AKHI ILOVE YOU

AKHI ILOVE YOU
BAB 13 : Gendong!!



"Lho ... Alzam kamu ngapain ke sini?" tanya Safira penasaran.


"Kamu sendiri?" tanya balik Alzam sambil melirik Ayana yang nampak kebingungan.


Dari tatapannya seolah bertanya. Kenapa mereka bisa saling kenal?


Dan bagimana bisa Alzam bisa tau jika dirinya di sini?


Tentu saja bisa, setelah mendapat alamat dari Aldi, lelaki itu langsung ke tempat tujuan. Namun sesampainya di sana ia tidak menemukan ke beradaan istrinya.  Dan memutuskan bertanya pada salah satu orang di sana. Dan mereka menjawab bahwa gadis itu di tangkap polisi. Langsung saja ia ke kantor polisi tapi terdekat. Benar saja, Ayana ada di sini.


"Jemput adek bandelku," jawab Safira sambil menatap adiknya tajam. Dan mengundang ke jengahan dari lelaki itu.


"Katanya mau pulang," cibir Elang malas.


"Iya ... kita duluan ya, Zam. Assalamu'alaikum,"pamit Safira


"Wa'alaikumsalam,"jawab Alzam. Setelahnya perempuan itu melenggang pergi mengikuti Elang yang mendahuluinya.


"Tunggu sebentar, aku akan mengurus ke bebasanmu," Ayana hanya mengangguk lemas. Rasanya dia sudah sangat mengantuk berat. Matanya sudah pegal ingin terpejam.


"Baik, Pak. Terima kasih atas kerja samanya. Ke depannya saya akan mengawasinya," ucap Alzam pada polisi yang duduk di depannya.


"Sama sama, tolong lebih di awsi lagi adeknya ya, Pak,"


Alzam mengangguk pasti,"Kalau begitu saya pamit, selamat malam, Pak"


"Selamat malam," keduanya saling berjabat tangan.


Alzam menghampiri Ayana yang nampak menahan kantuknya. Ia berjalan menghampirinya sambil tersenyum tipis.


"Ayo pulang!"


"Udah boleh pulang?"


"Hmm.."


"Motor gue gimana?"


"Motormu masih di sita pihak kepolisian. Kalo kamu mau bisa di tebus."


"Oh"


Ayana beranjak, dan berjalan seperti zombi. Ia sudah tidak peduali apapun lagi. Yang ia butuh hanya satu. Kasur. Ia sudah tidak sabar lagi melompat ke atas benda itu.


Alzam menggelang kepala. Lalu mengikuti istrinya yang tampak sangat mengantuk. Tentu saja, ini sudah pukul satu dini hari. Manusia mana coba yang tidak mengantuk?


Lelaki itu menghentukan laju mobilnya, seteleh sampai di beasment apartemen. Diliriknya gadis yang duduk di sampingnya. Pulas sekali ia tidur. Alzam tersenyum tipis. Ia keluar mobil dan berjalan ke sisi lain di mana Ayana duduk. Di bukanya pintu itu, dari sana ia bisa melihat dengan jelas wajah pulas istrinya.


Alzam menyibakkan anak rambut yang menutupi wajah cantiknya. Hal itu justru membuat si empunya terusik. Mata indah itu mulai terbuka dan menatapnya sayu.


"Udah nyampek ya?" tanyanya sambil mengucek ucek matanya.


"Hmm," Alzam membuka selbet yang melilit tubuh Ayana,"ayo turun!"katanya setelah selbet terbuka.


Namun Ayana tidak respon. Ia masih enggan untuk beranjak.


"Ay..."


"Gendong!!" Ayana sudah merentangkan tangannya siap si gendong.


Alzam terkejut. Tidak bisanya gadis ini seperti ini. Namun dengan cepat ia tersenyum tipis. Lelaki ini jongkok, bersiap menggendong Ayana.


"Ayo!"


Ayana langsung mengalungkan tangannya ke leher lelaki itu dan merebahkan kepalnya di pundaknya.


Alzam berdiri, sambil menahan tubuh Ayana agar tidak jatuh. Ia tau gadis ini pasti sudah tertidur lagi. Namun tidak?


"Lo tau dari siapa gue ada di sana?" tanya Ayana dengan mata terpejam.


Alzam berjalan sambil menggendong Ayana."Aldi,"jawabnya apa adanya.


"Oh."


Alzam menghela nafas berat. "Lain kali jangan keluyuran malem lagi. Apalagi nggak izin sama aku. Kalo kamu kenapa napa gimana?" katanya begitu khawatir.


"Hmm,"dehem Ayana dengan mata masih terpejam.


Alzam menurunkan Ayana di atas kasur. Gadis itu masih tertidur? Sangat nyenyak sekali ia tidur. Lekai itu tersenyum tipis. Lalu beralih melepas sepatu yang masih melekat di kaki Ayana. Kemudian menyelimuti tubuh mungil itu dengan selimut.


Karena rasa lelah yang begitu membuncah. Tanpa sadar, ia ikut berbaring di sisi Ayana. Lamat lamat matanya ikut terpejam mengikuti sang istri ke dunia mimpi.


*   *    *


Hari minggu. Hari yang paling ditunggu tunggu oleh sejuta umat. Seperti Ayana, yang kini sedang bermalas malasan di atas kasur. Tanpa berniat untuk kemana nama. Ponsellah yang menemaninya saat ini.


...Trio dedemit...


Kayla incesh


~Eeeyoo lagi pada apa nih?


Sarah singa kutub


~suntuk gue:(


^^^Ayana queen^^^


^^^~males gue^^^


Kayla incesh


~Yeee lo mah apa apa males


Mao jadi apa bangsa, ini kalo spesies manusianya kaya lo semua.


Sarah singa kutub


~sok ceramah lo


Kayla incesh


~Ya Allah, apa salah hambamu ini? Punya sahabat pada sensian banget dah:(


Kayla incesh


~Ay, lo ko diem diem bae. Ngomong napa.


^^^Ayana queen^^^


^^^~Apa?^^^


^^^Send^^^


Rasanya ia begitu malas hari ini. Lama lama perutnya terasa keroncongan. Ayana keluar kamarnya masih menggunakan piyamanya. Menggeledah dapur, siapa tau ada makanan yang bisa di makan.


Sialan. Tidak ada makanan sama sekali. Apakah lelaki itu tidak menyetok makanan. Ayana mendengus kesal. Sampai akhirnya dia mengambil air dingin di kulkas, menuangkan dalam gelas, lalu menengguknya hingga tandas.


Matanya berkeliaran mencari keberadaan suaminya. Dimana lelaki itu? Sejak pagi tadi ia belum melihatnya.


Sedangkan di tempat lain. Di ruangan bernuansa coklat maghoni. Alzam duduk termenung memandangi foto gadis kecil ditangannya. Setiap kali melihat itu, rasa bersalah itu kembali hinggap tanpa di mintanya.


Bagaimana keadaan gadis kecil ini sekarang? Apakah ia baik baik saja tanpa ke dua orang tuanya? Pertanyaan itu selalu hinggap tak kala melihat foto gadis kecil itu. Ia memang tidak mengenalnya. Namun dia tau, karena kesalahan keluarganya gadis di foto ini sekarang pasti sangat terpuruk.


'Ya Rabb apa yang harus ku lakukan?' batinnya selalu bertanya. Berpuluh tahun ia terlarut dalam rasa bersalah. Sangat menyiksa.


"Itu siapa?"


Lamunya buyar mendengar suara yang amat sangat di kenalnya. Suara yang kini mengisi hari harinya. Dengan cepat ia memasukan foto tadi ke dalam laci. Lalu berbalik menatap gadis yang napak bingung.


"Siapa?" ulang Ayana karena tidak mendapat jawaban.


Alzam tersenyum."Bukan siapa siapa,"jawabnya terpaksa berbohong. Ia hanya tidak ingin melibatkan orang lain dalam urusan masa lalunya.


Ayana menatap lelaki itu curiga.'Ko gue kayak nggak asing sama foto itu,' batinnya bertanya tanya.


"Ada apa?"


"Gue laper, lo nggak ada stok makanan sama cemilan sedikit pun apa?" gerutu Ayana kesal.


Alzam terkikik melihat wajah kesal Ayana.


"Emang makanan di kulkas sudah habis?"


"Kalo ada gue nggak akan nyari nyari lo ke sini, ****!"


"Astagfirullah, Ayana! Kamu tidak boleh berkata kasar seperti itu. Apalagi pada suamimu," tegus Alzam tidak nyaman dengan kata terakhir dari Ayana.


"Terserah gue dong mulut mulut gue. Yang nanggung dosa juga gue. Dah lah, pokoknya gue pengin makan!" perintah mutlak Ayana.


"Mintalah dengan baik," ucap Alzam dengan wajah ... yang menurut Ayana sangat sangat menyebalkan.


"Cih! Nggak mau!"tolak Ayana mentah mentah.


"Nggak mau ya sudah," ia berkata sambil memutar balik kursinya membelakangi Ayana.


'Nih orang lama lama nyebelin juga ya,' umpat Ayana dalam hati.


"Aku hanya mengajarkan kebaikan untukmu, Ay,"


Perkataan Alzam membuat Ayana tidak berkutik dalam sekejap. Ini gawat! Parah! Lelaki ini kembali membaca pikiranya lagi.


"Eh ... apa maksudnya?"


"Katanya mau makan, ayo minta dengan sopan dan baik," kata Alzam tanpa merubah posisi duduknya.


"Cih!"decih Ayana kesal.


Tidak ada angin tidak ada hujan. Ayana langsung mengalungkan tangannya di leher lelaki yang masih membelakanginya. Menumpukan dagunya di pundak kokoh Alzam.


"Kakak Alzam ku yang baik, yang paling tampan, istrimu yang cantik dan tidak sombong ini sangat lapar. Apa kau mau membuat istrimu ini mati kelaparan, hmm?"


Sumpah demi apapun Ayana ingin muntah sekarang juga. Mendengar ucapannya sendiri yang tidak mendasar. Membuat perutnya mual saja.


Dengan cepat Ayana langsung melepas tangannya. Berdiri dan menatap lelaki itu dengan kesal.


"Anak pintar," Alzam menepuk lembut puncak kepala Ayana sambil tersenyum tipis,"Ayo!"ajaknya lalu berjalan mendahului Ayana.


Gadis itu menghentakan kakinya kesal, sebelum mengikuti langkah suaminya. Dalam hatinya ia terus menggerutui lelaki itu.