ngrepotin kalian berdua. Maafin Ay Tante," Ayana berucap dengan isak tangis.
Lihatlah. Dia hanya wanita lemah jika bersama keluarganya. Ia seperti wanita pada umumnya. Namun jika sudah berada di jalanan dia akan menjelma menjadi wanita setengah lelaki.
"Sssttt!! Kamu nggak pernah ngrepotin siapa siapa. Kamu sudah menjadi tanggung jawab kami untuk merawat dan menjagamu."Winda melepas pelukannya, lalu menghapus jejak air mata yang menempel dipipi keponakannya.
"Ayana sayang, kan sama om dan Tante?"
"Kenapa Tente tanya kayak gitu?"matanya kembali berkaca kaca.
"Kalo Ay sayang sama kami. Tolong turuti satu permintaan kami ini. Ay mau, kan?"
Ayana nampak terdiam. Pertanyaan tantenya terlihat sangat serius. Apa yang tantenya inginkan darinya? Ia tau tante dan om nya tidak pernah memaksanya untuk berbuat ini itu sesuai kemauan mereka. Dan sepertinya ini permintaan pertama mereka. Selama ini ia sudah merepotkan mereka. Ya, ia harus menuruti kemauan mereka. Om dan tantenya adalah satu satunya orang yang ia punya di duania ini. Tidak ada salahnya bukan jika dia mengabulkan permintaan mereka?
"Ya, aku mau. Permintaan apa?"
"Menikahlah, sayang. Dengan begitu, akan ada yang melindungimu jika kami pergi. Tante dan om akan senang jika kamu menikah dengan orang yang kamu cintai," kata Winda dengan mata mulai berkaca kaca.
"APA??!!"
Ayana terkejut dengan permintaan tantenya. Apa ia tidak salah dengar? Menikah. Permintaan macam apa ini! Apakah tantenya ini sedang melantur? Hey tante, Ayana masih sekolah. Mengurus diri sendiri saja belum bisa, apa lagi mengurus orang lain.
"Menikahlah sayang," ulang Winda.
Ayana hanya diam saja tidak menanggapi. Haruskah dia menyanggupi permintaan tantenya? Ya harus, ini permintaan pertama mereka. Mereka sudah merawatnya dengan tulus. Ia tidak boleh mengecewakan mereka. Tapi masalahnya, dengan siapa dia harus menikah???