Akai Ito (End)

Akai Ito (End)
Empat Part A



Whenever 'm alone with you


You make me feel like I am home again


Whenever I'm alone with you


You make me feel like I am whole again


~Love Song, Adele~


Rumah sakit sangat sibuk di malam hari ini.Terdapat begitu banyak korban kecelakaan di ruang UGD yang membuat semua dokter jaga sibuk termasuk juga dengan para perawatnya.Para residen pun ikut andil dalam membantu para korban tersebut pasalnya tidak cukup dokter yang mampu menangani semua itu mengingat jam sudah menunjukkan tengah malam.Raka sibuk memeriksa para pasien itu dan memerintahkan beberapa residen dan suster untuk menyiapkan ruang operasi karena operasi darurat harus dilaksanakan untuk salah seorang korban yang menderita cukup parah. Beberapa jam kemudian keadaan ruang UGD sudah kembali stabil sementara Raka masih bergelut di ruang operasi untuk menyelamatkan salah seorang korban yang terluka cukup parah itu.


Operasi berjalan lancar dan dia memerintahkan suster dan residen yang ikut dalam operasi tersebut untuk memindahkan pasien ke ruang ICU.Sementara yang lainnya sibuk memindahkan pasien Raka membersihkan lengannya dari lumuran darah dan bergegas berganti pakaian. Di ambilnya ponsel dalam sakunya dan dilakukannya panggilan pada seseorang di seberang sana.


"Hallo..," ucapnya.


"Ya, ada apa? Loe tau ini jam berapa?"


"Sorry, gue ganggu loe. Loe sedang tidur?"


"Ya, iyalah. Ini sudah lewat tengah malam,"


"Ya, sudah kalau gitu. Tidur lagi gih, gue cumin mau ngasih tau loe kalau gue gak pulang malamini,"


"Kenapa?Ada masalah?"


"Ya, banyak korban kecelakaan yang di rawat di ruang UGD. Jadi gue harus menginap di sini untuk memantau keadaan mereka jika tiba-tiba terjadi masalah,"


"Ya, baiklah kalau begitu.Loe dokter yang hebat, ngapain loe malah milih bantu-bantu di ruang UGD. Pekerjaan disana pasti tak akanada habisnya,"


"Tapi, gue suka. Gue suka kalau gue sibuk..,"


"Gue tau alasan loe buat nyibukin diri.Sudahlah gue ngantuk nieh. Besok gue ada kuliah pagi,"


"Ya, baiklah.Tidur lagi deh. Sorry udah gangguin loe,"


*****


Usai mengganti pakaiannya, Raka memantau keadaan ruang UGD.Dan semua sudah dapat di atasi hingga sudah kembali pada keadaan stabil.Tapi, tiba-tiba seorang wanita datang dengan menggandeng seorang wanita lainnya di sampingnya. Wanita itu mengenakan kaus longgar dan jins dengan rambut yang acak-acakan. Wajahnya tampak ketakutan dan khawatir.Dengan tergesa-gesa dia membopong wanita lainnya yang mengenakan piyama biru muda.Wanita yang dibopong itu terlihat sangat pucat pasi.Keringat dingin membasahi tak hanya keningnya tapi juga seluruh wajahnya. Meskipun tak dapat terlihat dengan jelas karena wajahnya tertutupi oleh rambutnya yang terurai, tapi dapat di tebak bahwa sang wanita yang inilah yang membutuhkan pertolongan.


Wanita berkaus longgar itu meninggalkan wanita itu di tempat duduk sementara dia mengurus administrasi.Tapi, sang wanita berpiyama itu bahkan tak mampu untuk menopang tubuhnya sendiri hingga dia terjatuh pingsan.


"Astaga, dia pingsan..," seru seorang perawat.Wanita yang tengah sibuk mengurus administrasi itu pun kalang kabut tak karuan saking terkejutnya.


Sementara itu, Raka yang tengah berada di tempat perawat untuk memeriksa catatan beberapa pasien itu berlari untuk menolong gadis yang pingsan tak jauh beberapa langkah darinya itu.Di gendongnya gadis itu menuju salah satu ranjang di ruang UGD. Semua ranjang di ruang itu sudah penuh dan tak ada pilihan lain selain membawa gadis itu ke salah satu ruang inap pasien. Wanita berkaus longgar itupun hanya mengikuti kemana temannya itu dibawa dengan di ikuti pula oleh beberapa residen dan suster.Raka masuk ke ruang 205 dan membaringkan gadis itu di ranjang pasien.Di singkirkannya rambut gadis itu yang menutupi wajahnya.Dan ketika dia melihat wajah gadis itu, dahinya berkerut dan nafasnya tercekat.


"Naura...," desahnya.Setelah itu, dia pun mulai memeriksa gadis itu. Beberapa residen di suruhnya untuk memasang infuse pada sang gadis sementara Raka berbicara dengan teman Naura.


"Bagaimana keadaan teman saya dok?" Tanya sang gadis berkaus longgar.


"Sudah tidak apa-apa, sebentar lagi dia akan sadar.Dia menderita usus buntu, dan harus segera di operasi karna takutnya seperti saat ini, dia tidak akan sanggup untuk menahan rasa sakitnya," jelas Raka.


"Ah, usus buntu. Tapi, bagaimana ya, orang tuanya sedang berada di luar kota. Bukankah harus mendapat persetujuan walinya untuk melakukan operasi?"


"Iya anda benar,"


"Saya, tidak cukup berani untuk bertindak sebagai walinya. Saya takut...,"


"Masalahnya saya tidak ada biaya untuk...,"


Raka mengerti tentang apa yang hendak dikatakan gadis itu dan diapun dapat menebaknya. "Baiklah kalau begitu, saya saja yang akan menjadi walinya dan membayar dulu semua biaya operasinya," ucap Raka kemudian.


Sang gadis tercenggang tak percaya.Berulang kali dia mengucap terima kasih pada Raka serta meminta ma'af karena telah merepotkan Raka.Maklumlah, sebagai mahasiswi dia tak punya cukup uang untuk membayar biaya operasi Naura, begitu pula dengan Naura sendiri.Menghubungi orang tua Naura disaat seperti ini juga bukanlah ide yang bagus. Pasalnya ibu Naura menderita penyakit jantung, jika saja dia mendengar putrinya akan segera di operasi meskipun itu operasi ringan, ibunya pasti akan benar-benar shock dan kaget, pasalnya Naura adalah putri semata wayangnya yang sangat dicintainya. Beberapa menit kemudian Naura pun sadar.


"Kau sudah sadar?" Tanya sang gadis berkaos longgar itu.


"Hmm,," jawab Naura dengan lemas.


"Kau sakit usus buntu, dan besok harus segera di operasi,"


"Apa? Tapi kau..,"


"Tenang saja aku tak memberitahu ibumu jadi jangan khawatir,"


"Lalu biayanya...?"


"Kau tak perlu khawatir soal itu, hanya saja kau harus berjanji akan sembuh...,"


Naura mengangguk dengan lemah."Ma'af, telah membuatmu cemas..," ucap Naura dengan perasaan bersalah.


"Ya, tak apa.Harusnya kau tak sering makan pedas.Kau tahu betul bahwa perutmu tak bisa untuk itu.Awas aja kalau setelah ini kau melakukan hal itu lagi..," ucap gadis itu dengan tersenyum kecil. Naura pun tersenyum di depan gadis itu. "Oh, astaga..!!!" pekik gadis itu.


"Ada apa?"Naura terkejut.


"Gue lupa mengunci rumah kontrakan.Waduh bagaimana ini? Tadi buru-buru sih, jadi lupa..,"


"Ya sudah kalau begitu, pulanglah..,"


"Tapi, loe sendiri disini?"


"Jangan khawatir ada banyak suster yang akan menjagaku disini. Lagipula bukankah loe ada penelitian besok pagi..,"


"Iya sih. Dan gue gak bisa nemenin loe sampai loe selesai operasi,"


"Tak apa,"


"Apa perlu gue nelpon David buat ngejagain loe malam ini?"


"Gak usah. Kasihan dia akhir-akhir ini gue selalu ngerepotin dia,"


"Ya, sudah kalau begitu. Besok pagi saja gue suruh dia ke rumah buat ambil pakaian loe dan nemenin loe operasi,"


"Hmm...," ucap Naura dengan mengangguk kecil. "Clara..,"


"Ya..,"


"Thanks,"


"Loe bicara apa," ucap gadis itu sembari tersenyum dan pergi meninggalkan Naura meski masih dalam perasaan cemas.


*****