
Seperti yang dokter katakan waktu itu. Usia Safira tidak akan lama lagi. Safira malang kini masih berbaring di brankar nya. Secercah harapan selalu ia panjatkan agar bisa sembuh dari penyakitnya. Namun semua hanya tinggal harapan. Mungkin takdirnya sudah tertulis sepeti ini. Ia akan ikhlas menjalaninya.
Namun tidak dengan adiknya, Elang. Lelaki itu selaku berharap agar kakaknya bisa sembuh. Ia yakin seratus-persen bahwa kakaknya bisa sembuh. Bahkan ia selalu menyangkal diaknosis dokter. Lelaki itu akan marah jika dokter mengatakan "umur kakaknya tidak lama lagi".
Sudah seminggu ia tidak sekolah. Ia sudah tidak peduli apa pun lagi sekarang. Yang Elang peduli sekatang adalah keadaan kakaknya dan kesembuhannya. Bahkan ke sehariannya hanya ia lalui di rumah sakit bersama dengan kakak tercintanya.
"Makan dulu kak" Elang yang baru kembali dari kantin membawa makanan untuk kakak nya.
Safira tersenyum."Kamu nggak sekolah lagi?"
"Buat apa gue sekolah kalo keadaan lo kayak gini kak,"Elang menjawab sambil menyiapkan makanan yang di belinya tadi.
"Tapi masa depan kamu masih panjang, Elang. Buat apa kamu membuang buang waktu mu hanya untuk menunggu orang yang akan datang ajalnya,"ujar Safira terkekeh miris.
Elang menatap Kakaknya tajam. Ia paling tidak suka mendengar orang berkata seperti itu.
"Gue pikir lo orang yang ahli agama, Kak. Lo ngomong kayak gitu, emang lo siapa, Kak? Lo nggak lebih dari manusia biasa. Lo bukan Tuhan yang tau segalanya tentang hidup dan mati Kak." Tatapan Elang pada Safira mulai melembut"gue emang cowok nakal, berandalan, nggak tau ahlak. Tapi gue lebih percaya sama Tuhan, ketimbang diaknosis dokter b*doh itu. Jadi jangan pernah lo ngomong kayak gitu, yang seolah lo itu Tuhan yang tau segalanya tentang hidup dan mati lo. Gue nggak suka!"
Safira mematung beberapa saat."Elang..."panggilnya dengan nada bergetar hebat. Matanya memerah tergenang air yang jika di kedipkan sekali pasti akan langsung jatuh.
Elang menatap kakaknya yang terlihat ingin menangis."Lo kenapa? Gue minta maaf kalo kata kata gue nyakitin lo. Gue---"
Elang urung melanjutkan perkataannya karena terpotong ucapan kakak nya.
"Kamu sudah dewasa aku bangga sama kamu. Kamu sudah lebih berpikir jernih. Tetaplah jadi Elang yang seperti ini jangan berubah!"lolos sudah air matanya. Entah ia masih bisa atau tidak melihat pertumbuhan adiknya yang semakin dewasa. Dia bangga itu.
"Gue nggak suka liat lo nangis kayak gini. Jelek tau, udah ah mau makan aja banyak drama,"ucap Elang mencairkan suasana. Ia tau betul bagaimna perasan kakak nya saat ini.
Tentang perasaan. Elang jadi ingat kejadian tempo lalu. Diama ia bertemu dengan lelaki yang selama ini di suaki oleh kakaknya pergi bersama teman sekolahnya. Bahlan ia sangat yakin betul bahwa kedua orang itu memiliki hubungan yang spesial.
Yang sekarang menjadi pikirannya adalah bagaimana jika kakaknya tau kalau mereka memiliki hubungan spesial? Ia tidak mau kakaknya tambah drop jika tau hal itu.
Elang melamun memikirkan bagaiman caranya agar kakaknya tidak bisa tau soal semua ini. Hingga ia tersadar ketiak tangan nya di tepuk oleh kakaknya.
Lelaki itu menatap kakaknya iba. "Maaf gue ngelamun, makan dulu ya, gue suapin."
Safira mengangguk sambil tersenyum tipis.
Elangpjn menyapi kakaknya dengan telaten. Tatapannya selalu sendu pada wanita yang selama ini menjaganya itu. Ia tidak akan sanggup jika harus kehilangannya.
"Kak, lo mau nggak jalan jalan. Keliling taman gitu. Lo nggak pernah keluar, nggak sumpek apa?" ujar Elang seusai menyuapi Safira.
Safira tersenyum lalu mengusap rambut adiknya."Kalo kamu yang ngajak kakak nggak akan nolak,"
Elang tersenyum riang. Lelaki itu berjalan mengambil kursi roda dan meletakan di samping brankar. Ia membantu kakak nya untuk duduk di kursi roda.
Elang mendorong kursi roda keluar ruangan dengan semangat. Hingga sampai di tamana rumah sakit ia menghentikan nya.
Ia duduk di kursi besi putih, tepat di samping kursi roda kakaknya.
"Kak, kok gue jadi kangen masa kecil ya?" Memorinya melayang pada kehidupan masa kecilnya yang selalu ia habiskan bermain di taman bersama kakaknya. Ia rindu itu.
"Aku juga!"jawab Safira sambil melihat kakek dan nenek tua renta yang terlihat bahagia.
Elang melirik kakak nya pun mengikuti apa yang dilihat oleh wanita itu.
"Gue yakin lo bisa sampai seperti mereka Kak,"ucap Elang seolah tau apa arti tatapan kakaknya.
"Hmm," Sagira tidak mau salah berucap lagi di depan adiknya. Jadi Lebih baik ia menjawab dengan deheman.
***
"Kamu kenapa?"tanya Alzam merasa heran dengan istrinya yang terlihat cemberut dari tadi.
Kini mereka sedang berada di balkon, duduk sambil menikmati semilir angin sore yang sejuk. Ya sejak seminggu ini hubungan mereka mulai membaik. Ayana jadi lebih banyak mengobrol dengan Alzam. Tidak seperti dulu yang jutek.
"Tante nyuruh kita buat nginep di rumahnya. Katanya mereka ada perjalanan bisnis ke luar negeri dan kita suruh nemenin Aldi," jelas Ayana dengan nada kesal.
Alzam yang melihat terkekeh karena nya."Lalu apa yang membuatmu kesal seperti ini? Bukan kah bagus menginap di sana?"tanya Alzam lagi.
Ayana menatap Alzam juga sebal. "Acara liburan gue sama sahabat gue ketunda!!"seru Ayana frustasi.
Tiga hari kedepan memang sekolah di liburkan. Ya, karena hari Jum'at besok adalah tanggal merah, dan di sekolahnya hari Sabtu libur, sedangkan hari Minggu jelas tidak masuk. Jadi Ayana dan dua sahabatnya merencanakan untuk liburan. Tapi semuanya gagal saat tadi tantenya menelpon agar ia dan suaminya menginap di sana. Jelas saja Ayana tidak bisa menolak.
"Besok! Arggh, gue pingin ke pantai, nonton bioskop, jalan jalan!" Ayana mengacak rambutnya frustasi. Sudah lama ia ingin pergi keluar jalan jalan bersama ke dua sahabatnya.
Alzam menatap istrinya bersalah. Benar juga, selama ini dia belum pernah mengajak istrinya untuk jalan jalan.
"Besok masih ada waktu, sudah ayo masuk! Hari sudah akan gelap," Biarlah ia akan memikirkan liburan nanti.
Ayana mengangguk lemas, berjalan masuk mendahului suaminya.
***
Pagi ini, Ayana tengah menyiapkan baju baju yang akan ia bawa untuk menginap di rumah tantenya. Tidak banyak baju yang ia bawa, karena memang di sana masih ada beberapa bajunya yang sengaja ia tinggalkan.
Setelah selesai menyiapkan semua bajunya. Gadis itu beranjak mencari keberadaan suaminya. Ternyata ada di dapur. Segera saja ia menghampirinya.
"Masak apa?"tanya Ayana sambil menatap Alzam yang asyik berkutat dengan penggorengan.
"Oh, ini sayur capcai kamu suka kan?"
Ayana mengangguk. Gadis itu melihat bawang yang belum selesai di potong. Entah apa yang membuat nya mendekati talenan itu. Dia langsung menggantikan aktivitas memotong bawang nya.
Alzam yang awalnya terkejut langsung mengubahnya menjadi senyum tipis. Baru kali ini istrinya ikut masak bersamanya. Tapi ia juga senang melihat perubahan istrinya yang tidak lagi judes padanya.
"Hati hati!"peringat Akzam dan di tanggapi anggukan oleh Ayana.
Ayana memotong bawang itu dengan hati hati. Ini baru pertama kali untuknya berkutat dengan alat dapur. Dulu waktu tinggal bersama tantenya dia tidak pernah ikut memasak . Jangankan memasak menyambangi dapur pun bisa di hitung jari.
"Awww!!"
Alzam menoleh mendengar pekikan istrinya. Ia kaget melihat jari telunjuk istrinya berdarah.
Alzam meraih tangan Ayana setelah mematikan kompor."Astagfirullah, kan sudah ku bilang hati hati,"ucap Alzam sambil meniup telunjuk yang berdarah itu.
"Maaf,"Ayana bisa melihat wajah suaminya yang begitu khawatir. Hanya tergores seperti ini saja sudah sekhawatir ini. Bagaimana kalau ia terkena serangan jantung?
Ayana begitu terkejut saat jarinya terasa basah. Rasa hangat menjalar dari jarinya yang di sesep oleh suaminya. Hingga pipinya terasa panas, mungkin jika ia berada di depan cermin bisa melihat pipinya yang merah. Oh, ayolah kenapa ia sekarang jadi gugup seperti ini? Ayana memperhatikan wajah suaminya yang sangat serius. Tampan. Sangat tampan.
"Gu-gue nggak papa,"ucap Ayana memecahkan keheningan yang tercipta sejak tadi. Ia buru buru menarik tangannya.
"Kalo nggak di obatin bisa infeksi nanti," Alzam menggiring istrinya ke washtafle. Ia membersihkan darah yang masih belum berhenti keluar.
Sakarang Ayana beranggapan suaminya ini akan jadi orang yang overprotektif. Lihat saja dirinya yang terluka kecil sudah se khawatir ini.
"Gue nggak papa Alzam. Jangan berlebihan deh,"ucap Ayana sedikit terkekeh melihat wajah Alzam yang begitu khawatir. Sangat berlebihan menurutnya.
Alzam hnya diam saja. Lelaki blasteran Turki itu mengambil hansaplas dan menutup luka di jari istrinya. Dengan hati hati ia menempelkan sambil meniup nya lembut.
"Apa sakit?"tanya Alzam sambil meniup luka yang sudah di balut hansaplas itu.
Ayana tersenyum geli."Gue nggak papa, Alzam. Lo berlebihan bangat, sih. Cuma luka kecil aja lo sampai berlebihan kayak gini, gimana kalo sampai serangan jantung, lo sekhawatir apa coba?"ujar Ayana terkekeh memebawangkan ke khawatiran suaminya.
"Sssttt! Jangan bicara seperti itu. Ucapan adalah do'a. Aku nggak mau kamu kenapa kanapa, karena kamu adalah tanggung jawab aku sekarang. Dan aku harus selalu melindungimu." Alzam menarik Ayana ke dalam pelukannya.
Sekujur tubuh Ayana membatu seketika. Ia bingung setiap Alzam menyentuh, menatap, memeluk-nya, jantungnya selalu terpacu dengan cepat. Apa benar dirinya terkena serangan jantung? Ah, tidak mungkin!
Gadis itu mengerjap mengumpulkan kesadarannya.
"Ih! Apaan sih, kok jadi pelukan gini. Lo terlalu lebay tau nggak?"Ayana mencubit pinggang kanan suaminya. Tidak terlalu keras, tindakannya hanya untuk menghilangkan rasa gugupnya. Jujur ia masih belum terbiasa dengan perlakuan Alzam yang hangat padanya.
"Aww! Kok malah di cubit sih?"
"Tau, ah!"
Ayana langsung berlari kecil menuju kamar nya sambil memegangi pipinya yang merah. Ia sangat malu.
Alzam menggeleng menatap kepergian Ayana. Lelaki itu kembali melanjutkan aktivitasnya.
***
vote, comment, like, and rate
see you the next part