AKHI ILOVE YOU

AKHI ILOVE YOU
bab 2 : Ayana Clara Dermawan



Di sore hari yang cerah. Seorang gadis cantik duduk di balkon kamarnya memandang senja yang perlahan mulai memudar. Ia termenung dengan tatapan kosong lurus ke depan. Menerawang jauh deretan perumahan di kompleknya.


"Mama, papa, Ay rindu. Kenapa papa, mama nggak pernah dateng lagi dateng ke mimpiku? Ay, pengin meluk kalian. Ay, rindu kalian," dia berucap di barengi dengan berlian beningnya yang mulai menetes.


Dia benci mengingat itu, dia benci! Hatinya bagai di iris seribu belati ketika mengingat kejadian itu. Kenapa hukum alam terlalu kejam untuknya? Ia juga ingin seperti anak anak yang lain. Yang bisa bermanja manja dengan ayahnya, curhat pada ibunya. Dia, dia sejak kecil sudah kehilangan itu semua.


Angin dan talinya sudah pergi meninggalkannya. Kini tinggal dirinya, layang layang yang tidak berarti tanpa mereka.


"Kenapa semua ini begitu tidak adil untukku, arrghh...?!!" dia berteriak sambil meremas rambutnya.


Ayana Clara Dermawan gadis yang sejak kecil di asuh om dan tantenya. Gadis yang dulu periang, ceria sekarang telah berubah menjadi sosok yang nakal, pecicilan, berandalan, bisa di bilang badgirl. Gadis cantik nan manis yang memiliki lesung pipit di pipi kanannya membuatnya terlihat imut. Namun sayang, kelakuannya tidak se imut wajahnya.


Di asuh oleh om dan tantenya yidak membuatnya serba kekurangan. Om nya yang merupakan CEO dari perusahan besar, membuat dirinya serba kecukupan dengan materi yang melimpah. Namun semua itu tidak membuatnya bahagia, tanpa kedua orang tuanya yang menyayangi dan menemaninya.


Ia menghela nafas panjang. Andai saja waktu bisa di putar kembali. Dia tidak akan membiarkan kejadian mengerikan itu terjadi dalam hidupnya. Membuatnya menjadi sosok yang berandalan, seperti kekurangan kasih sayang orang tua. Ah, memang betul dia kekurangan kasih sayang orang tua. Ya, om dan tantenya selalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Bisa di bilang mereka hanya memberikan kebahagiaan berupa materi.


Padalah kebahgiaan yang sebenarnya itu adalah kebahagiaan batinnya yang selama berpuluh tahun tersiksa karena kehilangan kedua orang tuanya. Bahkan dirinya bisa dibilang terkena depresi hingga membuat dirinya seperti ini. Mencari kebahagiaan dengan bergaul di jalanan, menghabiskan waktu malamnya dengan berkumpul dengan teman yang, ya bisa di bilang lebih parah darinya.


Tring...


Ayana mengambil ponselnya yang baru saja mendapat notifikasi.


'Gue tunggu lo di tempat biasa. Emm...gue jadi penasaran sama kucing kecil liar yang diomongin temen gue, apa iya bisa ngalahin gue' ~Elang.


Ia membaca pesan itu, lalu tersenyum miring.


"Ngremehin gue nih orang" gumamnya sedikit kesal.


Ia mengganti piyama yang dikenakanya dengan kaos putih yang dilapisi jaket kulit hitam, bawahan celana jeans ketat yang robek di bagian lututnya, dengan alas sepatu boat hitam yang tidak terlalu tinggi, tak lupa rambut hitam curly nya yang di kuncir kuda, menambah kesan tomboy gadis yang memang tomboy ini.


Ia berjalan sambil menyambar kunci motornya yang tergeletak di meja belajar-yang sebenarnya tidak pernah digunakan untuk belajar.


"Ay, mau kemana?" tanya tante Winda. Sontak Ayana langsung menghentikan langkahnya.


Ia melihat keluarga ini tengan menikmati makan malamnya. Di meja makan itu, ada tante Winda, om Ariq, dan Aldi adik sepupunya, yang berarti anak om dan tantenya.


"Ay, mau main tante," jawabnya sambil tersenyum tipis.


Winda dan Ariq terlihat menghela nafas kasar.


"Kamu nggak mau makan dulu, Nak?" tanya om Ariq.


Ayana menggeleng cepat."Ay pamit dulu tante, om,"Ia langsung melenggang pergi tanpa menunggu jawaban dari mereka.


Winda dan Ariq menatap kepergiannya dengan perasaan iba. Mereka tau keponakannya ini masih belum ikhals betul atas kejadian yang menimpanya beberapa tahun lalu.


"Apa yang harus kita lakukan? Berbagai macam cara sudah kita lakukan untuk menyembuhkan depresinya," Winda berkata dengan lesu. Terdengar nada putus asa dari wanita paruh baya itu.


"Entahlah,"


Aldi menatap kedua orang tuanya yang terlihat kebingungan dan putus asa.


"Ayah, bunda Al tau gimana caranya supaya Kak Ay, bisa sembuh,"


Winda dan Ariq langsung menoleh menatap putra semata wayangnya yang baru menginjak kelas 1 SMA dengan penuh tanya.


Aldi tersenyum sumringah melihat kedua orang tuanya.


               *         *         *


Di tempat lain, di malam yang dingin ini terdengar sorak sorai meriah dari remaja remaja yang tengah menonton aksi balab liar yang sebentar lagi akan di mulai.


"Elang!"


"Clara!"


"Elang!"


"Clara!"


Bruuummm...bruuummm...bruuummm...bruuummm...


Asap mengepul saat kedua peserta mulai memanasi motor masing masing. Sorak sorai terdengar lebih ramai, saat seorang wanita melempar kain putih yang berdiri di antara kedua peserta.


Kedua motor ninja itu pun langsung melesat secepat kilat. Para penonton pun makin menyerukan jagoan mereka masing masing.


               *          *         *


Ayana tersenyum sinis di balik helm full face nya, manatap lelaki yang menantangnya tadi tengah fokus ke jalanan. Hingga ia tersadar motor yang melaju di sampingnya tadi sudah melesat jauh di depan sana.


'Gue bakal menangin pertandingan ini, lo liat aja'


Ia membatin seraya menancap gas dengan kecepataan di atas rata rata. Ia terus menatap motor di depannya, tanpa fokus ke jalan yang di lewatinya.


Brak!!


"Aaawww"


Motor yang di kendarainya guling. Ayana terjatuh, dengan kepala yang membentur terotoar, dan kaki yang terjepit motor ninjanya yang berat. Ia meringis kesakitan. Kepalanya terasa sangat sakit dan pening. Kakinya serasa mati rasa karena tertindih oleh motornya. Ia merasa pandanganya mulai kabur.


"Mama, papa Ay datang,"


Ia berucap sambil tersenyum, sedetik kemudian pandanganya mulai gelap, dan ia tidak sadarkan diri.


                  *         *          *


"Antum, yakin lewat jalan ini?" tanya Bilal yang tengah mengendarai mobilnya dijalan yang terlihat sangat sepi.


"Insya Allah nggak terjadi apa apa. Percaya sama Allah yang selalu melindungi hamba-Nya yang senantiasa berlindung kepadanya. Lagi pula ini hampir tengah malam. Takutnya abi, umi nyariin,"jawab Alzam yang berada di sampingnya.


Tiba tiba Alzam itu mengusap wajahnya kasar. Bilal yang mengemudikan mobilnya pun menoleh padanya, melihat kawannya yang terlihat bingung dan gelisah.


"Antum kenapa? Ada masalah?" tanyanya khawatir.


"Nggak, saya nggak ada maslah,"


'Ya Robb, kenapa rasa bersalah ini masih menghantui hamba. Jika Engkau meridhoi, izinkanlah hamba bertemu dengan keluarga itu, Ya Allah. Hamba ingin menebus kesalahan keluarga hamba'


Ia berdoa dalam hati, tatapannya menerawang jauh ke depan. Jalan yang begitu sepi, tidak ada kendaraan apa pun selain mobilnya yang melintas. Namun matanya tak sengaja menangkap sesuatu yang mengejutkan. Dengan sepontan dia menepuk bahu kawannya untuk berhenti.


"Berhenti!"


Mobil pun berhenti mendadak, tanpa mengucapkan sepatah katapun pemuda tadi langsung turun, dan melihat apa yang di lihatnya tadi dari mobil.


"Inanillahi wainailaihi raji'un"


...* * *...


Hai!!


Pada penasaran nggak nih?😁


Tunggu aku ya di bab selanjutnya!!


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya


tbc...


see you,😘