
Professor Daniel melihat beberapa berkas profil dari lelaki yang beberapa detik tadi telah memperkenalkan dirinya. Kemudian dia meninjau profil lelaki itu di hadapan semua peserta rapat.
"Oh, jadi anda yang bernama Raka Andana Putra. Jadi, saya harus memanggil anda...,"
"Raka, panggil saja Raka....," ucap lelaki itu.
"Ah, baiklah. Berulang kali saya meninjau profil anda, saya masih tidak percaya jika anda masih begitu muda," ucap Daniel. Raka hanya menanggapi pernyataan Daniel dengan senyuman. "Saya dengar anda seringkali membuat banyak masalah dengan dokter-dokter lainnya di tempat anda bekerja dulu," ucapnya kemudian yang membuat semua orang tercenggang.
"Ah, ternyata anda sudah tahu hal itu...,"
"Ya, karena anda tidak mau menemui saya, karena itu saya mencari tahu sendiri tentang anda..,"
"Wah, ternyata keburukan tentang saya menyebar lebih luas dari yang saya tahu. Jika anda sudah tahu sejauh itu, lantas kenapa anda tidak menegur saya atau bahkan menolak untuk mempekerjakan saya sejak awal,"
"Karena rumah sakit ini butuh orang seperti anda. Karena itu kami mempekerjakan anda dan meninjau kinerja anda terlebih dahulu. Jika anda tidak mampu memenuhi kualifikasi yang kami harapkan, maka dengan berat hati kami harus melepas anda. Meskipun resume anda direkomendasikan sendiri oleh dokter Farhan," ucap Daniel lugas.
Raka merasa sedikit tersinggung dengan perkataan Daniel. Pasalnya Daniel secara gamlang menceritakan bahwa sebenarnya Raka di terima karena Daniel memandang dokter Farhan sebagai dokter senior di rumah sakit tersebut yang tidak perlu diragukan lagi keahliannya. Namun, dia bersikap wajar di hadapan semua seolah tak ada sedikitpun kekecewaan karena secara tidak langsung telah diremehkannya dirinya oleh Daniel di hadapan semua orang.
*****
Naura masih berdiri di luar ruang rapat ketika semua orang sudah pergi meninggalkan tempat itu. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya tadi, dan dia ingin memastikan sekali lagi bahwa itu benar-benar seseorang yang dirindukannya. Randy yang melihat Naura masih mematung disana bertanya kepadanya.
"Sedang apa loe disini? Loe tidak kembali ke kampus?" tanyanya.
"Ya, sebentar lagi Kak Randy. Gue masih ada sedikit urusan disini,"
Semua dokter dan dosen pun sudah pergi meninggalkan ruang rapat. Beberapa orang diperhatikannya tapi seseorang yang dicarinya masih belum keluar dari tempat itu. Setelah ditutupnya pintu ruang rapat oleh seseorang untuk yang terakhir kalinya barulah Naura tahu bahwa orang itu adalah seseorang yang di tunggunya.
"Raka...,"
Raka berbalik melihat seseorang di balik punggungnya yang memanggil namanya. Dia tahu siapa seseorang yang memanggilnya itu.
"Raka... Kau benar Raka..? Raka Andana Putra?"
"Ya, benar..," ucap Raka.
"Kau... masih mengingatku....?" tanya Naura dengan sedikit ragu.
"Ya, bagaimana mungkin aku melupakanmu," ucap Raka. Naura hanya tersenyum simpul mendengar ucapan Raka itu. "Seseorang yang telah menghancurkan hidupku. Bagaimana mungkin bisa kulupakan..," ucap Raka dengan dinginnya.
Kata-kata yang di ucapkan Raka itu membuat Naura seakan dimasukkan ke dalam air es di Kutub Selatan. Seketika sekujur tubuhnya membeku. Dan mulutnya membisu hingga tak mampu berucap satu katahpun. Dari kejauhan seorang perawat meneriakkan nama Raka. Hingga tatapan dingin Raka terhadap Naura teralihkan untuk melihat seseorang yang meneriakkan namanya.
"Ada apa?"
"Pasien yang dokter bawa tadi tiba-tiba dalam kondisi kritis..," jelas perawat itu.
Tanpa pikir panjang Raka meninggalkan Naura di depan ruang rapat untuk mengikuti suster itu. Naura hanya mematung melihat punggung Raka telah menjauh dari pandangannya. Terlihat jelas wajah sedih menghiasi wajah imutnya itu. Langsung dilangkahkannya kakinya menjauh pergi dari rumah sakit dan kembali ke kampusnya untuk bekerja dan mengikuti kuliah karena sedang ada mata kuliah S2 yang harus ditempuhnya hari ini.
*****