
"Turunin, gue!!" seru Ayana sambil memukuli dada Alzam yang menggendongnya. Tentu saja dia kesal, lelaki itu tiba tiba datang dan langsung menggendongnya tanpa aba aba. Hal itupun membutanya menjadi pusat perhatian para pengunjung bar.
Alzam tidak merespon. Sejak tadi ia sudah memasang wajah dingin saat melihat Ayana yang hendak menampar seorang wanita. Ini baru pertama kali untuknya menginjakan kaki di tempat haram itu. Dan tentunya hanya untuk mencari Ayana. Untung ia memiliki insting yang kuat. Bahwa Ayana pasti berada di sana. Dan benar saja, jika ia datang terlambat pasti keribuatan akan terjadi.
Lelaki itu menurunkan Ayana, sesampinya di mobil yang terparkir.
"Masuk!" perintahnya dengan nada dingin.
Tanpa mau berdebat, Ayana pun menuruti perintah suaminya.
Alzam mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tanpa melirik Ayana yang tengah gelisah dengan sikapnya yang nampak dingin.
Ayana mengeratkan jari jemarinya gelisah. Sesekali dia melirik lelaki yang masih setia memasng wajah dinginnya. Apakah dia marah? Pertanyaan itu terus saja bersarang di benaknya.
"Lo marah?" tanya Ayana ragu ragu, sambil terus menundukan wajahnya.
Alzam menghembuskan nafas kasar dan bertanya dangan datar,"Menurutmu?"
"Tapi gue nggak mabuk. Gue cuma minum minuman kaleng. Itu doang," jawab Ayana merasa tidak bersalah.
"Aku tau," saut Alzam tetap datar.
"Terus, kenapa lo marah sama gue?"
Alzam menghela nafas."Kamu itu perempuan, Ay. Sekalipun kamu nggak mabuk. Namun di sana nggak sedikit orang yang mabuk. Gimana kalo mereka jahatin kamu, Ay?"
Ayana tidak menyangka dengan jawaban Alzam. Ia mengira lelaki ini akan marahinya. Namun justru sebaliknya. Alzam menghawatirkannya. Melihat itu, dirinya menjadi merasa bersalah. Gadis itu mendundukan wajahnya dalam. Meratapi rasa bersalahnya.
"Kenapa?" Pertanyaan itu langsung dilontarkannya. Ia heran, kenapa lelaki ini menghawatirkannya?
Lagi lagi ia menghela nafas. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran Ayana. Jelas saja ia khawatir. Kerena Ayana adalah tanggung jawabnya sekarang.
"Aku tau kamu pasti mengerti."
"Tapi kenapa? Bukannya pernikahan ini cuma terpaksa, cuma karena kesalah pahaman."
Alzam diam. Ia tetap fokus mengemudi.
Karena tidak ada respon, Ayana kembali menambahkan,"Gue rasa lebih baik kita akhiri aja pernikahan ini. Lo ceraiin gue!"
Ciiitt
Alzam langsung menghentikan mobilnya mendadak, mendengan kalimat akhir yang di lontarkan Ayana.
"Cerai? Ayana dengarkan aku!" Alzam menangkup wajah Ayana, meminta untuk menghadapnya, "pernikahan itu bukan mainan, Ay. Yang kalo bosen, segera di akhiri. Ini adalah penyempurna ibadah kita sebagai umat mus___"
"Penyempurna lo bilang?! Apa iya, kerena terpaksa!" tukas Ayana sambil menepis tangan Alzam.
"Allah sudah memberikan jalan untuk setiap hamba Nya. Jika kamu bukan jodohku, anggap aja pernikahan ini hanya sekolahmu untuk menjadi wanita yang lebih baik. Namun, jika kamu adalah jodohku, belajarlah untuk mencintaiku karena-Nya,"ucap Alzam dengn sura yang melamah. Sampai akhirnya dia kembali melajukan mobilnya.
Kini hanya keheningan yang menyelimuti mereka, hingga sampai di apartemen.
***
Ayana bersiap siap untuk berangkat sekolah. Jam sudah menunjukan pukul setengah tujuh. Ia kesiangan. Ya bagimana tidak, habis solat subuh tadi ia kembali tidur. Dan sialnya Alzam tidak membangunkannya. Sejak kejadian semalam, Alzam lebih banyak diam. Lelaki itu hanya bicara sekali tadi saat membangunkannya solat subuh. Apakah ia masih marah soal perkatanya semalam?
Dia sudah keterlaluan, ya?
Bodoamatlah. Sekarang ia harus bergegas ke sekolah. Untunglah motor kesayanganya sudah datang. Ya, semalam dia menyuruh temannya (yang pasti bukan Sarah ataupun Kayla) untuk mengantarkan motornya ke basment apartemen.
Gadis itu mencari dimana keberadaan suaminya. Nihil. Di setiap sudut apartemen ia tidak menemuakan dimana keberadaan Alzam. Sampai akhirnya dia memutuskan duduk di meja makan untuk sekedar makan roti. Ia melupakan bahwa ia akan terlambat ke sekolah.
Di ambilnya dua helai roti, lalu beralih meraih selai coklat kesuakaannya. Namun secarik kertas di bawahnya menghentikan niatnya. Ia mengambil kertas itu.
Maaf aku nggak bangunin kamu tadi. Aku ada kuliah pagi. Jangan lupa sarapan, aku udah bikinin nasi goreng. Ingat sepulang sekolah harus sudah di apartement. Jangan keluyuran! Sekali lagi aku minta maaf. Assalmualaikum~Alzam.
Seutas senyum tipis terbit di bibirnya. Entah mengapa ia senang. Tenyata lalaki itu masih peduali padanya. Mungkinkah dia sudah tidak marah lagi padanya? Mata Ayana menangkap sepiring nasi goreng yang tergeletak di meja yang sama. Ah, ia tidak menyadarinya. Mungkin ia akan memakannya siang nanti. Sekarang ia harus sampai ke sekolah. Ya meski terlambat.
***
Ia menyapu keringatnya yang bercurur membasahi pelipisnya."Gila, cape banget. Tega banget dah, bu Diar,"gerutu Ayana merutuki guru BK nya yang menghukum tidak kira kira. Bayangkan saja dia harus membersihkan semua toilet wanita yang ada di sekolah ini. Dan bodohnya ia tetap melakukannya. Bisanya dia akan kabur ke kantin jika mendapat hukuman.
Gadis itu menghempas sikat WC dengan asal. Setelahnya dia langsung melarikan diri. Kemana lagi kalo bukan kantin.
"Mang, es jeruk satu sama bakso juga, ya!"
"Siap, Neng."
"Ay, tunggu di sana, ya Mang." Ia berkata sambil menunjuk meja yang ada di pojokan.
Penjual kantin yang di panggil 'Mang' olehnya nampak mengangguk sambil memasukan es ke dalam blender.
Ayana berjalan ke arah meja yang di tunjuknya tadi. Tak di sangka ada manusia lain di meja yang di tunjuknya tadi.
"Eh ... Ayana, lo gak masuk kelas?" tanya salah satu dari meraka.
Salah besar. Ayana memilih meja ini. Elang dan dua antek anteknya: Satya dan Arda juga ada di sini. Membuat selera makannya hilang saja. Kenapa tadi ia tidak melihat tiga anak tengik ini? Sial! Ayana memutar matanya jengah.
"Gak!" jawab Ayana ketus lalu melenggang pergi dari sana.
Sambil berjalan, ia berteriak pada pedagang kantin tadi,"Mang, pesenannya buat nanti aja ya! Ay, mau ke kelas dulu!" Mamang penjual merespon dengan acungan jempol.
Istirahat akan datang satu jam lagi. Ayana memutuskan untuk ke kelas saja. Ia akan ke sini lagi bersama sahabatnya nanti saat istirahat.
Jam istirahat pun telah tiba. Seperti yang Ayana katakan tadi, ia kembali ke kantin bersama sahabatnya. Ia langsung mengambil pesanannya, sedangkan kedua sahabatnya memesan makanan.
"Gue duluan, ya." Ayana lebih dulu berjalan ke arah meja kosong yang di lihatnya tadi.
Baru saja ia mendudukan bokongnya. Tiga anak tengik yang di temuinya tadi menghampirinya.
"Apa?" tanya Ayana malas.
Elang meletakan amplop coklat di meja."Malem ini gue tunggu di tempat biasa,"katanya dengan senyum menantang.
Ayana menatap amplop coklat itu dengan tajam, lalu mendongok."Maksud lo apa?!"tanya nya dengan emosi. Dia merasa di permainkan oleh lelaki ini.
"Gue nentangin lo buat balapan liar malam ini."
"Gue tau," Ayana mengambil amplop yang ia tau pasti isinya tidak lain dan tidak bukan adalah uang. Maksudnya apa coba? "Ini maksudnya apa?!" tanya nya sambil memperlihatkan amplop tadi tepat di depan Elang.
"Kalo lo menang, duit itu bakal jadi milik lo...," Elang berdehem,"...tapi kalo gue yang menang, lo harus nurutin semua kemauan gue,"lanjutnya dengan menarik sebelah sudut bibirnya.
Ayana terenyum sinis."Sory, tapi gue bukan penjudi. Jadi, ambil aja tuh duit! Gue nggak butuh!" ketus Ayana lalu kembali melanjutkan makannya yang tertunda.
Lelaki itu kembali mengambil uangnya."Oke, jadi deal. Kalo lo kalah lo harus nurutin semua kemauan gue, gimana?"sambil menyodorkan telapak tangannya.
"Oke, liat aja nanti," tantang Ayana tanpa niatan menyambut telapak tangan Elang.
Elang menarik kembali tangannya. Dia tersenyum sinis, lalu pergi meninggalkan Ayana tanpa permisi.
Tak selang lama, sahabat Ayana datang dengan membawa makanan masing masing.
Ayana menatap keduanya kesal."Lama lo pada!"
"Sumpah, ini kantin apa tempat konser?! Rame banget dah," gerutu Kayla lalu menyantap pesananannya.
Sarah dan Ayana diam. Namun sedetik kemudian Kayla menggeprak meja. Sontak saja membuat keduanya tersendak, karena terkejut.
"Lo, utang penjelasan sama gue," ucap Kayla pada Ayana dengan tatapan mengintimidasi.
Sarah ikut menimpali,"Gue juga."
"Nggak penting! Udah lah, jangan di bahas lagi," jawab Ayana tanpa minat. Ia belum siap memberitaukan semua nya pada sahabatnya. Ia hanya butuh waktu!
Kedua gadis itu mendengus sebal.
'Maafin gue Sar, Kay. Ini bukan saatnya kalian tau kebenarannya,' batin Ayana berucap meresa bersalah.