
"Lo mau kemana?" tanya Aldi pada kakaknya yang telah rapi dengan pakaian berandalnya.
Ayana menghentikan langkahnya, lalu menoleh padanya dengan malas."Bukan urusan lo,"jawabnya ketus lalu melenggang pergi begitu saja.
Aldi menghela nafas kasar. Ia begitu khawatir dengan kakak sepupunya itu. Ia tau hidup kakaknya sudah hancur sejak bertahun tahun lalu.
"Gue harap lo bisa segera ikhlas, Kak," gumamnya seraya menatap kepergian Ayana sendu.
Sementara ditempat lain, Ayana pergi menunggangi motor kesayangannya. Hari ini ia berniatan akan ke tempatnya biasa nongkrong. Ya begitulah dia, kesehariannya hanya dihabiskan di jalanan. Ia tau terlalu larut dalam kesedian ini memang tidak baik. Padahal kejadian itu sudah sangat lama. Namun apalah daya, ia sangat sulit menjadi orang yang ikhlas terhadap apa yang sudah dimilikinya.
Ia mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Beberapa saat kemudian Ayana telah sampai di tempat nongkrongnya. Gadis itu turun dari motornya. Tersenyum melihat dua sahabatnya yang tengah menunggunya.
"Lama lo," cibir Sarah pada Ayana yang sudah duduk di sampingnya.
"Gimana, kafenya rame?" tanya Ayana tak mempedulikan cibiran Sarah.
"Ya ... gini gini aja, kadang rame, kadang sepi," jawab Kayla dengan lesu.
"Gue, kedalem dulu," pamit Ayana.
"Kerja yang rajin, lo!" teriak Kayla memberi semangat dan di balas acungan jempol dari Ayana.
Kafe tempat mereka nongkrong adalah kafe milik keluarga Kayla. Dan selama dua tahun terakhir, Ayana bekerja di sana untung mencukupi kebutuhannya. Ia sadar diri, keluarga om nya sudah terlalu baik padanya. Dan ia tidak bisa selamanya bergantung pada mereka. Selama ini dia sudah banyak merepotkan mereka. Setidaknya dengan cara seperti ini, ia bisa sedikit meringankan beben mereka. Ya meski hanya sedikit, bahkan sangat sedikit.
Ayana bekerja sebagai pelayan di kafe milik Kayla, lebih tepatnya milik keluarganya. Di jalanan ia akan menjadi seorang yang nakal dan sulit di dekati. Namun di sini ia akan menjelma menjadi seorang ramah, dan penuh kelembutan. Mungkin orang orang tidak akan menyangka jika ia adalah gadis berandalan.
"Silahkan, mau pesan apa Mas, Mba?" Ayana menyodorkan buku menu yang di bawanya.
Salah satu dari tiga laki laki yang duduk di meja itu mengambil buku menunya. Keduanya saling bersinggung pandangan.
Deg
Jantugnnya terpacu lebih cepat saat matanya bersitatap dengan lelaki tadi. Alzam. Lelaki itu. Kenapa setiap melihatnya jantungnya selalu terpacu dengan cepat? Tidak, tidak dia tidak boleh seperti ini. Ayana langsung mengalihkan pandangannya menatap lantai.
"Lho ... dia ukhty yang waktu itu kita tolong, kan?"
Perkataan Bilal membuat Ayana menoleh menatap lelaki yang juga menatapnya. Lalu dia menampakan senyum tipisnya yang sangat jarang di tunjukan pada orang lain.
"Kamu kenal sama dia?" tanya lelaki di samping Bilal seraya meneliti penampilan Ayana dari atas ke bawah.
Alzam melirik Ayana yang terus menunduk, lalu bergantian dengan kedua temannya yang nampak berbisik bisik.
"Alzam," panggil salah satu wanita berjilbab di depan Alzam.
"Ah, iya?" Alzam menoleh ke yang memanggil. Dia nampak memberi kode lewat isyarat mata.
"Oh, iya kami pesan orange jus 5 ya, Mbak," kata Alzam pada Ayana dengan sedikit canggung.
"Ada lagi, Mas?" tanya Ayana sambil mencatat pesanan.
"Ada pesanan lain?" tanya Alzam pada teman temannya dan di balas gelengan kepala oleh mereka.
"Tidak ada, Mbak."Alzam berkata sambil menyodorkan buku menu tadi.
Sesampainya di dapur, Ayana langsung menghela nafas lega. Berdekatan dengan Alzam memang tidak baik untuk kesehatan jantungnya. Bukan hanya ketampanannya saja yang membuat jantungnya terpompa kencang. Namun juga takut lelaki itu bisa membaca pikirannya lagi. Mengerikan.
"Woy! Bengong ae lo!" sentak Sarah yang sudah di depan Ayana.
Ayana tersentak kaget,"Gila lo, nongol nggak bilang bilang," protesnya sambil menimpuk kepala Sarah dengan buku menu. Lalu melenggang pergi begitu saja.
"Kepala gue woy, main timpuk timpuk aja lo! Sakit nih!" teriak Sarah kesal, hingga seisi dapur langsung terlonjak kaget mendengar suaranya yang luar biasa membahana.
...* * *...
Sore hari, Ayana telah selesai dengan pekerjaannya di kafe. Ia memutuskan untuk mampir ke suatu tempat. Setelah membeli sesuatu di minimarket tadi. Di sepanjang jalan dia terus menyungging senyumnya. Kali ini dia melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
Beberapa menit kemudian, dia menghentikan laju motornya. Tempat ini begitu kotor dan kumuh. Banyak sampah di mana mana. Namun hal itu tidak membuatnya melunturkan senyumnya. Justru di tempat inilah ia merasa bahagia.
"Adek, adek kalian di mana? Yuhu ... Kakak dateng!" teriak Ayana dengan semangat.
Tak selang lama segerombolan anak kecil menghambur berlarian kearahnya.
"Kakak!!"
"Hey! Adek-adek apa kabar? Kangen nggak sama, Kakak?" Ayana berjongkok sambil mengusap satu persatu kepala anak kecil itu yang jumlahnya ada lima orang.
"Kangen. Kenapa Kakak jarang ke sini?" tanya salah satu anak itu.
"Kakak lagi banyak acara di sekolah, sayang," jawabnya berbohong. Sebenarnya dia hanya tidak ingin membuat anak anak ini sedih. Sudah lama memang dia tidak datang ke tempat ini. Ya sejak kecelakaan yang mengharuakannya di rawat di rumah sakit. Biasanya dia akan datang ke sini setiap dua hari sekali.
"Kak, tadi juga ada dua kakak laki laki datang ke sini,"
"Oh ya, ngapain?"
"Tadi ia ngasih makanan, mainan, terus baju buat kami," jawab anak yang paling kecil dengan antusias.
"Iya Kak, kakak tadi baik banget, terus ganteng," tambah anak perempuan yang paling besar.
Ayana nampak terdiam sejenak. Berpikir siapa lelaki yang ke sini. Sebelumnya tidak ada orang selain dirinya yang datang ke tempat kumuh ini. Sepertinya anak anak di sini begitu antusias sejak kedatangan orang itu. Siapa sebenarnya lelaki itu? Ayana melamun memikirkannya. Seperti biasa jika sudah melamun dia akan lupa dengan dunia.
"Kakak!"
"Ah, iya. Kenapa?" tanya Ayana linglung.
"Kakak dari tadi melamun."
"Ah, iya maaf - maaf. O iya ini Kakak bawa jajan buat kalian," kata Ayana sambil menyodorkan se kresek jajan yang di belinya tadi.
Anak anak itu nampak antusias menerima jajan pemberian Ayana. Hingga senyum haru terukir di bibir Ayana. Selama ini dia memang tidak bahagia karena orang tuanya pergi meninggalkannya. Namun setidaknya hidupnya masih tercukupi dan layak. Sedangkan mereka? Tinggal di tempat kumuh, makan belum tentu bisa tiga hari sekali. Jangankan tiga kali sehari, untuk bisa makan sehari sekalipun mereka sudah sangat senang. Dia bangga, meski dirinya tidak bahagia, setidaknya ia bisa memberikan kebahagian pada orang lain.
Ayana ikut bergabung menemani anak anak jalanan ini makan. Dengan canda tawa di antara mereka, membuat hari yang terasa suram menjadi berwarna. Ayana suka dengan suasana ini. Hingga ia tidak menyadari jika ada orang yang menggawasinya sejak tadi. Orang itu nampak tersenyum manis melihat Ayana dengan tawa bahagia.
"Setiap orang memiliki kebaikan tersendiri dalam dirinya, dan setiap orang memiliki cara tersendiri mengungkapkan rasa bahagianya. Ya Rabb, hadirkanlah kebahagiaan ini selalu dalam hidupnya," kata batin orang itu, lalu pergi dari tempatnya bersembunyi.