AKHI ILOVE YOU

AKHI ILOVE YOU
BAB 10 : Pamitan



Di dalam mobil hanya keheningan menyelimuti keduannya. Ya, siapa lagi kalau bukan Ayana dan Alzam. Kini mereka dalam perjalanan ke rumah om dan tante Ayana. Ayana yang duduk di samping kemudi memilih diam sambil menatap deretan pertokoan yang mereka lawati. Sedangkan Alzam memilih fokus untuk mengemudi.


Sesamapainya di rumah Ariq dan Winda. Ayana langsung turun, tanpa niatan menunggu suaminya. Gadis itu langsung berlari ke pintu utama, dan masuk tanpa mengetuk atau mengucap salam.


"Tanta, tante, Ay pulang!" teriaknya sambil celingukan mencari keberadaan tantenya.


Tak lama sosok yang di carinya keluar dari arah dapur. Ayana tersenyum sumringah, dan langsung menghambur memeluk tantenya.


"Di mana suamimu, sayang?" tanya Winda mencari keberadaan Alzam.


Tak lama sosok yang di cari pun muncul,"Assalamualaikum, Tante,"ucap Alzam sambil mencium punggung tangan tante Winda.


"Wa'alaikumsalam, ayo duduk dulu, Nak!" tante Winda menggiring keduanya duduk di sofa.


"Ay, semalam temanmu datang," kedua mata Ayana angsung membulat terkejut, "mereka ngantrin barang barang kamu," kata Tante Winda.


"Jadi mereka tau, kalo ...,"Ayana melirik Alzam," kalo__"


"Tenang saja, Tante belum memberi tau mereka soal ini. Tante tau kalian masih perlu beradaptasi ke depannya," jelas Winda dengan senyum maklaum.


Ayana menghela nafas lega. Tentu saja, dia belum siap mempublikasikan pernikahannya pada orang orang. Lagi pula dia masih butuh waktu untuk menerima semua ini.


Ayana masuk ke kamarnya, di ikuti oleh Alzam dibelakangnya. Setelah berbincang sebentar dengan tantenya tadi. Ia memutuskan untuk merapihkan barang terlebih dulu.


Ia menatap kamar ini dengan sedih. Kamar dengan warna bernuansa biru laut ini menyimpan banyak kenangan untukanya. Dan sebentar lagi dia akan pergi dan tidak menempai lamar ini lagi.


Ayana bergerak ke arah lemari di mana baju bajunya berada. Ia ingin mengambil koper yang terletak di atas lemari tersebut. Namun terlalu tinggi untuk di jangkaunya.


"Perlu bantuan?" tawar Alzam melihat Ayana yang nampak kesusahan mengambil koper.


"Ambilin itu!" Ayana menunjuk koper yang ingin di ambilnya.


Alzam mengangguk, lalu meraih koper yang ditunjuk Ayana dangan mudah. Kemudian memberikannya pada Ayana.


"Ini kamar kamu?" tanya Alzam.


"Udah tau kamar gue, masih tanya pula," dengus Ayana kesal.


"Sini, aku bantuin," kata Alzam menawarkan diri.


"No! Lo duduk aja, gue nggak perlu bantuan. Lagian barang yang gue bawa nggak banyak juga," jawab Ayana sambil memasukan bajunya asal ke dalam koper.


"Baiklah," putus Alzam, lalu dia berjalan ke arah meja belajar dan duduk disana, sembari mengawasi Ayana yang tengah menata baju.


Alzam mengambil sebuah kertas putih yang tergeletak di meja. Ia mengernyit bingung menatap foto sepasang pria dan wanita yang tengah menggendong anak bayi.


"Ngapain lo?" Ayana langsung merebut foto itu dari tangan Alzam.


"Apa itu, emm ... orang tuamu?" tanya Alzam hati hati.


"Hmm ... orang tua gue udah meninggal, sejak gue umur tujuh tahun," jawab Ayana sendu.


"Maaf," ucap Alzam merasa bersalah telah membahas hal yang sensitif untuk Ayana.


"Aku yakin, semua ini sudah di gariskan oleh Allah. Allah mengambil orang tuamu dangan cara-Nya. Dan kamu harus ikhlas dengan semua ini," tambah Alzam seraya tersenyum tipis.


Ayana tersenyum miring mendengarnya. "Cih! Semua orang cuman bisa ngomong. Tapi gue yang ngrasain, itu berat. Asal lo tau, gue sejak kecil udah kehilangan kasih sayang mereka!!"seru Ayana meresa kesal.


Semua orang selalu berkata supaya dirinya bisa ikhlas. Gampang memang orang mengatakan itu. Namun ia yang menjalankan sangatlah sulit. Kasih sayang orang tua adalah hal utama yang harus di dapatkan sang anak. Sedangkan dirinya?


"Aku tau, tidak mudah memang mengikhlaskan sesuatu yang seharusnya kita punya___"


"Nah itu lo tau!" tukas Ayana semakin kesal.


"Kamu tau kata kata mutiara dari sahabat Nabi. Terkadang orang yang memiliki masa lalu yang kelam, ia akan menciptakan masa depan paling bahagia. Aku yakin kamu salah satunya,"


"Ya mungkin itu dulu. Beda lagi sekarang, gue udah nggak tau lagi masa depan gue kayak apa. Dan ya, tentunya sejak kejadian itu!" sergah Aynan cepat, lalu ia mengambil kopernya, kemudian menyeretnya keluar kamar meninggalkan Alzam yang masih termanggu.


Alzam menghela nafas, lalu mengikuti langkah Ayana keluar kamar.


"Tante, Ayana pamit ya," ucap Ayana sambil memeluk tantenya.


"Iya, sayang. Jadilah istri yang baik. Patuhi suamimu, jangan nakal lagi, oke!"


"Hmm ... Ayana pamit dulu, salam buat om, sama Aldi. Ay bakalan sering main ke sini," pamit Ayana lalu berjalan ke arah mobil seraya melambaikan tangan.


"Alzam, pamit Tante,"sambil mencium punggung tangan tante Winda.


"Iya, Nak. Jaga keponakan Tante baik baik, ya. Banyak sabar menghadapinya ya, dia anak yang bandel, hahaha ...," pesan Winda sesikit bercanda.


Alzam mengangguk sambil tersenyum kecil,"Insya Allah, Tante. Alzam pamit, Asslamualaikum,"ucapnya sebelum pergi.


"Wa'alaikumsalam, hati hati, Nak," jawab Winda seraya melambaikan tangannya.


"Kamu mau kemana?" tanya Alzam saat melihat Ayana yang hendak keluar. Padahal hari sudah malam.


"Main," jawabnya singkat, padat, dan jelas. Ayana hendak membuka pintu di depannya, namun kalah cepat dngan Alzam yang lebih dulu meraih pergelangan tangannya.


"Udah malem, Ay. Nggak baik seorang perempuan keluyuran malam malam," ucap Alzam lembut.


Ayana semakin jengah, "Lama lama lo kayak emak emak, tau nggak. Minggir!" saut Ayana kesal sambil menepis kasar tangan Alzam dan berlalu kelur apartemen.


Alzam menarik nafas panjang, mengontrol emosinya. Khawatir? Tentu saja ia khawatir. Sekarang ia memiliki tanggung jawab untuk membimbing istrinya dan juga melindungi tentunya. Namun sekarang gadis itu pergi di malam malam seperti ini. Bukan tidak mungkin ada penjahat yang mencelakainya.


Alzm bergegas mengambil kunci mobilnya. Ia berniat untuk mengikuti kemana pun Ayana pergi. Seharusnya tadi dia melarangnya untuk mengmbil motor ninjanya. Seperti ini kan jadinya. Alzam mengendarai mobilnya menembus jalanan kota yang mulai senggang.


Sekarang yang ia bingung, kemana harus mencari Ayana?


Sedangkan di tempat lain. Suara musik berdentum memekakan setiap telinga yang mendengarnya. Para wanita dan pria melenggak lenggok di bawah cahaya lampu bundar yang berkelap kelip.


Di sisi lain, tiga remaja perempuan duduk di temani minuman kaleng yang tergeletak di meja bundar. Ya, mereka adalah Ayana, dan dua sahabatnya Sarah dan Kayla. Ketiganya tertawa dengan lepasnya tanpa ada yang mendengar selain mereka. Karena sura musik yang berdentum memang cukup keras.


"Kenapa lo nggak masuk sekolah, tadi?" tanya Kayla sambil menyesep minumannya.


"Males gue," jawab Ayana santai.


"Mau jadi apa, masa depan lo nanti. Penyakit males di piara," celetuk Sarah tanpa beben.


"Yee ... emang situ nggak!" balas Kayla mengejek.


"Gini gini juga, gue belajar kali kalo ulangan,"


"Belajar apa? Nyontek?! Hahaha..."


"Nah, itu salah satunya,"


Ketiganya sama sama tertawa lepas. Beginilah kebahagiaan mereka di malam hari. Sangat unfaedah emang. Namun itulah mereka, seperti kata orang, 'hidup hanya sekali, nikmati saja apa adanya'. Namun apakah harus dengan cara seperti ini?


Di tengah canda tawa mereka. Tiba tiba, seorang wanita yang terlihat mabuk. Menumpahkan segelas minuman tepat di paha Ayana. Hal itu pun membuat Ayana naik pitam. Ia berdiri dan menatap wanita dengan pakaian seksi itu dengan tajam.


"Maksud lo apa hah?!! Numpahin minuman di celana gue!!" seru Ayana sambil mendorong wanita tersebut dengan telunjuknya.


Wanita itu pun ikut tersulut, "Apa apaan lo, hah!! Gue nggak sengaja!" katanya dengan bengis. Karena efek alkohol juga.


"Ya, gue juga tau lo nggak sengaja. Tapi seenggaknya lo minta maaf sama gue, bukannya balik ngegas!!" seru Ayana sudah kehabisa kesadaran. Ia tidak peduli, mau wanita ini mabuk atau tidak. Yang dia mau wanita ini meminta maaf dan bertanggung jawab! Sudah itu saja!


"Ay, udahlah! Lagian nih orang lagi mabuk juga. Mana ngerti apa itu minta maaf," bisik Kayla menenangkan sahabatnya.


"Gue nggak peduli!"


"Eh, bocah lo juga yang salah. Nggapain bocah ingusan kayak lo, lo pada nongkrong di bar kayak gini. Udah, belajar aja di rumah, ingat pesan ibu, hahaha..." rancau wanita itu dengan sempoyongan.


Kini tidak hanya Ayana yang tersulut. Namun Sarah pun ikut terbawa emosi. Maklum dia gadis yang sangat temprament.


"Lo kalo ngomong mending ngaca dulu sana!! Ngomong seenak jidat! Ngcak, ngaca!! Emang situ nggak!!" sindir Sarah sambil mendorong wanita itu dengan kasar.


"Apa apaan lo, dorong dorong gue!!"


"Kenapa? Marah?! Mau ngadu sama pacar? 'Seyang, tolong aku,' iya, sana ngadu tuh! Kalo bisa sama calon mertuannya sakalian!!" kata Sarah pedas.


"Jaga mulut lo ya!!"


Plak


Satu tamparan pedas berhasil mendarat di pipi Sarah. Kini Ayna mulai kembali dengan mode marahnya.


"Berani beraninya lo nampar sahabat gue, yaaa!!" ucap Ayana dengan geram.


"Mau bales dendam ceritanya. Ayo tampar, nih nih," ujar wanita itu sambil menyodorkan pipinya.


"Dengan senang hati," Ayana maju satu langkah, dan bersiap hendak menampar balik wanita tersebut.


Namun tiba tiba satu tangan kekar berhasil menghentikan aksinya.


"Ayana cukup!! Pulang sekarang!!


Ayana menoleh '******' batinya saat melihat orang di belakangnya.


...___________...


To be continue...


see you😙😙😙