Akai Ito (End)

Akai Ito (End)
Sembilan Part B



Raka yang menyadari bahwa dugaaannya adalah benar hanya mampu terkekeh melihat ekspresi Naura. Sementara Naura menahan malu seperti kucing yang ketangkap basah mencuri ikan.


"Ucapanku benarkan?" tanya Raka lagi yang tentu saja di jawab anggukan oleh Naura. Akhirnya Naura pun mempunyai keberanian untuk menatap lelaki itu dan bertanya.


"Siapa dia?" tanyanya.


"Siapa Maksudmu?"


"Wanita itu...,"


"Minna, bukannya kamu sudah tahu namanya dari tadi,"


"Iya, aku tahu namanya. Tapi siapa dia?"


"Maksudmu?"


"Raka...maksudku siapa dia bagimu? Kenapa dia memberimu kotak sarapan? Apakah dia sering melakukannya? Apakah.....," Naura akhirnya menumpahkan banyak pertanyaan yang dipendamnya sedari tadi. Namun, pertanyaan terakhirnya tak mampu terucapkan karena Raka membungkam bibirnya dengan bibir Raka. Hingga terjadilah ciuman pagi yang cukup panjang diantara keduanya. Setelah melepas bibirnya dari bibir Naura, Raka menatap Naura namun wanita itu menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Raka untuk menyembunyikan blushing di wajahnya. Raka yang mengerti dan memahami bahwa wanita itu malu karena ciuman yang diberikannya hanya bisa terkekeh melihat tingkah lucunya.


"Hei, kenapa kamu menyembunyikan wajahmu? Apakah kamu malu?" tanya Raka yang tentu saja membuat Naura makin menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Raka dengan semakin dalam. "Hei..ayolah aku ingin melihat wajahmu...," ucap Raka sembari menarik wajah gadis itu agar menatapnya.


Raka dapat merasakan gelengan dari kepala Naura di lehernya yang menandakan bahwa wanita itu tidak mau mengikuti keinginannya. "Aku nggak mau, ini pertama kalinya, aku malu...," ujarnya lirih namun masih dapat di dengar oleh Raka.


"Ini pertama kalinya? Jadi, yang semalam kamu lakukan tidak di hitung?" goda Raka.


"Yang semalam ku lakukan adalah kecupan Ka, yang ini....kalau yang ini....,"


"Ah, pasti kamu mau bilang kalau yang ini adalah ciuman jadi berbeda dari yang semalam?" tanya Raka yang dijawab anggukan oleh Naura. "Dasar gadis polos," batin Raka melihat tingkah lucu Naura.


"Jadi, jelaskan padaku, dia siapa?" tanya Naura lagi, yang kini pikirannya kembali teringat pada persolan beberapa saat lalu sebelum fantasi ciuman Raka memenuhi otaknya dalam sekejap.


"Dia Minna, tetangga sebelah, sering member kotak makan pagi, tepatnya sejak seminggu yang lalu," jelas Raka dengan lirih di telinga Naura.


Naura kemudian menatap, Raka dan bertanya kembali. "Hanya itu...?"


"Ya, tentu saja kecuali kamu mau aku sama dia lebih.....,"


"Jangan! Jangan lebih dari sekedar itu...," ucap Naura dengan blushing di pipinya yang membuat Raka tersenyum lebar.


"Kenapa?"


"Dia cantik...,"


"Terus....?"


"Kalau kamu sama dia, aku...aku...,"


"Kamu cemburu?"


"Apa perasaan yang seperti itu di sebut cemburu?"


"Ya, tentu saja. Perasaan sakit ketika kamu melihatku dekat dengan gadis lain. Bukankah perasaan yang seperti itu yang mau kamu katakan?" tanya Raka yang di jawab anggukan oleh Naura. "Itu namanya cemburu sayang...," ucap Raka sembari mengecup bibir gadis itu singkat dan tentu saja dampaknya adalah tercetak warna merah layaknya tomat di pipi Naura, namun gadis itu juga tersenyum dengan perlakuan Raka.


"Oke semuanya sudah selesai sekarang," ucap Raka yang tentu saja membuat Naura mengerutkan kening karena bingung. "Semuanya sudah selesai Naura, kamu harus bangun dan berdiri. Atau kamu mau kita tetap dalam posisi ini sambil sarapan?" jelas Raka yang tentu saja membuat Naura kembali malu karena ia lupa bahwa dirinya dan Raka masih dalam posisi yang seperti itu.


Naura pun bangkit dan menyiapkan makanan yang tadi belum dihidangkannya. Ketika Raka hendak membuka kotak yang berikan oleh Minna, Naura melarangnya.


"Kenapa?" tanya Raka.


"Jangan, jangan makan makanan itu? Kamu makan masakanku saja, sebentar lagi selesai," ujar Naura.


"Lah terus makanan ini? Di buang? Bukankah dulu kamu sering bilang kalau kita tidak boleh membuang-buang makanan?" tanya Raka.


"Siapa bilang aku akan membuangnya,"


"Terus?"


"Aku akan makan makanan dari Minna, Raka. Dan kamu makan-makanan yang sudah aku siapkan...," jelas Naura.


"Biarin....," ucap Naura sembari menjulurkan lidahnya ke arah Raka.


*****


Raka sudah berpakaian rapi hendak pergi ke rumah sakit tempatnya bekerja dulu sebelum berangkat ke kampus. Ia berdiri di ambang pintu kamar, melihat wanitanya tengah bersiap diri. Wanita itu mengenakan sebuah dress simple dengan warna peach. Dress itu sangat cocok di tubuhnya yang ramping dan tidak terlalu tinggi itu. Ia menata rambutnya dan membiarkannya tergerai dengan rapi. Tak lupa pula ia menyelipkan sebiah jepit kecil dan menyibak poninya ke belakang. Ketika ia hendak membalik tubuhnya dari cermin, ia terkejut mendapati Raka berdiri di ambang pintu.


"Sejak kapan kamu berdiri di situ?" tanya Naura dengan menaruh kedua tanganya di depan dada.


"Jangan berpikir yang aneh-aneh. Aku baru berdiri 5 menit yang lalu, tepatnya saat kamu sudah selesai dengan polesan tipis di wajahmu dan tatanan rambutmu itu,"


"Oh...,"


"Ya, sudah ayo kita berangkat...," ujar Raka.


"Loh, bukannya kamu bilang mau ke rumah sakit dulu?"


"Iya, aku mau ke rumah sakit cuman minta surat izin bentar habis itu ke kampus sama nganterin kamu ambil surat izin juga,"


"Lah, aku hari ini baru mau masuk kuliah Raka, kenapa musti izin?" tanya Naura.


"Kita harus balik ke Indonesia nanti malam...," jelas Raka.


"Balik? Kenapa Ka? Apa terjadi sesuatu?" tanya Naura.


"Tidak. Makanya sebelum sesuatu terjadi kita harus balik ke Indonesia secepatnya. Setelah itu baru kita kembali ke Jepang...," jelas Raka.


"Apa sih maksud kamu Ka? Jangan-jangan kamu beneran mau nganter aku balik. Kamu nggak mau kan aku nyusul kamu kesini..kam...kamu....," ucap Naura dengan terisak dan tangisnya mulai pecah.


Raka yang melihat hal itu menjadi bingung, kenapa wanita ini malah berpikiran bahwa dirinya tidak ingin Naura ada disampingnya. Itu mustahil karena nyatanya bersama gadis itu di sampingnya membuat ia kembali merasakan kupu-kupu berterbangan di perutnya. Namun, dirinya juga tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada wanita itu karena dirinya tak mampu menahan diri untuk tidak menyentuh wanita itu. Berpisah bertahun-tahun membuat Raka enggan untuk melepas wanita itu lagi. Karenanya ia ingin mengikat wanita itu agar menjadi miliknya dalam ikatan yang halal selamanya.


"Kamu jahat Raka...kam...kamu.....," ucapan Naura terpotong karena bibir Raka kembali membungkam bibir Naura untuk kedua kalinya. Tangis Naura, berangsur-angsur mereda dan tergantikan oleh sensasi yang ditimbulkan oleh ciuman Raka.


Ketika tak lagi mendengar isak tangis wanita itu, Raka melepaskan ciumannya dan berbisik di telinga Naura untuk menyatakan maksudnya kenapa ia ingin mereka segera kembali ke Indonesia.


"Aku tidak bisa menjanjikan bahwa aku tidak akan menyentuhmu lebih dari sekedar ciuman jika kamu tinggal disisiku dalam waktu yang lebih lama lagi. Kamu merasakannya bukan? Kamu merasakan hasratku melalui ciuman itu bukan?" tanya Raka dan di jawab anggukan oleh Naura. Wanita itu kembali blushing dengan mudahnya oleh ulah Raka.


"Kita kembali nanti malam ke Indonesia. Aku akan menjadikanmu milikku selamanya hingga kamu tidak akan pernah bisa pergi lagi meninggalkanku," ucap Raka.


"Maksudmu? Kita...,"


"Ya, kita menikah....,"


"Naura Khanza Davinka, apakah kamu mau menikah denganku dan menjadi ibu dari anak-anakku?" tanya Raka.


"Apa ini sebuah lamaran?" tanya Naura.


"Ya, tentu saja...memangnya kamu mau aku lamar di tempat romantic seperti kebanyakan orang?"


"Tidak, tentu saja tidak. Aku lebih suka yang ini, di lamar di depan pintu rumah, ini lebih unik dan tidak biasa, aku suka...,"


"Kamu yakin?"


"Ya, tentu saja. Raka Andana Putra, Saya Naura Khanza Davinka, menerima lamaran anda untuk menjadi istri sekaligus menjadi ibu dari anak-anak anda nantinya," ucap Naura mantap sembari menatap mata Raka dengan penuh cinta.


"Kamu yakin, tidak masalah meskipun aku sudah menikah sebelumnya?" tanya Raka dan di jawab anggukan oleh Naura.


"Sekali lagi aku tanya apakah kamu yakin? Karena setelah ini aku tidak akan melepaskanmu selamanya meskipun kamu ingin," ucap Raka.


"Iya, Raka. Aku yakin....,"ucap Naura.


Dan setelah ucapan terakhir Naura itu, Raka mengecup singkat bibir wanita itu sebelum akhirnya mereka melenggang pergi dengan sebuah mobil berwarna putih.


*****