AKHI ILOVE YOU

AKHI ILOVE YOU
BAB 22 : Menginap Happy Reading!!



Sesampainya dirumah Winda. Alzam menghentikan laju mobilnya. Dia menoleh kesamping mendapati istrinya yang tertidur begitu pulas.


"Ayana,"panggil Alzam menepuk lembut pipi istrinya."ayo bangun, udah sampai!"ia mencoba membangunkan istrinya namun sama sekali todak terusik. Mungkin Ayana kelelahan, begitu pikirnya.


Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menggendong Ayana. Lelaki blasteran Turki itu keluar mobil dan berjalan ke sisi dimana Ayana duduk. Dia membuka pintu lalu membuka juga sabuk pengaman yang mengukung tubuh mungil istrinya. Perlahan tangannya mengangkat tubuh gadis itu. Seolah tanpa beban, dia berjalan ke arah pintu utama dan mengucap salam kepada sang pemilik rumah. Karena ke dua tanganya membopong tubuh terlelap Ayana, kadilah dia sedikit berteriak agar kedatanganya terdengar.


Tak selang lama pintu terbuka dan menampakan Aldi, sepupu Ayana. Remaja lelaki itu tersenyum cerah padanya lalu mempersilahkn untuk masuk.


"Kak Ayana udah persis kayak kebo beneran,"komentar Aldi melihat kakak sepupunya yang sangat pulas tertidur. Seperti mayat saja, begitu pikirnya.


"Kakak, nidurin Ayana ke kamar dulu ya," izin Alzam dan di angguki oleh Aldi. Lelaki itupun menaiki anak tangga untuk menuju kamar istrinya yang ada di lantai dua.


Aldi melihat punggung kokoh Alzam yang berjalan. Dalam hatinya dia begitu beruntung karena kakak sepupunya bisa mendapatkan lelaki yang tepat seperi Alzam. Setelah hilang dari pandangan mata, Aldi memanggil tukang kebun di rumahnya untuk mengambil barang bawaan kakak sepupunya.


Di sisi lain, Alzam membaringkan tubuh istrinya dengan hati hati. Melihat wajah yang terlihat kelelahan membuatnya tidak tega untuk membangunkannya. Setelah menylimuti tubuh mungil itu, Alzam keluar berniat mengambil barangnya dan juga barang Ayana.


Namun saat hendak menuruni tangga, ia berpapasan dengan tukang kebun yang membawa kopernya. Ya dia memang hanya memvawa satu koper, karena barang yang merwka bawa tidak terlalu banyak.


"Ini den barangnya,"tukang kebun itu menyerahkan koper kepada sang pemiliknya.


"Oh, iya terima kasih, pak"ia mengambil alih koper itu.


Sang tukang kebun pun mengangguk lalu pamit ingin kembali bekerja.


***


Matahari sudah berada tepat di atas kepala. Menandakan hari sudah siang. Kedua mata sayu yang masih terpejam, tiba tiba mengerjap tidak nyaman karena diganggu sinar surya tersebut. Setelah benar benar terbuka, ia menatap sekeliling yang terasa tidak asing untuknya. Lalu mengucek mata pelan berusaha memastika bahwa yang ia lihat benar.


Ayana terduduk dengan wajah yang sangat lesu. Dia benar benar masih mengantuk. Namun sinar surya yang begitu menyilaukan membuat matanya tetasa enggan terpejam lagi.


"Gara gara Sarah sama Kayla nih gue jadi ngantuk kan,"gumam nya kesal. Semalaman ia di ceramahin oleh kedua sahabatnya karena acara liburan mereka tertunda lagi. Akibatnya ia begadang dan pada akhirnya jadi mengantuk seperti ini.


Dulu memang ia sangat sering begadang karena keluyuran malam malam. Namun enath mengapa karena sudah lama tidak begadang lagi, rasanya seperti kagok.


Ayana menoleh saat mendengar suara decitan puntu yang terbuka. Dia melihat Alzam yang membuka pintu dan tetsenyum padanya. Lelaki itu berjalan ke arahnya dengan senyuman yang tak lintur.


Alzam duduk di tepi ranjang.


"Sudah bangun,"


Ayana hanya mengangguk. Dia melihat pwnampilan suaminya yang terlihat lebih rapi dari biadanya. Hal itu pun memunculkan banyak pertanyaan dibanaknya.


"Lo dari mana?"tanyanya penasaran.


"Ngaterin om sama tante ke bandara,"


Sontak saja jawaban itu membuat Ayana terkejut."Kenapa lo nggak bangunin gue sih?!"seru Ayana sebal.


Alzam terkekeh."Salah siapa kamu tidur seperti mayat,"ucapnya mengacak rambut Ayana yang sudah berantakan.


"Tau ah!"Ayana beranjak dari duduknya. Lalu berjalan ke arah kamar mandi.


Setelah menuntaskan kegiatannya. Dia keluar, namun sudah tidak mendapati suaminya. Ayana berniat keluar untuk mencari makanan. Perutnya sudah sangat lapar sejak tadi.


Sampai di meja makan dia cemberut. Melihat Aldi dan Alzam yang asyik bercanda dengan berbagai macam makanan tersajai di maja makan.


"Pada curang nih, gue nggak di ajak ajak!"protes Ayana kesal. Lalu berjalan ke arah kursi yang ada dan duduk dengan kasar.


"Makanya kalo tidur di kondisiin,"ejek Aldi tengah mengunyah batagor yang terlihat menggiurkan.


"Dasar sepupu sialan lo, Al!"rutuk Ayana melempar sebutir anggur kearah Aldi yang duduk bersebrangan dengan nya.


Sedangkan Aldi membalasnya dengan  juluran lidah.


"Hmm..." Ayana mulai memakan makanan yang diberikan suaminya.


"Om sama tente perhalanan bisnis kemana?"tanya Ayana di sela sela makannya.


"Amerika,"jawab Aldi singkat, padat, dan jelas.


***


Malam harinya, Ayana sudah berada di atas kasur sambil bermain ponselnya. Ini adalah malam pertama ia menginap di rumah tantenya. Rasanya pasti sangat berbeda karena sekarang ia harus berbagi kamar dengan suaminya.


Dia membuaka chatroom nya dan membaca pesan yang kebanyakan dari kedua sahabatnya yang masih terus mengomelinya. Membuatnya malas saja. Ayana melempar ponselnya ke kasur lalu merebahkan tubuhnya dengan posisi terlentang. Tangan dan kakinya dia lebarkan karena begitu malas.


Bola matanya bergerak ke arah pintu yang terbuka. Disana nampak sosok Alzam yang berdiri dengan gagah berbalut baju koko dan sarung seta tak lupa peci yang menutupi kepalanya. Ya, dia baru saja pulang dari masjid bersama Aldi tadi. Karena Ayana sedang kedatangan tamu, jadilah dia hanya malas malasan di rumah.


"Kamu kenapa?"tanya Alzam yang sudah duduk di tepi ranjang. Melohat posisi tidur istrinya yang terlihat lucu.


"Males, suntuk, bosen,"jawab Ayana dengan nada yang terdengar putus asa.


"Kalo begitu, lebih baik kamu tidur. Besok kita akan pergi ke suatu tempat,"ucap Alzam membuat Ayana penasaran.


"Kemana?"


"Pokokanya tempat rahasia."


Jawaban Alzam pun membuat Ayana mendengus kesal. Namun dia tetap mengangguk sebagai balasan. Ayana jadi tidak sabar menunggu hari esok.


Ayana terduduk dari posisinya. Matanya berkeliaran menatap setiap sudut kamarnya. Lalu menatap kasurnya. Dia terdiam perpikir sejenak, kemudian bberalih menatap suaminya yang juga menatapnya bingung.


"Emm...Zam"panggil Ayana.


"Hm?"


"Nanti, lo tidurnya di sini aja," Ayana menepuk kasur di sebelahnya yang masih cukup untuk tidur satu orang.


Jelas saja perkataan Ayana membuat Alzam tercengang sekaligus juga senang. Ia pikir Ayana sudah mulai bisa menerimanya. Dan dia senang akan itu, bagaimanapun ini adalah awal yang baik.


Alzam menganggapinya dengan anggukan.


"Oke, gue ambil bantal sama selimut dulu,"Ayana beranjak dari, berjalan ke arah lemari dan mengambil benda yang di maksud. Kemudian dia meletakkan bantal dan selimut tersebut kesisi kasur yang dia tunjuk tadi.


Setelahnya dia langsung melombat ke atas kasur menarik guling dan memeluknya.


Ayana mendongok menatap Alzam."Lo tidur yang sebelah situ ya, gue kalo tidur muter muter soalnya,"Ayana sengaja memilih tidur di samping tembok suapaya tidak jatuh karena terkadang dia tidur seperti kincir angin.


Alzam menatap Ayana terkekeh gemas. Tingkah istrinya benar benar menguji kesabarannya. Lelaki itu hanya mengangguk, lalu dia berjalan ke arah kamar mandi untuk mengganti bajunya dengan baju tidur.


Setelah selesai, ia kembali berjalan ke arah ranjang. Disana nampak Ayana yang sudah tertidur pulas. Ia tersenyum, lalu naik ke sisi kasur yang tersisa. Memandang wajah istrinya yang terlihat begitu damai.


Alzam mendekatkan wajahnya, lalu mengecup kilas kening Ayana." iyi geceler karım," ucap Alzam setelahnya, kemudian berdoa dan mengikuti jejak istrinya ke alam mimpi.


***


Note:


iyi geceler karım \=> bahasa Turki: selamat malam istriku.


Jangan lupa vote + comment + like + rate.