AKHI ILOVE YOU

AKHI ILOVE YOU
BAB 7 : Camping pecinta alam



Hari yang ditunggu tunggu telah tiba. Hari ini Ayana duduk di kursi dekat jendela di dalam bus yang membawa ketempat tujuan. Memandang deretan pepohonan yang melambai diterpa angin. Perasaanya sangat senang, takut, dan juga bingung. Bingung? Ya, bingung memikirkan permintaan tantenya.


Permintaan ini membuatnya gila jika memikirkannya. Sudahlah, lagian tidak mungkin dia menikah dalam waktu dekat. Siapa yang akan menikahi gadi tomboy, pecicilan sepertinya? Ah, lama lama ia kemakan juga omong kosong adik sepupunya. Tidak, tidak!!


"Hei! Apa yang lo pikirin kucing liar?"


Lamunya buyar ketika keningnya di sentil oleh__. Ia menoleh. Elang. Wajahnya berubah kesal.


"Ngapain lo?! Dimana Kayla?!" Ayana celingukan mencari keberadaan sahabatnya yang tadi duduk disampingnya.


"Sahabat lo ada di belakang," jawab Elang datar.


Ayana langsung berdiri dan menoleh ke belakang. Dan benar saja Kayla sudah molor di kursi yang persis berada di belakangnya. Apakah selama itu dia melamun?


Ayana kembali duduk dengan cemberut. Sekali ia melirik lelaki disampingnya kesal. Lelaki itu dengan santainya duduk disampingnya tanpa mempedulikan sekitar. Benar benar menyebalkan.


"Enyah lo dari sini!! Gue nghak mau duduk sama lo!! Minggir!!" teriak Ayana sambil mendorong yubuh Elang supaya menyingkir.


"Terserah gue dong mau duduk di mana. Bis, bis siapa? Bukan punya lo, kan? Bukan punya nenek moyang lo, kan? Jadi terserah gue dong mau duduk dimana," kata Elang dengan santai.


Ayana menatapnya dengan kesal."TER-SE-RAH!!"serunya kesal, lalu memalingkan wajahnya menatap jendela.


               *           *           *


"Perlu bantuan adek-adek," tawar Ehan (teman kampus Alzam dan Bilal) yang mendekati kelompok Ayana.


"Wah!! Boleh, Kak boleh. Kalo nggak ngrepotin," kata Kayla dengan wajah berbinar. Kapan lagi bisa di bantu para kakak tamvan?


Sarah dan Ayana menggeleng melihatnya.


Akhirnya mereka mendapat bantuan dari mereka. Ya, Alzam juga ikut membantu. Namun kali ini Ayana hanya biasa saja. Dia sudah tidak terhipnotis lagi oleh pesona lelaki itu. Mereka bekerja sama mendirikan tenda yang dari tadi tidak berdiri berdiri. Sangat bodoh memang, hanya mendirikan tenda saja tidak bisa, padahal yang lain sudah pada berdiri. Ah, sudahlah.


Akhirnya setelah selesai, tenda pun dapat berdiri tegak. Akhirnya mereka bertiga bisa duduk santa. Sedangkan ketiga lelaki yang tadi membantu mereka sudah pergi.


Udara di daerah ini begitu sejuk. Pepohonan yang masih asri. Tanah yang subur di penuhi rerumputan hijau. Sungai jernih yang mengalir, sebagai daerah perbatasn antara tenda lelaki dan perempuan. Sangat indah.


Ayana menghirup udara kuat kuat. Kapan lagi bisa merasakan udara yang sejuk seperti ini. Di Jakarta, jangankan udara segar, pepohonan pun sudah jarang di temuai di sana. Ia melirik dua sahabatnya yang sedang rebahan cantik di karpet.


Ia salah, ternyata camping ini tidak terlalu buruk. Mungkin. Tidak untuk nanti malam. Kegelapan, dia sangat takut dengan gelap. Ayana kembali melamun. Memikirkn bagaimana nasibnya nanti malam, dan juga___. Permintaan tantenya, oh no!! Dia sangat bingung.


"Jangan melamun mulu. Suruh kumpul tuh," ucap Kayla membuyarkan lamunnya.


Ayana tersentak kaget,"Ah iya."


Keduanya beranjak, dan menghampiri kerumunan yang sudah lumayan banyak.


Semua memperhatikan apa yang disampaikan Alzam dan kawan kawan yang tengah menyampaikan penjelasan kegiatan di acara ini. Ya semua, kecuali Ayana yang meresa jengah dengan penjelasan panjang lebar itu. Selain tidak suka banyak bicara, ia juga malas mendengar pembicaraan orang lain.


Setelah mendapat inruksi dan penjelasan tadi. Semua kerumunan bubar ke tenda masing masing. Kegiatan hari ini adalah menjelajah hutan.


              *           *            *


Sore hari telah tiba. Ayana, Sarah, dan Kayla baru saja sampai dari acara menjelajah hutan. Ketiganya langsung tepar didalam tenda. Lelah. Itulah yang dirasakan ketiganya. Menjelajahi hutan sangat melelahkan dari yang dia bayangkan. Padahal hanya beberapa kilometer saja. Namun sangat melelahkan.


"Eh, Ay mau kemana lo?" tanya Sarah melihat Ayana yang pergi meninggalkan tenda.


"Pipis!" jawab Ayana dengan sedikit teriak.


Ia berjalan mencari diama keberadaan toilet umum. Dan ketemu, Ayana langsung masuk dan segera menuntaskan urusannya.


Setelah selesai Ayana memutuskan kembali ke tendanya. Namun sesuatu yang dilihatnya, membuat ia tidak melanjutkan niatnya. Ia mengintip dua insan yang nampak sedang berdiskusi dengan canda tawa bahagia.


Alzam. Lelaki yang waktu itu menolongnya. Dia sedang bersama wanita cantik berhijab modis. Sangat anggun wanita itu. Bahkan Ayana merasa iri dengan wanita yang terlihat alim itu. Sedangkan dirinya, huh sungguh menyedihkan. Dari kata baik pun jauh, apa lagi alim.


"Ekhem. Kalo cemburu jangan di liatin aja, samperin!"


Ayana menoleh. Dia lagi, dia lagi. Bisakah dia tidak hadir untuk sehari saja. Kenapa selalu saja muncul tiba tiba?  Apa lelaki ini selalu menguntit nya? Tak mau berdebat dengan lelaki menyebalkan ini, Ayana langsung melenggang pergi meninggalkan Elang yang termanggu.


"Semakin menarik," gumam Elang sambil tersenyum jahat.


     


                *          *           *


Sore ini adalah hari terakhir bagi kelas 12 melakukan acara camping pecinta alam. Semuanya tengah berkemas untuk kepulangan di hari esok. Begitu pula dengan Ayana, ia memasukan barang barang yang tercecer ditenda ke dalam tas ranselnya.


Setelah semuanya siap, ia berniat ingin mengajak sahabatnya jalan jalan di hari terakhirnya. Namun sahabatanya mengeluh, capeklah, nggantuklah, lemeslah. Hingga Ayana memutuskan untuk berjalan jalan sejenak mengelilingi perkampungan dekatnya berkemah.


Sudah lumayan jauh ia berjalan. Namun itu tudak membuatnya puas. Menikmati suasana desa yang sejuk membuatnya sangat enggan meninggalkan tempat ini. Namun sayang, ia harus kembali ke kota besok.


Langit mulai kelabu, namun hal itu tidak menyurutkan langkahnya menyusuru jalanan sejuk di desa ini. Lagi pula masih jam 5 sore, begitu pikirnya.


Brreess!!


Hujan turun dengan debit yang cukup besar. Sehingga Ayana memutuskan untuk berteduh sejenak di rumah kosong ini. Samapi kapan hujan ini akan berhenti? Pertanyaan itu selalu memenuhi kepalanya. Dia takut jika tidak bisa kempali ke perkemahan. Bagaimana ini? Oh tidak sebentar lagi malam akan datang. Ayolah, hujan berhenti sejenak, biarkan ia kembali ke perkemahan dulu.


Ayana meringkuk sambil memeluk lututnya. Rasanya sangat dingin. Namun tak lama kemudian ia duduk tegap, tak kala melihat cahaya terang yang menembus derasnya hujan. Apakah itu sahabatnya? Jika iya, maka dia akan bersorak riang saat ini juga. Oh, Sarah, Kayla!! Ayana berharap itu adalah sahabatnya.


Tak lama ada seseorang yang berjalan ke arahnya. Ah tidak, tidak lebih tepatnya berjalan ke arah rumah korong ini. Ayana terus berdoa, semoga yang di harapkannya betul adalah sahabatnya. Semoga saja.


Harapan tidak seauai keyataan. Ia bukan sahabatnya, melainkan___


"Alzam,"