
"Bilal, antum lebih baik pulang saja! Kasihan umi, abi nanti nyariin antum," kata Alzam sambil menepuk pundak Bilal.
"Tapi, gimana sama ukhty tadi?" tanya Bilal bingung.
"Biar ana yang kabarin keluarganya nanti, antum pilang aja dulu," Alzam berkata lagi, berusaha meyakinkan sahabatnya.
"Ya, sudah. Ana pulang dulu, kabarin ana kalo ada sesuatu,"Bilal berdiri sambil menepuk pundak Alzam.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam, hati hati."
Setelah kepergian Bilal, Alzam nampak gelisah. Ia bingung apa yang harus dilakukannya saat ini. Dokter didalam masih memeriksa seorang gadis yang di tolongnya tadi.
Gadis? Ya, tadi dia menemukan seorang gadis terkapar dijalanan, tertindih motor ninjanya. Tanpa bertele tele lagi ia dan Bilal langsung membawanya ke rumah sakit. Namun sayangnya saat ingin mencari tahu sipa keluarganya, ponsel gadis itu malah mati. Dan berakhirlah dia menemani gadis yang tidak dikenalnya sama sekali.
Apa yang harus ia lakukan sekarang? Apa harus menunggu sampai gadis itu sadar? Argh!! Dia sangat bingung.
'Ya Allah, apa yang harus hamba-Mu ini lakukan?'
Ceklek...
Pintu ruangan terbuka, ia langsung beranjak dan menghampiri dokter wanita yang berdiri di sana.
"Anda, dengan keluarga pasien?"dokter bernama tag Sarah itu bertanya.
"Saya yang menolong pasien, Dok. Gimana keadannya?"
"Alhamdulillah, pasien tidak mengalami cedera yang serius. Hanya pergelangan kakinya yang sedikit bengkak. Dan untuk luka dikepala pun tidak terlalu parah. Untung pasien mengenakan helm, kalau tidak kemuangkian akan sangat parah," jelas Dokter Sarah.
"Syukur, Alhamdulillah. Apa pasien sudah bisa dijenguk, Dok?"
"Silahkan. Saya permisi dulu,"
"Baik, Dok. Terima kasih,"
Dokter Sarah mengangguk, lalu pergi meninggalkan Alzam.
Alzam menatap pintu didepannya nanar. Apakah dia harus masuk ke dalam? Ini sudah hampir tengah malam. Bukankah tidak baik berada satu ruangan dengan wanita yang bukan makhromnya? Argh!! Tapi dia harus mencari tau siapa keluarga pasien. Bagaimana ini?
Ia menghela nafas sebelum benar benar membuka pintu putih didepannya.
'Ampunilah hamba, Ya Allah'
Ceklek...
Dia memejamkan mata sejenak, lalu masuk ke dalam ruangan, dengan hati yang bimbang.
Ia menatap gadis yang tengah berbaring itu dengan iba. Badannya yang kurus, wajah yang pucat membuatnya persis seperti mayat. Argh!! Kenapa melihat wajah itu, ia jadi merasa bersalah? Padalah ia yang menolongnya, bukan yang mencelakannya.
Ia mengusap wajahnya kasar. Kenapa rasa bersalah ini kembali menghantuinya? Sudah bertahun tahun sejak kejadian itu, rasa bersalah ini masih saja terus menghantuinya. Apalagi sekarang melihat wajah gadis itu, arrgh!! Ada apa ini? Ada apa dengan gadis ini?
* * *
Kedua mata Ayana mengerjap menyesuaikan cahaya lampu yang masuk ke retina matanya. Telinganya menangkap suara yang begitu indah didengarnya. Suara yang sangat jarang sekali didengarnya.
Ia menggeser kepalanya mencari sumber suara.
Deg
Ayana memngucek matanya meastikan apa yang dilihatnya benar atau tidak. Seorang lelaki. Siapa dia? Apa adik sepupunya? Ah, tidak mungkin, Aldi itu kan tidak bisa mengaji se indah ini. Lalu lelaki yang mengaji itu siapa? Kenapa berada di ruanganya? Kemana on dan tantenya? Tunggu tunggu, kenapa dia ada disini? Bukankah ia sudah...
"Kamu sudah sadar?"
Ayana menoleh ke sumber suara. Ia melongo terkejut melihat lelaki yang mengaji surah Ar-Rahman tadi. Tampan. Satu kata itu mampu menghipnotisnya. Wajah oriental lelaki itu membuatnya tidak bergeming menatap makhluk ciptaan-Nya yang begitu indah.
"Lo, si-siapa?" ia bertanya sedikit terbata.
"Oh, perkenalkan saya Alzam," Alzam memperkenalkan dirinya seraya mengatupkan kedua tangannya.
Ayana mengernyit heran, belum puas dengan jawaban lelaki ini.
"Semalam saya menemuakanmu di jalan, lalu saya membawamu ke sini," jelas Alzam selolah mengerti jalan pikiran gadis ini.
Ayana tersentak kaget. Bagaimana bisa lelaki ini mengerti apa yang dipikirkannya? Apa dia bisa membaca pikiran orang lain?
"Tenang saja, saya bukan peramal yang bisa membaca pikiran orang lain. Saya hanya manusia biasa," Alzam berkata lagi seolah ia tau yang dipikirkan gasis ini.
Ayana langsung menoleh. Lalaki itu berdiri sedikit jauh darinya. Dan terlihat terus menunduk, bagaiman bisa dia mengerti alur pikirannya? Biasanya orang yang bisa membaca pikiran orang lain itu dilihat dari matanya. Lalu apa lalaki ini bisa melakukan itu tanpa harus bertatap dengan lawannya? Ayana tergidik sendiri membayangkannya. Sepertinya dekan dengan lelaki ini bisa berbahaya untuknya.
"Oh, iya saya terlupa, ini ponselmu. Maafkan saya jika lancang, saya hanya ingin mengabari keluargamu, tapi ponselmu mati," Alzam menyodorkan benda pipih itu pada Ayana.
Ayana menerima ponselnya, sambil terus menatap lelaki itu.
"A-apa ada yang kamu butuhkan?" tanya Alzam sedikit ragu.
Ayana terdiam sejenak."L-lo bi-bisa kabarin om, tante gue?"tanyanya dengan suara paru.
Alzam mengangguk, lalu mengambil ponselnya di atas nakas.
"Ini, kamu tuliskan nomor keluargamu." Alzam menyerahkan ponselnya dengan wajah terus menunduk.
Ayana pun turut mengernyit heran. Kenapa lelaki ini terus menunduk? Apakah wajahnya terlalu menakutkan? Tanpa mau berpikir panjang, ia langsung mengetik beberapa angka diponsel lelaki tersebut.
* * *
"Astaga, Ay! Kamu kenapa sayang? Kenapa bisa sampai seprti ini?"
"Ay, baik baik aja kok, Tante."Ia menjawab dengan menampakan seutas senyum tipis dibibirnya.
"Kenapa bisa seperti ini, Nak? Kamu balapan liar lagi?"
Ayana tersentak dengan pertanyaan om nya. Ia melirik Alzam yang terus menunduk. Sebenarnya apa yang dilihat lelaki itu dibawah sana? Apa dia melihat berliaan yang sangat mengkilat. Sampai enggan untuk menatap orang lain disekitarnya.
Ayana kembali menatap om nya yang terlihat khawatir dan menantikan jawabannya.
"Ma-maafin Ayana om," ucapnya dengan lirih.
Ia merasa bersalah karena terus merepotkan om dan tantenya. Namun mau bagaimana lagi, hidupnya sudah hancur. Dia sudah tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini. Dan yang dia lakukanpun hanya ingin mencari sebuah kebahgian. Ia hanya butuh orang orang yang selalu dekat dan menyayanginya dengan tulus. Itu saja. Apakah itu salah?
"Makannya Kak, lo jadi cewek jangan bandel ya. Cewek cantik cantik suka pecicilan. Nggak dapet jodoh baru tau rasa lo," ucap Aldi dengan santai.
Ayana melirik adik sepupunya. Dia tau adiknya ini sedang mencairkan suasana supaya tidak tegang.
"Lo nyumpahin gue nggak dapet jodoh?! Awas aja lo, kalo gue sembuh gue tendang lo sampe ke samudra pasifik!" ucap Ayana geram.
"Coba aja kalo bisa, welk..." ejek Aldi sambil memeletkan lidahnya.
"O iya, namamu siapa, Nak?"
Perdebatan menjadi terhenti dengan pertanyaan yang dilontarkan Ariq kepada Alzam. Semuanya terdiam menunggu jawabannya.
"Nama saya Alzam, Om."
"Bisakah kita mengobrol berdua?"tanya Ariq dengan melirik Aldi dan Winda penuh isyarat.
Alzam mendongok menatap Ariq. Terkejut? Pasti. Apa yang mau mereka bicarakan? Melihat wajah Ariq terlihat serius dan penuh harap, membuatnya semakin bingung. Sebenarnya apa yang ingin Ariq sampaikan padanya?
Tak mau banyak menduga duga, akhirnya Alzam mengangguk.