
"Adek-adek, yuhuuuu!! Kakak dateng, kalian dimana?!" Ayana berteriak tanpa menghiraukan suaminya yang sedang kesusahan membawa semua belanjaannya.
Tak lama segerombolan anak kecil keluar dari sebuah gubuk kumuh yang ada di tempat ini. Anak anak kecil itu berlarian ke arah Ayana. Gadis itupun jongkok untuk menjajarkan tingginya dengan anak kecil itu.
"Heii! Apa kabar, hmm?" Ayana mengelus salah satu anak kecil di hadapannya. Bahkan Alzam yang ada di belakangnya pun terenyuh mendengar suara istrinya yang begitu lembut itu.
"Baik, kak. Kakak gimana, sudah lama kakak nggak dateng?" Anak yang paling besar disana nampak cemberut karena sudah lama tidak berjumpa dengan nya.
"Hehehe, maaf kan kakak ya, akhir akhir ini kakak ada banyak kegiatan," alibi Ayana sambil menunjukan cengiran khasnya."oh iya kakak bawa sesuatu buat kalian," Ayana menoleh kebelakang, yang membuat para bocah kecil itu mengikuti nya.
"Kakak tampan!" celetuk anak paling besar di sana dengan mata berbinar.
Ayana menatap suami dan bocah perempuan itu bergantian.
"Assalamualikum, kalian masih ingat sama kakak ternyata,"
Ayana semakin mengernyit heran melihat interaksi dua orang itu.
"Masih dong, kak."
"Kalian kenal sama kakak ini?" tanya Ayana sambil menunjuk Alzam.
"Kenal lah kak. Orang kakak tampan ini yang waktu itu ngasih baju, sama makanan buat kita. Kakak sendiri, kenal juga sama kakak tampan"
Pertanyaan itu membuat Ayana nampak gelagapan. Masa iya dia harus mengatakan kalau Alzam adalah suaminya. Ah, tidak tidak bisa di goda habis habisan ia sama anak anak. Ayana melirik Alzam meminta bantuan. Namun sayang yang dilirik malah mengangkat sebelah alisnya tidak paham. Tidak bisa di andalkan.
"Kakak pacaran ya" sudah pasti yang mengatakan ini adalah anak yang paling tertua di sini.
"Eh! Ng-nggak ko...emm, udahlah kalian pada mau jajan nggak?" dalihnya mengalihkan pembicaraan.
"Mau!!" jawab semuanya dengan serentak.
Hal itu pun membuat senyum senang tercetak di wajah Ayana maupun Alzam. Lalu keduanya membagikan semua belanjaan tadi sama rata. Senang rasanya bisa berbagi dengn sesama seperti ini.
Melihat orang lain tertawa bahagia, membuat hatinya ikut bahagia.
Tanpa mereka sadari, seseorang telah mengikuti mereka sejak keluar dari mall tadi. Orang itu menyeringai sinis melihat sepasang sejoli yang tertawa bahagan itu.
"Lo ternyata bohongin gue kucing liar. Maaf kalo gue nyakitin lo nantinya," gumam orang itu lalu meniki motornya dan pergidari sana.
***
Sebuah cahaya putih yang menyilaukan mendekati seorang bocah lelaki yang juga menatap cahaya itu takjub.
Munculah sepasang pria dan wanita dari cahaya itu.
"Kalian siapa?" tanya bocah itu tanpa merasa takut sedikitpun.
"Kami adalah orang yang pernah ayah mu tabrak saat itu," wanita itu berkata seraya menyeringai lembut. Itupun membuat sekujur tubuh bocah itu bergetar ketakutan.
"Kalian mau apa? menjauhlah!" bocah itu mundur perlahan menjauhi mereka.
Saat di langkah terakhir, ia meresakan sesuatu yang sangat kuat seperti ingin menariknya. Bocah itu menoleh kebelakang. Lubang hitam yang sangat pekat. Dari situlah kekuatan besar itu berasal. Namun ia tidak peduli itu, dia kembali mundur satu langkah. Tapi sebuah kekuatan yang besar mendorongnya kembali ketempat semua. Yaitu berhadapan dengan sepasang bercahaya itu.
"Tenanglah anak manis. Kami tidak akan mencelakakanmu," wanita itu semakin mendekat kearahnya lalau jongkuk di depannya.
Tangan wanita itu seperi bergerak membelai rambut kecoklatannya. Namun tidak ada rasa apapun ketika tangan itu menyentuhnya. Wanita itu menatapnya lembut dan seperti penuh pengharapan.
"Tolong lindungi anakku! Lindungi dia! Jangan pernah tinggalkan dia! Ibu mohon, kamu anak baik. Anak ibu sangat kesepian saat ini. Sayangi dia, ibu mohon," mimik wanita itu terlihat seperti orang sedang menangis. Namun anahnya tidak ada sebutir pun air mata yang keluar.
Bocah lelaki itu nampak menatapnya bingung, heran, dan ada setitik ketakuan terhadapnya.
Tiba tiba entah dari mana asalnya. Seorang bocah perempuan muncul dengan meneriaki orang tuanya.
"Mama, Papa!!" gadis kecil itu berlari kearah dua cahaya itu.
Kedua cahaya itu nampak tersenyum pada gadis kecil tadi. Perlahan cahaya itu menghilang seperti ribuan kunang kunang yang terbang. Begitu pula dengan sosok gadis kecil yang bari muncul tadi.
"Lindungi anakku!"
"Mama, papa!"
"Lindungi anakku!"
"Mama, papa!"
Telinga bocah itu terasa berdenging, sangat sakit. Kedua kalimat itu terus berputar putar di pendengarannya. Kepalanya terasa di terjam ribuan jarum, sangat sakit. Tubuhnya serasa seperti terbakar.
"Aaarggghhh!!"
***
"Astagfirullah, astagfirullah,"
Alzam terbangau dari tidurnya dengan nafas yang memburu dan keringat dingin yang bercucuran. Berulang kali ia mengucap istigfar, karena mimpi buruk yang baru saja di alaminya. Terasa begitu nyata sekali, begitu pikirnya.
Ia melirik kasur di kamarnya. Di sana lah ia bisa melihat istrinya yang begitu damai dalam tidurnya. Wajahnya yang terang karena terpapar cahaya lampu tidur. Alzam menatapnya sendu. Dia beranjak dari sofa, berjalan ke arah istrinya. Ia jongkok di depan wajah cantik itu sambil menyibakan beberapa helaian rambut yang menutupi wajahnya. Senyum nya tercetak indah kala mengingat kembali ulah ulah istrinya ini.
Seperdetik kemudian senyumnya kembali sirna. Mangingat mimpi buruknya tadi. Mimpi yang sangat mengerikan baginya.
Kenapa mimpi seperti itu baru terjadi sekarang?
Ia masih ingat betul, setiap kata yang di ucapkan wanita dalam mimpinya. Lindungi, sayangi, jangan tinggalkan? Apa coba maksud perkatannya? Dan yang lebih anehnya lagi, mimpi ini terjadi begitu tepat, sehari setelah dia mendengar kata kata istrinya waktu di balkon.
Permintaan wanita itu juga sama seperti kata kata Ayana waktu itu. Arrgh! Ada apa ini? Kenapa sekarang ia merasa bahwa Ayana adalah anak itu? Tidak, tidak mungkin.
Tapi jika di pikir pikir, sangat kebetulan sekali. Ayana juga tidak punya orang tua. Dan lagi, Ayana juga di tinggal waktu berusia tujuh tahun. Dan itu sama persis seperti gadis kecil di foto itu. Alzam juga mendapat semua keterangan itu dari abi, dan umi yang menceritakan kejadian itu.
Atau jangan jangan... ah tidak mungkin. Ini konyol, tidak mungkin kalau istrinya adalah gadis itu. Iya kan? Alzam menggeleng menepis pikiran itu. Lelaki itu beranjak sambil meneliti jam dinding. Ternyata sudah pukul 3 dini hari. Lebih baik ia menunaikan solat tahajut lebih dulu.
Tnapa ia sadari sepasang mata sayu menatapnya yang sedang mengaji. Mendengarkan setiap lantunan huruf hijaiyah yang begitu mendayu dayu. Sangat merdu di dengarnya.
Azan Subuh berkumandang. Membuat si empu yang membaca Al-Quran menghentikan kegiatannya. Mengucap hamdallah lalau menutup kitab suci itu.
Pasti menoleh. Ayana mengawasi setiap gerakan yang dilakuakan suaminya. Dan setelah ini, lelaki itu pasti menoleh padanya. Benar, kan! Oh, ayolah kenapa jantungnya sangat berdebar seperti ini? Posisi Ayana sekarang adalah duduk, dengan muka bantalnya.
Ia melihat suaminya yang berjalan ke arahnya. Sial! Kenapa lelaki itu sangat tampan sekali pagi ini? Ah, memang benar, suaminya ini memang tampan.
"Sudah bangun?" suara itu membuat jantungnya tambah berdebaran. Sialan ini jantung! Ayana merutuki sendiri jantungnya. Padahal dulu tidak seperti ini. Kenapa sekarang jadi begini.
Alzam memetik jarinya,"Hei! Kenapa melamun?"
Ayana tersadar. Mengerjapkan matanya lalu berdehem sebelum menatap wajah suaminya.
"Kenapa?" tanya nya sedikit ketus. Sebenarnya hanya untuk menghilangkan gugupnya.
"Kenapa melamun?" ulang Alzam penasaran.
"Siapa yang melamun? Gue nggak melamun," sangkal Ayana sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Sana ambil wudhu. Kita Solat Subuh berjamaah!"
Tanpa babibu Ayana langsung beranjak dengan tergesa. Hingga selimut yang masih membalut kakinya terlilit disana.
Entah bagaimana jadinya. Kini tubuh Ayana terjatuh di atas tubuh suaminya.
Jantungnya berpacu seperti pacuan kuda. Sangat cepat, jika bisa ia ingin terbang sekarang juga. Bayangkan saja, wajahnya kini sangat dekat sekali dengan suaminya. Bahkan hidung keduanya hampir bersentuhan. Hanya tinggal 5 mm lagi.
Sungguh nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?
Wajah suaminya ini benar benar tampan. Bahkan Ayana tidak menyangka, lelaki yang dulu ia kagumi ketampanaannya dari jauh. Sekarang sudah menjadi suaminya. Helo! Sepertinya ia sudah mulai sadar, jika sudah memiliki suami.
"Ekhemm..."
Suara deheman itu menyadarkan lamun Ayana. Gadis itu mengerjap berkali kali, sebelum beranjak dari tubuh suaminya. Begitu pula dengan Alzam. Kecanggungan pun menyelimuti keduanya.
Dengan wajah menunduk, Ayana melirik suaminya dengan ekor matanya, lalu berucap,"so-sory..."
Alzam tersenyum tipis lalu mengacak rambut Ayana. Dan jelas saja hal itu membuat jantung Ayana berdetak cepat.
"Tidak apa. Lain kali hati hati. Sudah, ambil wudhu, sana!"
Ayana mengangguk, lalu tanpa menoleh pada suaminya, gadis itu langsung berlari kekamar mandi dan menutup pintu dengan cepat.
Dia bersandar di balik pintu, sambil memegangi dadanya ang bergemuruh seperti ada petir di sana. Sedetik kemudian ia tersenyum. Mengingat kembali wajah suaminya yang begitu tampan.
"Apa ini yang namanya cinta?" gumam nya dengan imajinasi yang berkelana kemana mana."gila! Lo udah gila Ayana!! Gila!!"gadis iru berjalan ke arah kran sambil merutuki dirinya sendiri.
Sebelum keluar, Ayana mengambil nafas panjang. Berusaha menetralkan dirinya agar tidak gugup.
"Biasa aja, oke! Jangan gugup! Huh!" ia menyemangati dirinya sendiri sambil melangkah keluar kamar mandi.
Dari sana ia bisa melihat Alzam yang sudah di posisinya, yaitu menjadi imam. Benar benar suami idaman. Ayana berjalan mendekat, lalu dengan segera mengenakan mukena dan memposisikan diri di belakang suaminya.
Solat pun dimulai.
Beberapa saat kemudian. Keduanya telah selesai melaksanakan kewajibannya. Seperti biasa, Alzam berzikir sedangkan Ayana hanya menyimak.
Selepas berzikir, Alzam berbalik dan duduk berhadapan dengan Ayana yang seperti biasa di dapati sedang melamun.
"Kenapa melamun terus, hmm?" Alzam menjawil hidung mungil istrinya, lalu terkekeh.
Ayana menggosok hidungnya, sambil menatap Alzam kesal.
"Ada apa?" tanya Ayana.
"Emmm," Alzam mengetuk ngetukan ternama lunjuknya di dagu, berpikir. Sekian detik kemudian, laki laki itu beranjak berjalan kearah nakas, mengambil sesuatu disana.
Ayana hanya mencincing mata, sambil mengamati apa yang di lakukan Alzam.
Alzam kembali dengan kotak merah kecil berbahan beludru. Yang bisa Ayana tebak, itu adalah cincin yang kemarin Alzam beli.
Alzam menyodorkan kotak itu pada, Ayana."Dari awal, aku belum pernah memberimu mas kwain, dan ini sebagai gantinya,"
Ayana hanya diam, sambil menatap kotak cincin itu. Tanpa minat untuk mengambilnya.
Karena tidak ada respon, Alzam membuka kotak itu dan mengeluarkan isinya. Lalu meraih tangan Ayana dan memasangkan cincin itu di jari manis istrinya.
"Aku mau, kamu selalu memakai cincin ini. Meski tidak seberapa, aku ingin kamu selalu mengingatku dimanapun kamu berada," kata Alzam sambil mengusap tangan Ayana lembut.
Ayana hanya mengangguk.
"Sini!" Alzam menuruh agar Ayana lebih dekat ke arahnya.
Seakan tersihir oleh kekuatan jahat, Ayana menggeser tubuhnya mendekat ke arah suaminya. Dalam sekejap, Alzam langsung membawa istrinya dalam pelukannya, mengecup lama puncak kepalanya yang masih berbelut mukena.
Awalnya Ayana terkejut. Namun ia berusaha menetralkan nya. Perlahan ia pun membalas pelukan hangat itu. Menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya. Menghirup aroma khas lelaki itu dalam.
Rasanya begitu menenangkan. Jika bisa, ia ingin selalu dalam dekapan ini. Dekapan yang begitu nyaman, ia ingin dekapan ini bisa selalu ia rasakan di sapanjang hidupnya.
Mungkinkah ia sudah mulai membuka hati untuk suaminya? Mungkin saja.
***
Jangan lupa tinggalkan jejeknya like + comment + rate + vote.
see youuu the next part