AKHI ILOVE YOU

AKHI ILOVE YOU
BAB 18: Kesal



"Ada apa?" Ayana membuka pintu dan mendapati dua lelaki seperti kemarin. Bilal dan Ehan. Ia menatap keduanya jengah.


"Assalamulaikum, Kakak ipar," sapa Ehan sambil tersenyum jahil.


"Kakak ipar, kakak ipar gue bukan kakak ipar lo!" ketus Ayana kesal.


Sejak bangun tidur tadi ia sudah di buat kesal dengan Alzam yang dengan lancangnya tidur sambil memeluknya. Dan sekarang ia tambah kesal dengan kedatangan dua spesies manusia yang tak jauh beda dari suaminya.


"Ayana kamu nggak boleh berkata kasar dengan yang lebih tua,"


Oke, sekarang di tambah lagi dengan kedatangan suaminya yang tanpa rasa bersalah, menegurnya. Ya, memang sebenarnya tidak ada salah sesikit pun. Namun bagi Ayana itu adalah keslahan yang besar. Tidur sambil memeluknya. Cih! lancang sekali, itu yang selalu memenuhi pikirannya.


"Bodoamat!" Ayana langsung melenggang pergi keluar apartemen. Menghiraukan tatapan tidak percaya ke dua teman Alzam.


"Alzam..."


"Sudah, ayo kita berangkat, nanti telat lagi!" Alzam menatap kedua temannya yang terlihat syok dengan tingkah Ayana,"dia memang seperti itu,"katanya lalu berjalan mendahului keduanya setelah menutup pintu.


"Kasihan sekali kawan kita," ucap Ehan sambil menatap kepergian Alzam dengan tatapn kosong.


"Sudahlah, Alzam pasti memiliki cara tersendiri. Sekarang ayo berangkat!"


Keduanya pun berjalan beriringan hingga sampai di beasment apartmen.


***


Selama perjalanan, wajah Ayana hanya cemberut sambil menatap jendela. Ia masih kesal dengan lelaki di sampingnya ini.


"Tersenyum adalah sebagian dari ibadah juga. Banyak lah tersenyum pada orang lain," kata Alzam tiba tiba seteleh sekian menghening.


Ayana melirik dengan ekor matanya"Lo nyindir gue?!"


"Siapa yang menyindir kamu, aku hanya memberi tau." lalaki itu masih fokus dengan jalanan kota yang dilewatinya.


"Sama aja, kata kata lo itu nyindir gue!"


Alzam tersenyum menanggapinya, lalu berkata "Lho, buakan nya kamu lagi cemberut. Jadi itu bukan sindiran tapi pernyataan, dan itu faktanya,"


"Terserah!"


Ayana kembali seperti semula. Memalingkan wajahnya dengan segala gerutuan yang ia lontarkan dalam hati.


Alzam yang melihatpun cekikikan karena berhasil membuat istrinya kembali bicara. Ya, meskipun marah, setidaknya lebih baik daripada terdiam.


Sesampainya di sekolah Ayana, lelaki itu langsung menepikan mobilnya. Kali ini ia mengahantar Ayana sampai depan gerbang sekolah. Toh, Ayana juga tidak meminta di turunkan di pinggir jalan. Jadi tidak ada salahnya bukan? Lagian ini juga masih terlalu pagi untuk kebanyakan murid berangkat. Jadi masih sepi lah.


Ayana hendak keluar, namun Alzam lebih dulu bersuara.


"Ini, untukmu" Ucap Alzam sambil menyodorkan uang seratus ribuan pada Ayana.


Ia baru sadar, setelah sekian lama hidup bersama gadis ini, ia belum pernah memberi sedikitpun uangnya. Ah, pernah hanya sekali, dan itupun bukan untuk Ayana tapi di berikan pada pengemis. Sangat bodoh sekali ia ini. Istri sendiri tidak di beri nafkah.


Ayana menatap uang itu minat."Nggak perlu,"perkataan yang tidak sesuai dengan tindakan. Setelah mengatakan itu, Ayana langsung menyambar uang merah itu dengan ganas.


"Untuk lima hari," kata Alzam dan berasil membuat Ayana membualatkan matanya seketika. Lima hari katanya!


"Dasar cowok pelit, lo!! Udah di rumah nggak ada pembantu, dan sekarang uang saku seratus ribu buat lima hari?!" protes Ayana kesal.


"Aku hanya ingin mengajarkanmu hidup mandiri, dan mensyukiri apa yang kita punya. Lagian duapuluh ribu sehari itu banyak lho."


"Nggeh, Abang ustad yang paling tampan!" saut Ayana dengan ketus. Lalu menyaut gagang pintu mobil hendak membukanya. Namun suara Alzam lagi lagi menghentikannya.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam!"


Brak


Ayana menutup pintu mobil dengan kesal setelah menjawab salam juga tak kalah kesal. Padahal Alzam mengucap salam buanklah untuk di jawab. Tapi mengingatkan Ayana untuk mengucap salam sebelum pergi.


Setelah kepergian gadis itu, Alzam kembali menghidupkan mobilnya. Ia terkikik sendiri mengingat kekesalan Ayana yang sangat lucu menurutnya.


Ayana berjalan gotai menuju kelasnya. Tanpa sadar ada orang yang memperhatikannya sejak tadi ia keluar dari mobil. Hingga di koridor yang sepi, tangannya di tarik tiba tiba oleh seseorang.


"Apa apaan sih lo?!" bentak Ayana pada Elang yang tiba tiba menarik pergelangan tangannya.


"Lo ada hubungan apa sama orang Turki itu?" tanya Elang menghiraukan bentakan Ayana.


Ayana nampak terdiam berpikir sejenak. Orang Turki? Ah, iya!


"Gue," Ayana menunjuk dirinya sendiri dan di angguki oleh Elang,"gue mana kenal sama artis Turki, gue juga nggak ngfens sama mereka,"kata Ayana santai tanpa tau maksud dari pertanyaan Elang.


Puk


Lelaki itu menepuk sendiri jidatnya. Ternyata gadis ini tidak paham dengan pertanyaannya.


Ma*pus! Mati! Ayana nampak keningungan menjawabnya.


"Emm ... anu ... emm ... kenpa lo nanya gitu?"


Elang menatap kesal gadis di depannya.


"Oh, iya kenapa juga lo tau kalo gue dianter sama orang Turki itu. Yang nganterin gue kan nggak keluar, bisa aja dia om gue atau supir om gue, kan?"


Ayana merasa heran. Bagaimana lelaki ini bisa tau kalau ia di antar oleh Alzam. Bukankah tadi Alzam tidak ikut keluar.


Jangan salah, Alzam adalah teman kakak Elang, jadi ia sudah sangat hafal mobil yang biasa di pakai oleh teman kakaknya.


"Itu nggak penting. Lo jawab pertanyaan gue!"


"Gue sama dia nggak ada hubungan apa apa kok," jawab Ayana dengan ragu ragu.


"Gue cuma mau bilang, kalo kakak gue suka sama orang Turki itu. Gue harap lo jawab dengan jujur. Karena kakak gue lagi sakit parah, dan ia juga butuh dukungan dari dia," seteleh mengatakan itu, Elang langsung melenggang pergi meninggalkan Ayana dengan sejuta kebinggungannya.


Murid sudah mulai berdatangan. Namun Ayana masih membeku di tempat dengan kata kata Elang yang masih terngiang. Suka, sakit dukungan? Apa coba maksud dari perkataannya? Ayana masih bingung di tempat mencerna tiga kata itu. Sampai akhirnya Kayla dan Sarah datang menghampirinya. Menggetkan Ayana yang asik dengan lamunnya.


"Woy! Lo dimana mana ngelamun terus," ucap Sarah sambil menepuk pundak Ayana lumayan keras.


"Astagfirullah, Sar sakit nih pundak gue,"


Sarah menautkan kedua alisnya heran."Tumben lo nyebut," katanya dengan nada menyindir.


"Baru sadar kalo sahabat sahabat gue, pada kayak dedemit semua," cibir Ayana lalu melenggang pergi begitu saja.


"Kurang saringan lo, Ay!" teriak Sarah kesal. Sedangkan Kayla mengernyit bingung dengan ucapan Sarah.


"Kurang saringan itu apa?" tanya Kayla dengan polos.


"Tuh, mulut ngomong nggak di saring dulu."


"Yeeee, lo nggomong gitu kayak situ nggak?" sama seperti Ayana, Kayla langsung melenggang pergi meninggalkan Sarah yang kemarahan sudah di ubun ubun.


"Awas lo Ay, Kay!!" teriak Sarah kencang, sampai sampai siswa siswi yang melintas menutup telinganya penging.


***


Kini kekesalan Ayana sedikit berkurang, karena suaminya menjemput tepat waktu. Namun tidak membuat kekesalannya hilang tentang kejadian tadi pagi. Gadis itu masuk, dan seperti tadi ia menutup pintu mobil dengan kasar. Hingga Alzam yang didalam tersentak karenanya.


"Astagfirullah, apa tidak bisa pelan pelan?" Alzam mengelus dadanya karena tekejut.


"Kagak!"


Alzam menggeleng, sebelum kemudian melajukan mobilnya. Untung sekolah sudah lumayan sepi, jadi Ayana tidak terlalu menjadi pusat perhatian. Dan kedua sahabat Ayana juga sudah pulang. Untuk sekarang dia masih aman. Tapi tidak tau untuk hari selanjutnya.


"Kamu masih marah sama aku?" tanya Alzam sambil melirik kilas Ayana yang masih terlihat kesal.


"Menurut lo?!"


"Nggak," jawab Alzam seraya terkekeh. Dan berhasil membuat Ayana tambah kesal.


"Nah, itu lo tau."


"Jadi, kamu udah nggak marah?"


"Hmm ... tapi tambah marah!!" seru Ayana kesal. Bagaimana bisa lelaki ini bertanya, sedangkan dari raut wajahnya saja sudah terlihat. Bikin tambah kesal saja.


"Hahahaha"


Ayana mengernyit heran. Kenapa Alzam malah tertawa? Ada yang lucukah darinya? Persaaan tidak ada.


"Ngapain lo ketawa?!"


"Kamu ini lucu, hahaha."


"Bukannya minta maaf kek, apa kek malah di ketawain," gerutu Ayana kesal. Dan masih di dengar oleh Alzam.


Alzam tersenyum menanggapinya."Baik. Sekarang aku minta maaf karena udah ngetawain kamu."


"Terus!"


"Apa lagi, kan udah itu aja,"


"Yang tadi pagi."


"Lho, kalo itu nggak perlu minta maaf. Karena kita udah sah, jadi boleh boleh aja aku ngelakuin apa aja sama kamu," ucap Alzam sambil tersenyum menggoda.


Ayana menatap Alzam dengan wajah yang merah padam. Kesal, marah, malu dan setitik rasa bersalah berkecambuk dalam dirinya. Benar juga apa yang di katakan Alzam. Bukankah mereka sudah sah? Jadi boleh boleh saja Alzam melakukan apa pun terhadap dirinya. Namun Ayana masih belum terbiasa dengan semua ini. Jadi, jangan salahkan jika ia kesal dengan suaminya.


"ALZAM NYEBELIIIINNN!!!"