
"Kamu, kamu kenapa bisa di sini?" tanya Alzam heran.
"Gu-gue, tadi gue jalan jalan di desa ini," jawab Ayana dengan suara bergetar ketakutan.
"Kamu kanapa?" tanya Alzam lagi, tanpa niatan untuk mendekati Ayana.
Ayana berdiri dan langsung menghambur memeluk Alzam. Entah apa yang sekarang ada dipikirannya. Intinya satu, dia sangat takut dengan gelap.
Deg
Alzam terkejut dengan apa yang dilakukan Ayana. Di dalam hatinya ia terus beristigfar. Sekarang ia juga takut. Karena apa, ia takut keimanan yang telah di bangunnya runtuh dalam sekejap. Ia juga mausia normal bukan? Yang tak pernah luput dari kesalahan.
"Emm ... maaf, jangan seperti ini. Kita bukan makhrom," kata Alzam sedikit sungkan. Ia tau gadis yang memeluknya ini sedang ketakutan. Namun mau bagaimana lagi, bukankah tidak baik bersentuhan dengan yang bukan makhromnya?
Sontak Ayana langsung melepas pelukannya, "Maafin gue," ucapnya lirih, lalu dia kembali duduk di kursi kayu usang tadi.
Hal itu membuat Alzam menjadi merasa bersalah,"Tidak, tidak apa. Kamu tau semua orang mencarimu tadi,"kata Alzam dengan khawatir.
Ayana hanya diam, dengan wajah terus menunduk. Ia tengah merutuki perbuatannya tadi. Bodoh, bodoh! Bisa bisanya ia memeluk lelaki yang jelas bukan siapa siapanya. Tadi ia juga merasakan bagaiama tubuh Alzam yang bergetar seperti orang ketakutan saat di peluk olehnya. Arrggh!! Dasar Ayana bodoh. Pasti lelaki itu mengiranya wanita murahan.
Tak kunjung menjawab, Alzam pun kembali bertanya, "Kenapa kamu pergi sendiri?"
Ayana menatap Alzam yang masih setia berdiri jauh darinya."Temen gue nggak pada mau diajak jalan,"jawabnya kesal.
"Semuanya sudah pada pulang tadi, gima__"
"APA??!! Pulang??!!"
"Iya, bus berangkat sebelum hujan turun, tadi."
"Kok gue di__" ucapannya terpotong tak kala ada warga yang menemukan mereka.
"Hey!! Kalian sedang apa di sana?!"
Sontak keduanya menoleh berbarengan. Banyak sekali warganya. Kenapa mereka di pergoki seperi orang sedang berbuat mesum? Oh, tidak ini gawat!!
"Bawa mereka!!"
* * *
"Pak, saya tidak pernah berbuat mesum kayak gitu. Saya berani sumpah," sangkal Ayana mulai tidak sabaran. Semua warga di ruangan swrba kayu ini, terus terusan menuduhnya berbuat mesum.
"Kasus seperti kalian sudah seeing terjadi di desa ini, apalagi di rumah kosong tadi. Dan semuanya akan kami nikahkan supaya tidak menimbulkan fitnah," kata sang kepala desa.
Kedua mata Ayana langsung membulat."Menikah??!!"serunya terkejut sambil melirik Alzam yang ada di sampingnya.
"Lo kenapa diem aja?!" bisik Ayana geram.
Alzam hanya melirik dengan ekor matanya. Lalu dia berkata,"Maaf pak, bisa saya menghubungi keluarga saya terlebih dulu?"Ayana menoleh dengan sejuta keterkejutannya. Apa yang akan lelaki ini perbuat?
"Silahkan."
Setelah mendapat izin, Alzam langsung menghubungi keluarganya, terutama orang tuanya.
Ayana melirik Alzam. Lelaki itu sangat tenang menghadapi semua ini. Di lihat dari cara bicaranya pun dia terlihat biasa biasa saja. Ia heran, bisanya lelaki itu paling mudah tersulut emosi. Tapi tidak dengan Alzam. Kesabaran tingkat apa yang dimiliki lelaki ini?
"Ini, kamu hubungi keluargamu juga," kata Alzam sambil menyodorkan ponselnya pada Ayana.
"Gue nggak mau," jawab Ayana ketus.
"Kamu mau masalah ini cepat selesai atau tidak?" tanya Alzam tenang.
Ayana langsung menyaut ponsel itu, dan menghubungi om dan tantenya. Setelah merengek, dengan dengan bakatnya berakting. Akhirnya om dan tantenya mau mendatanginya. Ya kalian tau bukan, om dan tantenya super duper sibuk.
* * *
"Alzam, ada apa ini?" tanya Fatimah, umi Alzam.
"Hanya kesalah pahaman saja, Umi," jawab Alzam masih dengan mode tenang.
"Ay nggak mau nikah, Om, Tante."Ayana merengek di pelukan tantennya.
"Pak, apa tidak bisa masalah ini di luruskan saja?" tanya Ariq merasa kasihan dengan kepoanakanya.
"Maaf, tidak bisa. Karena setelah kejadian ini, mereka pasti akan menjadi buah bibir di desa ini. Jadi supaya tidak menimbulkan fitnah, maka sebaiknya kita nikahkan mereka," jelas kepala desa.
"Nggak, Ayana nggak mau! Om, Tante tolongin Ayana, hiks ... hiks."
"Ayana, dengarkan Tante! Kamu masih ingat, kan dengan satu permintaan Tante. Kamu bisa mewujudkan itu sekarang, sayang. Tante akan sangat bahagia," kata Winda sambil membelai surai hitam milik Ayana.
"Apakah para orang tua sudah setuju?" tanya kapala desa memecah keheningan.
Mereka saling pandang, para orang tua terlihat saling mamberi isyarat melalui mata. Sedetik kemudian mereka nampak mengangguk serempak.
"Baik, kata mulai sekarang,"
Ayana dan Alzam saling pandang. Namun Ayana lebih dulu membuang muka ke arah lain.
"Bu, tolong bawa pengantin perempuannya ke kamar!" perintah Kepala Desa.
Seorang wanita paruh baya yang duduk di dekatnya mengangguk."Mari Neng ikut ibu ke kamar!"ajaknya pada Ayana.
Ayana menatap tantenya sendu, dan dibalas senyuman hangat dari Winda. Dengan terpaksa Ayana beranjak dan mengikuti istri kepala desa.
* * *
Ayana duduk termenung di sebuah kasur kapuk yang sedikit usang. Beberapa saat kemudian, istri kepala desa datang dengan membawa segelas air bening.
"Minum dulu neng," katanya sembari memnyodorkan gelas yang dibawanya.
Ayana mengambil dan meminum isinya hingga tersisa setengah.
"Ibu tau perasaan kamu," ibu itu mengusap punggung Ayana,"peraturan seperti ini sudah turun temurun di tetapkan di desa kami,"katanya dengan senyum hangat.
"Ini hanya salah paham aja," ucap Ayan dengan tatapan kosong.
"Ibu tau. Neng, apapun itu kejadian ini sudah terjadi. Ibu yakin bahwa ini adalah kehendak Gusti Allah. Kamu harus sabar dan ikhlas, mungkin ini jalan Allah untuk mempertemukanmu dengan jodohmu," kata istri kepala desa sambil memnggenggam tangan Ayana.
"Ingat, tidak ada kebetulan yang sempurna di dunia ini. Melainkan takdir yang telah di gariskan oleh Sang Maha Kuasa," tambahnya sambil tersenyum hangat.
Ayana hanya diam sambil terus menunduk. Pikirannya begitu kalut. Semua yang di dengarnya hanya angin lewat yang masuk dari telinga kanan dan keluar ke telinga kiri. Namun satu kata ini mampu membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.
"Sah?"
"Sah!!"
Tak selang lama pintu kamar yang di tempatinya terbuka. Dan menampakkan sosok Alzam yang berdiri tegap di sana. Istri kepala desapun pergi meninggalkan keduanya. Kecanggungan pun menelimuti keduanya saat ini. Alzam berdiri di depan Ayana yang masih menunduk sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Bingung harus mengawali pembicaraan dengan topik apa.
"Kanapa lo mau dinikahin sama gue?" suara Ayana memecah keheningan di antara mereka.
"Ku rasa kita harus pulang. Orang tua sudah menunggu,"kata Alzam sedikit canggung, mengabaikan pertanyaan Ayana.
Ayana mengangguk lalu berjalan mengikuti Alzam. Di depan, para orang tua sudah menunggu kedatangan mereka. Ayana menatap om dan tantenya dengn mata berkaca kaca. Sedetik kemudian, ia langsung menghambur memeluk mereka.
"Om, Tante hiks ... hiks,"
"Sssttt! Jangan nangis, sudah ayo kita pulang!" ajak om Ariq.
"Sayang, kamu ikutlah dengan suamimu! Pulanglah bersamanya, ya!"
"Tante ...," rengek Ayana tanpa melepas pelukannya.
"Sayang, dengarkan Tante! Sekarang kamu bukan anak gadis lagi. Kamu sudah memiliki suami, patuhilah dia. Dia yang akan membibingmu, menjagamu dan menemanimu. Sekarang tugas Tante, dan om sudah selesai. Kamu harus jadi istri yang baik untuknya, ya. Ayana sayang, kan sama om dan tante?"
Ayana mengangguk, lalu melepas pelukannya.
"Ayana harus berjanji untuk menjadi anak yang baik nantinya, ya. Tante dan om akan sangat bahagia jika Ayana berubah." Lagi lagi Ayana hanya bisa mengangguk.
"Pulanglah bersamanya! Om dan Tante akan sering berkunjung ke tempat kalian nanti," kata Tante Winda sambil mengusap kepala Ayana sayang.
"Baiklah, mari kita pulang!" ajak
Om Ariq lalu berjalan ke arah mobilnya di ikuti olah Winda.
"Kalian berdua berhati hatilah, abi dan umi pamit dulu. Asslamualaikum," pamit abi Akbar yang di ikuti umi Fatimah.
Kini tinggallah Ayana dan Alzam yang berdiri di depan mobil sedan hitam milik Alzam.
"Ayo pulang!" ajak Alzam lalu menaiki mobilnya.
Dengan langkah berat, Ayana pun ikut masuk kedalam mobil. Pikirannya kalut, ia bingung. Apa yang harus dilakukannya setelah ini? Haruskah dia berubah seperti apa yang diinginkan tantenya? Apa dia bisa? Arrggh! Memikirkan itu membuatnya pusing.
Sekarang mobil yang di kendarai Alzam mulai melaju dengan kecepatan sedang. Keheningan menyelimuti mereka berdua. Rasanya sangat canggung. Bayangkan saja, mereka menikah tanpa mengenal satu sama lain. Ya, mungkin hanya nama saja. Selebihnya tidak ada.
Ini baru awal, mereka tidak tau apa yang akan terjadi dikehidupan mereka di kemudian hari. Hanya Allah swt yang tau.