AKHI ILOVE YOU

AKHI ILOVE YOU
BAB 17: Rasa Ini



Suara binatang malam mulai bersautan. Cahaya rembulan yang hadir di malam ini, semakin indah di temani kemerlapnya bintang. Angin malam berhembus menyibakan helaian rambut, Ayana.


Tatapan sendunya menatap sang rembulan yang indah di sana. Bibirnya mengukir seutas senyum tipis ketika menatapnya. Memorinya berputar kembali pada kejadian 11 tahun yang lalu. Kejadian yang merenggut kedua nyawa orang tuanya. Sangat menyiksa jika mengingatnya.


"Papa, mama sekarang Ayana sudah menikah. Tapi Ayana nggak ingin pernikahan ini terjadi. Ayana nggak cinta sama lelaki itu. Apa yang harus Ayana lakukan, pa, ma? Ayana takut, jika lelaki itu meninggalkan Ayana. Tapi ayana nggak mencintainya,"tak terasa buliran bening mulai membasahi kedua pipinya.


"Siapa yang akan ninggalin kamu?"


Deg


Nafasnya tercekat seketiaka mendengar suara berat itu. Bodoh! Apa lelaki itu mendengar semua gumamannya? Sekarang ia terlihat sangat lemah di hadapan Alzam. Sebiasa mungkin ia menetralkan dirinya yang terkejut.


Gadis itu berbalik. Lagi lagi ia harus terkejut karena Alzam yang berdiri persis di belakangnya. Dan itu membuat jarak keduanya sangat dekat. Menyadari itu Ayana langsung mundur. Namun tubuhnya yang berada persis di pembatas balkon, membuat dirinya hampir jatuh.


"Astagfirullah Ayana, nanti kamu jatuh," Dengan tiba tiba, Alzam menarik tubuh Ayana ke dalam pelukannya.


Deg


Jantung Ayana berdesir hebat. Aroma teh dari lelaki itu sangat menenangkan. Dekapan yang hangat ini, membauatnya enggan untuk melepas kenyamanan ini. Sekarang ia benar benar takut. Takut, jika tiba tiba lelaki ini meninggalkannya.


Tanpa ia sadari air matanya lolos begitu saja.


Alzam melepas pelukannya, ketika mendengar isak tangis gadis itu."Kenapa kamu menangais?"tanya nya sambil menghapus jijak air mata istrinya.


Dengan capat Ayana mengusap matanya yang basah."Siapa yang nangis? Gue nggak nangis," sangakalnya. Sekarang ia merasa begitu lemah di hadapan suaminya. Ia benci itu!


"Beneran?" Alzam menatap curiga,"Lalu tadi kenapa matanya basah?"tanya nya mengintrogasi.


"Kelilipan!" saut Ayana ketus lalu berbalik membelakangi Alzam.


"Apa kamu sudah solat isya?" tanya Alzam masih di posisi yang sama.


Ayana menggeleng.


"Ayo kita solat berjamaah!"


"Lo duluan aja."


"Tapi aku maunya berjamaah___"


Ayana berbalik menatap suaminya yang menggantung ucapannya. Ia menaikan sebelah alisnya melihat lelaki itu yang tersenyum aneh padanya.


"___sama kamu," lanjutnya


Ayana membulatkan matanya. Takjub. Ia begitu takjub ia mengira suaminya ini lelaki yang kalem, anteng, lempeng kayak jalan tol. Ternyata bisa menggombal juga. Begitu yang ada dipikiran Ayana.


"Wah... dah pinter gombal nih ceritanya," ucap Ayana sambil bersedekap seolah menantang.


"Gombal? Hahaha ... siapa yang gombal, Ayana?"


"Lo."


"Aku nggajakin kamu, bukannya gombal, hahaha ... kamu ini ada ada aja."


"Oh."


"Udah, ayo solat!"


"Nggak mau," tolak Ayana lalu melenggang pergi masuk kedalam apartemen.


Alzam menghela nafas berat.'Aku nggak akan ninggalin kamu, Ay' batin nya sambil menatap puanggung Ayana.


Sebenarnya saat Ayana mengatakan itu tadi. Ia sudah berada persis di belakang Ayana. Dan secara tidak sengaja ia mendengar dengan jelas setiap kata yang di ucapkan Ayana. Ia senang istrinya mulai menerima kehadirannya. Namun juga ia kecewa. selama ini dia sudah membuka hati bahkan mungkin dia sudah mencintai istrinya. Namun apa yang ia dapatkan, ternyata Ayana masih belum mencintainya. Oke! baiklah! ia harus lebih semangat untuk meluluhkan hati istrinya.


Lalu mengikuti Ayana yang telah masuk lebih dulu.


Namun senyumnya terbit kala melihat Ayana yang sudah menggunakan mukena. Wajahnya yang basah terlihat sangat cantik di bawah cahaya lampu.


Alzam tersadar.


"Aku mau ambil air wudu dulu. Ingat jangan solat dulu sebelum aku selesai!" peringat Alzam sebelum masuk ke kamar mandi.


"Iya, bawal banget dah."


Tak lama Alzam keluar dari kamar mandi dangan wajah yang basah. Lelaki itu mengambil posisi di depan Ayana sebagai imam.


Keduanya pun melaksanakan solat isya dengan khusyu. Setelah selesai, di lanjutkan dengan doa dan Alzam yang berzikir. Sedangkan Ayana hanya menyimak, sambil terus menatap punggung Alzam yang nampak khusyu berzikir.


"Kyyaaaaa!!" teriakan Ayana menggema berbarengan dengan lampu di kamar ini yang mati. Rasa takut akan kegelapan seketika datang menghampirinya.


"Ayana, ada apa?"


Tanpa menjawab pertanyaan suaminya. Ayana langsung memeluk tubuh itu erat.


"Jangan pergi, hiks ... hiks gue takut,"


"Sudah, nggak papa, jangan nangis. Sebentar aku akan cari baterai dulu"


"Nggak, hiks hiks gua takut, please jangan pergi, hiks hiks"


"Iya, aku nggak akan pergi" Alzam mengelus punggung istrinya yang berada dalm dekapannya. Pelukan ini, persis seperti saat pertama kali Ayana memelulnya di rumah kosong saat itu. Jadi, gadis ini takut akan kegelapan.


"Sepertinya ada kesalahan teknis," gumam Alzam menerka nerka penyebab listrik mati.


"Hiks hiks, mama papa Ayana takut, hiks hiks"


"Sudah, jangan nangis"


Alzam mengelus kepala Ayana yang masih terbunggus mukena. Mencoba memberi ketenangan pada gadis ini.


Hingga samapi 30 menit listrik belum juga menyala. Alzam masih berjaga, dengan posisi yang tidak berubah. Yaitu memeluk Ayana yang sudah terlelap.  Terbukti jika gadis itu sudah lebih tenang.


"Aku sayang sama kamu Ayana. Entah apa yang membuatku bisa jatuh hati padamu. Mungkin kamu orang yang apa adanya, tidak menutupi keburukan keburukan kamu, dengan bersifat munafik. Aku janji akan membuatmu juga mencintaiku apa adanya, Ayana," gumam Alzam lalu mengecup puncak kepala Ayana. Entah sejak kapan rasa ini ada. Namun yang pasti ia sudah memantapkan hati untuk membuat istrinya juga mencintainya.


Di kegelapan, nampak bibir Ayana tertarik membetuk senyum tipis setelah Alzam selesai bergumam. Entah dirinya sadar atau hanya sekedar bermimpi.


Talk


Setelah sekian lama lampu pun menyala. Namun tidak sedikitpun mengusik gadis yang terlelap itu. Kini Alzam sudah bisa melihat wajah cantik istrinya dari cahaya lampu yang ada.


Perlahan tangannya bergerak membuka mukena yang masih menempel di tubuh Ayana. Setelahnya, lelaki itu memindahkan tubuh gadis itu ke atqs ranjang. Menarik selimut lalu membalutkan pada tubuh gadis itu.


"Aku akan selalu menjagamu, Ayana" ia berkata lalu memcium kening istrinya sebelum beranjak dan hendak membereskan tempat solatnya tadi.


Namun tangan mungil itu menghentikan niatnya.


"Mama, papa jangan tinggalin Ayana. Ayana takut, jangan pergi" gumaman itu terdengar sangat memilukan di talinga Alzam. Lelaki itu berjongkok kembali, dan menyeka keringat dingin yang bercucur di dahi Ayana.


"Jangan pergi, jangan Ayana takut. Mama papa temenin Ayana" cekalan gadis itu pada tangannya semakin erat. Wajahnya pun semakin berkeringat. Sepertinya gadis ini mimpi buruk.


Alzam naik ke tempat tidur, dan berbaring di sisi Ayana. Ia menarik tubuh istrinya dalam pelukannya. Mengelus punggung itu, hingga tenang.


"Sssttt, aku nggak akan ninggalin kamu," Dan benar saja, Ayana mulai terlelap dengan nyaman di pelukannya. Seakan tidak ingin kehilangan, Ayana juga membalas pelukan Alzam. Hingga senyum pun terbit di wajah pria itu.


Tak lama Alzam pun mengikuti jejak Ayana ke dunia mimpi.


***


Entah apa yang membuat Ayana bangun lebih cepat dari bisanya. Padahal azan subuh belum berkumandang. Kedua matanya mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina nya.


Tunggu kenapa perutnya terasa ada yang menimpa. Ayana meraba perutnya sediri. Tangan. Tangan siapa ini? Ayana berbalik, dan...


"KYYYAAAAAAA!!!"