AKHI ILOVE YOU

AKHI ILOVE YOU
BAB 16: Dasar Cowok Pelit!!



Bel pulang sudah berbunyi 30 menit yang lalu. Dengan jengah Ayna menunggu jemputan. Namun nihil. Kemana lelaki itu? Sudah lama ia berharap lelaki itu akan menjemputnya. Namun tidak. Sial! Jika seperti ini lebih baik ia ikut dengan sahabatnya tadi. Dalam hatinya ia terus merutuki dirinya sendiri yang begitu bodoh mengharapkan lelaki itu. Haha! Sungguh miris!


Tring


Satu notifikasi dari ponsel Ayana. Dengan cepat gadis itu langsung membukanya.


0817665xxxxx


~Ayana ini aku Alzam. Maaf aku nggak bisa njemput kamu, sepulang kampus aku mau jenguk temen aku. Sekali lagi aku minta maaf...


Bagai di sambar petir di siang bolong. Tubuh Ayana langsung lemas seketika. Harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Pupus sudah harapannya menunggu sampai 30 menit berharap lelaki itu akan menjemputnya. Ternyata tidak.


Tiba tiba terbesit dalam hatinya. Sebegitu pentingnya kah temannya di banding dirinya. Ah, memang benar bukankah pernikahan ini hanya sebuah salah paham saja? Ayana mengendikan bahunya acuh, tidak ingin memikirkan pernikahannya yang menurutnya tidak mendasar.


Sekarang ia berharap ada mukjizat yang datang adanya. Dan ya, sebuah motor yang sangat di kenalnya berhenti di hadapannya. Seseorang turun dari motor tersebut. Menghampiri Ayana dengan senyum mengembang.


"Lo belum balik, Ra?" tanya Andra lelaki yang menghampiri Ayana.


Ayana berdiri dengan semangat."Penyelamat. Kuy lah anterin gue pulang!" tanpa menunggu jawaban lelaki itu. Ayana langsung saja naik ke motor ninjanya.


Andra menggeleng melihat tinggah gadis yang selama ini menjadi sahabatnya.


Dengan senang hati Andra mengantar Ayana dengan motor kesayangannya. Di perjalanan keduanya lebih banyak diam. Hingga Andra memutuskan membuka suara.


"Tumben lo nggak berangkat pake motor?!" tanyanya sedikit berteriak.


"Masih di sita motor gue!"


"Hahaha ... puasa balapan dong nih ceritanya."


"Yee, di ketawain lagi, tebusin motor gue kek, apa kek. Beliin yang baru juga boleh."


"Makanya kalo mau jadi sok jagoan langsung aja di selcuit, jangan di jalanan. Kena imbasnya kan jadinya."


"Kalo itu mah pilihan."


"Terserah lo aja lah."


Setelah itu keduanya terdiam hingga sampai di apartemen.


Ayana turun dari motor. Lalu mengucapkan terima kasih,"Thanks dah nganterin gue."


"Kayak sama siapa aja lo. Masuk sana!"


"Iya, ati ati lo! Gue masuk dulu," Andra hanya mengangguk menanggapinya.


Andra menatap punggung Ayana hingga menghilang di balik pintu lobi. Ia menghela nafas berat sebelum kembali melajukan motornya.


***


Sesuai niatan tadi. Kini Alzam dan teman temannya berada si rumah sakit menjenguk Safira. Tak disangka, kedua teman Elang pun ada di sana. Berakirlah ruangan rawat yang tadinya sepi senyap. Kini menjadi riuh.


"Gimana keadaan Kakak?" tanya Nisa terlihat khawatir dengan wajah pucat Safira.


"Alhamdulillah, udah baikan kok Nis," jawab nya dengan menampilkan senyum tipis si bibir pucatnya.


"Syukur, Alhamdulillah."


Safira tersenyum senang melihat kepedulian teman temannya pada dirinya. Di tengah sakitnya yang mendera, setidaknya sedikit hilang dengan hadirnya mereka. Di umurnya yang tak lagi panjang, ia bersyukur masih banyak orang baik yang menemaninya.


"Alzam," panggilnya dengan suara lemah pada lelaki yang tengah mengobrol.


Alzam menghentikan aktivitasnya, dan beralih menatap yang memanggil.


"Iya?"


"Apa setelah aku sembuh nanti, aku masih bisa jadi model usaha fesyen mu?" tanya Safira. Bukan tanpa alasan ia menanyakan hal yang tidak penting ini. Ia hanya ingin melihat lelaki yang selama beberapa bulan ini mengisi lerung hatinya. Melihat wajah oriental itu membuatnya merasa bahagia.


"Tentu. Kenapa nggak? Semuanya masih berjalan seperti sebelumnya," jawab Alzam sambil tersenyum. Dari senyum itu seolah mengisyaratkan agar Safira tetap semangat.


Jantung Safira berdesir begitu melihat senyuman tulus itu. Andaikan wakunya masih lama, ia akan bertekat untuk bisa merebut hati lelaki itu. Namun apalah daya, takdir itu tidak berpihak padanya. Yang sekarang ia harapkan hanyalah mukjizat Sang Kuasa.


"Emm ... temen temen, aku pamit dulu, ya"


Ehan dan Bilal saling lirik. Lalu mengangguk, mereka tau bahwa sahabatnya ini tidak lagi single.


"Kalo gitu kami juga pamit ya, Fir," Bilal dan Ehan juga berpamitan. Nisa juga ikut, karena memang ia tadi menebeng pada dua lelaki ini.


Tak di sangka Satya dan Arda juga ikut berpamitan. Kini menyisahkan Elang dan Safira saja di ruangan serba putih itu.


Sisalah keheningan yang menyelimuti keduanya. Safira yang masih menatap kosong pintu yang baru saja di lewati teman temanya. Entah mengapa hatinya merasa sakit di tinggalkan mereka. Terutama lelaki itu.


Elang pun menyadari tatapan kakaknya. Jangan salah, ia adalah lelaki yang sangat peka terhadap orang lain. Terlebih lagi orang dekat dengannya.


Di dekatinya kakaknya yang masih termenung.


"Lo suka ya sama orang Turki itu?" tebak Elang dengan nada menggoda.


Safira langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Agar matanya tidak bertemu dengan adiknya."Nggak kok, siapa yang suka,"sangkalnya.


"Halah, nggak usah boong lo sama gue, dari cara natap lo ke dia aja udah keliatan."


"Emang keliatan banget ya?" dengan bodohnya Safira bertanya dengan wajah polos. Dan jelas saja membuat Elang tertawa lepas melihat kepolosan kakaknya.


"Jelas! Udah lah nggak usah di tutupin, gue udah tau. Pokoknya lo harus sembuh, Kak!"


"Makanya kamu jadi anak baik, doain aku biar cepet sembuh!" ucap Safira berusaha tetap tegar. Walau kenyataannya pasti akan berbeda.


"Doain nggak perlu jadi orang baik. Udah lah, mending lo istirahat. Biar cepet sembuh, terus kejar tuh gebetan lo," Elang membetulkan letak selimut yang membalut tubuh kurus kakaknya.


"Itu hanya dalam mimpi Lang," ujar Safira dengan terkekeh miris.


"Tapi gue maunya nyata," tegas Elang dengan mata tajam."Udah gue tinggal sebentar, ya,"ia mengecup kilas kening kakaknya sebelum benar benar pergi.


"Gue harap lo bisa menemukan kebahagan lo, kak" batin Elang sambil melirik kakaknya sebelum menutup pintu.


***


"Assalamu'alaikum!"


"Astagfirullah, apa yang terjadi Ayana?"


Alzam begitu terkejut saat mendapati dapur apartemenya yang penuh dengan busa sabun. Apa yang telah di lakukan istrinya? Apa dia berniat menghancurkan apartemnnya?


Ayana menatap kesal Alzam. Rasa kesal dari pulang sekolah tadi belum benar benar hilang. Dan kini melihat kedatangan lelaki itu semakin membuat kekesalannya bertambah saja.


"Apa? Mau marah?!" ketus Ayana dengan wajah menantang.


Alzam memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Seharusnya ia yang marah bukan? Kenapa sekarang malah sebaliknya?


"Kenapa bisa benyak busa kayak gini?" tanya nya masih dengan suara lembut.


Ayana menunjuk mesin cuci yang tengah menggiling baju baju kotornya di sana.


"Berapa sendok detergen yang kamu tuangin?"


"Sepuluh!" jawab Ayana masih ketus sambil memperlihatkan ke sepuluh jarinya.


Alzam tercengang mendengar jawaban Ayana. Sepuluh katanya? Yang benar saja. Pantas, semua busa busa itu sampai keluar dari mesin cuci.


"Banyak banget."


"Soalnya baju yang gue cuci ada sepuluh pasang, ya gue tuangin sepuluh sendok." dan lihatlah gadis itu dengan sangat entengnya menjawab tanpa merasa bersalah sedikut pun. Adakah yang mau bersedekah urat bersalahnya???


Entah harus bagaimana menanggapinya. Ingin rasanya ia tertawa sekarang juga. Melihat tinggah Ayana membuatnya gemas pada gadis ini. Namun ia uruangkan, melihat mood Ayana yang terlihat buruk hari ini. Ia menggantinya dengan helaan nafas panjang.


"Salah siapa lo nggak nyediain pembantu. Dasar cowok pelit!" umpat Ayana dengan kesal, lalu melenggang pergi tanpa mau bertanggung jawab atas ulahnya. Toh, itu juga bukan sepenuhnya salah dirinya.


Bukanya marah Alzam malah menatap kepergian Ayana dengan senyum geli. Menurutnya gadis itu sangat lucu jika marah.


"Ayana, Ayana."