AKHI ILOVE YOU

AKHI ILOVE YOU
BAB 19: Mall Happy Reading



Dengan seragam sekolah yang masih membalut di tubuhnya. Ayana masuk ke dalam mall besar di ikuti Alzam yang berjalan di belakangnya. Setelah perdebatannya tadi dengan suaminya. Pada akhirnya Alzam mengalah karena permintaan Ayana.


Ayana bilang jika mau di maafkan olehnya. Maka Alzam harus mentraktir semua yang ia mau. Dan dengan gampangnya Alzam mengiyakan permintaan Ayana. Hal itu pun berhasil membuat Ayana kembali dengan senyumanya. Entah apa yang di inginkan gadis itu hingga terlihat begitu senang. Alzam pun tak kalah senang melihat istrinya juga senang. 


Ayana masuk ke dalam sebuah toko pakaian anak.  Di sana ia mencomot asal baju baju berukuran lebih kecil darinya dengan antusias. Alzam yang melihatpun mengernit heran. Untuk apa baju kecil sebanyak itu dibeli olehnya? Pertanyaan itu seolah menari nari di otaknya, melihat tinggah istrinya.


Alzam mendekati istrinya, dan bertanya,"Untuk apa baju kecil sebanyak ini?"


"Mau tau aja, apa mau tau banget?" ia balik bertanya tanpa menoleh sedikit pun. Ia masih asyik menjajal setiap baju yang di ambilnya. Seolah baju itu muat di tubuhnya.


Alzam tersenyum, lalu mengacak rambut Ayana gemas."Baiklah aku tidak mau tau. Ambil lah sesuka mu," katanya membuat mata Ayana berbinar seketika.


"Nah gitu dong, jadi cowok jangan pelit," Ayana mengambil lebih banyak baju. Mulai dari baju yang kecil, sedang dan juga besar ia ambil dengan acak.


Setelah dirasa cukup, Ayana melangkah ke arah kasir sambil membawa baju yang ia ambil. Di ikuti juga oleh Alzam berjalan di belakangnya.


Sang kasir menotal seluruh belanjaan Ayana. Setelah semuanya tertotal, Alzam pun membayar seluruh belanjaan istrinya. Ayana mengambil belanjaannya setelah di kemas dalam paper bag. Ia berjalan meninggalkan suaminya yang masih menunggu bil belanjaan.


Sampai di depan toko. Tiba tiba dia di kejutkan oleh dua  sahabatnya, yang datang menghampirinya.


"Ayana, lo ngapain di sini?" tanya Kayla sambil mencincing matanya. Tidak biasanya sahabatnya ini berbelanja di mall. Apalagi yang ia tau sahabatnya ini hanya sendirian.


Ayana nampak gelagapan dengn pertanyaan sahabatnya. Sekali ia menoleh kebelakang, memastikan bahwa suminya masih di dalam. Semoga saja Alzam tidak keluar dulu. Harapnya agar rahasianya tidak terbongkar. Tolong! Dia belum siap memberitaukan pada sahabatnya.


"Helo! Ay, lo nggak papa, kan?" Kayla memetik jarinya di depan wajah Ayana. Menyadarkan lamun gadis itu.


Ayana tersadar, sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal."Hah! Iya kenapa?" tanya nya balik sambil was was menengok ke belakang.


Kayla dan Sarah menatap sahabatnya heran, lalu mengikuti arah yang dilihat olehnya.


"Uwu ... kakak tampan!" pekik Kayla histeris melihat orang yang berdiri tepat di belakang Ayana.


Sontak saja membuat gadis itu menoleh ke belakang. Wajahnya langsung pucat pasi. Pupus sudah harapannya, sepertinya ini memang sudah waktunya untuk kedua sahabatnya tau kebenarannya. Baiklah. Gadis itu namapk menghela nafas panjang sebelum kembali menatap kedua sahabatnya.


"Ada lagi yang ingin kamu beli?"


Pertanyaan Alzam padanya mampu membuat nafasnya tercekat seketika. Demi apapun ia belum siap membeberkan semua rahasia ini. Dan lihat sekarang, kedua sahabatnya melihat dengan tatapan terkejut dan penuh tanya.


"Eh! Emm ... anu, gu-gue bisa je___"


"Ay, lo...." kedua gadis itu menatap Ayana dan Alzam bergantian dengan tatapan penuh tanya dan selidik.


Alzam yang memperhatikan interaksi ketiganya pun mengerti."Sepertinya akan banyak pembicaraan. Lebih baik mencari tempat yang lebih nyaman," perkataan Alzam sukses membuat ketiga gadis itu menoleh padanya. Dia menatap istrinya, lalu mengangguk pelan.


Ayana enghela nafas penjang, sebelum menyetujui perkataan Alzam. Sepertinya memang benar apa yang di katakan oleh suaminya.


Dan di sini lah ke empatnya berakhir. Di sebuah restoran bergaya ala Jepang, mereka duduk dengan ke canggungan yang tercipta sejak tadi. Hingga Alzam membuka pembicaraan.


"Lebih baik kamu katakan sekarang. Tidak baik menutupi kebenaran terlalu lama," katanya sambil menatap istrinya yang terlihat gugup.


Ayana mengangguk, lalu menatap kedua temannya bergantian dengan raut bersalah.


"Sar, Kay sebelumnya gue minta maaf," ucapnya lirih sambil tertunduk.


Kayla dan Sarah tidak menanggapi. Mereka memlilih diam, menunggu kelanjutan sahabatnya.


"Se-sebenernya___" Ayana menoleh pada Alzam, dan seolah tau Alzam tersenyum lalu mengangguk."Sebenernya, gu-gue u-udah ni-nikah,"lanjutnya dengan wajah masih tertunduk.


Sukses. Perkataanya sukses membuat kedua mata sahabatnya hampir terlepas dari tempatnya. Dan lagi lagi hal ini terjadi, Sarah dan Kayla menggeprak meja. Membuat beberapa pengunjung menoleh ke arah meja mereka.


"NIKAH!!"


Ayana menepuk jidatnya sendiri. Ini sungguh memalukan. Ia sudah menduganya sejak tadi, oleh sebab itu ia ragu ragu jika mengatakan ini di tempat umum. Sudah pasti kedua sahabatnya ini akan bereaksi berlebihan. Dan benar, kan?!


Akhirnya dengan sesikit dongkol ia menceritakan semua awal mulanya kenapa ia bisa menikah. Dan lagi lagi kedua sahabatnya melongo tidak percaya. Huh! sudahlah, yang terpenting sekarang ia sudah menceritakan semuanya


***


Dan dengan malas gadis itu lebih memilih duduk sambil melihat etalase perhiasan tanpa minat sedikit pun.


"Ayana, kemariah!"


Dengan langkah yang malas, gadis itu menyeret kakinya mendekati Alzam. Sampai akhirnya ia mencincing mata tak kala melihat beragam model cincin di atas etalase.


"Pilihlah mana yang kamu suka,"


Ayana menatap Alzam tidak percaya."Buat apa? Gue nggak suka perhisan," perkataan santai nya mampu membuat pengunjung toko yang kebanyakan seorang wanita menggeleng kepala.


"Sudah kamu pilih saja."


Ayana melihat kilas beberapa cincin cincin itu. Lalu dengan asal ia mengambil cincin dengan model yang sederhana. Cincin itu hanya dihiasi satu permata berwarna merah. Namun hal itu malah membuat pelayan toko tersenyum.


"Pilihan yang tepat, mbak. cincin ini kuaran terbaru dari toko kami,"


Ayana hanya menanggapinya dengan anggukan malas.


"Baik, mbak saya ambil yang itu," pelayan toko itu mengangguk lalu membungkus cincin yang dipilih Ayana tadi.


Ayana memilih kembali duduk sambil menunggu Alzam yang tengah menyelesaikan pembayaran. Cukup lama ia menunggu, Alzam pun menghampirinya.


"Ayo pulang!"


Ayana mengambil barang belanjaannya, sebelum beranjak dari duduknya.


"Tementin gue ke minimarket dulu," tanpa menunggu jawaban, Ayana langsung menyeret tangan suaminya. Sedangkan Alzam hanya menurut dan mengikuti kemana Ayana membawanya.


Sampai di minimarket. Ayana langsung kalap seketika. Gadis itu mencomot banyak makanan ringan, roti, serta minuman tak lupa juga es krim tanpa memikirkan banyak harga yang di ambilnya. Toh, yang membayar juga suaminya.


Setelah trolinya terisi penuh, baru Ayana menyeretnya ke arah kasir. Alzam hanya mengikuti saja. Setelah semua belanjaan di total dan di kemas. Ayana kembali meninggalkan suaminya. Dia berjalan dengan penuh semangat keluar dari mall itu.


Namun jauh ia berjalan, tangannya terasa kaku karena mengangkat belanjaannya yang lumayan berat. Padahal ia hanya membawa sebagian, dan sebagiannya lagi ia tinggalkan untuk di bawa suaminya. Akhirnya ia memutuskan untuk duduk sejenak sambil menunggu kedatangan suaminya.


Tak lama sosok yang ditunggu pun datang.


"Kenapa berhenti?" Alzam menatap Ayana heran.


"Tunggu bentar, gue capek"


Alzam pun mengangguk dan ikut duduk di samping Ayana. Lelaki itu merogoh salah satu kantung plastik yang dibawanya. Mengeluarkan air mineral yang di beli ayana tadi.


"Ini minum dulu," Alzam menyerahkan air mineral yang telah ia buka.


Ayana langsung menyambar, lalu meminumnya dengan rakus. Sampai Alzam yang melihat pun menggeleng. Apakah se lelah itu?


"Pelan pelan saja!"


Ayana tidak menanggapi, dan terus menengkak hingga air nya habis. Lalu membuang botolnya di tempat sampah yang ada.


"Ayo!"


Ayana beranjak, mengajak suaminya untuk pergi. Tak lupa membawa belanjaannya. 


***


jangan lupa tinggalkan jejaknya dengan like, vote, dan rate.


see youuu, the next part